
Kami benar-benar harus meninggalkan rumah mewah kami. Aku mendengus kesal, mamah masih meraung-raung meminta waktu agar kami bisa mencari rumah lagi.
Kak Raras? Dia datang hanya untuk mengambil barangnya dan peninggalan ibunya.
"Ras, gimana ini Ras? Kita mau ke mana?" tanya mamah sambil menggenggam tangan kak Raras.
Sungguh sangat memalukan kami berada di depan rumah dengan barang yang masih berserakan.
Beruntungnya ini kawasan rumah elite, jadi para tetanggaku tidak terlalu kepo urusan kami.
Hanya bertanya sekenanya saja dan ucapan prihatin. Benar-benar menyebalkan.
"Halo Bu Ratna, benarkah? Ya ampun terima kasih Bu Ratna, ibu penyelamat saya, saya ..." ucapan mamah terpotong oleh lawan bicaranya.
Tak lama mamah kembali berujar "Pasti Bu Ratna, pasti, Anda ngga perlu khawatir, kami pasti akan langsung mentransfernya," begitulah janji mamah.
"Ayo siap-siap bentar lagi ada mobil truk ke sini, mamah udah dapet rumah kontrakan baru," ujar mamah lega.
"Di mana?" kak Raras akhirnya membuka suara.
"Di deket perumahan ini, meskipun ngga seelit perumahan ini, lumayanlah, dari pada harus cape pindah jauh-jauh," jelas mamah.
Aku tau di kawasan daerah ini rata-rata memang perumahan yang cukup mahal, rumah yang aku tinggali termasuk salah satunya, apa mamah bisa membayar sewanya?
"Sewanya?" Ka Raras mengutarakan apa yang aku pikirkan.
"Lima juta sebulan," sahut mamah santai.
Lima juta sebulan? Aku bahkan mengernyit heran, dari mana kami sanggup membayarnya.
"Apa mamah gila? Uang dari mana buat bayarnya? Lebih baik mengontrak di tempat sederhana, dekat kosan—" ucapan kak Raras lagi-lagi di potong oleh mamah.
"Udahlah Ras, segitu masih wajarkan, itu murah loh, temen mamah udah baik hati ngasih harga teman. Pokoknya mamah ngga mau tau, enak aja kamu minta kami tinggal di rumah sederhana, mau taruh di mana muka kami Ras!"
Kak Raras hanya bisa mendengkus kasar, "aku ngga sanggup bayar."
"Heh? Kamu mau ayah kamu semakin buruk kondisinya? Kita biasa hidup di kawasan elit Ras, ngga bisa gitu aja pindah ke kawasan perkampungan! Itu salah kamu juga kan?" sungut mamah.
Tak ada lagi bantahan dari Kak Raras, sepertinya dia menerima dengan lapang dada keinginan mamah. Kasihan sekali dia, tapi aku tak peduli toh sekarang ia adalah tulang punggung keluarga, jadi mau tak mau dia harus mencukupi kebutuhan kami.
__ADS_1
"Emmm ... Ras kamu dapat uang dari mana buat bayar rumah sakit?" mamah berbicara dengan sedikit nada gugup, aku yakin dia ingin meminta uang kak raras lagi.
"Utang di pabrik," jawab kak Raras singkat. Namun ada yang aneh tatapannya tampak sendu.
"Masih ada sisanya Ras?" benarkan apa kubilang pasti mamah ingin meminta uangnya kembali.
"Ngga ada sama sekali."
Mamah membelalak, dia kembali panik, " terus nanti ini bayarnya gimana?"
Kukira mamah masih memiliki uang untuk sewa rumah kami, nyatanya sekarang malah ia yang kepanikan.
Alis kak Raras mengerut, dia juga sama bingungnya denganku, "Lah tadi mamah sendiri yang bilang mau sewa, aku pikir mamah punya duit."
"Aduh gimana sih Ras? Mamah pikir kamu pasti punya simpenan!"
"Kenapa mamah ngga nanya dulu! Terus ini gimana? Ngga jadi sewa di rumah temen mamah?" sungut kak Raras kesal.
"Ayo dong Mah, cape aku nih, malu lagi dari tadi diliatin orang-orang tau," rengek Marsha.
Sejujurnya aku pun lelah, ingin sekali merebahkan diri. Sakitnya ayah membuat istirahat kami berkurang, terlebih mamah juga kelihatan semakin kurusan.
Mamah terkesiap hampir tak terima, saat dia hendak protes kak Raras buru-buru melanjutkan ucapannya.
"Kita ngga punya uang, mobil ayah mobil mewah, nanti kita beli mobil biasa buat gantinya, sisanya buat makan sehari-hari? Itu juga kalau mamah setuju, kalau engga? Ya terserah mamah mau tinggal di mana," ucap Ka Raras acuh.
"Bener kata Kak Raras Mah, mending kita lepas mobil itu aja, dari pada kita ngga pegang uang sama sekali kan?" kali ini aku setuju dengan ide kak Raras, bukan apa, otakku benar-benar sudah buntu.
Mamah masih berpikir, aku tau dia pasti enggan melepas mobil mewahnya, tapi mau bagaimana lagi.
"Ya udahlah, tapi kamu yakin temenmu itu bisa beli mobil mamah sekarang?"
"Bisa, aku udah nawarin kemaren, jadi dia pasti mau."
"Kamu udah berencana jual mobil itu kenapa ngga ngomong mamah dulu?” cibir mamah tak terima.
Kak Raras menghela napas kasar, "emangnya uang dari mana buat bayar rumah sakit, mobil ayah hanya jaminan, mana ada rumah sakit mau nerima barang mah! Mereka tetep mau uang tunai."
"Tapi kata kamu, kamu dapet pinjaman dari pabrikmu!" dengus mamah.
__ADS_1
"Iya tapi sebelum itu kan aku nawarin mobil itu dulu. Udahlah aku mau cepet kabarin temenku dulu, jadi kita bisa cepet dapet uangnya!"
Tak ada lagi perdebatan, mamah terpaksa merelakan mobilnya. Dia bilang kalau besok akan ke dealer mobil untuk membeli mobil baru yang lebih murah.
Kak Raras juga mengingatkan untuk menyisihkan uang hasil penjualan untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah kami. Mamah jengkel dan berkata jika dia pasti lebih tau urusan uang itu.
Kak Raras tetap tak ingin ikut pindah ke rumah sewa kami. Dia juga bilang jika sekarang dia sudah bisa bekerja di perusahaan meski hanya sebagai seorang resepsionis.
Aku tentu saja tercengang, bagaimana seseorang dengan hanya lulusan SMA bisa di terima bekerja di perusahaan, meski hanya sekedar jadi resepsionis tapi itu sangat menggangguku.
****
Kehidupan kami berjalan normal seperti sedia kala, kak Raras juga semakin berubah. Kehidupannya semakin meningkat dari pada saat masih menjadi buruh pabrik.
Sekarang dia bisa ke mana-mana menggunakan mobil pribadi. Aku sebenarnya sangat penasaran berapa sebenarnya gaji kak Raras di kantor.
Dari mana dia mendapatkan uang yang begitu banyak untuk melunasi hutangnya di pabrik dulu, semuanya misteri. Saat kuungkapkan pikiranku, mamah berkata tidak perlu ikut campur, dari pada nanti kami tidak di beri jatah uang bulanan oleh kak Raras.
Bahkan sekarang, kak Raras menyiapkan perawat pribadi untuk Ayah.
Kak Raras sempat kesal karena mamah enggan tidur sekamar dengan Ayah. Mamah juga semakin berubah, karena sering sekali keluar rumah.
Saat memasuki masa KKN aku bingung harus bekerja di mana. Mamah meminta kak Raras agar aku bisa di terima di perusahaannya. Aku sebenarnya sangat berharap kak Raras akan setuju.
Aku juga berencana untuk membuatnya kesusahan di tempat kerja, meski kebutuhan kami semua dari pemberiannya tapi rasa iri tak mau enyah dari hatiku.
Sayangnya kak Raras menolak, dia bilang jika dia tidak berani mengajukan diriku. Menyebalkan sekali.
Namun Tuhan berkehendak lain, saat kami tengah berdebat membicarakan tugas KKN ku, mas Adam datang dan dia berniat membantuku.
Ah senang sekali. Lelaki yang sudah lama tak bisa ku jumpai lagi ternyata aku bisa menghabiskan banyak waktu untuk mendekatinya nanti.
Meski tidak bisa membuat Kak Raras dalam kesulitan di tempat kerjanya, tapi aku bisa berdekatan dengan kekasihnya. Aku yakin kak Raras akan lebih terpuruk jika kekasihnya itu berpaling padaku.
.
.
.
__ADS_1
Tbc