Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 24


__ADS_3

Pekerjaanku di kantor seperti biasa, meski terkadang rasa lelah dan pusing sering sekali menghampiri karena hamil muda, aku tetap berusaha menahan diri agar tak tumbang.


Seza juga tidak bertanya panjang lebar, sebab HRD sudah memberitahu jika aku kemarin izin karena menjaga ayah.


Lumayan juga pekerjaan Billy, setidaknya aku tak terkena masalah di kantor.


"Kamu keliatan pucet Ras? Kamu kecapean? Jangan lupa istirahat Ras, emang ayah kamu perlu perhatian, tapi kan udah ada perawat sama Dokter. Kamu juga perlu jaga diri sendiri," saran Seza.


Seza memang hanya tau sebatas itu, dia juga meminta maaf kemarin tidak sempat mengangkat teleponku karena kesibukannya.


Kasihan Seza, karena ke tidak hadiranku pekerjaannya jadi bertambah.


Apa sebaiknya aku lebih cepat mengundurkan diri? Agar perusahaan lebih cepat mendapatkan pengganti. Alasan apa yang harus aku berikan?


Saat waktunya istirahat siang, sebuah pesan masuk ke dalam ponselku.


Tertera nama Marsha di sana, ada apa anak itu mengirim pesan padaku? Tidak biasanya dia menelepon aku.


Kubuka pesan yang membuatku terkejut, dia memintaku datang ke sekolahnya sekarang juga.


Dia memang anak yang seenaknya, karena terlalu di manja oleh ibu tiriku. Sudah tau jika aku bekerja seenak jidatnya saja memintaku untuk datang ke sekolahnya.


Kuputuskan untuk menghubunginya dari pada mengirim pesan balasan. Ingin tau tanpa berbasa-basi kenapa gadis itu memintaku datang.


"Halo Sya? Mau apa kamu minta kakak datang?" ketusku.


"Kak Nayla ngga bisa ke sini, udah sih! Kalo ngga perlu-perlu amat ngga bakalan aku minta tolong kakak!"


Benar-benar anak tak sopan, bukannya menjelaskan malah dia yang seolah kesal dengan pertanyaanku.


"Kalo kamu ngga mau ngomong kakak ngga mau ke sana!" ancamku.


"Halo selamat siang, maaf, apa ini dengan wali dari Marsha?" tanya seseorang dari telepon milik Marsha.


Mungkin itu salah satu gurunya, "Iya Bu, saya Saras kakaknya Marsha, ada apa ya Bu?"


"Maaf Mbak Saras, bisa datang ke sekolah? Ada hal penting yang harus kita bicarakan," pinta guru itu lembut.


Aku tengah menimang-nimang apa harus ke sekolah Marsha sebab hari ini aku juga baru masuk kerja. Menyusahkan sekali anak itu, entah masalah apa yang sudah di perbuatnya hingga harus mendatangkan wali murid.

__ADS_1


"Maaf Bu, bisa minta tolong saja pada ibu kami? Atau kakak Marsha yang lainnya, saya sedang bekerja Bu," ujarku menolak secara halus.


"Dari tadi Marsha sudah mengirim pesan kepada ibu dan kakaknya yang lain Mbak Saras tapi ngga ada respons, kami mohon untuk kehadiran wali Marsha segera ya Mbak, sebab ini hal yang sangat penting," pinta guru itu memaksa.


Akhirnya aku memutuskan untuk mengiyakan keinginan guru tersebut, aku meminta izin kepada Pak Rafi selaku pihak HRD agar bisa memberiku izin kerja setengah hari sebab aku harus menyelesaikan masalah keluargaku.


Pak Rafi sedikit keberatan, sebab kantor sedang sibuk akhir-akhir ini, sedangkan untuk bagian resepsionis tidak bisa di gantikan pegawai lain.


Aku memohon sangat dan berjanji jika ini adalah kali terakhir aku meminta izin, dalam hati menambahkan jika ke tidak hadiranku ke depannya karena aku memang sudah keluar dari perusahaan ini.


Bergegas aku mendatangi sekolah Marsha yang untungnya tak begitu jauh dari kantorku. Sepotong roti sebagai pengganjal makan siangku untuk meredakan mual dan sakit kepala.


Aku di antarkan oleh penjaga keamanan sekolah menuju tempat kepala sekolah.


Saat sudah berada di dalam, hanya ada Marsha dan dua orang guru, salah satunya aku yakin adalah orang yang meneleponku tadi.


"Mbak Saras? Silakan masuk Mbak," ajak seorang guru perempuan.


Aku duduk di sebelah Marsha, seperti seorang terdakwa yang tengah menjalani persidangan. Di kursi utama ada seorang lelaki paruh baya yang aku yakin adalah kepala sekolah.


Marsha sendiri lebih banyak menunduk, entah apa yang di lakukan gadis itu. Menyusahkan sekali.


"Begini Mbak Saras, kami meminta maaf karena harus memanggil wali dari Marsha, sebab Marsha kedapatan mencuri uang milik teman sekelasnya," jawab guru perempuan di seberang kami.


Aku terkejut dan seketika menoleh ke arah Marsha, tak menyangka jika gadis itu bisa melakukan hal yang memalukan seperti mencuri.


"Apa ibu ada buktinya?" tanyaku bukan maksud membela, aku hanya tak ingin Marsha di salahkan karena tak ada bukti.


"Ada mbak, ini," guru perempuan tadi menyerahkan sebuah ponsel yang tengah menayangkan sebuah video di mana jelas sekali terlihat jika Marsha tengah mengambil uang dari dalam tas temannya.


Aku menghela napas kasar, apa dia kekurangan uang hingga harus mencuri seperti ini?


"Kenapa kamu lakuin ini Sha? Apa uang dari kakak kurang? Kalau sampe mamah sama Nayla tau gimana?"


Marsha menengadah menatapku sengit. Gadis ini benar-benar menyebalkan, aku yang seharusnya marah karena sudah di permalukan oleh kelakuannya, malah dia yang lebih garang menatapku.


"Ini semua gara-gara kakak!" Bukannya introspeksi diri malah menyalahkan orang lain.


Belum sempat aku menjawab tuduhan Marsha, guru wanita itu sudah menengahi kami, mungkin beliau tidak ingin terjadi keributan.

__ADS_1


"Sudah Marsha, kamu ngga baik menyalahkan orang lain. Kamu yang mencuri," jawab guru itu.


"Tapi Bu, kalau bukan karena kakak saya, ngga mungkin saya mencuri Bu," lirihnya.


Aku benar-benar tidak habis pikir dengan ucapan Marsha, mengapa gara-gara aku dia jadi seorang pencuri.


"Mohon maaf Mbak Saras, selain mencuri Marsha juga belum melakukan pembayaran iuran sekolah selama dua bulan," lanjut guru wanita itu memberitahu hal lain yang di lakukan Marsha.


Kepalaku berdenyut nyeri mendengar semua kelakuan buruk Marsha. Di sekolahkan di sekolah Elit dengan biaya yang tidak murah, bukannya belajar sungguh-sungguh justru hanya bisa membuat malu keluarga.


Astaga, malu sekali rasanya mengakui jika gadis yang berpenampilan urakan itu adalah adikku.


"Terima kasih atas perhatiannya bapak dan ibu guru, maafkan atas semua kelakuan Marsha, nanti sepulang sekolah kami akan berbicara dengan adik kami ini," hanya itu yang bisa aku katakan.


"Berhubung Marsha berperilaku yang tidak terpuji kami mohon maaf karena harus memberi hukuman untuk Marsha agar bisa introspeksi diri di rumah selama kurang lebih satu minggu," ujar kepala sekolah memberi tahu, Marsha hanya bisa menunduk.


"Lalu tolong mbak Saras segera lunasi tunggakan biaya sekolah Marsha, dan untuk Marsha semoga kamu bisa berubah menjadi lebih baik, jangan lupa perbaiki seragam sekolah kamu seperti peraturan sekolah," lanjut guru wanita.


Aku dan Marsha hanya bisa mengiyakan dan pamit bersama-sama. Aku akan menyerahkan urusan Marsha pada ibu tiriku saja, masalah uang iuran Marsha tentu saja aku tak peduli, mereka selalu menipuku dengan berbagai alasan.


Padahal aku tak pernah telat memberi dan bertanya ke mana uang itu, tapi nyatanya uang yang aku berikan tidak di gunakan sebagaimana mestinya.


Saat akan keluar ruangan kepala sekolah, aku berpapasan dengan Nayla yang datang bersama Adam.


Sepertinya Nayla baru membaca pesan dari Marsha, terlihat dia sedikit panik. Yang membuatku terkejut Adam pun seperti terkejut saat melihatku tapi setelah itu dia berusaha bersikap datar.


Mereka datang dengan bergandengan tangan, saat mataku menatap tautan tangan keduanya, Nayla ingin melepaskan diri, tapi di tahan oleh Adam yang semakin menggenggam erat tangannya.


Adam ingin membalaskan dendam dan sakit hatinya padaku. Aku sebenarnya tak masalah jika ia akhirnya membenciku, tapi menggunakan Nayla untuk membalas rasa sakit hatinya padaku, rasanya agak kurang tepat.


Aku tersenyum getir, bahkan saat Nayla menoleh karena Adam tak ingin melepas tautan tangan mereka, terlihat jelas tanda kepemilikan yang sama seperti yang biasa aku dapatkan dari Joan di bagian lehernya.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2