
Dinda bergegas mendatangi rumah sakit tempat Raras dan juga Meisya di rawat.
Ia mengetahui kabar keduanya lewat Rizki. Lalu mengkonfirmasinya kepada sang mantan suami. Hati Dinda menjadi semakin cemas kala mendengar berita itu dari Rizki.
Keponakan laki-laki dari orang yang merawat vilanya menceritakan bagaimana keduanya kini berakhir di rumah sakit.
Dinda juga mengabari Dilla tentang keadaan Raras. Dinda yakin jika Dilla harus tau keadaan sahabat mereka itu.
Meski Dinda tidak terlalu akrab dengan Dilla, tapi karena tujuan mereka sama yaitu menolong Raras, jadilah keduanya merasa dekat, meski jarang berkomunikasi.
Dinda sampai terlebih dahulu. Tujuan utamanya adalah menemui mantan suami dan bekas madunya.
"Gimana kabar Meisya Mas?" tanya Dinda cemas.
Dinda melihat raut wajah frustrasi mantan suaminya itu. Entah apa yang sebenarnya terjadi, mengapa kejadiannya bisa berakhir seperti ini.
"Meisya masih koma Din, dia sudah melahirkan, meski prematur, anak kami baik-baik saja, dia kini di inkubator karena beratnya yang masih di bawah normal," jelas Anjas.
"Kita berdoa saja semoga Meisya baik-baik saja mas." Dinda tetap berusaha memberi dukungan kepada mantan suaminya.
Anjas semakin merasa bersalah pada Dinda, karena mantan istrinya itu masih saja memperlakukan dirinya dan istri keduanya dengan baik, meski dulu wanita itu pernah terluka oleh perbuatan keduanya.
"Sekarang saya pergi menemui Raras dulu ya mas, saya juga khawatir akan keadaannya."
"Tolong ucapkan maaf saya kepada Raras ya Din, saya belum sempat ketemu dia," pinta Anjas saat akan melepas kepergian Dinda.
Sudut hatinya sangat senang saat melihat wanita yang dulu pernah membina rumah tangga dengannya berubah menjadi lebih baik. Wanita itu sekarang tampak lebih dewasa dan semakin terlihat cantik.
Anjas mendesah, dia mengakui jika setelah perpisahan itu Dinda tampak lebih bahagia di banding dirinya yang masih larut akan penyesalan.
****
Ruang rawat Raras kini sudah tampak sepi, sudah tak ada Joan, Adam atau pun Nayla. Namun kedua penjaga yang memang di tugaskan menjaga Raras hingga wanita itu benar-benar pulih masih berada di sana.
Adam dan Nayla memang di larang menemui Raras lagi setelah Joan keluar
Flasback
Stelah mengucapkan kata cinta yang berakhir dengan perpisahan, Joan melangkahkan kaki untuk keluar dan meninggalkan Raras kembali.
Lelaki itu sedang memperjuangkan sesuatu, dia akan memperjuangkan hak anaknya kelak.
Adam bangkit saat melihat kedua orang itu keluar dari kamar Raras.
"Sebaiknya kamu pulang saja, tolong jangan ganggu Raras lagi, hargai keputusannya," ucap Joan tajam.
"Anda tidak punya hak berbicara seperti itu pada saya! Anda yang telah merusak hubungan kami, jadi jangan berharap saya akan melepaskan Raras dengan mudah!" geram Adam.
__ADS_1
"Mas kamu apa-apaan sih! Kak Raras itu lagi hamil! Memangnya keluarga kamu mau terima wanita seperti kak Raras!" pekik Nayla menyela keduanya.
Enggan mendengar drama dua orang yang membuatnya kesal, Joan melangkahkan kaki meninggalkan mereka semua.
Hanya Billy yang masih bertahan di sana untuk memberi pesan kepada para penjaga agar tidak mengizinkan Adam dan Nayla masuk.
Jika masih memaksa, Billy mengancam akan melaporkan keduanya ke pihak yang berwajib.
Mendengar dirinya dilarang menemui Raras lagi, membuat Adam kalap dan melayangkan tinjunya ke arah Billy. Namun sayangnya Billy bukanlah orang yang mudah di lumpuhkan oleh seseorang seperti Adam.
Billy menangkis serangan Adam dengan mudah, bahkan mampu membalik keadaan dengan memelintir tangan Adam ke belakang hingga lelaki itu membungkuk kesakitan
Billy berbisik di telinga Adam "Jauhi Raras, kamu tau kami bisa melakukan apa saja untuk bisa melenyapkan kamu atau keluargamu dari dunia ini."
Mendengar ancaman yang begitu mengerikan, membuat Adam berhenti meronta. Dirinya hanya bisa pasrah, dia tak ingin Joan dan Billy menyakiti keluarganya.
Adam sangat tau ancaman mereka tak pernah main-main. Nayla membantu Adam bangkit setelah Billy melepaskan kekasihnya itu.
Ia tak berani membantu kala Adam di lumpuhkan oleh Billy dengan mudah.
"Sebaiknya kalian lekas pergi dari kota ini, jangan sampai saya melakukan apa yang sudah saya ucapkan tadi," ucap Billy datar.
Adam hanya bisa mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Dia benar-benar tak bisa melawan orang-orang kuat seperti Joan Alexander.
"Ayo mas kita pergi dari sini!" ajak Nayla.
Hati Nayla benar-benar di penuhi dengan kedengkian terhadap Raras. Dia tidak akan tinggal diam, dia bersumpah akan membuat Raras menderita suatu saat nanti.
Saat akan keluar dari rumah sakit, mereka berpapasan dengan Dilla yang datang dengan terburu-buru.
"Astaga, kenapa aku harus ketemu kalian dulu sih!" sindirnya.
"Siapa juga yang mau ketemu kamu! Sana gih temui teman kamu yang sesama wanita murahan itu," balas Nayla.
Ucapan Nayla yang menghina Raras tentu tak di terima oleh Adam dan juga Dilla. Karena keduanya sangat tau bagaimana cerita Raras hingga harus menjalani takdir seperti itu.
"Kamu bisa diam Nay, ini semua gara-gara kamu juga!"
Karena muak, dia sengaja berjalan meninggalkan Nayla. Nayla yang belum puas bertengkar dengan Dilla, mau tak mau harus mengalah dan mengejar kekasihnya.
****
Di dalam ruang rawat ini ada Rizki, halwa dan juga Dilla yang sudah tiba terlebih dahulu.
"Raras, ya ampun, kamu baik-baik aja kan?"
Dinda bergegas memeluk tubuh Raras di atas tempat tidur, air mata sudah mengalir di kedua matanya.
__ADS_1
"Aku minta maaf atas kelakuan Anjas dan Meisya ya Ras."
"Hei, kamu ngga salah, lagi pula itu juga salahku. Maafkan aku ya buat kalian semua khawatir."
Raras menatap satu-persatu keluarga barunya. Keluarga yang ia miliki saat ini.
"Bagaimana dengan Joan? Apa dia ngga marah sama kamu Ras?" tanya Dilla.
"Dia sudah ke sini. Sebenarnya percuma aku berlari dari dia, aku yakin di mana pun aku bersembunyi, dia pasti akan tau keberadaanku," jelas Raras.
Dilla mengangguk setuju, orang besar seperti Joan tak mungkin akan kesulitan mencari seseorang seperti mereka.
"Lalu apa kamu akan kembali kepadanya?" sekarang Dinda yang bertanya.
"Aku sudah memintanya melepasku dan ... Dia setuju," lirih Raras di akhir kalimat.
Entah kenapa seperti ada yang mencubit hatinya kala mendengar Joan dengan mudah mau melepaskannya. Raras pun bingung dengan dirinya sendiri mengapa dia bisa bersikap seperti itu.
Di satu sisi ingin pergi, tapi sisi lainnya ia ingin Joan mempertahankannya.
"Lalu kamu akan ke mana?" tanya Dinda.
Halwa dan Riski hanya mendengarkan ketiga wanita cantik itu berbincang tanpa niat ingin menyela.
"Aku ... Bingung," Raras tidak berbohong, setelah dia di lepaskan oleh Joan dia tak tau akan pergi ke mana lagi setelah ini.
Kembali ke kota kelahirannya di rasa tak mungkin, ia tak sanggup menghadapi hinaan yang nanti akan di terima sang anak.
"Mbak mau ikut saya? Kebetulan saya akan di pindah tugaskan keluar negeri. Barang kali Mbak Raras ingin merasakan suasana baru, dan meninggalkan kenangan pahit di negara ini," ajak Rizki.
Raras terkejut dengan ajakan Rizki. Namun bayangan hidup tanpa ada seorang pun yang ia kenal, berasa lebih baik baginya.
"Baiklah Ki, aku akan ikut denganmu," ucap Raras yakin.
Cerita Saras Angelica Suwito berakhir di sini, lanjutan kisah cintanya akan di ceritakan di kisah Joan Alexander.
Terima kasih yang sudah setia membaca novel BUKAN CINDERELLA BIASA, semoga masih mau menunggu kisah lanjutannya ya.
Salam sayang buat kakak semua yang sudah mampir di sini, semoga bisa menghibur🥰🙏
.
.
.
End
__ADS_1