Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 48


__ADS_3

Kediaman rumah baru Winoto tengah di gemparkan oleh keributan istrinya, Rita.


"Ya ampun Nay, sisa gaji kamu ke mana aja sih!"


Nayla yang sudah menuntaskan magangnya kini hanya bisa bekerja di sebuah Cafe. Tubuhnya lelah, bahkan wajahnya tak terlalu terurus sebab pengeluaran yang di tanggungnya begitu banyak.


Biaya kuliahnya, biaya sekolah adiknya, dan juga untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya.


"Mah gaji aku kecil, aku cuma kerja di Cafe mah, bukan di perusahaan! Tunggu aku lulus baru bisa melamar di perusahaan lagi."


"Lagian, mamah sama Marsha apa ngga bisa ngatur keuangan? Kalian pikir aku ngga cape?" bentaknya kesal.


Kehidupan Rita dan anak-anaknya memang terseok-seok akibat hilangnya sokongan dari Raras. Hanya suami dan pekerja rumah tangganya saja yang masih di tunjang oleh Raras.


"Kamu sama anak kamu itu sama ngeselinnya!" bentak Rita pada sang suami yang baru saja masuk bersama Rini.


Rini hanya bisa menghembuskan nafas kala mendengar ucapan ketus majikannya.


Tunjangan untuk Rini dan Winoto memang tak berkurang. Hanya Rita dan kedua anaknya saja yang sering kelimpungan.


Sebenarnya Rini sedikit merasa kasihan kepada Nayla yang saat ini menggantikan Raras menjadi tulang punggung.


Namun karena sifat boros ketiganya membuat keuangan mereka yang pas-pasan selalu saja berkurang tiap akhir bulan seperti ini.


"Rin, coba sini pinjami saya uang. Nanti gajian Nayla aku ganti," pinta Rita seperti biasanya.


Ini bukan kali pertama Rita meminjam uang padanya. Namun kali ini Rini sepertinya tidak bisa meminjami majikannya itu, sebab sudah dua kali meminjam Rita belum juga menggantinya.


"Maaf Bu, saya sudah ngga ada uang. Sudah saya kirimkan untuk orang tua saya."


Terpaksa Rini membohongi Rita sebab dia menilai ketiganya sangat menggampangkan urusan kebutuhan mereka.


Padahal Raras sendiri masih membantu mereka menyediakan tempat tinggal tanpa perlu mengeluarkan biaya air dan listrik tiap bulannya.


Bahkan kebutuhan dapur sering kali Rita dan anak-anaknya tidak ikut membantu, membuat pengeluaran yang harusnya hanya untuk Winoto, perawat serta asisten rumah tangga mau tak mau harus berbagi.


"Kamu ini pelit sekali sih Rin! Coba kamu minta sama si Dilla bilang aja buat berobat ayah gitu!" ketusnya.


Rini menghela napas, padahal Rita sendiri tau jika Dilla tidak bisa di bohongi untuk urusan berobat suaminya, akan tetapi wanita paruh baya itu masih saja meminta hal yang mustahil seperti itu.


"Ibu tau sendiri saya hanya melaporkan jika memang obat bapak habis. Nanti Mbak Dilla yang menyediakannya."


Rita menggeram kesal. Dia tahu sekali ucapan Rini ada benarnya. Dengan kesal dia meninggalkan Rini dan suaminya dengan mengentakkan kaki.


.


.

__ADS_1


"Mas Adam," lirih Nayla memanggil lelaki yang sampai saat ini masih bersikap dingin padanya.


"Ada apa Nay?"


Sebenarnya Adam sendiri masih sibuk mencari keberadaan Raras.


Adam hanya bisa mendekati Dilla yang selalu menolak menemuinya, sedangkan para tetangga Raras di kosan dulu tak ada yang tau ke mana perginya Raras.


Tentu saja terkecuali Dinda yang ikut berbohong menutupi keberadaan Raras.


Hubungan Adam dan Nayla juga tak ada kemajuan apa pun. Nayla bahkan berpikir jika Adam lebih baik saat masih menjadi kekasih kakak tirinya, ketimbang menjadi kekasihnya sekarang.


"Kira-kira, ada kerjaan yang gajinya lebih baik ngga ya Mas dari Cafe temennya mas Adam," lirih Nayla sambil mengaduk minumannya.


Wanita itu tak berani menatap Adam. Di satu sisi dia berharap Adam akan seperti dulu yang tak segan menggelontorkan uang untuknya.


Sekarang kehidupannya sangat susah, bahkan cara untuk meminta belas kasihan Adam pun terasa sulit.


"Kamu masih kuliah Nay, memangnya mau kerja apa? Untung aja temenku mau menerima kamu. Sudah nikmati saja dulu."


Sungguh sebenarnya tanpa Nayla tanya pun Adam seolah paham ke mana arah pembicaraan kekasih di depannya. Hanya saja Adam masih kecewa dengan Nayla yang dulu sering membohonginya.


"Mas ... Apa ngga ada niatan mau nikahin aku?"


Nayla sudah memikirkan pernikahan sejak lama. Dari pada hidup dalam ke susahan, lebih baik dia segera menikah saja. Ia yakin hidupnya akan kembali seperti sedia kala.


"Nay, hubungan kita saat ini pun belum menumbuhkan rasa di hati aku. Bagaimana bisa kita melangkah ke jenjang yang serius, sepertinya itu—"


"Mas mau lari dari tanggung jawab?" ketus Nayla.


"Apa yang harus aku pertanggung jawab kan Nay? Apa aku menghamilimu?"


Adam tau perkataannya sangat kasar. Namun ia tak bisa membendung lagi gejolak amarah dalam dirinya.


Ia tak bisa berpura-pura dengan hubungan ini. Dia tak mencintai Nayla, hanya Raras yang masih ada di hatinya. Meski ia tahu mungkin untuk bersama Raras akan terasa berat.


"MAS! Kamu keterlaluan! Apa ngga bisa kamu lihat perasaan aku Mas? Kenapa kamu masih mikirin Ka Raras yang pergi entah ke mana? Sebenarnya kalian kenapa?"


Nayla menangis histeris membuat pengunjung Cafe melihat ke arahnya.


Adam sendiri merasa dilema, sudah tak ada lagi sahabat yang bisa dia ajak untuk bertukar pikiran. Lucky sekarang menjauhinya.


"Pokoknya aku ngga mau tau! Aku ingin kita menikah secepatnya!" pekik Nayla dan berlalu meninggalkan Adam seorang diri.


Adam menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi, memijat pelipisnya.


Permintaan Nayla sungguh sangat berat untuk di kabulkannya.

__ADS_1


Apa dia bisa menjalani bahtera rumah tangga tanpa cinta di dalamnya?


Lalu masalahnya dengan Raras, apa akan berakhir seperti ini saja? Tanpa kejelasan sama sekali?


Selama ini dirinya sudah berusaha membuka hati untuk Nayla. Namun bayang-bayang kebersamaannya dengan Raras tak bisa enyah begitu saja dari pikirannya.


.


.


Raras sedang membawa camilan sore hari saat akan melintasi ruang tamu untuk pergi ke taman samping vila milik Dinda.


"Kamu siapa?" sapa seorang lelaki yang membuat langkah Raras terhenti.


Deg!


"Sa ... Saya Raras," ujar Raras pada lelaki berkaca mata di depannya.


Dia adalah Anjas, mantan suami Dinda. Batin Raras bertanya mengapa lelaki itu ada di vila milik sahabatnya.


"Mengapa kamu ada di sini? Maaf. Apa Dinda, maksudnya pemilik vila ini menyewakannya padamu?"


Raras dilema harus menjawab apa. Apa dia harus berbohong lagi? Dia takut menimbulkan masalah bagi Dinda.


Anjas sendiri bingung mengapa wanita hamil itu hanya bergeming seperti bingung dengan pertanyaannya.


Dia lantas menelepon seseorang. Tak lama Bu Halwa datang dengan terburu-buru menyambut mantan suami majikannya.


"Ma-maaf Mas Anjas, tadi Ibu ada di belakang," ujar Halwa takut-takut.


"Dia siapa Bu? Penyewa di sini atau saudara Bu Halwa?"


Halwa melirik Raras yang juga tengah melirik dirinya. Raras bingung jika banyak yang tahu tentang keberadaannya di sini, tak menutup kemungkinan persembunyiannya akan terbongkar.


Meski dia sendiri tidak tahu apa hubungan antara Lucky dan Anjas sebenarnya.


Tak mungkin aku jadi bahan obrolan Anjas dan Lucky bukan?


"Kalian ngga ada yang mau jawab? Biar saya hubungi Dinda," ucapnya sambil kembali menekan tombol telepon.


"Tunggu!"


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2