Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 53


__ADS_3

Setelah perbincangannya dengan Lucky kemarin sore, saat ini Raras tengah memikirkannya kembali.


Lucky memintanya untuk menyelesaikan masalahnya baik-baik. Raras tersenyum kecut 'konyol' pikirnya.


Apa yang harus di bicarakan dengan Adam? Raras yakin mantan kekasihnya itu pasti hanya penasaran tentang siapa ayah dari bayi ini.


Lalu apa lagi? Berbicara baik-baik untuk merajut masa depan lagi? Itu sungguh mustahil.


Ia memang penasaran seperti yang Lucky katakan jika Adam sekarang sudah berubah banyak. Menurut lelaki bermata sipit itu Adam terlihat kacau.


Entah benar atau tidak, begitu pikir Raras. Namun untuk apa Lucky berbohong? Batinnya berperang sendiri.


Mungkin kacau karena hubungannya dengan Nayla, si parasit. Begitulah pikir Raras


Adam mungkin sudah tau tabiat Nayla sesungguhnya. Dirinya tak yakin jika kandasnya hubungan merekalah penyebab Adam berubah menjadi kacau.


Tak ingin terlalu pusing, Raras memilih kembali pada rutinitasnya sehari-hari, duduk di teras samping sambil menatap kebun teh menunggu matahari tenggelam.


Dia sudah bersiap dengan buku bacaan di tangan saat tiba-tiba perutnya terasa keram. Mengencang di bagian bawah.


Di usia kehamilannya memang rawan merasakan Kram, tapi tentu tak baik mengingat waktu melahirkan masih lama.


"Ras, kamu ngga papa?" tanya Anjas yang baru saja keluar dari kamarnya.


Meski sudah tinggal selama dua hari di sana. Namun mereka sama sekali tidak terlibat interaksi sama sekali. Anjas bahkan sejak kemarin hanya mengurung diri di kamar.


Bahkan untuk mengisi perutnya saja, dia meminta Bu Halwa mengantarkan ke kamarnya.


"Sakit Mas," lirih Raras yang saat ini tengah berpegangan pada Anjas.


Wanita itu tidak berbohong, bahkan untuk menggerakkan kakinya melangkah menuju sofa saja ia tak sanggup.


Anjas menggenggam erat tangan dan bahu wanita hamil yang tengah menunduk. Wajah Raras pucat.


"Coba kamu tarik nafas dan hembuskan secara perlahan, itu akan meredakan sakitnya, baru setelah itu jalan perlahan."


Anjas berusaha membuat Raras rileks, karena ia sangat tahu apa yang sedang di alami wanita ini sama seperti istrinya.


"MAS!!" pekik suara dari arah pintu masuk.


Raras dan Anjas kompak menoleh ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya Anjas kalau saat ini wanita yang memandangnya dengan wajah memerah menahan amarah adalah istri keduanya.


Raras sendiri menatap biasa saja, sambil berusaha bernapas sesuai interupsi Anjas tadi.


"KAMU APA-APAAN MAS! SIAPA WANITA INI!" pekik wanita yang juga tengah hamil sama seperti Raras.

__ADS_1


Dengan perlahan dan berusaha menulikan pendengaran Anjas tetap berusaha menuntun Raras menuju sofa.


Wanita yang berstatus istri Anjas itu lantas mendekat sambil mengepalkan tangan. Tak segan-segan, dia memisahkan sang suami dengan wanita yang membuatnya murka.


"MINGGIR BANG*SAT!" tanpa segan istri kedua Anjas itu mendorong Raras hingga Raras jatuh terjerembap ke lantai.


"Awhh ... Tolong," lirihnya sambil memegang perutnya yang semakin sakit.


Kepala Raras mendadak pening, dia terisak menahan sakit yang teramat sangat di perutnya.


Sedangkan istri kedua Anjas itu masih berusaha meraihnya untuk kembali melakukan kekerasan.


"CUKUP! HENTIKAN MEI! KAMU KETERLALUAN!" bentak Anjas tak mau kalah sambil memeluk sang istri.


"Awas Mas minggir, biar aku bunuh wanita murahan ini! Berani sekali dia mengganggu suami orang. Dasar murahan!" pekik Meisya yang masih memberontak di pelukan Anjas.


Mendengar keributan di luar kamarnya, membuat Lucky keluar tergesa-gesa dan mematikan teleponnya dengan Nayla.


"Astaga RARAS!" pekiknya tanpa pikir panjang mendekati Raras yang tergolek tak sadarkan diri.


"Bawa ke rumah sakit Luck! Cepat!" pinta Anjas panik.


"Tapi gimana Njas? Aku ngga mungkin angkat Raras sendirian."


Raras yang sedang dalam keadaan hamil tentu berat badannya juga bertambah besar, dan Lucky takut dirinya malah akan jatuh bersamaan dengan membawa Raras dalam gendongannya.


"Ya ampun Mbak, ada apa ini?" paniknya.


Dia menoleh sekilas pada mantan suami Dinda dan wanita yang masih memukul dada lelaki yang mendekapnya itu.


Otaknya langsung tau siapa keduanya dan hubungan mereka. Namun Rizki tak memedulikan dan tetap fokus pada Raras yang memucat.


"Ayo Mas! Kita angkat bersama," ajak Rizki dan sudah mengangkat tubuh bagian bawah Raras sedangkan Lucky bagian atasnya.


Saat sedang menuju mobil, mereka berhenti kala Bu Halwa dan Pak Rahmat baru saja turun dari motornya.


"Ada apa Ki, kenapa Mbak Raras begini?" tanya wanita paruh baya itu panik melihat keponakannya membawa tubuh Raras yang terkulai lemah.


"Bi tolong bukain pintu mobil. Bibi ikut kami aja ke rumah sakit ya," pinta Rizki.


Tanpa banyak bicara Halwa bergegas membuka pintu mobil dan duduk di belakang kemudi, menjadikan kakinya bantal untuk Raras.


"Pak, ibu pergi dulu ya," pamitnya pada sang suami yang tadi juga membantu mengangkat tubuh Raras.


"Hati-hati Ki, jangan lupa kabari Paman. Maaf Paman tidak bisa ikut kalian ya," pesan Pak Rahmat.

__ADS_1


Mereka semua masih mendengar suara pertengkaran antara Anjas dan istrinya.


Di perjalanan semuanya diam membisu karena panik akan keadaan Raras. Halwa bahkan tak berhenti terisak sambil mengusap rambut Raras dengan sayang.


Wanita yang lima bulan ini berada di vila bersamanya adalah wanita yang baik menurut Halwa. Halwa tau jika Raras kesepian dan tengah menanggung beban berat dengan kehamilannya.


Namun ia tak pernah menanyakan masalahnya, cukup berusaha membuat wanita itu tak sedih baginya adalah hal yang utama.


Raras juga menjadi pelipur lara saat tak ada hadirnya seorang buah hati di kehidupannya.


Bukan Halwa mandul, dia pernah memiliki seorang putri. Namun umur putrinya tak panjang, saat berusia lima tahun putrinya mengalami kejang, tak lama setelahnya meninggal.


Halwa sendiri tidak bisa hamil lagi karena masalah di rahimnya.


Mereka membawa Raras ke rumah sakit terdekat, meski tidak terlalu besar seperti di kota. Namun setidaknya bisa menyelamatkan Raras dan bayinya.


Berada di ruang tunggu UGD membuat Lucky dan Rizki merasa cemas. Hanya Bu Halwa yang di izinkan masuk menemani Raras. Karena pasien hanya boleh di tunggu oleh satu orang saja.


"Gimana Bi? Mbak Raras sama bayinya baik-baik aja kan?" tanya Rizki.


Rizki menggandeng sang bibi untuk duduk di antara dirinya dan Lucky. Bahkan saking paniknya Rizki dan Lucky belum saling mengenalkan diri.


"Mbak Raras baik-baik aja, detak jantung bayinya juga masih ada, tapi kata Dokter, tetap harus di tinjau sama Dokter spesialis kandungan besok," jelas Halwa, setelahnya, wanita paruh baya itu menghela napas.


"Sebenarnya ada apa Mas Lucky, lalu di vila tadi suara pertengkaran siapa?" kali ini Halwa dan Rizki menatap lelaki bermata sipit itu.


"Itu tadi Anjas sama istrinya Bu—Meisya."


"Mau apa wanita itu ke vila Dinda?" geram Rizki.


Memang hanya sekilas Rizki melihat wanita yang tengah mengamuk di pelukan suami Dinda. Wanita murahan begitulah pikir Rizki saat ini.


"Kenapa Mbak Raras tiba-tiba pingsan? Jangan bilang kalau istri Mas Anjas yang melakukan kekerasan!" tuduh Rizki.


"Aku ngga tau, sebab saat itu aku ada di kamar, pas keluar aku kaget lihat Raras sudah tak sadarkan diri," Lucky menghela napas.


Ketiganya yakin ada kesalah pahaman yang terjadi sesaat lalu antara Raras dan pasangan suami istri itu. Namun karena apa ketiganya tidak tau, yang penting saat ini mereka berusaha menyelamatkan nyawa Raras dan bayinya.


Saat ketiganya masih dalam pikiran masing-masing ada seorang laki-laki yang membuat ketiganya terkejut bukan main.


"Di mana dia?"


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2