
Billy melepas kasar tubuh Adam hingga laki-laki itu hampir terjatuh jika tidak di tahan oleh Rizki.
"Sebaiknya kalian tunggu di sini. Tadi kami sudah memberi kalian kesempatan untuk bertemu dengan Nona Raras. Jadi jangan buat keributan. Bukan kalian saja yang punya kepentingan di sini," ucap Billy tegas.
"Aku ngga menyangka orang besar seperti Joan Alexander ternyata perusak hubungan orang!" sindir Adam.
"Terserah Anda mau berbicara apa tentang Tuan Joan. Cuma saran saya, hati-hati dalam berucap, Anda hanya orang kecil yang bisa dengan mudah kami patahkan sayapnya," lagi, Billy mengeluarkan ancaman yang benar-benar mampu membungkam Adam.
Rizki hanya bisa melihat keduanya yang saling melempar tatapan bengis. Para penguasa seperti mereka benar-benar sangat mengerikan jika sedang mengancam, pikirnya.
Mereka memilih duduk di bangku depan ruangan Raras dan menunggu Joan menyelesaikan urusannya.
Mereka duduk saling berjauhan. Adam dengan Nayla, Rizki dengan Halwa dan Billy duduk seorang diri dengan ponsel di tangannya.
"Mas, benarkah Raras hamil anak Pak Joan?" bisik Nayla meski semua orang di sana bisa mendengar ucapannya.
"Hemm," hanya itu jawaban Adam. Sungguh ia malas sekali harus berbincang dengan Nayla saat ini.
Yang ada di pikiran Adam saat ini adalah bagaimana ia bisa merajut kembali hubungannya dengan Raras. Meski itu terkesan mustahil.
"Bukannya Pak Joan udah punya tunangan? Itu berarti kak Raras menggoda Pak Joan. Dasar murahan!" makinya sambil melipat kedua tangan di dada.
"Kamu kalau ngga tau apa-apa lebih baik DIAM!" ketus Adam.
"Kok mas gitu, benarkan yang aku bilang? Dia ninggalin mas karena dapat yang lebih segalanya. Dia juga rela menghancurkan hubungan pertunangan orang, apa namanya kalau bukan murahan?" geramnya.
Rizki dan halwa hanya mendengarkan perdebatan dua orang itu dengan pikiran masing-masing.
Rizki memikirkan semua sikap Raras yang sangat jauh dari sifat yang di ucapkan Nayla.
Dirinya sangat tau jika Raras seperti menahan sebuah masalah yang tengah di hadapinya seorang diri. Rizki masih berpikir jika Raras juga masuk dalam rayuan Joan menurutnya.
Sedangkan Halwa sangat terkejut dengan lelaki yang mengaku sebagai ayah dari bayi yang di kandung oleh Raras adalah bukan orang sembarangan.
Halwa merasa jika Raras termasuk wanita beruntung. Meski terlihat kejam, Halwa sangat yakin jika lelaki yang saat ini tengah bersama Raras juga mencintainya.
"Gimana perasaan ayah kalau tau anak yang selalu ia banggakan tak ubahnya sebagai seorang perusak hubungan orang," cibirnya membuat semua pasang mata yang ada di sana menatap geram ke arahnya.
Nayla sangat tau semua tatapan itu seperti menghakiminya. "Kenapa lihat aku kaya gitu?" tanyanya menatap satu persatu orang yang masih menatapnya.
"Ayah berhak tau keadaan anak pertamanya!" monolognya.
__ADS_1
"Aku pikir bukan itu tujuan Anda Nona. Anda hanya ingin melihat ayah Anda meregang nyawa bukan? Kalau memang Anda anak yang baik, tentu Anda akan memikirkan kesehatan ayah Anda," balas Billy dengan senyum mengejek.
Nayla geram sekali dengan ucapan Billy yang memojokkannya. Dia merasa bahwa hidupnya semakin tidak adil.
Mengapa orang-orang selalu membela Raras yang jelas-jelas sudah berbuat salah. Sedangkan dirinya harus selalu di cap buruk, meski tidak pernah melakukan kesalahan fatal. Pikir gadis itu sebal.
****
"Anak kita, baik-baik aja. Maaf karena aku ngga bisa berada di samping kamu," ucap Joan sambil mengusap perut buncit Raras dengan haru.
Raras sendiri menatap tak percaya pada pria yang selalu dia anggap tirani dan arogan ini.
Pikiran buruknya dulu selalu menganggap bahwa Joan tak akan menginginkan bayinya dan akan menyingkirkannya suatu saat nanti, seketika musnah saat melihat bagaimana lelaki itu tersenyum bahagia saat ini.
Bahkan ucapan yang selalu ketus dengan panggilan Lu-Gue sekarang berubah lebih lembut.
"Kamu tau keberadaanku, kenapa kamu ngga mendatangiku?" lirih Raras yang juga merindukannya.
Dia tidak tau, semenjak hamil, dirinya memang sering merindukan Joan, mungkin itu karena ikatan batin bayinya dengan ayah kandungnya, begitu pikir Raras.
"Maaf. Kamu tau, kehidupanku begitu rumit. Aku bahkan merasa sangat bersalah membuatmu masuk ke dalam hidupku ..." lirih Joan masih sambil menatap perut buncit Raras.
"Apa ada yang kamu inginkan?" ucap Joan sambil mengusap dahi Raras untuk mengurai anak rambutnya.
Pertanyaan itu di lontarkan oleh Joan, sebab dia tahu jika terkadang wanita hamil mungkin menginginkan sesuatu, mengidam maksudnya.
Sedang menurut Raras, pertanyaan itu dia artikan jika ini lah waktunya meminta pengampunan dari Joan, dan berharap lelaki itu mau melepasnya juga.
Padahal baru tadi dia mengakui kerinduan akan lelaki tampan di hadapannya ini.
Namun ia tau, kehidupan yang penuh dengan cacian yang akan di terimanya kelak tak sanggup ia kesampingkan.
Anak ini, meski di terima oleh Joan, Raras yakin hanya sebagai bentuk tanggung jawab lelaki itu saja. Raras tidak yakin akan ada hubungan resmi yang akan di berikan oleh lelaki itu padanya.
"Bisakah kamu melepasku Jo? Aku tak ingin hidup dalam kehinaan ini terus, aku ... Ingin bahagia dengannya," ucap Raras menerawang sambil mengusap perutnya.
Dia ingin hidup bahagia dengan anaknya kelak, meski tanpa suami yang akan mendampinginya, wanita itu berpikir biarlah itu menjadi karmanya.
"Dari tadi kamu berbicara terus tentang perpisahan, tidak bisakah—" Joan menghentikan ucapannya.
Ada beban sendiri mengapa Joan tak menceritakan segala permasalahannya dengan wanita yang selalu menghangatkan ranjangnya.
__ADS_1
Tentang perasaan, tentang hubungan mereka, dan tentang segala hal tak pernah benar-benar dia utarakan pada wanita itu.
"Aku hanya bisa mengatakan padamu. Tunggulah aku, suatu saat aku akan mengatakan semuanya padamu. Jagalah dirimu dan berjanjilah, kalau suatu saat kita bertemu lagi, aku mohon jangan lari lagi dariku," ucap Joan dengan suara sedikit bergetar.
Dia akan melepaskan wanita yang saat ini tengah mengandung anaknya.
Joan tak mungkin menyeret Raras dan calon buah hatinya yang mungkin akan menjadi sasaran bidik yang akan di lakukan oleh keluarga besarnya untuk bisa menjatuhkannya.
Jika di paksakan, maka semuanya akan terluka dan perjuangannya akan sia-sia.
"Ka-kamu serius izinin aku pergi Jo?" binar bahagia tak terelakkan dari pancaran mata Raras.
"Bahagialah, jangan pikirkan apa pun, kamu layak bahagia. Tolong jaga anak kita, suatu saat aku akan menjemputmu kembali," janji Joan.
Raras bangkit perlahan dan memeluk lelaki yang telah memberinya buah hati. Meski tak ada ikatan resmi, tapi Raras merasakan ikatan batin dengan lelaki itu.
Raras tau jika Joan berat melepaskannya. Ia juga tau lelaki itu tengah memperjuangkan sesuatu yang ia sendiri tak tau.
Bagaimana pun perasaan Joan padanya, Raras bersyukur telah mengenal lelaki baik seperti Joan dalam hidupnya yang suram.
Joan hanya bisa menahan air matanya agar tak keluar saat ini. Berat baginya melepas Raras dan calon buah hatinya. Namun ia tak punya pilihan lain untuk menyelamatkan wanita itu dan bayinya.
Sebelum tujuannya terpenuhi, ia akan membiarkan Raras pergi lagi dari hidupnya.
"Tuan, kita harus pergi sekarang," suara Billy di depan pintu menginterupsi keduanya yang akan segera berpisah.
"I Love You," lirih Joan saat mengecup kening Raras sambil memejamkan mata.
Raras tercengang dengan ungkapan cinta mendadak dari Joan. Lelaki itu tak pernah menyatakan atau bahkan memperlakukannya seakan Joan mencintainya.
Sebenarnya bagaimana perasaan Joan pada Raras? Kisah Joan akan saya tulis terpisah, karena kehidupan Joan Alexander pun penuh dengan kerumitan tersendiri.
Semoga Masih pada sabar menunggu kisah cinta Raras ya, siapa yang akhirnya akan bersanding dengan Raras?
.
.
.
Tbc
__ADS_1