Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 9


__ADS_3

Benar-benar menyebalkan, dia menatapku dengan wajah sendu. Aktingnya memang sungguh sempurna, harusnya dia ikut Casting saja. Siapa tau ada peran yang cocok dengannya.


Selain menjadi benalu padaku, dia juga menjadi benalu di kehidupan kekasihku.


Tapi apa Adam akan memberikan uang yang cukup lumayan besar untuk di berikan pada Nayla?


Aku tau pasti keuangannya, gajinya pun sama tidak terlalu besar, dia juga harus menanggung kebutuhan orang tuanya.


Entah sudah berapa banyak uang yang di minta Nayla pada Adam dan itu benar-benar sangat memalukan menurutku.


"Kenapa Ka? Ini cara aku bantu keluarga kita, kalo kakak mau lepas tangan."


Nayla selalu menggunakan nada lemah lembut padaku, tapi entah kenapa aku selalu menganggapnya munafik, sebab aku merasa itu hanya sebuah topeng.


"Bantu? Dengan mengemis pada kekasih kakak tirimu sendiri?" cibirku.


"Raras!" pekik ibu tiri "Kalo emang Adam yang bisa bantu kami, kenapa kamu yang marah? Dia lebih baik dari kamu!"


Tak kupedulikan ibu tiriku, kembali kutatap wajah Nayla "Kamu tau kan dia bantu kamu kar'na dia pacarku? Ngga malu kamu ngemis mulu ke dia? Cara kamu itu bikin kamu ngga bakal bisa rebut dia dari aku, karna dia pasti anggep kalo kamu itu matre!" ucapku dengan nada penuh penekanan yang jelas meruntuhkan harga dirinya.


Dia pasti sangat terkejut karena aku membongkar niat busuknya mendekati kekasihku.


Plak!


Tamparan di layangkan ibu tiriku, perih tentu saja. Wanita tua itu menatap nyalang diriku, terlihat sekali amarah tengah menguasai dirinya di mana aku telah menghina anak kebanggaannya.


"Dari tadi Mamah udah cukup sabar mendengar penghinaan kamu Ras. Tapi semakin di diemin kamu semakin ngelunjak!"


"Menghina? Itu bukan menghina, aku cuma buka topeng busuk anakmu yang sama sepertimu. Pe-la-kor" sinisku.


"Cukup Ka, jangan hina Mamah. Kakak salah paham sama hubungan aku dan Mas Adam, kami cuma deket karena seperti yang kakak bilang, dia mungkin menganggapku adiknya juga. Kakak cuma di butakan oleh cemburu," alibinya yang membuatku muak.


"Terserah kau saja!" aku sudah muak berada di rumah ini, jadi kuputuskan melangkahkan kaki segera untuk pergi dari sana.


Teriakan ibu tiriku menggema di belakang memanggil namaku. Tak kuhiraukan, rasanya amarahku akan semakin memuncak dan itu juga akan mempengaruhi kesehatan ayahku yang pasti mendengar perdebatan kami.


Aku yakin Nayla berusaha menghentikan ibuku yang pasti ingin sekali mencegahku. Sepertinya gadis itu tetap akan melanjutkan misinya untuk meminta bantuan kekasihku.


Di dalam mobil, kucoba untuk merelakskan dada yang sedari tadi bergemuruh kencang. Dila, satu nama yang ingin aku temui saat ini, gadis cantik yang selalu menjadi tempatku menumpahkan segala kesesakan hati.

__ADS_1


"Dil, ke temuan yuk!" ajakku.


Dia terkekeh pelan di sana, dia sangat hafal dengan suaraku yang terlihat kacau dan butuh bantuannya. Meskipun usianya di bawahku dua tahun, tapi dia sangat dewasa. Dia teman yang menyenangkan.


"Nape Lu? Pusing? Joan, Adam apa keluarga tiri Cinderella," dia mencemoohku.


"Ya udah, mau di mana? Klub X9 atau—"


"Cafe aja Dil! Gue ngga bisa mabok sekarang," potongku saat dia akan mengabsen klub malam yang sering kami datangi.


"Okelah, kayaknya ada yang udah mau tobat nih," cibirnya.


.


.


.


Cafe yang kami kunjungi cukup lengang, mungkin karena ini hari Senin.


Aku memilih meja dekat dengan kaca besar dengan segelas Capucino hangat sambil menunggu Dilla.


Mobilnya pasti akan terlihat dari sini. Tak lama mobil merah menyala terparkir tepat di sebelah mobilku, terlihat sekali kesenjangannya.


"Biasa aja dong liat mobil gua," pongahnya.


Cih!


Kupanggil pelayan untuk kembali memesan pesanan Dilla. "Mau pesen apa lu Dil?"


"Apa ajalah, yang penting manis."


Cantik tentu saja, apalagi jika Dilla sedang tersenyum, lesung pipit di kedua pipinya akan menambah kecantikannya.


Sayangnya, masa lalu gadis itu sangat menyedihkan. Orang mungkin akan mencacinya yang lebih memilih menjual diri karena kecantikan yang di milikinya.


Mereka tak tau, bagaimana seorang Dilla yang bisa tegar menjalani hidup setelah sebuah pelecehan yang di alaminya saat ia masih kecil.


Ironis bukan? Masa kanak-kanak yang harusnya menyenangkan ia lalui dengan kekerasan sek*sual yang di lakukan oleh ayah dan saudara tirinya.

__ADS_1


Yang lebih menyedihkan lagi, sang ibu lebih memilih menutup mata karena takut akan gunjingan orang.


Dilla putus sekolah, dan memilih kabur dari kampung halamannya bersama sepupu jauhnya, terseok-seok hidup di kota metropolitan ini nyatanya membuat hidupnya kembali suram.


Di jual oleh sepupunya di rumah bordil, membuat Dilla harus menerima takdir hidupnya.


Beruntungnya dia tak menjajakan diri dan di hargai murah, sang germo lebih memilih menjualnya agar di jadikan simpanan oleh orang-orang berduit.


Tak jarang ia pun di perlakukan tidak manusiawi oleh pasangannya. Jika mendengar kisah Dilla, sungguh mengiris hati.


Jangan caci dia karena hidupnya, andai bisa memilih dia selalu berharap di lahirkan dengan wajah biasa saja, karena kecantikannyalah yang membuatnya hidup seperti di neraka.


Aku juga terkekeh saat ingatanku kembali ke masa silam, Di mana hanya Dilla yang saat itu mau dengan sabar mengajariku menjadi pelayan di sebuah klub malam.


Gilanya lagi dialah yang memintaku meminum obat perangsang saat aku memutuskan menjual diri pada Joan.


"Mending Lu minum ini obat," ucapnya kala itu sambil melempar bungkusan bening. Aku tak tau obat apa itu, karena hanya di bungkus plastik transparan biasa.


"Apa ini Dil?" tanyaku takut-takut. Aku paham sekali dunia malam seperti ini obat-obatan terlarang sudah biasa bertebaran di sana.


Jelas saja aku menolak mengonsumsi barang haram tersebut, meskipun aku bekerja di sana.


Aku bekerja di sana karena gajinya yang lumayan, jika sampai aku jadi pecandu, tak tau lagi uang dari mana untuk mencukupi kebutuhan keluargaku.


"Lu dah jadi simpanan Tuan Joan, ini bisa bantu lu nerima keadaan, dari pada lu ke siksa, mending pasrah aja!" begitulah sarannya.


Terdengar gila pasti menurut kalian, tapi taukah, obat itu membuatku menerima keadaan.


Benar kata Dilla, aku pasti tak akan ikhlas melepaskan mahkotaku untuk seseorang yang bahkan tidak aku kenal.


Aku hanya tau namanya saat itu. Tak tau bagaimana rupanya, apa dia muda atau tua. Bahkan aku tidak tau, dia lelaki dengan bentuk tubuh seperti apa.


Kebanyakan sugar Dady, mereka tua-tua dan berbadan gempal. Membuatku berpikir jika Joan juga seperti Sugar Dady lainnya.


Jadi lebih baik aku meminum obat yang di berikan oleh Dilla, dan melakukannya dengan tanpa sadar, dari pada nantinya aku merasakan sakit yang teramat sangat karena ingin menolak.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2