
Keempat lelaki itu menatapku penasaran, pak Joan dengan alis terangkat sebelah, sedangkan Mas Adam dahinya mengerut. Hanya Mas Lucky yang tampak biasa saja dan Pak Billy, wajahnya datar.
"Kamu kenal saya?"
"Ah engga Pak, maaf cuma namanya mengingatkan aku sama seseorang," ucapku sambil mengibaskan kedua tangan.
Gugup tentu saja, hampir saja aku menyenggol orang penting hanya karena nama mereka mirip.
Mas Lucky menyenggolku, aku tentu saja tersenyum kikuk saat Pak Billy masih menatapku dengan senyum mengejek menurutku.
Mengingat pertemuan ini begitu penting, bisa-bisanya aku malah teringat akan kakakku itu.
Aku di minta Mas Adam dan Mas Lucky untuk memeriksa bagian perencanaan di meja terpisah.
Kami saat ini sedang berada di sebuah restoran. Mas Adam dan Mas Lucky sendiri masih berbincang dengan Pak Billy dan beberapa orang yang ikut bagian dalam proyek ini.
Menyebalkan sekali, aku di perlakukan seperti anak bawang yang seperti tidak tau apa-apa.
"Nay, bisa kita bicara?" suara mas Adam mengejutkanku.
Kulirik tempatnya berkumpul tadi, masih ada mas Lucky yang tampak masih serius berbincang.
"Emangnya Mas Adam udah kelar?"
"Itu tinggal bagian Lucky, ayo Nay! Ada yang mau mas tanyain sama kamu," dia mengajakku keluar dari restoran ini.
"Tapi Mas, ini—" sambil menatap tumpukan berkas yang sedang ku teliti tadi.
Dia membereskan kertas-kartas itu, "nanti aja," ujarnya sambil menggandeng tanganku dengan sebelah tangannya memegang berkas-berkas tadi.
Jangan tanya bagaimana jantungku, baru pertama kali kami sedekat ini. Jantungku serasa mau lepas dari tempatnya.
Mas Adam mengajakku ke rumah makan dengan model saung yang letaknya tak seberapa jauh dari restoran pertama kami.
"Mas, Mas Lucky ngga papa di tinggal sendirian? Nanti pulangnya gimana?"
Meskipun senang karena bisa menghabiskan waktu berdua, tapi aku tetap memikirkan rekan kerja kami yang lain.
"Aku udah bilang sama Lucky supaya dia langsung pulang ke hotel, ada yang mau aku omongin ma kamu."
Tiba-tiba, Mas Adam mengeluarkan paper bag cokelat, ternyata dia membawa minuman beralkohol.
Aku terkejut, tak menyangka jika Mas Adam adalah seorang peminum alkohol.
"Mas—" ujarku tercekat.
"Maaf Nay, aku pusing, temenin aku minum ya," pintanya dan aku hanya bisa mengangguk.
__ADS_1
"Kamu pesen minum yang lain aja, biar aku yang habisin minuman ini sendiri," tatapan matanya kosong, dia tersenyum tapi dengan senyuman yang penuh luka.
Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Mas Adam, raut wajahnya tampak sendu, kemejanya sudah keluar dari celananya, tampilannya tak serapi biasanya tapi tak mengurangi ketampanannya.
"Apa ini ada hubungannya dengan kak Raras Mas?" tanyaku saat dia berhasil menenggak satu gelas minuman beralkohol itu.
Wajahnya mengernyit saat merasakan rasa pahit minuman itu. Aku tau bagaimana rasa minuman seperti itu.
"Apa mas Adam mabuk-mabukan seperti ini hanya karena kak Raras?" tanyaku tajam.
Dia menengadah menatap mataku. Matanya memerah, entah karena mabuk atau ingin menangis.
"Siapa Billy Nay?"
Aku menghela napas, dia memang berniat menginterogasiku. Lalu kenapa harus mabuk segala, jika ia teler bagaimana aku akan membawanya pulang.
"Aku ngga tau Mas, ngga liat siapa orangnya, cuma orang yang namanya Billy itu yang bayar perawatan ayah sampe lunas," jelasku.
Dia tersenyum kecut, kembali dia menuangkan minuman itu hingga beberapa kali.
"Sakit Nay, sakit sekali, aku ngga tau kenapa Raras bisa setega ini," akhirnya tumbang juga pertahanan Mas Adam.
Laki-laki itu menangis tersedu-sedu. Dia menumpukan kepalanya di lengan yang berada di atas meja.
Tangisan itu sungguh memilukan. Dia pasti sangat terluka. Entah apa yang sudah kak Raras perbuat, hingga Mas Adam terpuruk seperti ini.
Ingin sekali kumaki wanita sundal itu. Dasar tidak tau di untung, bisa-bisanya dia menghianati orang seperti mas Adam yang baik ini.
"Ada apa dengan kalian Mas?" tanyaku.
Dia kembali menengadah, mengusap kasar kedua matanya. Hidung dan wajahnya memerah. Antara tangisan dan mabuk bercampur menjadi satu.
Mungkin Mas Adam butuh minuman beralkohol itu untuk meluapkan isi hatinya.
Dia terkekeh dan kembali menuangkan minuman itu, "aku ngga tau salah aku apa Nay, aku cuma ngga nyangka kalau dia ..."
Gluk
Setelah menenggak minuman terakhirnya, dia langsung terkapar tak sadarkan diri.
Kubiarkan saja dia tertidur sejenak di sana, pemandangan di sekitar saung ini sangat sejuk, di tambah hari sudah beranjak malam.
Aku tengah menimang apa harus menelepon mas Lucky untuk membantuku membawa Mas Adam?
Lamunanku terhenti kala Mas Adam bergumam dalam tidurnya, dia menyebut nama Kak Raras berulang kali. Bahkan mengatakan wanita itu jahat.
Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua? Apa Mas adam di tolak lamarannya? Tapi sepertinya rencana lamaran romantis itu belum terealisasi karena mas Adam belum memintaku untuk mereservasi tempat itu.
__ADS_1
Kembali kuhela napas, sebaiknya kami pulang hotel, mungkin besok akan lebih baik buat Mas Adam.
Beberapa kali aku melakukan panggilan ke nomor Mas Lucky sayangnya nomornya sedang berada di luar jangkauan, entah habis baterai atau apa, dengan terpaksa aku memapah tubuh besar Mas Adam di bantu oleh pegawai restoran menuju parkiran.
Terpaksa aku yang mengemudikan mobil ini, baru juga beberapa menit berjalan, mas Adam tiba-tiba memuntahkan isi perutnya.
Bau tentu saja, aku kesal setengah mati, kalau memang tidak bisa mabuk kenapa juga harus minum-minuman beralkohol seperti ini.
Terpaksa kutepikan mobil di sebuah motel tak jauh dari tempat ini. Bagaimana pun aku tak bisa melanjutkan perjalanan menuju ke hotel tempat kami tinggal.
"Mas, bisa bantu saya bawa temen saya ke kamarnya?" pintaku pada penjaga motel.
"Bisa Mba, mbaknya udah pesen kamar?"
"Udah, mari ikut saya pak," pintaku pada dua orang laki-laki paruh baya itu.
Setelah sampai di kamar motel, aku memberikan mereka tips.
"Emm Pak, mohon maaf, apa di antara bapak-bapak ada yang bisa bersihkan mobil?"
Mereka saling berpandangan, "kenapa mobilnya neng?"
"Itu Pak, teman saya mabuk, lalu muntah, apa bapak-bapak mau membersihkan muntahannya? Saya akan bayar seratus ribu per orang gimana?" tawarku, berharap mereka bersedia.
Aku jelas sekali tak mau jika di minta membersihkan mobil Mas Adam, terus terang aku jijik.
"Bisa mbak," ucap mereka antusias.
"Ya udah yuk ke bawah lagi," ajakku pada mereka.
Setelah selesai urusan membersihkan mobil, sekarang giliranku membersihkan Mas Adam.
Meski dia tidak terkena muntahan, tetap saja bau tubuhnya sangat menyengat.
Kulepas satu persatu sepatu dan juga kemejanya. Jantungku kembali berdebar-debar saat menyentuh perut datarnya.
Astaga, kenapa darahku mendesir begini, kupegang pipiku yang terasa panas, hingga tiba-tiba ...
Bruk
Mas Adam bangun, menggulingkan dan menindih tubuhku, sorot matanya tajam.
Mau apa lelaki ini? Apa kami akan melakukan ...? Apa aku rela melepaskannya untuk Mas Adam?
.
.
__ADS_1
.
Tbc