
Di sana, Adam tengah berbincang dengan Seza. Entah apa yang mereka bicarakan, terlihat Adam sesekali tertawa.
Joan pun menghentikan langkahnya dan melangkah mundur, lelaki itu mencibir yang membuatku kesal setengah mati.
"Semangat!" ledeknya.
Dia kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti dan aku mengekorinya takut-takut menghampiri kekasihku.
"Pak Joan? Senang bertemu Anda di sini," sapa Adam sambil mengulurkan tangannya.
Aku terkejut mendengar Adam mengenal Joan, apa perusahaan tempat Adam bekerja sama dengan perusahaan Joan? Mengapa aku tak tau sama sekali.
Masih di belakang punggung Joan, kulihat keduanya berbicara sangat akrab, terdengar jelas bagaimana kekasihku itu mengagumi Joan.
"Sayang," panggil Adam saat melihatku. Apa sedari tadi dia tak menyadari keberadaanku? Hingga baru sesaat tadi menyapaku?
Aku tersenyum kikuk saat Joan berbalik dan menatap tajam diriku. Kenapa dia terlihat kesal.
"Oh, jadi Nona Saras kekasih Anda Pak Adam?" Joan sengaja menekan kata 'kekasih', di pendengaranku itu seperti sebuah olokan.
"Ah, iya Tuan," terlihat sekali pancaran bahagia saat dia mengenalkanku sebagai kekasih. Ah hatiku seketika menghangat, membuat pipiku merona seperti tomat pastinya.
"Anda sangat beruntung Pak Adam, kekasih Anda sangat cantik," kembali nada Joan terdengar seperti mengejekku.
Beruntung atasanku, Pak Denish menghampiri dan menengahi obrolan kami. "Terima kasih Tuan Joan atas kerja samanya," hati kecilku terbahak mendengar perkataan Pak Denish. Kerja sama dari Hongkong, kerja sama berbagi peluh mungkin maksudnya.
"Nona Saras, terima kasih telah banyak membantu, berhubung sudah jamnya istirahat, Nona boleh beristirahat sekarang," titahnya. Aku berterima kasih untuk pertolongan ini, meski hanya dalam hati.
Atasanku sepertinya ingin segera memisahkan kami, mungkin beliau tau sepertinya ada perang dingin di tengah perbincangan kami tadi.
Lagi-lagi aku merasa seperti wanita penghibur yang di sediakan atasanku untuk menghibur kliennya. Terlihat dari pilihan kata yang di ucapkannya.
Aku bergegas pergi dari sana meski dengan langkah terseok, tak lupa berpamitan demi kesopanan. Tak ada jawaban apa pun dari Joan, dan aku tak peduli.
.
.
.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Adam terlihat sangat khawatir melihat cara berjalanku.
"Entah, kakiku sakit saat harus berjalan jauh mengenakan heels," dustaku.
Adam terkekeh mendengarnya, mungkin terlihat sekali jika aku berdusta.
"Mungkin hakmu terlalu tinggi," Kekasihku itu menggiringku menuju mobilnya. Tak lupa membukakan pintu penumpang untukku.
"Aku belum membalas pesanmu kalo aku setuju makan siang bersama. Kenapa kamu percaya diri sekali datang ke kantor," gerutuku. Percayalah, aku hanya pura-pura merajuk.
Dia mengusap lembut puncak kepalaku sambil sedikit mengacaknya, seperti seorang anak kecil kutepis dan menggerutu.
"Ishh itu bibir kenapa di monyong-monyongin gitu? Mau di sosor?" kelakarnya.
Dia menggenggam erat jemariku dan mencium punggung tanganku. "Aku kangen," ucapnya tanpa menoleh ke arahku.
Dadaku berdebar keras, tentu saja aku merindukannya, sangat merindukannya. Seolah-olah aku berkejaran dengan waktu yang akan semakin terkikis untuk bisa bersamanya.
Baru juga terharu, tiba-tiba suasana hatiku anjlok menjadi sedih. Bertemu dengan Adam membuat perasan dan pikiranku seperti roller coaster, bisa berubah dalam waktu per sekian detik.
"Hei kenapa? Kok sedih?" tanyanya khawatir.
Ciiiit.
Adam menepikan kendaraannya. Kepalaku hampir saja terantup dasbor jika saja refleksku tak cepat.
"Dam, kenapa sih!" pekikku terkejut. Bukan maksud membentaknya, hanya saja aku benar-benar takut jika kami kenapa-kenapa.
Lucu bukan, baru saja tadi aku mengatakan sisa waktuku bersamanya seolah-olah kami tak memiliki waktu untuk bersama, tapi aku kesal saat dia membahayakan nyawa kami.
Bukan kematian maksudku yang membuat waktuku semakin menipis ketika bersamanya, melainkan masa depan yang sudah pasti tak akan ada ujungnya tentang hubungan kami ini.
Aku tentu saja masih ingin hidup. Jika di beri kesempatan, tentu aku berharap suatu saat bisa bertobat kembali ke jalan yang benar.
"Apa maksudmu?" suaranya sedikit bergetar. Aku menebak dia pasti mengira aku akan meninggalkannya di dunia ini.
"Kamu ngga lagi sakit parahkan?" benarkan tebakanku, dia salah mengartikan ucapanku. Tapi tak apa, setidaknya aku melega, dia tidak berpikir jika suatu saat aku akan meninggalkannya. Memberinya luka yang mungkin akan membuatnya membenciku.
Sesungguhnya aku berharap perpisahan kami tanpa saling menyakiti, aku ingin kami berpisah dalam keikhlasan, tapi apa bisa? Semua perpisahan pasti menimbulkan luka.
__ADS_1
Dia melepas seatbeltnya dan menggenggam erat kedua pundakku, memaksaku menatap manik matanya.
"Adam, kamu kejauhan ah mikirnya. Namanya hidup, aku juga ngga tau gimana masa depan kan?"
"Bisa juga esok kita akan berpisah. Mungkin kamu akan membenciku," lirihku di akhir kalimat. Entah bagaimana hidupku jika satu-satunya orang yang selalu menopang diri ini juga membenciku.
"Stop! Kamu jangan pernah ngomong aneh-aneh kaya gini lagi Ras!" ucapnya penuh dengan penekanan, seolah-olah dia sangat yakin bahwa kami akan terus bersama.
"Kamu aneh abis pulang dari liburan! Jangan pernah berpikir tentang perpisahan, karena sampai kapan pun kita pasti bersama."
Janji yang sangat manis, tapi pasti akan sangat sulit untuk terealisasi jika dia tau bagaimana hinanya diri ini. Namun tetap saja ucapan itu sedikit menghiburku.
"Maaf, yuk buruan aku laper nih," bujukku menghindar dari obrolan yang berujung menyakitkan nantinya.
"Berjanjilah Ras, kamu ngga akan ninggalin aku," tangannya semakin erat menggenggam jemariku.
Aku bisa apa? Bisakah aku memenuhi janji yang sangat berat itu. Jadi aku hanya sanggup mengangguk sebagai balasan. Sambil berkata dalam hati jika aku tak akan bisa menepati janji itu.
Makan siang kami berlangsung singkat, beruntung Adam sama sekali tak menyinggung Nayla di tengah obrolan kami.
Dia berharap bisa kembali makan bersama esok, lagi-lagi aku tak bisa langsung menjawab. Aku selalu beralasan akan memberitahunya nanti.
Kembali ke kantor aku sudah di cecar dengan berbagai pertanyaan oleh Seza. Gadis itu berumur dua tahun lebih tua dariku, tapi dia selalu berpikir bahwa aku jauh lebih dewasa darinya.
Andai dia tau jika keadaanlah yang memaksaku untuk menjadi dewasa, menarikku dari masa remaja yang harusnya menyenangkan.
"Sumpah deh Ras, kamu beruntung banget tau ngga bisa liat jelas Tuan Joan dari deket. Ah andai bos yang nyuruh aku nganter dia, ngga tau gimana kikuknya gue. Tapi sayang udah ada yang punya," ucapan terakhir Seza melemah. Tanda dia sedikit kecewa.
Tak urung perkataannya juga menarikku pada kenyataan, akan menjadi apa aku ke depannya jika Joan membuangku, dan aku melepas Adam.
Adakah seseorang yang akan menerimaku apa adanya, atau ... Aku akan kembali pada dunia malam yang membuat tubuh ini akan di gilir oleh mereka yang beruang dan sekedar mencari pelampiasan.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1