
Rizki yang melihat Raras menangis sesenggukan, menjadi panik.
"Aduh Mbak Raras kenapa?"
"Maaf kalau ucapan aku menyinggung. Aku cuma mau tepatin janji aja, mbak," lirihnya.
Raras bangkit dari tidurnya, mengusap kasar matanya untuk menghilangkan sisa air mata.
"Kamu ngga lagi nyogok aku kan?" ucapnya sambil sesenggukan.
Rizki terkekeh melihat tingkah ibu hamil itu. Rizki meletakan singkong rebus itu di meja dekat jendela.
Raras bangkit mendekati makanan yang di bawa oleh orang yang janji akan ia jauhi. Namun kenyataannya malah sekarang luluh.
Raras makan dengan lahap, sambil mengusap perutnya. Raras merasa takjub akan apa itu mengidam. Ternyata mengidam itu benar-benar ada, pikir wanita cantik dengan mata sembab itu.
"Pelan-pelan Mbak, ngga bakal aku ambil juga," sela Rizki yang masih berdiri di depan jendela kamar.
Raras melirik tajam, lalu kemudian dia tertawa. Raras memang wanita yang baik. Niat hati yang tidak akan bertemu lagi dengan Rizki nyatanya sirna dengan kegigihan lelaki itu mendekatinya.
"Kamu jangan senang dulu Ki! Aku masih sakit hati loh sama kata-kata kamu!" ucap Raras ketus.
Rizki tersenyum, hatinya melega, setidaknya dia yakin perhatiannya itu mampu meluluhkan sedikit amarah Raras.
"Aku bener-bener minta maaf loh Mbak. Aku sadar ucapanku sangat keterlaluan. Mbak Raras ... Bisa kan jangan ngomong sama Mbak Dinda?" pinta Rizki malu-malu.
"Cih! Kamu takut aku ngadu ke Dinda, terus kamu ngga boleh dateng ke sini kan?" tebak Raras tepat sasaran.
"Segitu cintanya kamu sama Dinda Ki?" lagi-lagi Raras mampu menebak isi hati lelaki yang sedang meringis itu.
Pembicaraan keduanya tak sengaja di dengar oleh Halwa yang berada tak jauh dari keduanya.
Halwa menghela napas mendengar ucapan Raras tentang perasaan sang keponakan kepada majikannya.
"Kasihan kamu Ki. Ibarat katak merindukan bulan, itulah kamu. Meski udah janda Bibi nggak yakin Mbak Dinda mau denganmu," monolognya, lalu pergi dari sana.
.
.
"Apa kelihatan banget ya Mbak?" tanya Rizki malu-malu.
Raras terkekeh, melihat wajah Rizki yang bersemu merah.
Tak lama telepon Rizki berdering, tertera nama seorang wanita yang sejak tadi menjadi bahan obrolan mereka.
"Halo mbak Dinda?" sapa Rizki dengan jantung yang sudah tidak karuan. Sebab baru kali ini Dinda menghubunginya terlebih dahulu.
"Dinda?" gumam Raras.
Rizki hanya mengangguk, saat akan meninggalkan Raras, ucapan Dinda membuatnya mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Kamu lagi sama Raras Ki?" tanya Dinda dengan nada riang.
"Iya Mbak," jawab Rizki lesu.
"Ki, tolong kasih telepon kamu ke Raras, aku mau ngomong sama dia," pinta Dinda yang membuat hati Rizki berdenyut nyeri.
Telepon ditangannya di berikan kepada Raras yang sejak tadi masih mengunyah singkong rebusnya.
Rizki menebak alasan di balik Dinda meneleponnya karena wanita idamannya itu ingin berbincang dengan Raras.
Rizki memilih menjauh dari Raras. Dia tengah menata hatinya. Menyalahkan takdir Tuhan yang sangat tak adil menurutnya.
Mengapa ia harus jatuh cinta dengan istri orang? Rizki sendiri tidak tau jika Dinda sudah menyandang predikat janda.
Hanya Halwa dan Rahmat yang mengetahui hal itu. Meski Rizki adalah keponakannya, akan tetapi urusan Dinda bukanlah urusannya.
"Ki, makasih ya," ucap Raras sambil mengembalikan ponsel Rizki.
Raras sendiri tersenyum penuh makna pada lelaki yang menatapnya bingung.
Raras akhirnya memiliki ide untuk tetap berkomunikasi dengan mantan tetangganya itu. Telepon Rizki bisa membuatnya berhubungan dengan Dinda atau pun Dilla.
Alih-alih memaafkan, Raras justru akan memanfaatkan ponsel milik Rizki.
"Kamu kenapa Mbak?"
"Eh engga Ki," sanggahnya dengan wajah memerah karena malu.
Cukup nama Dinda terlebih dahulu yang Raras sebut, wanita hamil itu yakin Rizki pasti bingung mengapa harus ponsel miliknya dan Raras enggan menjelaskan apa pun pada Rizki.
"Emang ponsel kamu kenapa Mbak?" ucap Rizki sambil melirik ponsel Raras yang justru terlihat lebih canggih dan pastinya lebih mahal dari ponsel miliknya.
"Ngga usah banyak tanya! Boleh ngga?" ketus Raras.
Rizki mendesah kalah, setidaknya dia akan di perbolehkan kembali ke sana berkat ponselnya. Dia akhirnya mengangguk mengiyakan permintaan Raras meski tidak tau apa motif di baliknya.
.
.
.
Adam saat ini tengah berhadapan dengan Lucky. Lelaki manis itu tentu saja bingung dengan permintaan Lucky yang tiba-tiba mengajaknya ke rooftop kantor mereka.
Di atas sana memang ada sebuah taman yang sengaja di buat untuk para karyawan melepas penatnya. Adam dan Lucky juga terkadang berbincang di sana.
Bugh!
Tanpa aba-aba Lucky menghajar Adam hingga jatuh tersungkur.
"Lu kenapa Ki?" tanya Adam sambil memegang pipinya.
__ADS_1
"Lu masih tanya kenapa Hah!" bentak Lucky.
Lelaki berkulit putih itu benar-benar ingin meluapkan emosinya pada orang yang sudah dia anggap sahabat.
"Apa begini cara Lu Dam? Kenapa? Lu tau gimana usahanya gue buat deketin Nayla! Kenapa lu tega Dam?"
Deg, jantung Adam berdetak dua kali lebih cepat. Usahanya menutupi hubungan sepihaknya dengan Nayla ternyata sudah di ke tahui oleh Lucky sang sahabat.
Adam tau saat ini Lucky pasti kecewa padanya. Menjelaskan jika dia tak memiliki perasaan pada Nayla pun pasti tetap membuat sahabatnya itu marah. Lelaki manis itu dilema. Dia hanya bisa diam.
"Kenapa Lu diem Dam?"
Adam bangkit dan berdiri di depan Lucky, "aku tau kamu menyukai Nayla Luc, tapi apa bisa kamu paksa perasaan Nayla?"
Sebenarnya bukan maksud Adam mengatakan hal yang pasti menyakiti hati sang sahabat.
Namun saat ini dia tidak memiliki alasan lain. Situasinya saat ini, apa pun yang di katakan Adam pasti salah di hadapan sang sahabat.
Kalau dia mengatakan hal yang terjadi padanya dan Nayla, sehingga membuat dirinya harus memiliki hubungan itu, Adam yakin dirinya akan kembali di hajar oleh Lucky.
"Aku ngga menyangka kamu akan sepicik ini Dam. Aku tau maksud kamu. Kamu hanya mempermainkan Nayla karena gadis itu menyukaimu."
"Kamu memperalat Nayla hanya untuk membalas pengkhianatan Raras! Itu yang aku ngga suka dari kamu."
Lucky menunjuk dada Adam saat mengatakan kata tajam itu dan setelahnya berlalu meninggalkan Adam begitu saja.
Adam bergeming karena Lucky mampu menebak pikirannya, meski tak seratus persen sama.
Bukan maksud hati untuk memperalat Nayla, sungguh, andai Lucky tau apa yang terjadi dengan dirinya, Adam yakin Lucky akan mengerti situasi dirinya saat ini.
Sedangkan di sudut lain Nayla tengah menguping pertengkaran dua sahabat itu.
Gadis licik itu tak menyangka jika keputusannya untuk memproklamirkan hubungannya dengan Adam melalui unggahan statusnya di sebuah aplikasi hijau akan membuat perasaanya memburuk.
Dirinya kini tau jika Adam tak benar-benar menyukainya. Yang lebih parah, dirinya hanya menjadi alat balas dendam Adam saja.
Tak kuasa menahan rasa sakit, Nayla memilih berlalu dari sana tanpa memedulikan Adam.
Meski dia sadar jika mendapatkan Adam dengan cara yang salah, tapi saat kenyataan Adam bahkan tak memiliki perasaan padanya membuat Nayla sakit hati.
Gadis itu merasa perjuangannya mendapatkan Adan terasa sia-sia.
"Bagaimana lagi aku meluluhkan hatimu Mas, mengapa harus selalu Raras. Apa yang terjadi sebenarnya dengan kalian berdua? Sebaiknya aku tanyakan pada Mas Lucky," monolognya.
.
.
.
Tbc
__ADS_1