
Kuputuskan untuk kembali bekerja meski kondisi tubuhku tidak terlalu sehat.
Sejak semalam, aku terus menatap layar ponsel, bukan berharap Adam akan menghubungiku, hanya ingin tau di mana kekasih atau lebih tepatnya mantan kekasihku berada sekarang lewat media sosialnya. Nihil, dia tak memasang status apa pun.
Aku tak berharap banyak dari hubungan ini, meski kata putus tak terucap dari mulut kami berdua. Namun aku sadar diri jika tak mungkin lagi mempertahankan hubungan kami.
Tak ada yang perlu di jelaskan pada Adam, biarlah dia menganggapku seorang wanita binal yang sudah menjual diri kepada orang-orang dari pada harus mengatakan siapa ayah dari bayi ini.
Urusannya akan lebih panjang dan lebih sulit jika aku membongkar siapa lelaki yang telah menghamiliku. Lagi pula aku tak ingin Adam terlibat dengan Joan.
Kuhela napas kasar saat bercermin, kemeja dan rok span ketat ini tak mungkin bisa aku gunakan lebih lama. Apa aku harus segera keluar dari perusahaan? Atau ....
Ah menggugurkan kandungan ini tak semudah yang aku bayangkan, sejak semalam aku mencari informasi di internet tentang menggugurkan kandungan, sayangnya aku malah lebih banyak menjumpai dampak buruknya aborsi.
Yang paling aman tentu saja di Dokter spesialis kandungan di rumah sakit, tapi tentu saja itu tidak mungkin, sebab aborsi adalah tindakkan ilegal dan bisa terancam pidana.
Kuusap lembut perutku, ada rasa tak tega dengan bagaimana pemikiranku ingin mengenyahkannya. Namun sulitnya masa depan membuatku gamang untuk mempertahankan.
Salah satu yang paling menakutkan adalah bagaimana aku akan menghilang selama masa kehamilan? Jika masalah uang aku rasa aku bisa hidup sesederhana mungkin, tapi di mana?
Pergi ke suatu tempat asing pun pasti akan ada pertanyaan dari orang-orang sekitar di mana ayah si jabang bayi.
"Kamu tolong jangan menyusahkanku ya?" pintaku pada bayi ini.
Sedari pagi aku sudah bolak-balik kamar mandi karena morning sickness yang merepotkan. Setelah mengisi perut dengan buah-buahan energiku sedikit kembali.
Tak ada makanan apa-apa di kos-an selain buah dan camilan, makanya aku memutuskan untuk berangkat pagi agar bisa sarapan di luar.
Saat keluar kos, berbarengan dengan Dinda yang sepertinya juga akan bekerja. Semalam kami lebih banyak membicarakan hal-hal yang menghibur diri.
Aku dan Dinda sudah merencanakan acara baby moon di Bali nanti. Meski tidak yakin aku tetap antusias mendengar rencananya. Dibandingkan aku, sepertinya Dinda lebih bahagia atas kehamilanku ini.
"Ras, kamu mau kerja?" tanyanya kaget.
"Iya Din, ngga lama lagi aku juga bakal keluarkan? Jadi aku perlu ngumpulin duit lebih banyak sekarang," jawabku sambil tertawa.
Dinda menghela napas, "Sarapan dulu yuk! Aku yakin kamu belum sarapan," ajaknya lantas mengapit tanganku.
__ADS_1
Kami sarapan di sebuah kedai pinggir jalan yang menyediakan bubur ayam dan segala lauk-pauknya.
"Kamu kapan mau periksa kehamilan Ras? Aku anter mau?” tawarnya.
Jika saja Dinda tidak bertanya, aku bahkan lupa anjuran dokter di klinik yang kemarin merawatku.
"Kamu masih ragu mempertahankannya Ras?" tanya Dinda saat melihatku seperti tak bersemangat meresponsnya.
"Aku bingung Din ... "
Bubur hangat yang sudah separuh masuk ke dalam perut mendadak tak lagi terasa enak.
"Kenapa?"
Kuhela napas kasar, aku tak mungkin bisa menceritakan secara detail kehidupanku karena ada rahasia yang tidak boleh orang tau.
"Apa ayah kandung bayi kamu ngga mau tanggung jawab?" terka Dinda yang entah benar atau tidak.
Aku tidak bisa menjawab jika memang ayah bayi ini tidak mau bertanggung jawab sebab Joan sendiri tidak tau akan kehamilanku.
Kalaupun Joan tau mungkin lelaki itu lebih berharap bayi ini tak hadir di antara kami.
Namun ... Kuusap lembut perut ini, sanggupkah aku membuangnya? Aku memang wanita hina karena rela menjual tubuhku. Apa aku juga harus jadi seorang pembunuh? Bahkan darah dagingku sendiri?
"Ras ..." Dinda menyentuh punggung tanganku, menggenggamnya erat.
Dia menarik napas sebelum menghembuskannya secara perlahan, "Aku mau rawat anak kamu Ras, kalo emang kamu belum siap. Aku janji bakal sayangi dia kaya anak aku sendiri, aku juga ngga bakal nutupin sejarahnya. Kamu akan tetap aku kenalin sebagai ibunya. Seorang ibu tangguh yang rela berjuang untuk dia," sorot mata itu penuh harap.
Aku tau bagaimana perasaan Dinda, seseorang yang di diagnosa tidak bisa memiliki anak pasti sangat berharap bisa memiliki anak meski bukan darah dagingnya sendiri.
Apa aku harus melepas bayi ini untuk di rawat Dinda? Aku yakin anakku kelak akan mendapatkan kasih sayang yang tulus dari Dinda.
"Masalah biaya. Kamu tenang aja Ras, aku akan hidupi kamu selama kamu keluar dari perusahaan. Aku ada tempat yang cukup jauh dari sini kalau memang kamu ingin bersembunyi," tawaran yang membuatku terkejut.
Saat Dinda mendengar aku terkesiap, dia buru-buru melanjutkan ucapannya.
"Maaf Ras, bukan maksud aku ikut campur. Aku cuma berpikir karena kata kamu tadi mau resign. Kalau memang kamu bingung mikirin biaya, aku sanggup membiayai kamu."
__ADS_1
"Kalau masalah tempat tinggal, itu cuma saran aku, supaya kamu bisa lebih nyaman saat menghadapi kehamilan dan kembali penuh percaya diri saat bayi itu lahir."
Aku memikirkan semua ucapan Dinda, apa aku harus menurutinya? Lantas bagaimana aku membicarakan kepergianku yang mendadak pada Joan?
Jika ingin mempertahankan bayi ini, lebih baik tidak perlu memberitahu lelaki itu bukan?
"Gimana kalau kita rawat anak kamu sama-sama Ras?" Tawarnya karena sejak tadi aku lebih banyak diam.
Dinda pasti butuh kepastian dariku sekarang. "Kamu punya tempat tinggal yang jauh dari warga sekitar Din?"
"Iya, tempatnya sejuk. Vila sederhana, kado pemberian mantan suamiku Ras," jelasnya.
Wow aku cukup terkejut dengan kehidupan rumah tangga Dinda dulu. Aku yakin kalau mantan suami Dinda pasti bukan orang sembarangan.
Memberikan kado sebuah Vila pastilah mengeluarkan uang yang sangat banyak.
"Suami kamu pasti orang kaya ya Din," jawabku yang malah fokus pada mantan suami Dinda.
Dinda mendengus kesal "percuma kaya kalau ngga setia Ras. Aku mending hidup begini, kerja sendiri cari duit sendiri."
Aku terkekeh mendengar gerutuan Dinda. "Nanti aku pikirin tawaran kamu ya Din. Aku ngga bisa ambil keputusan sekarang."
"Sip. Jangan lupa nanti sore kita ke rumah sakit ya," ajaknya.
"Mau apa?" tanyaku linglung.
"Kontrol kehamilan kamu Ras. Aku udah tau Dokter kandungan yang bagus, pokoknya kamu jangan nolak!" pintanya tegas.
"Ay ... Ay kapten," sahutku sambil memberi hormat layaknya seorang tentara.
Kami pergi menggunakan mobil masing-masing. Dinda memang memaksa untuk mengantarku, bahkan yang lebih gila dia mau menjadi sopir pribadiku untuk mengantara jemputku.
Sekhawatir itu dia terhadap bayi ini. 'Nak walaupun aku mungkin tak menginginkanmu, tetapi ada seseorang yang ternyata berharap akan kehadiranmu di dunia ini'
.
.
__ADS_1
.
Tbc