
"Di mana dia?" tanya seorang lelaki yang menatap tajam ketiganya.
Rizki dan Halwa yang tidak mengenal sosok lelaki di depannya itu hanya bisa mengernyit heran setelah terkejut dengan suaranya tadi.
Hanya Lucky yang bangkit berdiri mendekati Joan. Ya, lelaki yang datang dengan wajah menahan amarah itu adalah Joan.
"Pak Joan? Anda bertanya tentang siapa?" tanya Lucky bingung.
"An ... Raras, di mana dia?" tukas Joan dingin. Dia hampir menyebut nama Angel, nama panggilannya kepada Raras.
"Raras? Apa hubungan Anda dengannya?" Lucky benar-benar penasaran mengapa bisa-bisanya orang hebat dan berkuasa seperti Joan Alexander CEO dari ASF Group bisa mengenal Raras, mantan kekasih sahabatnya sendiri.
"Aku tak punya kewajiban menjelaskannya padamu bukan?" masih dengan nada dingin yang sama.
Saat Joan akan meninggalkan ketiganya dan masuk ke ruang UGD, Rizki menghadangnya tepat di pintu masuk.
"Apa Anda suami Raras?" tanya Rizki tajam.
"Minggir! Ini bukan urusanmu apalagi kalian!" ucap Joan pongah sambil menatap ketiga orang yang masih memandang bingung padanya.
"Maaf, tapi di sini kami sebagai wali mbak Raras. Tentu kami berhak tau siapa Anda, jangan sampai kami kecolongan ternyata Anda akan membahayakan Mbak Raras!" sergah Rizki tak mau kalah.
Lucky sendiri masih melihat sikap Joan yang tampak sekali menahan amarah. Dia sedang memikirkan hubungan apa yang di miliki lelaki yang terkenal cukup arogan itu dengan Raras.
Otaknya menolak jika Joan adalah ayah dari bayi yang di kandung Raras, tapi kecurigaannya tak mau enyah juga.
Billy datang melerai keduanya. Dirinya bahkan segera berdiri menghadang sikap Rizky yang menurutnya kurang ajar.
"Sebaiknya kalian tak perlu ikut campur. Tenang saja, tak mungkin kami membahayakan Nona Raras," janji Billy.
Setelah tersenyum sinis kepada Rizki, Joan melenggang meninggalkan ke empatnya.
Rizki mengepalkan kedua tangan. Dia sangat yakin jika lelaki yang di panggil Lucky dengan nama Joan itu adalah ayah dari bayi yang di kandung Raras.
Rizki sudah tidak peduli, jika benar dia adalah ayah bayi Raras, maka ia akan senang hati menolong Raras terbebas dari laki-laki breng*sek seperti Joan itu.
Meski tak tau permasalahan keduanya, Rizki hanya menebak jika hubungan mereka juga tidak terjalin baik. Nyatanya hingga lima bulan lamanya, lelaki itu tak pernah menampakkan batang hidungnya.
"Sebaiknya kalian pulang, biar kami yang menjaga Nona Raras di sini," pinta Billy dengan tegas.
__ADS_1
Bu Halwa bahkan sedikit takut saat melihat sorot mata Billy yang terlihat lebih tajam dari pada lelaki yang baru saja masuk ke dalam ruangan Raras.
"Tidak! Saya akan menunggu di sini," sergah Rizki tak memedulikan sorot ancaman Billy.
"Sebaiknya kita pulang, besok kita bisa kembali ke sini," ajak Lucky yang tak ingin ada keributan di sana.
Masalahnya, Lucky sangat paham orang seperti apa Joan dan Billy ini, lebih baik tak berurusan dengan para penguasa seperti mereka jika masih ingin bernapas di bumi ini.
Rizki menoleh tak percaya dengan ajakan Lucky. Mengap lelaki bermata sipit itu terkesan takut pada Billy.
Memangnya siapa mereka hingga bisa bersikap seenaknya, batin Rizki kesal.
"Ayo Ki! Lebih baik kita pulang dulu,” ajak Halwa yang sangat yakin jika dua orang yang baru saja datang bukanlah orang sembarangan, ia tak ingin sang ponakan terlibat masalah dengan orang-orang besar, pikirnya.
****
Di dalam kamar yang berisi beberapa ranjang yang hanya di sekat oleh tirai-tirai berwarna hijau, terbaring seorang wanita yang sedang mengandung anaknya.
Joan mengepalkan kedua tangannya di dalam saku celana untuk meredakan gejolak amarahnya.
Di usapnya kening wanita yang terlihat tidur tak nyenyak. Joan tau jika wanita itu akan segera sadar, atau mungkin memang sudah sadar.
"Pak," sapa Billy yang turut berdiri di samping atasannya.
Billy kemudian pamit undur diri, dia harus bergegas mempersiapkan permintaan atasannya.
Di vila sendiri ada pasangan suami istri yang saat ini tengah duduk dan masih saling menyalahkan.
"Kamu tega mas. Aku lagi hamil kamu tinggal begitu aja, malah sekarang kamu bersama wanita lain. Siapa wanita murahan itu Mas?" tanya Meisya dengan air mata berderai.
"Sudah berapa kali mas katakan itu teman Dinda yang menyewa vila ini, mas baru kenal dengan dia kemarin," Anjas berusaha bersabar menghadapi sikap Meisya yang sedang cemburu buta.
"Bohong! Kenapa kamu terus mengelak mas?" cecar Meisya yang tetap tak percaya dengan ucapan sang suami.
Anjas mendengus kesal, sudah lebih dari satu jam lamanya dia berusaha menjelaskan kepada Meisya. Namun tak satu pun ucapannya membuat sang istri percaya.
Dirinya yang sudah lelah menghadapi sang istri dan berniat menenangkan diri di vila milik mantan istrinya malah terganggu oleh wanita itu.
"Sebenarnya apa niat kamu ke sini? Bukannya aku sudah bilang, beri aku ruang, beri aku waktu—"
__ADS_1
"Kenapa kamu selalu menghindari masalah Mas! Aku sedang bertanya siapa wanita tadi dan apa hubungan kalian! Tega sekali kamu sama aku sama anak kita."
Meisya masih kekeh dengan pertanyaannya. Sebelum ia mendapat jawaban tentang siapa wanita hamil yang bersama sang suami, ia tak akan menjawab pertanyaan lainnya.
"Astaga MEISYA! Aku sudah bilang itu Raras temannya Dinda, kalau kamu masih ngga percaya hubungi Dinda!" sentak Anjas yang sudah hilang kesabaran.
"Kamu bentak aku mas? Dari tadi kamu selalu membentak aku! Apa salah kalau aku cemburu saat suamiku bersama wanita lain?"
"Tapi cemburumu ngga mendasar!" ujar Anjas sinis.
"Aku takut kehilangan kamu Mas. Aku ... Aku takut kamu ninggalin aku sama anak kita," lirih Meisya yang kembali menangis.
Anjas mendesah pelan, bagaimana pun saat ini istrinya tengah hamil, mungkin hormon kehamilan membuat perasaan sang istri gampang berubah-ubah.
"Maafin Mas. Sebaiknya kamu istirahat sekarang, ayo kita cari penginapan," ajak Anjas.
Lelaki berkaca mata itu tak mungkin mengajak istri keduanya tinggal di vila milik mantan istrinya karena janji yang dulu pernah ia ucapkan.
"Memangnya aku tak boleh menginap di sini Mas?"
Bukan tanpa alasan, Meisya benar-benar kelelahan saat ini. Lelah fisik dan batin pastinya.
"Maafin mas sayang, tapi mas udah janji sama Dinda ngga akan pernah bawa kamu ke sini," jelasnya.
Anjas tidak ingin menutupi apa pun pada sang istri, meski dia melihat kilatan amarah dalam sorot mata Meisya, dirinya tak gentar.
"keterlaluan sekali mantan istrimu itu mas! Lagi pula sekarang dia sedang tidak ada di sini!"
Awalnya dia merasa bisa sejenak mengistirahatkan tubuh dan pikirannya di vila milik mantan istri suaminya itu, tapi malah bertambah kesal dengan penjelasan sang suami.
Dirinya yang masih kesal dengan wanita hamil yang menurut penjelasan sang suami adalah teman mantan istrinya harus bertambah kesal dengan penolakan dirinya di vila itu.
Meisya merasa jika dia juga memiliki hak untuk mendatangi vila mantan istri suaminya. Terlebih lagi tak ada Dinda sang mantan madu, lalu apa yang harus di takuti. Pikirnya.
"Pokoknya aku mau di sini titik!" Meisya bangkit hendak meninggalkan ruang tamu.
.
.
__ADS_1
.
Tbc