
(Pov Nayla)
Aku sungguh tak mengerti dengan situasi ini, mengapa orang tuaku seperti mati kutu.
"Ayah tau itu adalah hakku dari ibu, tapi ayah rampas. Jadi aku minta sore nanti semua peninggalan ibu buat aku, udah ayah siapkan!" ujar Ka Raras setelah itu dia pergi meninggalkan meja makan.
"Yah ... Apa Raras ...?" mamah tercekat saat bertanya pada ayah.
"Mah, ada apa sih?" akhirnya aku bersuara. Marsha hanya bisa mendengarkan saja, mungkin bingung.
Ayah menghela napasnya kasar lalu menatap mamah dengan tajam, "aku udah bilang jangan sekali-kali pakai uang itu, tapi apa sekarang? Kamu keterlaluan Rita! Raras ngga pernah marah sama aku, tapi sekarang—" ayah benar-benar frustrasi.
"Enak aja! Aku make juga niatnya kan nanti di ganti, kamu aja ngga bisa kasih duit lebih buat mencicilnya!" mamah ngga terima di salahkan oleh ayah.
Tunggu sepertinya aku paham, jadi mamah memakai uang warisan ibunya kak Raras, dan kakak Raras mengetahui itu.
Apa dia baru tahu jika dia memiliki warisan dari ibunya? Lantas bagaimana dia tahu.
"Aku emang berencana menggantinya, tapi gara-gara kamu yang ngga sabar ngomongin uang warisan raras, dia jadi dengar! Ini semua salah kamu!" ayah tetap menyalahkan mamah.
Setelah bertengkar di meja makan ayah pergi begitu saja, aku sendiri memikirkan perkataan Ka Raras yang akan menempuh jalur hukum.
Apa dia berencana melaporkan ayahnya sendiri? Dan mamah? Lalu bagaimana nasibku dan Marsha.
Mereka kembali bertengkar sampai di halaman rumah, aku masih mendengar suara teriakan mamah.
Pertengkaran mereka terhenti saat aku mendengar suara pintu mobil ayah di banting dengan keras dan suara mobil menjauh.
Mamah masuk kembali dengan wajah merah padam, aku yakin dia sangat kesal.
"Brengsek!" makinya. Mamah meneguk air putih untuk meredakan amarahnya. Dadanya kembang kempis, dia menyanggah tubuhnya di meja makan.
"Mah, apa mamah sama ayah akan masuk penjara?" lirihku.
Mamah terkesiap, dia menatapku, " Ngga sayang, mamah ngga akan di penjara. Memangnya kenapa mamah harus di penjara?" dia berkata lembut padaku.
__ADS_1
"Tapi tadi kak Raras ..." aku tak melanjutkan kalimatku.
"Ngga usah di pikirin, anak sialan itu nanti akan mamah bereskan," janjinya.
Setelah kejadian pagi itu, aku mulai merasa takut, sikap kak raras yang berubah angkuh membuatku tak berani mencari masalah dengannya.
Ayah sering pulang malam dan mamah tak suka itu. Keduanya selalu terlibat pertengkaran membuat rumah seperti di neraka.
Mungkin inilah saatnya kak Raras membalaskan semua rasa sakit hatinya. Aku tak menyangka hanya sebuah kalimatnya mampu merubah suasana rumah ini.
Lagi pula aku heran, mengapa dia tidak terima saja jika memang warisan itu di pakai orang tuanya? Toh ayah dan mamah sudah bersusah payah merawat dia dari kecil.
Dan nasib nahas kembali terjadi di keluargaku, ayah terkena serangan jantung. Membuatnya tidak bisa bekerja secara maksimal.
Ayah sering sekali tidak masuk kerja dan membuat perusahaan memberhentikannya.
Mamah kembali histeris dan pertengkaran antara mamah dan kakak Raras kembali terjadi.
"Ini semua gara-gara kamu! Memangnya berapa sih warisan dari mamah kamu itu! Apa kamu ngga bisa ikhlasin aja? Toh selama ini mamah udah urus kamu!" bentak mamahku.
"Itu kewajiban ayah, apa emang kamu itu perempuan sundal yang cuma mau harta ayah aku aja tanpa mau anaknya? Aku ngga minta uang sama kamu, aku minta ma ayah aku," sindirnya.
"Kamu—" mamah sudah diliputi dengan amarah, seumur-umur aku tidak pernah melihat mamah melakukan kekerasan pada kak Raras meski ucapannya selalu menyakitkan pada kakakku itu.
Kak Raras dengan sigap menahan tangan mamah dan menyentaknya hingga mamah terhuyung jatuh.
"Mamah!" aku yang dari tadi menguping pertengkaran mereka terkejut saat mamah terjerembap karena ulah kakak raras.
Aku benar-benar merasa geram, dia memang keterlaluan. "Kakak kenapa? Kenapa kakak kasar sama mamah Ka?" aku bersuara lembut, aku memang gadis yang pandai sekali berakting bukan.
Cih! Kudengar dia mendengkus dan aku ingin sekali mencakar wajahnya.
Tunggu, aku baru menyadari perubahan fisik kak Raras, wanita itu tampak berbeda, dia tampak lebih segar dan bersih. Apa dia melakukan perawatan?
Ini ngga bisa di biarin! Aku ngga terima jika dia bahagia. Dia selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Belagu sekali dia, gaji tidak berapa saja dia sudah berani bergaya.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu ngga terima?" baru aku akan menjawab, tiba-tiba ayah datang dan mukanya langsung pucat.
Dia memegang dadanya dan tak lama jatuh pingsan. Kami semua panik dan segera melarikan ayah ke rumah sakit.
Ayah kembali masuk ruang ICU, kami duduk di depan ruang rawatnya.
Mamah kembali melirik tajam ke arah Kak Raras dan bangkit berdiri di depannya.
"Ini gara-gara kamu! Ayah kerja keras biar bisa gantiin duit warisan kamu! Harusnya kamu sadar kalau ayah udah tua, tapi kamu malah bikin dia kerja lembur terus!" bentaknya.
"Mah udah, ini di rumah sakit, tuh di liatin orang," sejujurnya aku marah juga sama kak Raras, tapi aku tetap ngga mau mamah teriak-teriak di muka umum kaya begini.
Bagaimana kalau ada orang yang kenal denganku, terlebih lagi aku melihat orang-orang sekitar tengah mencuri-curi pandang ke arah kami, siapa tau ada yang memvideokan ulah mamah tadi.
Kak Raras bangkit berdiri, dia menantang mamah. Astaga baru juga aku melerai mamah kini kak Raras malah seperti mengaduh benderang perang.
"Salahku? Harusnya kamu mikir pake otak saat pake uang itu! Sepertinya membiarkan kamu bebas adalah kesalahan, besok aku akan melaporkanmu ke kantor polisi," ucapannya sangat tajam dan mampu membuat mamah melongo.
Dia pergi begitu saja, seorang perawat datang dan memberitahu mamah untuk mengurus administrasi ayah.
Aku sendiri tidak bisa membantu apa-apa masalah biaya rumah sakit ayah, aku cuma anak kuliahan yang masih di sokong oleh orang tua.
Kulihat mamah sibuk menelepon seseorang, sepertinya keuangan keluargaku semakin terpuruk karena habis untuk biaya pengobatan ayah.
Kak Raras? Dia pergi meninggalkan rumah dan tinggal di kos-kosan. Entah apa yang ayah dan kak Raras bicarakan, tapi sepertinya ayah mengizinkan putri sulungnya hidup mandiri.
Ada rasa kesal dan iri, aku juga ingin hidup mandiri dan bebas dari kepura-puraan ini. Aku selalu berpura-pura menjadi anak yang lembut dan santun untuk bisa membanggakan ayah dan mamah, tapi terkadang aku lelah. Aku juga ingin menjadi diri sendiri.
Kehidupan bebas juga ingin aku dapatkan, tapi aku masih bergantung pada orang tua, jelas aku tidak bisa menuntut banyak.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.