
Kembali pada POV Raras alias Angel
Setelah mengambil semua uang di bank, aku bergegas menghubungi Dinda di kantornya, kuajak dia bertemu untuk terakhir kalinya.
Kami berbincang di sebuah restoran tak jauh dari kantornya.
"Kamu yakin ngga mau aku antar Ras?" dia menggenggam tanganku. Mungkin karena rasa khawatir karena aku yang tengah berbadan dua pergi seorang diri.
"Villa ku agak terpencil Ras, jauh dari vila lainnya, kamu ngga papa di sana sendirian?" ucapnya khawatir.
"Tenang Din, lebih baik aku ngga terlalu banyak berinteraksi sama orang banyak, aku ke sini justru berterima kasih banget sama kamu karena kamu mau nampung aku Din,"
"Kamu udah aku anggap adikku sendiri Ras, jaga diri ya, jangan lupa sering kabari aku," pintanya.
Air mata sudah di pelupuk mata Dinda, aku menepuk punggung tangannya, dia tertawa sambil mengusap matanya, menghilangkan lelehan yang belum sempat turun.
Kuhirup dengan rakus udara kota kelahiranku. Kota metropolitan dengan segala kesibukannya.
Kota yang sudah memberi warna dalam hidupku, entah kapan aku akan kembali ke sini.
Ayah jaga dirimu, maafkan atas keegoisanku ini, setidaknya aku juga akan menjadi orang tua, biarkan aku menjadi orang berguna kali ini dengan menyelamatkan bayiku.
Kuusap lembut perutku, semenjak mengandung aku menjadi cengeng.
"Boleh aku usap Ras, salam perpisahan ama si 'utun'" pinta Dinda.
Tentu saja boleh. Kami saling berpelukan, aku berharap Dinda tak terkena masalah karena kedekatan kami.
Joan, maafkan aku, jika boleh berharap semoga kamu mau melepaskan orang-orang terdekatku yang tidak bersalah ini.
Adam, bencilah aku seumur hidupmu, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik bagimu, semoga kau bahagia.
"Aku pergi ya Din, aku harus pamitan ke temenku yang lain," kulepaskan pelukan perpisahan ini.
Tujuh bulan bukan waktu yang lama, aku akan kembali untuk mempertanggung jawab kan semuanya. Aku pergi.
***
Aku menemui Dilla di rumahnya, Dilla adalah perantaraku dengan ayah. Kuminta Dilla untuk mengabariku mengenai kondisi ayah, meski apa pun yang terjadi aku tak akan bisa menemuinya.
"Jadi, Gue cuma di minta kasih tunjangan ayah tiap bulan aja kan?" ujar Dilla.
"Iya, jangan lupa gaji Suster Rini, bilang sama dia kalau buat keperluan ayah lu kasih, tapi engga buat yang lain," pintaku tegas.
Dilla terkekeh, "Lu tau mak tiri cinderella pasti mencak-mencak tau lu minggat kek gini Ngel," cibirnya.
"Se-engganya anaknya udah punya ATM lain buat di porotin."
Alis Dilla mengerut, "siapa?"
__ADS_1
Kuhela napas kasar, "Adam tau gue hamil. Entah sengaja apa emang mereka udah ada rasa sejak lama, sekarang Adam malah deketin Nayla."
Mengingat kelakuan mereka berdua membuat hatiku terasa sedikit sakit. Bagaimana tanda merah di leher Nayla, dan genggaman tangan keduanya.
"Ngga mungkin kayaknya, paling cuma mau manasin Lu aja."
Tak lupa aku menyerahkan ATM milik Adam, aku yakin Nayla akan mencariku dan Adam kemungkinan akan memberitahu tentang Dilla.
"Nih ATM Adam, sory gue bakal ngerepotin elu banget. Pasti mereka curiga ke Elu. Lu pasti di amuk Dill, gue berharap Lu bisa bertahan, semoga Lu baik-baik aja."
Sejujurnya Dilla adalah orang pertama yang aku cemaskan, sudah pasti dia yang akan di cari entah oleh Joan, Adam, atau keluargaku terlebih dahulu.
Membayangkan Dilla harus berusaha keras berbohong, membuatku semakin panik, apa nantinya Dilla akan menyerah?
"Lu tenang aja, gue hendel semuanya, baik-baik di sana, lu sendirian, ngga usah mikirin yang ngga perlu, yang penting bayi ini sehat," ucap Dilla sambil mengusap perutku.
Aku terharu dengan pengorbanan Dilla dan Dinda, mempunyai teman yang menyusahkan seperti aku tak membuat mereka menjauh.
"Tapi gue khawatir lu kenapa-kenapa Dil," lirihku.
"Lu tenang aja Ngel, gue bisa jaga diri."
"Tapi kalo Joan—" aku membayangkan adegan sadis di film barat tentang mafia.
Aku tak bisa membayangkan apa yang akan Joan lakukan kepada Dilla, kalau Joan seperti mafia-mafia itu.
"Kita bakal ketemu lagi nanti Ngel, kamu tenang aja." Lagi Dilla berusaha menenangkanku.
Semua kami lakukan untuk antisipasi jika ponsel utamanya akan di sadap. Aku yakin Joan mempunyai Power untuk melakukan itu.
Setelah berpamitan dengan dua sahabatku, aku memutuskan untuk segera pergi. Surat pengunduran diriku sudah kuserahkan kepada HRD, meski pihak HRD keberatan karena surat pengunduran diri yang mendadak, mereka tetap tak bisa mencegahku.
Bahkan ancaman yang sudah aku pikirkan jika mereka tak akan memberi gaji bulananku juga tak membuatku goyah.
Aku berkata jika itu adalah konsekuensi dari tindakanku secara sepihak yang mungkin merugikan perusahaan.
Lagi, aku berdiri menatap langit dan gedung-gedung pencakar alam yang menjadi ciri khas kota besar ini.
Selamat tinggal
Segera aku masuk ke dalam mobil yang sudah kusewa untuk mengantarku.
Delapan jam perjalanan membuat tubuhku lelah. Kami bahkan melakukan pemberhentian beberapa kali.
Sopirku butuh istirahat, bahkan kami berhenti hanya untuk sekedar untuk mengopi. Aku sendiri beberapa kali muntah, kepalaku sangat pusing. Kehamilan ini membuatku kepayahan.
"Non mau ke rumah sakit? Muka non pucat banget," pak Rano terlihat cemas saat kuminta ia kembali melajukan mobilnya.
"Ngga papa Pak, aku lagi hamil, jadi memang kaya gini," jelasku.
__ADS_1
Pak Rano terkekeh, untung dia tidak menanyakan suamiku, dia malah menghiburku dengan menceritakan kehamilan istrinya.
"Istri saya kalau hamil ngidamnya aneh-aneh non. Non apa ada yang di penginin?" kulihat tatapan matanya di kaca spion tampak prihatin.
"Engga pak, semoga aja saya ngga ngidam aneh-aneh," lagi, kuusap perut rataku.
Kubisikan kata pada bayi ini, memohon agar dia tak menyusahkanku sebab kini kami hanya sendiri.
Akhirnya kami sampai di vila, aku sangat terpukau dengan bangunan vila milik Dinda. Hampir mirip dengan vila milik Joan yang banyak di dominasi oleh kayu.
Meski keadaan gelap gulita, aku yakin pemandangan di sini bagus, hanya sebuah perkebunan teh yang bisa aku lihat.
Benar kata Dinda, jarak antara vila satu dengan yang lainnya lumayan berjauhan.
Daerah ini juga termasuk daerah oerbukitan, hawanya sangat dingin, kurasa aku akan betah tinggal di sini.
Vila milik Dinda juga tidak terlalu besar dan tidak bertingkat.
Kutekan bel yang berada di sisi pagar, menurut Dinda ada sepasang suami istri yang menjaga vila miliknya.
Benar saja, seorang lelaki paruh baya dengan sarung yang tersampir di pundak, dan senter di tangan kanannya datang tergesa-gesa ke arahku.
Pagar vila ini hanya sebatas dada, jadi aku bisa leluasa melihat ke dalam. Meski aku agak kurang nyaman dengan pemilihan pagar ini, seperti tidak terlalu ada privasi.
"Ini non Raras?" tanya lelaki di hadapanku ini.
"Iya Pak saya Raras, temannya Dinda," jelasku.
"Ayo masuk Non, saya sama istri sempat khawatir karena non ngga sampai-sampai, gimana perjalanannya non?"
Lelaki paruh baya ini tampak ramah, sepertinya aku tidak akan merasa kesepian.
"Ih bapak ini gimana toh, Non Rarasnya biarin istirahat dulu atuh Pak," sela seorang wanita paruh baya yang aku yakin dia adalah istri lelaki ini.
"Iya maaf bue, kenalin Non, saya Pak Rahmat ini Bu Halwa, kalo non ada perlu apa-apa bisa minta tolong kami," ujar Pak Rahmat memberitahu.
"Iya pak, terima kasih," sebenarnya aku ingin sekali meminta Bu Halwa untuk mengantarku istirahat ke kamar, tapi melihat antusias mereka menyambutku membuatku urung.
"Non Raras istirahat dulu ya, mari saya antar ke kamar," akhirnya aku bisa beristirahat.
Saat melewati ruang keluarga aku sempat terpaku oleh bingkai foto yang di pasang di sana, tanganku tanpa sadar memegang bingkai itu.
Apa hubungan mereka? Tenggorokanku tercekat.
.
.
.
__ADS_1
Tbc