Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 39


__ADS_3

Bukan hanya keluarga Raras yang kelimpungan atas kaburnya wanita cantik itu.


Joan, lelaki yang membayar tubuh Raras nyatanya juga tengah kalut karena kepergian wanita simpanannya itu.


Dia bergegas mendatangi kediaman Dilla. Satu-satunya orang yang di laporkan anak buahnya karena terakhir terlihat bersama wanitanya.


Raras memang tahu jika dirinya selalu di awasi, oleh sebab itu orang yang terakhir di temuinya adalah Dilla, sebab gadis itu lah yang mampu menolongnya melarikan diri dari para mata-mata Joan.


Saat itu mereka tak banyak berbincang karena Dilla yakin dirinya di buntuti, oleh sebab itu dia membawa Raras yang bersembunyi menuju apartemen suaminya.


Raras berpindah untuk menghindari mata-mata Joan, dan rencana mereka berhasil.


Raras berhasil kabur bersama dengan sopir sewaan yang memang sudah menunggunya.


Joan sangat geram mendengar jika para mata-matanya berhasil di kelabui oleh wanita simpanannya.


"Memangnya kalian ngga ngikutin Dilla!" makinya.


Para bawahannya saling melempar pandangan, mereka mengaku terkecoh dengan siasat wanita simpanan bos mereka.


Bugh


Karena emosi, Joan menghajar anak buahnya satu persatu. Tak ada ampun baginya.


"Tenang Pak, ayo kita temui teman nona Angel itu!" ajak Billy pada atasannya.


Joan yang terlihat ingin membunuh bawahannya itu lantas menoleh kepada sang tangan kanan.


"Benar, lebih baik aku menemui wanita itu!" sorot matanya tajam.


Anak buah Joan yang terkapar di lantai saat mendengar Billy menghentikan amukan bos mereka merasa lega. Setidaknya mereka tidak mati mengenaskan di tangan bos mereka.


Joan merapikan kemeja dan jas yang terlihat sedikit kusut. Saat memasuki mobil tak lupa Billy memberikan kantung es untuk sang atasan.


"Ambilah, Anda banyak memukul orang tadi," ucap Billy sambil melirik punggung tangan Joan yang memerah.


"Thanks."


Keduanya sampai di kediaman Dilla. Dilla sendiri sudah sangat siap menghadapi Joan. Bahkan dia sudah memasang kamera tersembunyi yang terhubung dengan seseorang yang akan menolongnya jika dirinya terkena masalah.


"Silakan masuk Tuan-tuan," sapa Dilla ramah, meski raut wajah tamunya tampak tak bersahabat.


"Aku yakin kamu tau tujuanku datang kemari," ucap Joan tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Iya, Angel bukan?" Dilla masih berusaha tersenyum meski jantungnya berdebar sangat keras.


Bukan karena paras keduanya bak dewa Yunani, tapi tatapan yang sangat mengintimidasi itulah yang membuat nyalinya sedikit ciut.


Jangan berurusan dengan Joan Alexander, banyak yang bilang seperti itu. Lelaki itu tak tersentuh sama sekali. Dia terkenal kejam.


Mengingat hal itu, membuat Dilla menelan kasar salivanya.


"Sayangnya aku tidak tau di mana dia berada," ucapnya yakin.


Dilla memang tidak tau pasti di mana keberadaan Angel alias Raras. Yang dirinya tahu sahabatnya itu akan pergi ke vila di sebuah kota lainnya di negara ini. Tempat pastinya tentu saja Dilla tidak tahu.


"Kamu tau, aku bisa melakukan apa saja agar kamu mau buka suara," dingin. Kata-kata itu memiliki ancaman yang sangat serius di telinga Dilla.


Joan memang tak pandang bulu dalam menghadapi musuhnya, meski seorang wanita sekalipun.


Dilla masih tetap menampilkan senyumannya. "Kau punya kuasa Tuan, silakan saja, kenapa tak kau coba mencari setiap inci kota di negara ini?" kali ini Dilla mengatakan dengan nada sedikit mengejek.


"Jangan lupa, aku yakin kamu pasti tau aku simpanan siapa. Aku tentu tak ada apa-apanya, tapi kekasihku tentu akan merasa Anda mengusik wanitanya,” balasnya.


Meski tak ingin membawa-bawa suami simpanannya, tapi karena nama besar sang lelaki itu di dunia bisnis, Dilla yakin Joan akan berpikir dengan matang jika akan melukainya.


Joan tersenyum remeh, tentu saja Joan sangat tahu lelaki yang sudah menjadikan Dilla menjadi simpanannya. Meski kedudukan lelaki itu di bawah ASF Group, tapi tak bisa di pandang sebelah mata.


"Nona, Anda tau jika bisa saja kami melenyapkan Anda beserta keluarga Nona Angel. Beritahu saja dia tentang hal itu, aku yakin dia pasti kembali," sela Billy yang semenjak tadi hanya diam menyaksikan.


Joan menatap ke arah Billy sesaat, lalu kembali menatap Dilla dengan senyum mengejek. Benar, untuk apa cape-cape mengancam wanita ini, dia memiliki kartu As wanita simpanannya itu.


"Sayangnya ... Angel sudah tak peduli. Seharusnya Anda membiarkannya saja, nanti juga dia kembali, anggap saja dia sedang berlibur," ucapnya memberi pengertian.


Joan mengeraskan rahangnya, ia tak suka di curangi seperti ini, jika wanita itu memang ingin pergi berlibur, seharusnya bicara baik-baik dengannya.


"Baiklah Nona Dilla, sepertinya percuma saya bertanya pada Anda, tapi saya pastikan kalau Angel akan saya temukan," Joan menatap ganas pada wanita cantik yang malah membalasnya dengan senyuman manis.


Baru juga Joan meninggalkan rumahnya, kini datang keluarga tiri Cinderella dan mantan kekasih sahabatnya.


Dilla memang sudah menyiapkan diri menjadi orang yang akan pertama di cari oleh orang-orang dekat Angel.


Wanita cantik dan seksi itu menghela napas kasar saat melihat wajah ibu tiri dan saudara tiri Angel.


Dia memang tidak pernah tau seperti apa mereka, hanya sebatas dari cerita Angel saja, dan lihatlah kini, bola mata mereka seakan mau copot saat melihatnya.


"Maaf, kalian siapa ya?" tanyanya pura-pura tak tahu.

__ADS_1


"Ka—" Nayla merasa gugup saat berhadapan dengan Dilla, dirinya tak menyangka seseorang yang bernama Dilla ternyata sangat cantik dan juga sexy, dirinya sempat merasa insecure sedikit.


Karena melihat anaknya gagap, Rita melanjutkan ucapan Nayla, "kami keluarga Raras, saya mau tau di mana Raras," ketusnya.


Sebenarnya bukan hanya Nayla, bahkan Rita pun merasa takjub dengan fisik Dilla. Hanya Adam yang justru biasa saja melihat wanita cantik itu. Sebab dia sudah beberapa kali bertemu dengannya.


"Silakan masuk," Dilla sebenarnya ingin langsung menjawab 'tidak tau' tapi mendadak dia ingin mengerjai keluarga benalu itu.


"Aku tau kamu pasti ngga akan ngasih tau kami di mana Raras, tapi jujur aja—"


"Mah!" Nayla memotong ucapan sang ibu karena gugup.


Dia merasa tidak enak pada Adam, jika kedatangannya ke rumah teman dekat Kakak tirinya itu hanya sebatas karena uang.


"Apa sih Nay! Udah kamu diem aja!" ketus Rita.


Dilla sendiri tak menyela, ingin tahu sejauh mana wanita paruh baya itu mengungkapkan keinginannya.


"Ah, gini aja, aku ngga peduli dia mau pergi ke mana karena itu memang hak dia, tapi kenapa dia lalai sama tanggung jawabnya," meski Rita memperbaiki pola katanya, tetap saja akhirnya dia mengungkapkan tujuannya.


"Tanggung jawab apa ya Tante?" Dilla tau maksud ibu tiri Angel itu, dia hanya ingin membuat wanita itu malu saja.


"Ya tanggung jawab menafkahi keluarganya lah!"


Dilla tersenyum, "Maaf, tante masih punya tangan dan kaki kan? Dia anak tante kan?” tunjuk Dilla pada Nayla menggunakan dagunya.


“Jadi kenapa itu menjadi tanggung jawab Raras? Tanggung jawab Raras hanya pada ayahnya saja."


Mendengar hal itu membuat Rita naik pitam, dirinya sampai bangkit dari tempat duduk.


"Raras yang sudah menyebabkan ayahnya lumpuh! Harusnya ayah Raras yang menafkahi kami, tapi gara-gara anak itu ayahnya harus berhenti bekerja, sudah seharusnya ia bertanggung jawab pada kami!"


Nayla yang malu dengan kelakuan sang ibu bahkan menarik tangan sang ibu agar kembali duduk.


Dilla tersenyum miring, "tanggung jawab? Bukankah Anda juga harus bertanggung jawab pada diri Raras? Anggap saja Raras saat ini di pecat? Apa Anda mau menghidupi Raras?"


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2