Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 8


__ADS_3

"Tadi kakak dengan sombongnya ngancem ngga mau bayar sewa rumah! Seolah-olah kakak punya uangnya. Nyatanya cuma omong besar aja!" cibir Marsha.


Sekarang gadis itu berani menatap sengit diriku. Ketakutan tadi hanya sebuah tameng agar tak di salahkan.


"Emangnya dari kemarin kamu tinggal di sini siapa yang bayar? Pake otaknya," balasku sengit sambil menunjuk kepalaku sendiri.


"Ka ..." lirih Nayla menengahi perdebatanku dan saudari tirinya.


"Kakak beneran ngga punya uang?"


"Ngga ada, hari ini jadwal Ayah ke rumah sakit, untung aja ada uang buat berobat ayah," jawabku malas.


Nayla menghela napas, ketiga orang di hadapanku diam membisu, mungkin sedang menyusun strategi lain untuk menaklukkanku.


"Ya udah jual aja mobil kamu dulu—" ide gila ibu tiriku.


Astaga ingin sekali kulempar bantal sofa ke arahnya, seenaknya saja dia ngomong. Kulihat Nayla sedikit mengerut takut. Ah aku tau apa yang ditakutinya karena ucapan bodoh ibunya itu.


"Kenapa harus mobilku, bukannya kalian juga punya mobil?" sinisku sambil menatap Nayla yang terkejut.


"Maksud kamu? Itu mobil kita satu-satunya, kamu ngga tau gimana repotnya kita kar'na cuma punya satu mobil aja. Kalo kamu kan hidup sendiri, Mamah yakin naik motor pun ngga masalah," cecar ibu tiriku.


Aku tertawa, mengapa jadi mereka yang mengaturku. Karena muak lebih baik kutinggalkan mereka untuk menemui ayahku.


Ibu tiriku berusaha mencegah kepergianku dengan mencekal lenganku.


"Ngga sopan kamu! Tadi kamu treak-treak ngomongin sopan santun, nyatanya atitude kamu juga buruk!" makinya.


Kutepis kasar cekalannya hingga dia sedikit terhuyung ke belakang, beruntung Marsha menangkap tubuh ibunya.


"Aku kesini buat nemuin ayah, ngga ada urusannya sama kalian," dengusku.


Kulangkahkan lagi menuju tujuanku semula, menemui ayah. Hatiku meringis perih melihat keadaannya, kamar yang pengap ini harus di huninya.


Ibu tiriku memang kejam, dia tidak mau lagi tidur sekamar dengan ayahku, alasannya karena tidurnya terganggu oleh rengekan ayahku yang tak jelas.


Ayahku terkena struk sudah setahun ini, sebelumnya ia memiliki penyakit jantung.


Penyakit jantung ayah yang membuatnya kehilangan pekerjaan, dia harus di pensiunkan dini, pesangon yang tak seberapa mulai habis untuk kebutuhan sehari-hari kami.

__ADS_1


Hingga sampai penyakitnya itu kambuh dan membuatnya harus operasi jantung, saat itulah dalam keadaan terdesak ku jual diri untuk mendapatkan uang operasi ayah.


Menyesal? Tidak, aku bersyukur dia masih berada di sisiku, entah seperti apa hidupku jika ia juga meninggalkan diriku seorang diri.


Ucapan yang tadi aku katakan pada ibu tiriku bukan sungguh-sungguh dari hati. Aku tak pernah siap jika harus kehilangan satu-satunya keluargaku.


Dulu aku tidak begitu paham hubungan rumit orang tuaku dan ibu tiriku, seiring bertambahnya usia, aku yakin ibu tiriku adalah simpanan ayahku dulu, terlihat dari perbedaan usia antara aku dan Nayla yang tak terpaut jauh.


"Ayah, udah makan?" sapaku saat mata tua itu menatap ke arahku.


Ada genangan air mata di pelupuk matanya. Aku yakin dia mendengar perdebatanku dengan anak dan istri keduanya.


"Ayah udah makan Sus?" tanyaku pada perawat yang kutugaskan khusus untuk merawat ayah.


"Sudah Mbak Raras, sedikit. Sepertinya beliau merindukan Mbak Raras," terang Rini.


Aku tersenyum menatap ayahku, beliau memang lumpuh separuh, membuat sebagian wajahnya miring sebelah. Tapi tangan sebelah kirinya masih bisa bergerak meski tak terlalu normal.


Tangan kiri itu mengusap pipiku lembut. "Raras juga kangen Ayah. Bangun yuk kita ke taman," ajakku.


Kuminta Rini menyiapkan kursi roda. Tubuh ayahku sangat kurus, meski begitu beliau tetap laki-laki, jadi tubuhnya tetap terasa berat.


Tak kupedulikan Ibu tiri beserta kedua adik tiriku yang sejak tadi tengah berbincang, sayup-sayup aku mendengar masalah keuangan. Apalagi yang mereka ributkan jika bukan karena uang.


Di sinilah kami, hanya di taman belakang kediaman rumah sewa yang mereka tempati, tapi lumayan untuk sedikit menghibur ayah.


Aku membayar Rini dan juga satpam kompleks untuk membantu Rini mengangkat tubuh ayah setiap pagi agar tetap terkena sinar matahari pagi.


"Apa ayah yang ngirim pesan Sus?" tanyaku penasaran, meski aku sudah yakin dengan pemikiranku sebelumnya.


"Emm ... Itu Mbak," sudah pasti Rini terbata, dia juga bingung bagaimana harus menjawab.


"Aku tau, cuma penasaran aja," jawabku dingin.


"Maaf Mbak." Ayah menyentuh tanganku yang berada di bahunya. Itu tanda bahwa aku harus melupakan masalah sepele itu, selalu seperti itu.


Sejak dulu ayahku selalu membuatku mengalah karena tingkah semena-mena istri barunya. Itulah yang membuatku merasa beliau sangat tak adil padaku.


Tak lama Nayla menghampiri kami. Dia duduk di sebelahku dan menghadap ayah kami. Buliran bening menetes kembali dari sudut mata ayah.

__ADS_1


"Maafin mamah tadi Ka," lirihnya.


"Sudahlah, kita bahas nanti," kuhentikan obrolannya, geram sekali aku dibuatnya.


Apa dia sengaja memperlihatkan kesedihan di hadapan ayah? Ingin membuatku seperti seorang penjahat yang tega menelantarkan keluarga?


Setelah mengembalikan ayah ke kamar agar istirahat, aku kembali menemui keluarga tiriku.


"Ras, kamu jangan egois gini, dari kemarin Bu Ratna udah ngancem ngusir kami kalo hari ini ngga bayar," rajuk ibuku.


Aku sedikit tertawa geli melihat sikapnya yang sedari tadi terlihat panik.


"Denger ya Ras, jangan harap Mamah mau pisah dari ayah kamu! Mamah ini istri sahnya Ayah kamu. Jadi, kalo kami di usir dari sini Mamah juga akan ajak serta ayah," ancamnya.


Dan aku tau drama itu akan membuat kesehatan ayahku menurun, licik sekali medusa ini.


"Sebaiknya kalian pindah aja, aku udah ngga sanggup bayar sewa rumah ini," keluhku.


"Nggak! Apa yang mau temen-temenku bilang, udah aku di ejek ngga pake mobil sendiri, sekarang harus keluar juga dari rumah ini? Pokoknya aku ngga mau tau," protes Marsha dengan napas kembang kempis.


"Ya udah bayar sendiri," ujarku sambil berdiri meninggalkan mereka.


"Ka tunggu," cegah Nayla sambil menggenggam tanganku.


"Kakak serius ngga mau bayar?" tanyanya berusaha meyakinkan.


"Bukannya tadi aku bilang, aku ngga sanggup bayar sewa rumah ini, kalo kalian masih mau aku penuhi kebutuhan kalian, kalianlah yang harus ikuti kemauanku," tawarku.


Dia melepaskan pegangannya "Kalo begitu bolehkan aku minta bantuan Mas Adam?" nadanya memang lirih, tapi terselip ancaman di sana.


Ucapan gadis itu memang sungguh keterlaluan, jika Marsha tak pernah menutupi topeng iblisnya di hadapanku berbeda dengan Nayla yang berwajah bak malaikat tapi berhati iblis, gadis ini pintar sekali memutar balikkan perkataan hingga terkesan ia adalah manusia paling sengsara di muka bumi ini dan membuatku terlihat seperti iblis.


"Jangan macam-macam Nay!" bentakku.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2