
Pak Rahmat mengajak Rizki untuk kembali mencari Raras di Curug. Bu Halwa merengek minta turut serta akan tetapi di larang oleh sang suami.
"Pak tolong cari Mbak Raras sampai ketemu ya Pak, Ibu khawatir sekali Pak," ucap wanita paruh baya itu sambil menggoyang lengan sang suami.
Setelah itu Halwa menatap tajam Rizki yang masih menunduk. "Kalau sampai terjadi apa-apa sama Mbak Raras, Bibi ngga mau anggap kamu keponakan lagi Ki!" ancamnya.
"Hust! Malah ngomong begitu, Ibu berdoa saja semoga Mbak Raras baik-baik saja, jangan malah berpikiran yang enggak-enggak toh Bu," sela Rahmat.
Rahmat dan Rizki pergi mengendarai sepeda motor mereka masing-masing. Rahmat juga sama tegangnya dengan sang istri. Namun lelaki berkulit hitam itu mampu mengendalikan perasaannya.
Rahmat juga bingung dengan apa yang terjadi dengan Raras dan keponakannya itu. Namun keberadaan Raraslah yang paling utama, oleh sebab itu dia tak banyak bertanya kepada Rizki.
Raras sendiri sat ini tengah duduk di sebuah batu besar dengan kaki di rendam di dalam air.
Matanya menerawang jauh memikirkan nasib orang-orang yang di tinggalkannya.
"Semoga kalian baik-baik aja," monolognya.
Dia menghela napas kasar, mengusap perutnya sambil bersenandung lirih. Lapar, itu yang Raras rasakan saat ini.
Wanita hamil itu lantas bangkit untuk menyudahi kegiatannya.
"Kalo ngga gara-gara si Rizki, ngga bakal kaya gini kejadiannya! Mana jauh jalannya," gerutu Raras.
"Sabar ya Nak, nanti kita cari makan," berucap pada perutnya yang berbunyi semakin kencang.
Nafsu makan Raras memang bertambah besar, meski mual muntahnya juga belum berkurang.
Sambil berjalan dia berkhayal andai saja ada suami disisinya, pasti kehamilan ini terasa menyenangkan.
Dirinya selalu berpikir, mengapa nasib baik tak pernah hinggap padanya. Ibu yang di ambil saat usianya masih kecil, ayah yang menelantarkannya, keluarga tiri yang selalu menyiksa batinnya.
Bahkan orang yang di cintainya pun harus lepas darinya. Apa hanya bayi ini yang menjadi anugerah baginya? Pikir Raras.
Hari yang sudah lumayan siang membuat wisata itu mulai ramai di kunjungi warga. Raras sudah tidak merasa begitu takut, meski dia merasa banyak orang yang memperhatikannya, mungkin merasa aneh dengannya.
Sekilas dia memperhatikan penampilannya, dres biru muda dengan sepatu flat menurut Raras tak terlalu mencolok.
Ah, biarkan saja.
__ADS_1
Raras juga berpikir bagaimana nasib Rizki yang kembali tanpa dirinya. Apa lelaki itu di marahi, atau malah beralibi lain? Entahlah yang jelas Raras akan melarang lelaki itu ke vila mulai saat ini.
Para pedagang kaki lima sudah mulai berjejer di sepanjang jalan, Raras memilih melihat makanan yang mereka jajakan.
Apa aku boleh makan-makanan sembarang kaya gini ya?
Nak, baik-baik ya, aku udah lemes nih, gemetaran, sementara makan ini aja ya.
Dia memilih salah satu pedagang yang menurutnya paling bersih di antara yang lain. Dari pada dia pingsan di jalan lebih baik dia mengisi perutnya terlebih dahulu.
"Bu mau satu porsi ya."
Raras duduk di sebuah bangku yang entah di sediakan pemilik kedai, atau pengelola wisata di sana. Namun saat memasuki area wisata itu dia tak di pungut biaya seper pun.
Lagi pula pagi tadi keadaan Curug masih sepi, sepertinya itu inisiatif para pedagang saja, pikir Raras.
Seporsi dadar gulung sudah di tangan, Raras melahapnya perlahan karena panas, saat gigitan pertama Raras merasakan rasa enak, entah karena memang dia belum pernah makan makanan itu atau memang karena dia lapar.
Pak Rahmat dan Rizki sudah sampai di sana. Rizki sudah kelimpungan dengan banyaknya pengunjung di Curug yang pastinya akan membuatnya kesusahan mencari Raras.
Tanpa banyak bicara Rizki langsung melesat ke dalam Curug, sedangkan Pak Rahmat mencari di sekitar sana.
Salah seorang warga yang mengetahui ciri-ciri Raras lantas menunjukkan keberadaan wanita hamil itu pada Pak Rahmat.
"Mbak," panggil Pak Rahmat lirih.
"Pak Rahmat, sini duduk pak. Bapak mau pesen? Enak loh pak, aku udah abis 2 porsi ini."
Tak ada raut marah Raras pada dirinya, justru wanita itu malah menawari dirinya jajanan itu, yang seketika membuat Pak Rahmat menggeleng.
"Terima kasih Mbak, Mbak Raras sudah kenyang? Apa masih mau jalan-jalan lagi?" tawar Pak Rahmat.
Di pikiran lelaki tua itu tak ada masalah yang terjadi antara Raras dan keponakannya. Rahmat berpikir mungkin Raras menghilang dari pantauan Rizki karena sedang mencari makan.
Raras menolak tawaran Pak Rahmat karena memang dia sudah merasa lelah dan ingin segera istirahat. Setelah menghabiskan makanannya Raras segera mengajak Pak Rahmat untuk kembali ke vila.
Raras merasa beruntung tidak perlu harus menggunakan kendaraan umum, sebab dia sendiri lupa jalan menuju vila.
"Kita tunggu Rizki dulu ya Mbak. Apa mbak mau di sini biar saya yang cari Rizki ke dalam?"
__ADS_1
Mendengar nama Rizki membuat mood Raras kembali buruk, kenangan yang baru saja di alaminya dengan Rizki membuatnya jengah.
Namun dia tidak ingin mempersulit Pak Rahmat atau pun Rizki, jadi dia hanya mengangguk mengiyakan tawaran Pak Rahmat.
Pak Rahmat dan Rizki datang bersamaan, Rizki menunduk saat sudah sampai di depan Raras.
Wanita itu sendiri enggan berbasa-basi dengan lelaki yang sudah menghinanya tadi. Dia memilih bergegas menaiki motor pak Rahmat meski kendaraan Pak Rahmat tidak sebagus milik Rizki.
"Mbak naik saja sama Rizki, motor saya takut ngga nyaman buat Mbak Raras."
No!
"Engga papa Pak, saya sama Pak Rahmat aja, yang penting pelan-pelan dan hati-hati aja ya pak," ujar Raras ceria.
Melihat penolakan Raras, Rizki berinisiatif menawarkan motornya pada sang paman.
"Paman pakai motor saya saja sama Mbak Raras, biar saya yang bawa motor Paman," tawar Rizki.
Cih!
Raras berpikir dalam hati jika Rizki sangat sok baik padanya setelah apa yang dia lakukan. Raras menebak jika Rizki tidak mengatakan apa yang mereka alami pada paman dan bibinya.
"Ngga perlu paman, pakai motor ini aja, lagian Raras juga pengen ngerasain pakai motor bebek gini," selanya menolak dengan tegas usulan Rizki.
Raras sudah muak dengan perilaku Rizki yang menurutnya bermuka dua.
"Mbak beneran mau pakai motor ini?" Pak Rahmat berusaha meyakinkan Raras dengan melirik ke arah belakang.
"Iya pak, lagian aku takut naik motor sama Rizki," ucap Raras yang di artikan lain oleh kedua lelaki itu.
Rizki berpikir jika Raras benar-benar takut padanya sebab masalah mereka tadi, sedangkan Pak Rahmat berpikir mungkin Rizki mengendarai motornya secara ugal-ugalan dan membuat wanita hamil itu ketakutan.
"Ya sudah, sekarang pulang kan Mbak?"
Rizki mendesah saat tahu kesalahannya sangat fatal. Dia sangat yakin Raras sangat membencinya. Namun lelaki itu tidak menyerah, dia akan berusaha meminta maaf pada Raras.
.
.
__ADS_1
.
Tbc