Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 27


__ADS_3

Pov Nayla


Pov Nayla


Aku Nayla, anak kebanggaan orang tuaku. Sedari kecil aku selalu di manja, apa pun kebutuhanku selalu di penuhi oleh mereka.


Tapi ... Aku selalu merasa iri akan semua milik kakak tiriku, Raras namanya.


Kami tiga bersaudara, meski dia bukan anak yang lahir dari rahim ibuku, tapi ayah sangat menyayanginya.


Aku sendiri memiliki saudara kandung, Marsha namanya, aku dan Marsha tidak pernah berebut sesuatu karena orang tua kami selalu memberikan aku atau pun Marsha sesuatu yang kami inginkan.


Namun berbeda dengan Raras, kakak tiriku hanya bisa memandang iri kepada kami.


Dia selalu di kucilkan oleh mamah karena dia bukan darah dagingnya. Mamahku akan bersikap lembut padanya hanya pada saat ada ayah saja.


Berulang kali aku mendengar Kakakku mengadu pada ayah yang sayangnya hanya di tanggapi angin lalu, sebab ayah lebih percaya pada Mamahku.


Mungkin dia terlihat nelangsa, tapi percayalah dia selalu mendapatkan keberuntungan. Keberuntungan yang ingin aku miliki sebenarnya, aku iri, iri sekali padanya.


Dia memang tidak terlalu pintar di sekolah, tapi dia memiliki banyak teman. Sialnya banyak juga lelaki yang menyukainya dan aku benci itu.


Aku yang memiliki otak encer harus selalu di bandingkan dengan dia si murah hati katanya.


Sayangnya tak ada yang bisa kulakukan untuk menjahilinya secara langsung sebab aku tak ingin ayah memarahiku, jadi aku selalu bersiasat membuat kerusuhan agar ia di marahi mamah.


Aku selalu berusaha menjadi anak yang membanggakan untuk orang tuaku, jadi aku sangat senang saat ayah selalu memujiku di hadapannya.


Semua masih bisa kutolerir, teman-teman yang sangat peduli padanya juga orang-orang sekitar yang sayang padanya aku bisa menolelir semua itu, tapi tidak ketika dia membawa seorang lelaki tampan ke rumah.


Mas Adam namanya, mereka sudah berhubungan dari masa SMA, aku kecolongan, dulu saat ada lelaki yang mendekatinya aku selalu membuat mereka menjauhi kak Raras dengan memfitnahnya.


Namun ternyata dia tak terpengaruh saat para lelaki itu menjauh, mungkin karena dia sudah memiliki kekasih, kenapa sampai aku tak tahu? Aku geram sekali.


Awalnya aku tak tertarik dengan Mas Adam, dia memang lumayan tampan, tapi terlihat sangat sederhana, aku suka lelaki yang cool, keren dan yang paling penting tajir.


Banyak teman lelaki yang kukenal dan lebih tampan darinya, tapi entah kenapa senyuman mas Adam selalu menghantuiku.

__ADS_1


Lelaki itu selalu bersikap lembut dan perhatian pada kak Raras, bahkan terlihat sekali dia sangat mencintai kakakku itu.


Sering kali aku berusaha mencuri perhatiannya, tapi dia tak tergoyahkan. Lelaki itu bersikap baik padaku meski ada jarak di antara kami.


Mamah selalu memintaku agar bisa mendekati lelaki kaya, sebab harta adalah segalanya baginya. Hidup bergelimang harta akan membuatku bahagia, begitu sarannya.


Mantan pacarku terdahulu termasuk anak-anak konglomerat, yup karena aku dari kecil sudah bersekolah di sekolahan elit, pergaulanku jelas berbeda dengan Kak Raras.


Meski begitu, jujur terkadang aku muak dengan teman-temanku yang lebih sering membanggakan barang bermerek yang mereka miliki, berbeda dengan teman-teman kak Raras yang terlihat sangat hangat.


Aku selalu iri melihat kedekatan kak Raras dengan teman-temannya jika sedang berkumpul, mereka bersenda gurau tanpa pernah sibuk melihat up datean terbaru barang-barang branded yang sedang Hits.


Setelah akhir masa sekolah, kulihat Ka Raras tengah memohon kepada ayah dan mamah kalau ia ingin kuliah, sayangnya keinginan itu di tolak menatah-mentah.


Ayah dan mamah bilang jika mereka masih memerlukan biaya yang besar untukku dan Marsha. Kulihat bahu Ka Raras bergetar ia pasti menangis karena merasa kecewa.


Sesaat setelah mendengar obrolan mereka aku menemui mamah yang sedang meminum tehnya di halaman depan.


"Mah, berarti nanti kalo aku lulus sekolah, aku ngga bisa kuliah juga dong mah?" rengekku.


Bagaimana keadaan Ka Raras, lagi-lagi keberuntungan selalu menyertainya. Dia hanya sedih sesaat, setelah itu dia kembali ceria.


Dia memang sangat tegar dalam menjalani hidupnya, setelah kesedihan dia pasti segera bangkit.


Acara kelulusannya yang tidak bisa di hadiri oleh kami, tak di persoalkannya. Sial sekali nasib kakakku itu, ia pasti sangat terluka, di hari bahagianya, seharusnya orang tua dan keluarganya datang dan memberi selamat, ia malah seorang diri.


Bukan salah kami seutuhnya, ayah di berikan reward bonus berlibur dari kantornya. Ayah ingin menolak tapi atasannya memaksa agar ayah datang sebab atasannya itu juga akan bersama di tempat itu bertemu dengan para koleganya.


Ayah dilema, tapi karena hasutan mamah, ayah terpaksa menyakiti hati anak pertamanya lagi.


Puas sekali aku membayangkan kesedihan dan kekecewaan kak Raras, sebenarnya bisa saja kami datang terlebih dahulu ke sekolahnya sebelum berangkat, tapi mamah bilang kalau tiket pesawat mereka di pesan pagi hari.


Namun ada yang berbeda, setelah kepulangan kami dia berubah, dia menjadi dingin dan berani menjawab mamahku, bahkan membuat mamah dan ayahku mati kutu.


Yang lebih menyebalkan lagi dia bisa langsung di terima kerja hanya dengan ijazah SMA nya itu.


Meski hanya sebuah pabrik yang gajinya sebatas UMR tapi itu cukup membuatnya bersikap angkuh.

__ADS_1


"Khem ... Ras, kamu udah kerja?" tanya ayah basa basi.


"Iya," jawab Kak Raras datar, sungguh anak yang tidak sopan.


Ayah seperti berusaha ingin dekat kembali dengan putri pertamanya, tapi sayangnya Kak Raras bersikap menjauh.


"Emmm ... Di mana?" tanya Ayah lagi.


"Bukannya ayah tau aku kerja di pabrik?" ejeknya.


"Maafkan ayah ..." akhirnya ayah meminta maaf entah untuk kesalahan apa.


Nahasnya ucapan ayah itu membuat ekspresi Kak Raras berubah, seperti sebuah bom atom yang meledak dia mengeluarkan semua unek-uneknya dan membuat kami semua bungkam.


"Maaf? Maaf untuk kesalahan yang mana? Terlalu banyak kesalahan yang ayah perbuat dan semuanya hanya dengan satu kalimat maaf?" cibirnya.


Aku dan mamah di buat melongo dengan sindirannya, dia begitu berbeda setelah mampu menghasilkan uang sendiri.


"Raras!" mamah membentaknya, tapi seketika bungkam dengan tatapan tajam kak raras.


"Mamah mau apa? Jangan macam-macam sama aku kalo masih mau hidup damai di sini!"


Aku menelan kasar salivaku, ada apa ini, dia terlihat mengerikan sekali.


"Dan ayah, aku tunggu itikad baik ayah kalo ngga mau masalah ini aku proses ke jalur hukum," ancamnya yang lagi-lagi tak kumengerti.


"Raras! Kamu keterlaluan, maksud kamu apa hah!" mamah benar-benar murka.


"Mamah juga mau ikut mendekam di penjara?"


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2