
Keberuntungan sepertinya tengah menyelimutiku, bukan hanya bisa bekerja di perusahaan yang sama dengan Mas Adam, tapi aku juga satu divisi dengannya.
Gencar kucoba untuk menarik perhatiannya, tapi dia tidak peka, sangat-sangat tidak peka, mungkin karena dia adalah tipe lelaki setia.
Namun, itu justru membangkitkan adrenalinku untuk bisa menaklukkannya.
Di divisi ini juga ada salah satu rekan kerja mas Adam yang jatuh hati padaku. Pria berwajah tirus dengan kulit putih dan mata sipit khas seperti wajah dari negeri tirai bambu itu namanya Mas Lucky.
Tampan? Tentu saja, beda dengan Mas Adam yang memiliki kulit kuning langsat khas negara kami. Namun entah kenapa Mas Adam memiliki pesonanya sendiri bagiku.
Kesabaran dan kepeduliannya membuatku semakin jatuh cinta padanya.
Dia sangat peduli padaku, hanya dengan sedikit keluhan dia akan selalu membantuku, aku sendiri bingung mengapa kak Raras tidak pernah meminta bantuannya.
"Ayah sakit udah lama Ras?" tanya mas Adam saat kami makan siang bersama.
Sebenarnya aku sangat ingin hanya berdua saja dengan mas Adam, tapi Mas Lucky selalu mengikuti kami dan mencari perhatianku.
Aku tak bisa menolak, sebab aku tak ingin reputasiku rusak karena menolak seseorang. Lagi pula dia tidak pernah menyatakan cintanya padaku. Mungkin dia masih ragu.
"Udah Mas, bahkan keuangan kami memburuk, mamah udah jual semua asetnya," lirihku mencari perhatian.
"Bukannya Raras kerja?" pertanyaan itu keluar dari mulut Mas Lucky.
"Iya Mas, tapi itu buat kebutuhan dia sendiri. Mana mau dia membantu keuangan kami," jawabku.
Mas Lucky mengernyit heran, kenapa dengan dia, sepertinya dia tidak percaya ucapanku.
"Dia ngga mungkin begitu, maaf ya Nay, dia pernah nawarin mobil ayahnya sama temenku katanya buat berobat ayah kamu, dia itu terlihat kalut sekali kata temenku," jelas Mas Lucky.
"Kenapa Raras ngga pernah cerita sama aku?" sela Mas Adam yang tampak sendu.
"Gue dah pernah bilang ke Elu kan Adam, dia ngga suka ngerepotin Elu, dia itu selalu ngerasa minder bisa jadi pacar Elu, makanya dia ngga mau sampe orang-orang nebak dia hanya mau uang lu doang."
Geram sekali aku mendengar ucapan mas Lucky yang membela Ka Raras, apa untungnya buat dia sih!
Aku hanya menunduk menahan kekesalanku. Semoga saja Mas Adam ngga menjauhi aku karena berusaha menjatuhkan kak Raras.
Dia menghela napas dan kembali menatapku, "Nay, kalo kamu ada apa-apa terutama masalah ayah, kamu ngomong sama Mas ya, aku tau Raras orang yang keras kepala, dia pasti ngga mau ngerepotin aku. Tapi aku berharap kamu mau kasih tau kesulitan keluarga kalian, cuma ini yang bisa aku kasih buat Raras," ujarnya panjang lebar.
__ADS_1
Sebenarnya aku sedikit kesal dengan ucapan terakhirnya, karena itu dia lakukan karena bentuk kepeduliannya pada kak Raras, karena wanita itu enggan merepotkannya, tapi aku tak peduli, aku akan memanfaatkan semua itu.
Suruh siapa kak Raras jual mahal, jika memang mas Adam bisa membantu keuangan kami, harusnya dia bisa memanfaatkannya.
Sejak saat itu aku selalu menjual kesengsaraan keluargaku pada Mas Adam agar lelaki itu mau mengeluarkan uangnya untukku.
Hidupku kembali seperti dulu, memiliki cukup uang untuk memanjakan diri. Kak Raras yang bodoh itu sama sekali tak pernah tau aku memanfaatkan kekasihnya.
Hingga pada saatnya kedokku terbongkar olehnya. Dia menyindirku habis-habisan. Aku bingung bagaimana ia bisa tahu jika Mas Adam sering memberiku uang untuk berobat ayah?
"Kamu penasaran gimana aku tau kamu sering ngemis ke pacarku?"
Kata-katanya sangat kasar. Mengemis? Apa seperti itu dia menilaiku?
"Aku ngga pernah ngemis Ka, Mas Adam aja yang emang perhatian, kakak aja yang ngga pernah mau nerima perhatiannya, sampe-sampe buat mas Adam ngerasa ngga berguna jadi pacar kakak!" baru kali ini aku sedikit berkata ketus padanya.
Sengaja aku berkata begitu, agar dia bisa menurunkan egonya dan benar saja air mukanya berubah sendu. Dia pasti bukan bermaksud seperti itu, tapi aku tak peduli aku suka raut wajah bersalahnya.
Setelah pertengkaranku hari itu dengan kak Raras, sikap Mas Adam sedikit berubah, tidak seperti dulu yang selalu menanyakan kabar ayah.
Saat aku menawarkan diri mengajaknya menemui ayah dia berkata jika Kak Raras tidak memperbolehkannya menemui keluarganya dan Mas Adam menghormati keputusannya itu.
Awal mas Adam ke rumah, Kak Raras mengenalkannya sebagai kekasih agar orang tuanya tau dia memiliki tambatan hati. Namun dia tidak mengizinkan Mas Adam sering berkunjung jika belum ingin melanjutkan tahap yang lebih serius.
Inilah guncangan hebat terjadi pada hatiku, setelah mengatakan itu, Mas Adam berencana melamar Kak Raras agar bisa lebih dekat dengan keluarga kami.
Dia tidak ingin Kak Raras merasa terbebani karena bantuannya. Duniaku terasa berhenti berputar, perhatian kecil yang sering kuberikan padanya nyatanya tak membuatnya goyah.
Binar bahagia itu tak pernah enyah dari mata Mas Adam saat menceritakan Kak Raras, aku cemburu, aku terluka, aku tak rela.
.
.
"Ini ..." suara mas Lucky memecah lamunanku.
Di sinilah kami berada, kafetaria dekat kantor. Suasana hatiku memburuk seiring rencana lamaran Mas Adam.
Dengan sangat antusias, lelaki incaran hatiku itu menceritakan detail acara yang sedang ia susun.
__ADS_1
Aku di minta untuk merahasiakannya dari kak Raras. Sungguh ingin sekali aku berteriak marah padanya dan membuat rencananya gagal.
Sepertinya Tuhan mendengar doaku meski ada harga yang harus aku bayar setelahnya, sakit ayah kembali kambuh saat kami terusir dari rumah kontrakan.
Akibat pertengkaran mamah dan kak Raras sore tadi yang enggan membayar sewa kami, kali ini kami pun harus terusir.
Tentu saja kami sangat panik, ponsel kak Raras tidak bisa dihubungi, terpaksa aku meminta tolong mas Adam untuk membantu kami.
Tak ada yang bisa ia lakukan, meski dia sudah berusaha untuk bisa membayar sewa rumah kami, orang suruhan Bu Ratna bilang jika bosnya itu enggan menyewakan rumahnya pada kami lagi.
Dengan terpaksa kami keluar dari sana. Dengan bantuan mas Adam akhirnya kami bisa pindah ke rumah dekat rumah orang tuanya. Ah indah sekali jalanku, aku yakin Mas Adam adalah jodohku.
Mamah yang masih di liputi amarah mengajakku menemui kak Raras di kantornya. Namun sayangnya ia tidak masuk kerja atau belum mungkin. Akhirnya mamah memutuskan untuk mencarinya di kosan.
Sialnya kami juga tidak tau kos-kosannya. Aku terpaksa menghubungi Mas Adam, aku yakin lelaki itu tau di mana kakakku tinggal.
Aku, mas Adam beserta mamah datang ke kosannya yang lagi-lagi tidak ada Kakak Raras, ke mana wanita itu pergi, apa kehidupannya seliar ini setelah memilih hidup mandiri?
Tak lama dia datang dengan wajah panik, mamah langsung menyemprotnya bahkan merendahkannya, puas sekali aku mendengarnya, terlebih saat ini ada Mas Adam.
Wajah kak Raras pias saat melihat aku dan mas Adam, tapi setelah itu dia kembali dengan wajah arogannya. Dia menjawab ucapan mamah dan membuat mamah mati kutu lagi. Mas Adam menengahi perdebatan kami, dia mengajak kak Raras keluar dari rumah sakit.
Aku mengikuti mereka yang ternyata masih berada di sekitaran rumah sakit. Mereka tengah berbincang hangat di kantin, kukepalkan tangan melihat bagaimana sabarnya Mas Adam berbicara.
Mengapa Mas Adam tidakk marah? Aku bingung sebegitu cintanya kah mas Adam hingga dia mudah sekali luluh? Menyebalkan.
Mata itu sangat menunjukkan besarnya cinta Mas Adam pada kak Raras, ingin sekali aku memisahkan dua sejoli itu.
Aku yakin Kak Raras melihatku dan ia sengaja memanas-manasiku. Karena rasa cemburu yang begitu besar aku memilih pergi darinya.
Lebih baik aku berusaha mendekati orang tua mas Adam. Wanita paruh baya ini tampak lembut dan santun, sangat mirip dengan Mas Adam.
Jika ingin menaklukkan mas Adam maka aku akan menaklukkan ibunya terlebih dahulu dan membuat kak Raras di benci olehnya.
.
.
.
__ADS_1
Tbc