Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 41


__ADS_3

Merasa tak menemukan solusi dari pertemuannya dengan Dilla, Rita berpikir untuk menyembunyikan suaminya.


Namun hendak bersembunyi di mana, sedangkan ia sendiri sudah panik memikirkan nasib keluarganya sendiri. Belum lagi jika penyakit sang suami kambuh, uang dari mana untuk mengobatinya.


"Gimana Bu, sudah ketemu temannya Raras?" sapa Yulis saat melihat sang putra beserta tetangganya.


"Sudah Bu Yulis, tapi Raras memang sengaja melarikan diri, entah bagaimana kami bisa bertahan," lirihnya.


Yulis yang merupakan ibu Adam menggandeng Rita untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Ya ampun yang sabar ya Bu Rita, pasti ada yang terjadi sama Nak Raras, saya tau betul Raras anak baik, saya berharap dia baik-baik saja."


Nayla yang mendengar nada prihatin dari ibu lelaki idamannya hanya bisa tersenyum kecut. Bagaimana bisa wanita paruh baya itu bahkan masih perhatian pada mantan kekasih anaknya.


Berbeda dengan yang Adam rasakan, tiba-tiba dirinya merasa bersalah. Raras hamil pasti ada alasan di baliknya.


Di benak lelaki manis itu, ia berpikir jika mungkin saja Raras pergi bersama dengan lelaki yang menghamilinya.


Adam segera bangkit dari duduknya, tiga orang wanita di sana menoleh ke arahnya.


"Maaf Mah, tante, Nay, aku pamit dulu ya, lupa kalau ada kerjaan," dustanya.


Adam berencana menemui kembali Dilla, ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi dengan mantan kekasihnya itu.


Dia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi karena masalah yang tak pernah mereka selesaikan. Dirinya tak ingin jika terjadi sesuatu kepada wanita yang masih di cintainya itu.


Kembali dia berada di rumah wanita yang dahulu sering membuat keributan kecil antara dirinya dan sang kekasih.


"Mau apa lagi kamu Dam? Aku lelah tau!" ketus Dilla yang belum mengizinkan Adam masuk ke dalam rumahnya.


Wanita itu justru melipat kedua tangannya di dada, sengaja menantang Adam agar tak basa-basi.


"Ceritakan sama aku Dil, siapa ayah dari bayi yang di kandung Raras!" pintanya.


Dilla menghela napas, akhirnya dia mengalah dan membiarkan Adam kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Kamu ngga perlu tau siapa ayah dari bayi yang di kandung Raras. Yang pasti Raras tidak berselingkuh, keadaan yang memaksanya menjual diri."


Adam terkesiap, di pikiran lelaki itu Raras menjajakan tubuhnya kepada banyak lelaki. Benarkah wanita yang masih di cintainya melalukan hal seperti itu.


"Tenang, dia ngga mengobral tubuhnya, hanya pada satu lai-laki yang menjadi simpanannya saja," jelas Dilla sebelum Adam salah paham dengan Raras.

__ADS_1


"Kenapa Dil, kenapa Raras ngga ngomong tentang kebutuhan dia?" lirihnya.


"Apa kamu bisa bantu? Kamu tau ngga gimana sakitnya dia saat di hina ayah kamu?" cibir Dilla.


Deg!


Jantung Adam berdetak lebih kencang saat Dilla menyebutkan nama ayahnya.


Ayah Adam memang orang yang keras, dulu dia menentang hubungannya dengan Raras dengan alasan karena dirinya masih sekolah.


Saat dewasa ayahnya pun selalu berkata jika Adam harus bisa membanggakan orang tuanya dan jangan memikirkan masalah pernikahan dengan terburu-buru.


Ayah Adam juga termasuk orang yang ceplas-ceplos. Sering sekali ucapannya membuat orang lain tersinggung


Berbeda sekali dengan sang ibu yang lemah lembut. Namun Adam tau ibunya sendiri pun sering terluka akibat perkataan sang ayah.


"Apa dia menjelekkan ayahku?" meski dia menyadari sifat buruk ayahnya, tapi bagi seorang anak, jika orang tuanya di bicarakan buruk di belakang juga dia tak terima.


"Kamu kenal Raras? Apa karena aku bicara seperti ini lantas kamu berpikir jika Raras menjelekkan papamu itu? Dari sini aku semakin tau, ternyata kamu tak sebaik yang Raras ucapkan!"


Sadis, Dilla bahkan bisa menilai jika Adam bahkan tak terlalu mengenal Raras.


"Aku pernah bilang, kenapa dia ngga mau minta bantuan kamu? Siapa tau kamu bisa bantu. Dia jawab apa? Dia ngga yakin kamu pegang uang sebesar itu. Lalu kamu pasti akan usahain buat bantu dia, Raras tau itu, pilihannya, kamu pasti akan pinjam orang tuamu."


Adam sangat paham maksud Raras, tapi dia tetap tak habis pikir mengapa Raras malah menerima jalan pintas seperti itu.


"Kenapa harus jual diri?"


"Memangnya kamu pikir mendapatkan uang hampir setengah miliar itu mudah? Kamu punya simpanan sampai sebesar itu? Ketakutan akan di tinggalkan orang terkasih menjadikan dia memilih jalan pintas."


"Dia masih terlalu muda saat di hadapkan dengan masalah seperti itu Dam!"


"Tolong beri tahu aku di mana Raras Dil? Kami harus menyelesaikan masalah kami," mohon Adam.


"Apa yang perlu di selesaikan? Kalau pun kalian bertemu apa yang bisa di harapkan? Apa kamu mau menerima Raras dan bayinya? Apa kamu mau maksa Raras untuk jujur siapa ayah dari bayinya? Buat apa, lagi pula Raras sudah ikhlas melepaskan kamu, carilah kebahagiaan kamu Dam."


"Jangan jadikan Nayla pelampiasan kamu, balas dendammu hanya menyakiti diri sendiri, itu sih saranku."


Adam termenung dengan semua ucapan Dilla. Meski sakit, Adam mengakui jika Raras masih sangat di cintainya.


Dengan Nayla, Dilla tidak tau kejadian yang membuatnya harus bertanggung jawab pada gadis itu, meski tak di ungkirinya saat melihat Raras ada rasa ingin membalas sakit hatinya dengan menggunakan Nayla.

__ADS_1


.


.


Setelah keluar dari kediaman Dilla dengan tak mendapatkan kabar apa pun dari wanita itu, Adam memilih menenangkan diri di sebuah taman, mengingat semua kenangannya bersama Raras.


Dia tak sanggup kehilangan Raras, wanita yang menjadi cinta pertamanya. Lelaki manis itu berteriak melepaskan sesak di dada. Mengutuk nasib percintaannya. Mengapa takdir sangat kejam pada kisah cintanya.


Ponselnya berdering, tertera nama Lucky di sana. Satu masalah yang harus Adam hadapi karena tingkah konyolnya, yaitu sahabatnya.


Adam menelan kasar salivanya. Berbicara dengan Lucky adalah hal yang biasa, tapi sekarang, lidah Adam mendadak kelu. Ia yakin suatu saat Lucky akan kecewa padanya.


Sahabatnya itu sangat menyukai Nayla sejak pertama kali gadis itu magang di kantor mereka. Betapa Lucky selalu berusaha mendekati gadis itu. Kegigihan Lucky dalam usahanya dalam menaklukkan Nayla patut di acungi jempol.


Sekarang Nayla berpikir jika mereka memiliki hubungan, lalu bagaimana nasib Lucky? Bukankah dirinya akan di cap sebagai seseorang yang menusuknya dari belakang?


Masa depan suram yang akan Adam hadapi adalah kehilangan orang sebaik Lucky. Lelaki itu masih menggeleng, mengenyahkan pikiran buruknya.


Sisi batinnya berharap jika Lucky akan bersikap dewasa dalam menyikapi kisah rumitnya dengan Nayla.


Bahkan dia sama sekali tidak mencintai Nayla, hanya ada rasa bersalah karena sudah melecehkan gadis itu.


"Hei Bro! Astaga lama amat ngangkatnya," gerutu lelaki bermata sipit di seberang sana.


"Masalah Raras gimana?" terdengar nada khawatir dari sahabatnya yang membuat batin Adam berdenyut.


Adam sudah memutuskan, dia tidak siap kehilangan Lucky, apa lagi pada saat ini dirinya baru saja di tinggalkan Raras yang pergi entah ke mana.


Hubungan paksa antara dirinya dan Nayla akan di sembunyikannya, sampai Adam bisa menemukan Raras.


Meski sudah mendengar penjelasan Dilla, dirinya tetap bersikukuh mencari wanita pemilik hatinya itu.


Saat ini Adam di liputi dengan rasa tamak, dia tidak ingin di tinggalkan orang-orang yang di sayanginya begitu saja. Baik Raras maupun Lucky.


Adam benar-benar akan berbicara dengan Nayla tentang hubungan mereka.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2