Bukan Cinderella Biasa

Bukan Cinderella Biasa
Bab 40


__ADS_3

Rita bungkam dengan ucapan Dilla yang menyerangnya secara tiba-tiba.


"Ya- nyatanya dia tidak di pecat melainkan mengundurkan diri, itu kesalahan dia," jawab Rita gugup.


"Saya lagi ngomong seandainya, apa Anda mau menghidupi Raras seperti Anda menghidupi anak-anak kandung Anda?"


"Ya tentu saja."


"Ya sudah kenapa Anda datang ke sini repot-repot mencari Raras? Tunjukan kalau Anda juga ibu yang bertanggung jawab, bukan hanya benalu di kehidupan Raras."


Mendengar kata 'Benalu' membuat Rita geram, dirinya tak suka di anggap seperti itu bahkan oleh orang lain seperti Dilla ini.


"Benalu? Apa menghidupi keluarganya di sebut benalu? aku ngga yangka wajah kamu aja cantik tapi hati kamu busuk!" cibirnya.


"Makasih, setidaknya Anda memuji saya," Rita sungguh geram dengan Dilla, dirinya merasa di permainkan oleh wanita ini.


"Mbak, tolong bisa beri tahu kami di mana Kak Raras?" Nayla memilih berbicara sendiri dari pada mendengar keduanya berdebat sendiri.


Nayla tahu jika Dilla sangat tahu kehidupan keluarganya, dia tidak ingin mempermalukan diri sendiri terutama ada Adam di sebelahnya.


"Mau apa? Mau nunjukin kalau kamu berhasil merebut pacarnya?" sindirnya.


Nayla hanya bisa menunduk dan memilin jari-jarinya, dia merasa harga dirinya di injak oleh orang lain. Setelah rasa malu, kini ada amarah yang menyelimuti hati gadis itu.


"Atau kamu juga mau jadi parasit yang selalu menggerogoti Raras?"


Dilla benar-benar muak menghadapi Nayla, dia sangat tau gadis seperti apa Nayla ini, terlihat sekali jika gadis itu sangat licik.


"Aku ngga tau apa aja yang udah Kak Raras ceritain ke Mbak, tapi mbak ngga boleh hanya mendengar dari sebelah pihak aja," balas Nayla dengan sorot mata di buat sendu.


Dilla malah semakin muak saat melihat akting Nayla yang seolah-olah menjadi korban di sini, dan Raraslah penjahatnya.


"Ayahnya sakit, kenapa dia begitu tega meninggalkannya?" kini Adam yang berucap.


Adam juga di landa kepanikan saat tau jika Raras memilih kabur dari kehidupannya.

__ADS_1


Menyesal tentu saja, tapi sisi hatinya tak merasa bersalah dengan apa yang ia lalukan, tak ada penjelasan apa pun dari mantan kekasihnya itu atas masalah mereka. Raras justru lebih memilih melarikan diri.


Adam menyebut kata mantan sebab dirinya merasa bahwa hubungan mereka memang sudah berakhir. Dia memang tak memberitahu pada Nayla karena merasa itu bukan kewajibannya.


"Urusan Pak Winoto, biar menjadi urusan saya, karena Raras menitipkan ayahnya pada saya."


"Termasuk uang?" Rita kembali menyela.


"Ya, semua kebutuhan Pak Winoto akan menjadi tanggung jawab saya, bahkan membayar perawat pribadinya."


"Kenapa dia hanya memikirkan ayahnya saja! Kenapa tidak memikirkan adik-adiknya yang masih sekolah?"


"Bukankah tadi aku udah bilang? Kenapa Tante ngga bekerja aja? Kebutuhan anak-anak tante kan kewajiban Tante! Kalau ngga sanggup suruh mereka keluar, atau engga cari pacar yang kaya biar bisa jadi ATM nya"


Saran dari Dilla benar-benar menginjak harga diri ibu dan anak itu.


"Kenapa seolah ucapan Mbak Dilla dari tadi memojokkan kami? Apa kami ada salah sama Mbak? Apa karena cerita kak Raras, membuat Mbak membenci kami?" Nayla terisak, dirinya sangat tak terima dengan hinaan Dilla.


"Di mana kata-kata saya yang menghina kalian? Aku meminta ibumu bekerja, apa salah? aku kasih solusi kalau ngga sanggup nyekolahin anaknya ya udah keluar aja, salah juga? Terus cari pacar lah yang kaya biar bisa menghidupi kalian, salah?"


Dilla benar-benar mengibarkan bendera perang pada keluarga parasit itu.


"Aku masih kuliah Mbak, tanggung, kalau lulus kuliah aku pasti bakal kerja buat menghidupi keluargaku," balas Nayla yang masih terisak.


Adam menggenggam tangan Nayla, dia merasa kasihan karena gadis itu sedari tadi di pojokkan oleh Dilla dengan kata-kata yang sangat menyakitkan.


"Cukup beritahu kami di mana Raras Dil—"


Dilla muak dengan tamunya, apalagi Adam yang sepertinya sangat tidak peka dengan sifat benalu saudara tirinya Raras itu.


"Kamu mau cari dia buat apa? Buat nyiksa dia lagi? Kamu bodoh apa gimana sih Dam! Kalo emang udah ngga suka ma Raras seenggaknya tau diri lah. Denger ngga lu dari tadi tante sama anaknya ini ngomong apa? Mereka ngga peduli di mana Raras, mereka cuma minta pertanggung jawaban Raras!"


"Lu tau apa artinya? Mereka mau menempel sama Raras kaya lintah! Apa itu sengaja lu lakuin buat balas dendam ke Raras hah!"


Dilla benar-benar di kuasai emosi saat menjawab pertanyaan Adam, sedangkan Adam bukan maksud seperti itu, dirinya sungguh malu saat mendengar apa yang di katakan Dilla memang benar adanya.

__ADS_1


Tujuannya dan Rita datang ke sana berbeda, Adam hanya ingin menuntaskan permasalahannya dengan Raras dan berharap mantan kekasihnya itu baik-baik saja.


Namun saat mengetahui tujuan ibu tiri dari mantan kekasihnya itu adalah uang tunjangan, dirinya benar-benar merasa malu.


Benar kata Dilla, saat ini dirinya seperti seorang pecundang yang malah seperti berharap Raras bertanggung jawab pada hal yang seharusnya tidak perlu.


Meski bukan itu tujuannya, maka dari itu sedari tadi Adam memilih bungkam, membiarkan Rita bertanya.


Namun Adam yakin ada sorot kebencian di mata Dilla saat menatapnya, apa Raras mengatakan sesuatu yang membuat wanita cantik itu juga membencinya.


"Kalau iya kenapa? Sekarang gini aja, tante tanya sama kamu, berapa uang yang di titipin Raras ke kamu? Kembalikan ke Tante, biar Tante yang kelola, masalah ayah Raras, biar kami yang merawat, adil kan?"


Nayla menatap tak percaya sang ibu yang dengan lantang mengakui tujuannya kemari.


"Kenapa harus berbelit-belit. Sayangnya saya di amanahkan sama Raras ngga ngizinin kasih uang itu ke tante, sebab dia tau kalau tante hanya mau uangnya saja, dan pasti mengabaikan ayahnya."


"Kamu keterlaluan. Lalu bagaimana kami membayar rumah kontrakan kami? Itu sama saja mengusir ayah Raras kan?"


"Tenang aja, Raras udah menyiapkan rumah untuk ayahnya."


"Saya ngga izinin kamu membawa suami saya! Saya istrinya jadi saya yang berhak merawatnya, kalau Raras ngga peduli sama kami, lebih baik kami pergi membawa ayahnya, biar dia hidup dengan rasa bersalahnya!" ancam Rita.


"Bukankah Tante egois? Tante sudah tentu tau kalau pengobatan suami tante memerlukan uang yang tidak sedikit—"


"Saya yang akan membiayainya!" sela Rita.


Ini adalah manuver terakhir Rita untuk menyerang Raras, membawa pergi ayahnya adalah ketakutan Raras.


Dilla tertawa mendengar ancaman Rita. "Silakan tante bawa suami tante pergi, tapi ingat ... Saya pasti akan menemukan kalian, dan kalau saya tau Tante ngga merawat ayah Raras dengan baik, maka saya bisa melaporkan Tante ke pihak yang berwajib dengan tuduhan 'PENELANTARAN'"


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2