
Pov Author
Pov Author
Setelah kepergian Raras, keluarga Winoto di landa kepanikan.
Rita sang ibu tiri bahkan mengamuk kala mengetahui jika Raras tak meninggalkan apa pun.
"Gimana ini Nay! Lagian kamu kaya ngga ada laki-laki lain aja! Kenapa harus Adam?" geram Rita.
Rita berpikir jika Raras— putri tirinya itu minggat gegara mengetahui hubungan anak kandungnya, Nayla bersama dengan Adam.
Marsha pun panik sebab dirinya belum membayar tunggakan iuran sekolah selama dua bulan itu.
"Aduh, gimana ini Mah, mana SPP aku belum di bayarin," keluh Marsha.
Meski dia tak menyukai kakak tirinya itu, tapi dia dan keluarganya memang bergantung pada pemberian Raras.
Jika tau sang kakak tiri akan melarikan diri seperti ini, Marsha memilih bersikap baik di pertemuan terakhir mereka.
Sedangkan Nayla, gadis itu hanya bisa termenung, bingung memikirkan nasib keluarganya.
"Rin, kamu besok bisa berhenti kerja!" ucap Rita saat melihat perawat pribadi suaminya itu berjalan ke arahnya.
"Maaf Bu, tapi saya sudah di bayar sama Mbak Raras, buat jaga Bapak," jelas Rini.
Rita tentu saja terkejut, apa anak tirinya itu hanya meninggalkan uang untuk membayar gajinya perawat itu saja.
"Kok bisa kamu masih di gaji? Kamu di gaji berapa bulan? Kemarikan uangnya Rin, saya tetap memberhentikan kamu," Rita benar-benar tengah kalut, jadi wanita paruh baya itu mencerocos semaunya sendiri.
"Saya di bayar per bulan seperti biasa Bu, jadi saya ngga di bayar langsung beberapa bulan di muka," jelas Rini.
"Maksudnya kamu akan dapat transferan tiap bulan seperti biasa?" geram Rita.
"Benar Bu," sebenarnya Rini ingin sekali segera pergi dari ruangan itu. Dia harus bergegas ke rumah sakit sebab Pak Winoto tak ada yang menjaga.
Tapi karena dirinya hanya pekerja, jadi mau tidak mau, Rini harus menunggu di persilakan majikannya.
"Dia emang anak ngga tau di untung, orang lain dia pikirkan, sedangkan keluarga sendiri malah abai!" Rita akhirnya duduk dengan menyanggah kepalanya di meja.
"Gimana sekolah aku Mah?" Marsha masih merengek, meski saat ini gadis itu masih di skors dari sekolahnya, tapi dia tetap panik sebab bagaimana ia bisa sekolah jika pembayaran iuran bulanan saja ia masih menunggak.
__ADS_1
"Aku punya ide," Nayla yang sejak tadi diam saja lantas bersuara, membuat Rita menengadah.
"Apa?"
"Mbak Rini maaf kami tetap akan memberhentikan mbak Rini, tapi kami minta bantuan mbak Rini, supaya uang transferan kak Raras tetap bisa kami ambil, sebab itu hak kami," ujar Nayla.
Suster Rini mengernyit bingung dengan penjelasan anak majikannya itu.
"Nah bener itu Nay," balas Rita semangat.
"Maksud Mbak Nayla?"
"Gini loh Rin, kamu kan udah ngga kerja, jadi jangan makan gaji buta, toh Raras ngga tau ini kalo kamu udah ngga kerja, tapi ATM kamu ke siniin, soalnya Raras pasti bayar kamu tiap bulan. Berhubung kamu ngga kerja jadi duitnya buat kebutuhan kami lah!" cerocos Rita.
"Maaf Bu, bukan saya menolak, saya juga ngga mau makan uang gaji tanpa bekerja tapi, pembayaran saya itu tergantung dari Mbak Dilla—"
Rita menyela ucapan Rini "Siapa Dilla? Jadi maksud kamu apa?" pekik Rita kembali berdiri di hadapan Perawat suaminya itu.
"Mah tenang dulu, coba kita dengerin penjelasan suster Rini, kalo kaya gini ngga kelar-kelar," sela Nayla.
"Coba jelaskan Sus," pinta Nayla.
Meski gadis itu sedikit mengerti arah pembicaraan suster Rini, tak ayal tetap membuatnya merasa kesal juga.
"Maaf Bu, apa saya boleh pergi, saya harus ke rumah sakit," Rini berharap sang majikan akan melepaskannya, sebab dia punya tanggung jawab yang lain.
Mengurus Pak Winoto yang lumpuh tak membuatnya mengeluh, dia senang karena pak Winoto termasuk pasien yang tidak rewel.
Dia juga sangat kasihan pada pak Winoto karena di perlakukan tidak adil oleh istri dan anak-anaknya, kecuali Raras, hanya anak dari istri pertamanya itu yang perhatian pada pak Winoto meski hanya berupa materi.
Tapi menurut Rini itu lebih baik, dari pada di abaikan. Rini sering melihat pak Winoto menangis saat melihat anak dan istrinya bercengkerama tanpa dirinya.
Kalau boleh memilih sebenarnya Rini berharap Pak Winoto ikut dengan Raras, sebab di sini dirinya juga di perlakukan semena-mena, bukan tidak mau membantu pekerjaan asisten rumah tangga lainnya, tapi tugas utamanya adalah menjaga pak Winoto.
Sedangkan Bu Rita sering memintanya membantu pekerjaan asisten rumah tangganya. Tanpa di minta Rini juga kerap membantu pekerja lain di rumah itu, inginnya itu atas kemauannya, tapi Bu Rita selalu mengatainya malas-malasan dan mau enaknya saja.
Rini menghela napas, Bu Rita tidak pernah merawat suaminya, bagaimana lelahnya Rini harus merawat lelaki paruh baya itu, jadi majikannya itu bisa berkata seenaknya.
"Kamu punya nomor Kak Raras yang baru Mbak?" tanya Nayla.
"Mbak Raras kirim pesan saya pakai nomer lama, setelah itu saya di blokir Mbak, jadi ngga tau nomor baru Mbak Raras," jelas Rini jujur.
__ADS_1
Meski ada keprihatinan akan kepergian Raras, Rini tak bisa berkomentar banyak, sebab itu bukan ranahnya.
"Ya sudah mbak, kamu jaga ayah."
Rini bersyukur, setidaknya lebih baik dia berada di rumah sakit saat ini daripada di rumah. Sebab keadaan rumah sedang kacau balau akibat pemasukan mereka yang menghilang tiba-tiba.
Berada di rumah sakit dengan fasilitas mewah malah membuat Rini tenang.
"Kamu kenal Dilla, Nay?" tanya Rita penasaran, sebab semenjak Raras bekerja, Rita tidak pernah mengenal satu pun teman anak tirinya itu.
"Aku pernah denger namanya dari mas Adam, tapi ngga pernah tau orangnya kaya gimana Mah."
"Coba kamu minta Adam kasih tau orangnya, kita harus temui Dilla, kita harus bisa menghasut Dilla supaya mau kerja sama ma kita, gimana?" saran Rita dengan antusias.
Nayla sendiri agak ragu dengan ide sang ibu, dia sama sekali tidak tau seperti apa Dilla itu.
Lebih baik dia menanyakan kepada Adam supaya dia tidak salah langkah.
"Aku ngomong dulu sama Mas Adam deh mah, siapa tau dia mau bantu aku sementara," ujar Nayla tak yakin.
"Kamu mau di cap mata duitan sama Adam kalo minta uang terus-terusan? Ya ngga papa mamah sih, kalo kamu bisa, asal jangan nyalahin mamah nantinya!"
Nayla bimbang, dia tau perkataan sang ibu benar, tak mungkin dia akan meminta uang terus menerus kepada Adam.
Sedangkan gajinya dari magang di perusahaan Adam tak seberapa, di tambah lagi masa magangnya sudah hampir selesai.
Seketika bahunya merosot, serangan mendadak dari kakak tirinya membuatnya mati langkah.
Nayla tak menyangka jika sikap arogannya malah membuat sang kakak tiri membalasnya dengan begitu kejam.
Andai kakak tirinya itu masih ada atau paling tidak bisa di hubungi, Nayla bersedia meminta maaf, meski itu menjatuhkan harga dirinya tak masalah.
Kesulitan ekonomi lebih menyeramkan di bandingkan dengan meminta maaf.
Dia lebih baik bergerak dengan diam, dari pada harus terang-terangan merebut Adam.
Namun nasi sudah menjadi bubur, kesalahannya sudah di balas oleh sang kakak dengan telak.
.
.
__ADS_1
.
Tbc