BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 24. PATRIANUSA


__ADS_3

Briptu Patrianusa sedikit tergelitik kala melihat nama pada tanda pengenal yang Maghala sodorkan semalam. Dia adalah anak Semarang yang lahir dan besar di sana.


Pria paruh baya itu hafal daerah hingga lulus akademi dan di tempatkan beberapa tahun di kota kelahiran. Alamat Ghala yang tertera adalah tempat dimana keluarga Magenta bermukim. Mustahil rasanya bila keturunan Janardana berlaku demikian meski dia tak mengenal dekat mereka.


Janu Janardana adalah sosok panutan pengusaha yang low profile hingga ke anak cucu. Keluarga terpandang juga incaran kaum duafa kala momen keagamaan tiba. Dia memang tak pernah mendengar nama Maghala sakha, akan tetapi nurani berkata bahwa sosok pemuda itu tidak seperti yang dituduhkan.


"Mata bisa salah menilai. Namun, hati lebih peka hingga ke dalam. Semoga feeling ku tak salah ya, Mas Ghala," batin Patrianusa, gatal ingin mencari lebih jauh. Dia lumayan mengenal dekat seseorang sebagai sumber terpercaya.


Adhisty telah meninggalkan kantor polisi sejak tahu Alka pergi. Dia sudah tak bernafsu melanjutkan laporan sebab tiada yang mendukung upayanya.


Sang nyonya Cyra terpaksa mencari cara lain untuk mendapatkan suntikan dana. Dia urung ke kantor. Amarah yang membuncah hingga membawa dirinya kembali ke hunian. Dua orang maid dipanggil menuju kamar di lantai dua.


Koleksi tas branded kesayangan dia turunkan. Rawat dan periksa kedetailan wujudnya. Tak lama, Adhisty terlihat menghubungi seseorang di panggilan.


"Kalian bisa ke rumahku. Cek kelengkapan juga orisinalitasnya satu jam lagi," ucap Adhisty meminta seseorang datang ke rumah, berkenaan dengan semua tas yang melantai.


Setelah panggilan berakhir, dia lalu memerintahkan maid agar berhati-hati.


"Kumpulkan semua," imbuh sang Nyonya. "Aku akan coba lelang ini. Sudah tidak dapat menunggu Sade. Pikiranku kacau!" teriak Adhisty, dia lalu menuju bathroom dan menyalakan air dalam bathtub.


Sadar tak dapat menutup kebocoran, paling tidak hasil penjualan tas mahalnya itu dapat memberi sedikit angin segar agar tak terlalu pengap.


Adhisty mendinginkan otak yang mengebul bagai cerobong asap dapur saat menggoreng ikan asin, dengan berendam di air hangat.


...***...


Hilmi menerima laporan bahwa Maghala tak ingin di bantu, membuat dirinya merasa bersalah. Dia telah bertindak ceroboh dengan meminta Pierre ke sana saat pagi buta.


Huda mengabarkan bahwa kondisi Janu mulai berangsur membaik. Mada tak meninggalkan sang kakek sepanjang hari. Mengurus segala keinginan Janu meski lelaki renta itu kerap menolak dan lebih suka jika Huda yang melayaninya.


Semarang, saat yang sama.


Kondisi perusahaan Magenta mulai terlihat kolaps pada awal bulan ini. Laporan audit keuangan menjadi alasan topik hangat pembicaraan antara Janu dan Mada.


"Kau jahat padaku!" ucap Janu, menatap nanar langit kamar perawatan di rumah sakit.

__ADS_1


Madaharsa hanya menunduk, tak mengeluarkan sepatah kata apapun. Dia tahu, kehadirannya kerap dijadikan sasaran.


Janu janardana, menoleh ke arah pemuda matang yang belum juga menikah. Dia heran dengan Mada, mengapa betah menyendiri akan tetapi diam-diam menusuk dari belakang.


Kepribadiannya sulit di tebak. Memang Mada cakap untuk mengintimidasi lawan usaha tapi perilaku ini tak dapat digunakan untuk menjalin komunikasi dua arah dengan para staf.


"Jangan pikirkan hal berat. Mata hati harus jernih kala melihat sesuatu perkara. Kadang, yang tak kasat mata itulah letak kebenarannya," tutur Madaharsa datar, tanpa ekspresi wajah. Dia hanya menunduk.


Madaharsa, putra sulung Mahananta yang tak kalah tampan dan gagah dari sang adik. Dia selalu mendapatkan yang terbaik untuk segala hal hingga membuat ego dirinya meninggi.


Di balik semua itu, dia hanyalah pria pendiam, sangat tertutup dan irit bicara. Mada akan berkata tanpa filter terhadap apa yang dia suka dan tidak, membuatnya kian terlihat arogan.


Kepribadian yang dingin, seenaknya dan tanpa kompromi membuat Mada di benci sebagian karyawan Magenta grup. Namun, sebab sikap inilah, tiada yang berani mengusik sang pimpinan killer ini.


Tiba-tiba.


"Ya? Pak Patria. Ehm, anggap saja gak kenal," ujar Mada, menarik kursi menjauh dari brangkar Janu.


"Namanya familiar dan alamat tinggal sama dengan Anda," ujar suara pria.


"Baik, terima kasih."


Pimpinan Magenta meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Dia menghela nafas.


"Kek, Ghala membuat ulah lagi? apa yang dia kerjakan sebetulnya di sana? bilang padanya, berhenti membuat malu Magenta," ucap Madaharsa, bicara lembut meski tak berani menatap Janu.


"Yang buat malu itu, benalu yang suka tumbuh pada inang. Menyedot semua nutrisi hingga induknya lambat laun tergerogoti lalu mati," jawab Janu ikut memejam.


Lagi-lagi Mada tersenyum. Tuduhan itu lagi. Kini dia tahu, bagaimana rasanya di acuhkan. Semua ini ada alasan logis dan Janu pasti akan mengetahuinya cepat atau lambat.


Putra sulung Mahananta bangkit tanpa banyak kata, meraih ponsel dari atas meja lalu melangkah keluar kamar perawatan setalah dua malam terjaga di sisi pendiri Magenta grup.


Lelah jelas tercetak dalam wajahnya. Beberapa anak buah Mada langsung ikut meninggalkan lokasi.


"Jaga kakek dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai dia memiliki kesempatan menekan beliau," kata Mada pada asistennya, seraya terus melenggang pergi.

__ADS_1


"Baik, Tuan muda," jawab Gani, dengan menundukkan kepala sebagai tanda hormat.


Saat akan memasuki lift, dia menekan tombol panggilan cepat di ponselnya. Beberapa detik kemudian, senyum menawan terukir di wajah tampan keturunan Mahananta.


"Wa 'alaikumsalam. Ehm, aku capek, sepertinya akan tidur seharian. Maaf ya, baru berkabar. Take care," tutur Mada, menutup panggilan kembali.


Mada lalu menyandarkan diri ke dinding kotak besi yang membawanya turun ke basement. Entah kapan kepuraan ini berakhir. Dia lelah dan ingin segera pulang ke pangkuan seseorang.


"Maaf, membuatmu selalu menungguku," gumam Madaharsa.


Gani tahu, siapa sosok di maksud yang mampu menoreh senyum langka di wajah kaku itu. Tuan mudanya memang terlihat dingin, akan tetapi tiada satupun yang mengetahui bagaimana watak aslinya.


"Sabar sedikit lagi, Tuan muda."


"Gani, apa adikku dalam bahaya? Patrianusa bilang, Ghala ada di kantor kepolisian akibat laporan pencurian oleh mertuanya. Dia sudah menikah?" cecar sang kakak, merasa bodoh tak tahu menahu kabar adik satu-satunya.


"Akan aku selidiki. Tenanglah, jaga kesehatan Anda," ujar Gani, berdiri disamping majikannya. Dia iba pada sosok Madaharsa.


Sisa perjalanan pun di habiskan dalam diam. Mereka sibuk dengan isi otaknya masing-masing.


Menjelang petang.


Patrianusa membebaskan Maghala setelah pembicaraan dengan seseorang yang dia kenal baik di Semarang sana.


Maghala mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan jeruji yang menjadi tempat singgah selama hampir 24 jam. Tujuannya kini satu, menunggu Hilmi menemukannya. Dia pun berjalan kaki menuju salah satu pohon lumayan besar di sisi jalan tak jauh dari kepolisian. Tak lama, seseorang menghampiri sesuai dugaan Ghala.


"Tuan muda, kita lanjutkan atau bagaimana?"


.


.


...________________...


...Clue bertaburan...

__ADS_1


__ADS_2