
Sebelumnya.
Tepat setelah ikrar sah terdengar dan pasangan Cyra bersiap menuju Solo, Denok meminta Hilmi mengantarnya ke sebuah Mall. Awalnya Hilmi masih percaya diri, jika Denok akan mengajak berbelanja.
Dia terbiasa mengenakan setelan lengkap dan formal kala menyusuri deretan toko branded di manapun.
Namun, bukanlah Denok jika kehabisan akal, gadis itu melenggang santai sebab dia melepas heel dan menggantinya dengan memakai flat shoes. Tak lupa mengurai cepol rambut hingga membuat penampilan Denok tetap eye catching.
Lain hal dengan Hilmi, banyak pasang mata mulai melirik padanya, di sertai bisik-bisik dan kekehan para abege. Sang duda masih terlihat pede hingga akhirnya dia menahan langkah kala Denok berbelok menuju wahana permainan anak-anak.
"S-hii-ttt! Nok, Denok!" seru Hilmidar, melangkah cepat menyusul gadis usil yang berjalan di depannya. Dia mulai risih ketika asisten Asha itu ikut cengengesan.
Denok menuju pusat penukaran koin, dia lalu meminta anak-anak menyingkir dari wahana tersebut dan menarik Hilmi agar menaiki mini bianglala.
"Ayo, Tuan. Aku temani," ajak Denok sambil terus menarik lengan kekar sang duda.
"Nok, jangan bercanda. Aku bayarin kalau kamu mau belanja. Jangan begini," pinta Hilmi, wajahnya mulai panik. Kepalanya celingukan ke kanan kiri, sebab ditertawakan oleh anak-anak.
Denok mendengus kesal, matanya melotot. Dia berdiri berkacak pinggang sambil mengetukkan telapak kaki kirinya ke lantai hingga menimbulkan bunyi bising dan mengundang banyak perhatian.
Asisten Janu merasa sangat konyol, terlebih dengan setelan formal yang dia kenakan. Hilmi mulai naik ke atas mini bianglala. Tawa Denok terdengar renyah, dia merasa menang, tapi kejahilannya tak berhenti sampai di situ. Si gadis lalu meminta Hilmi menaiki salah satu kuda poni di antara banyak patung binatang lainnya.
"Nok, awas kamu, ya!" ancam Hilmi mulai merasa Denok keterlaluan. Dia bukan saja salah kostum tapi di permalukan.
Denok berbalik badan, tak tega melihat wajah Hilmidar yang menekuk dan memerah karena menahan malu.
Tiba-tiba. "Yang ikhlas, Pak. Nanti anaknya ileran, loh, kalau keinginan jabang bayi gak di kabulkan," tegur suara seorang ibu yang melihat interaksi antara Denok dan Hilmidar sejak tadi.
Gadis berambut panjang itu terkekeh saat mendengar ocehan pengunjung. Denok pun berbalik badan, melihat Hilmi.
"Ileran? apanya?" balas Hilmidar dengan nada tinggi sebab bersaing dengan musik di wahana station.
"Ya anaknya, istri situ kan lagi ngidam bukan?" sambung ibu lainnya kala bianglala mulai berputar.
Denok tak henti tertawa, Hilmidar mendapatkan ocehan ibu-ibu agar menyayangi istri yang tengah hamil. Sesaat kemudian, Denok merasa wajah Hilmi mulai rileks tak seperti sebelumnya. Bahkan pandangan mata itu menyiratkan sesuatu.
Asisten Asha, menduga akan ada hal yang bakal Hilmidar lakukan padanya setelah ini. Dia pun memilih melangkah mundur perlahan, ingin menghindar dan lari secepat mungkin dari om-om mesum.
"Bye."
"Denok! jangan kabur!" seru Hilmi, dia gusar, berusaha turun dari mini bianglala, tapi langkahnya terhalang ibu-ibu yang menceramahi sejak tadi.
Denok berlari menuju escalator turun ke lantai dasar. Dia memesan ojek online sambil berjalan cepat dan menyelinap ke sela-sela ambalan rak pakaian agar Hilmidar tak melihatnya.
"Jangan sampai tertangkap," lirih sang gadis, masih bersembunyi kala melihat Hilmi mengejarnya turun ke basement.
Kesempatan bagi Denok menyelinap lari keluar menuju pintu utama dimana ojolnya menunggu. Gadis berambut panjang pun, menuruni tangga dan terus berlari kecil hingga dia berhasil bertemu dengan si abang ojek.
"Bang, ayo, Bang! cepat!" ucap Denok menepuk berkali bahu si ojol, kepalanya celingukan ke kanan kiri takut Hilmidar tiba-tiba menjegalnya.
"Ayo, ayo!" balas si ojol ikut semangat, sambil cengengesan melihat Denok yang sedang panik.
Motor pun melaju dengan kecepatan sedang, akan tetapi tiba-tiba, dari arah belakang.
Tiiiiiiiiinnnnnnnn.
"Lah dalah!" kata ojol terkejut membuat bahunya terjengit sehingga motor pun sedikit oleng.
"Aah! awas jatuh, Bang!" teriak Denok tak kalah lantang sebab dia pun shock saat menoleh ke belakang.
Mobil Hilmidar telah berada di belakangnya. Denok gusar, dia lalu menepuk bahu kang ojol agar mencari jalan sempit yang tak dapat di lewati mobil.
"Hoy! Denok! berhenti!" teriak Hilmi bagai Tarzan kota.
Perseteruan kedua orang pada malam hari di kala jalanan padat, membuat Hilmidar mendapat makian dari sesama pengguna jalan. Dia pun menepi, senyumnya terbit, lalu memutar arah saat melihat rute yang ojol ambil.
Denok lega, Hilmidar tak mengikuti dirinya lagi. Namun, perjalanan kian terasa lama sebab mereka mengambil jalur berkelok.
__ADS_1
"Masih jauh?" tanya Denok mulai merasakan pegal di pinggang dan ngilu di perut akibat banyak polisi-tidur sepanjang gang.
"Bentar lagi, itu ujung gang menuju jalan raya, lalu kita belok kanan dan sampai," ujar sang ojol, menunjuk ke arah depan.
Denok pasrah, ikut kemana supir ojek membawa. Nasib sial menyergap Denok. Sebuah mobil menghalangi jalan keluar gang. Lelaki itu telah berdiri di samping mobilnya, hanya menyisakan bahu trotoar untuk arus lalu lalang di sana.
"Mam-pus gue!" gumam Denok, lemas, saat melihat Hilmidar di ujung sana, dan ternyata itu adalah mobilnya.
"Stop, Kang." Hilmi merentang tangan, menahan dashboard motor si ojol kala akan melintas.
"Lah, ini langgan saya," ujar ojol, takut ongkosnya tak dibayar.
"Biar aku yang membawa dia pulang. Ini ongkosnya ... kau lupa, Nok? Semarang adalah markasku," kata Hilmi pelan, sambil mengayunkan dua lembar uang pecahan lima puluh ribu di udara. Dia juga mendelik sangar ke arah Denok.
"Bang, dua kali lipat, aku bayarin!" ucap Denok, meminta ojol menarik gas dan menerobos Hilmi agar dapat kabur.
"Turunin dia atau ini," kata Hilmidar, menyibak jasnya hingga gagang pistol terlihat.
Glek.
"Maaf, Non. Ada bedil," kata ojol terkejut, takut seraya menunjuk ke arah pinggang Hilmi. Denok pun terpaksa turun dari motornya.
"Masuk!" titah Hilmi, tepat saat memberikan ongkos untuk ojol.
Denok pun menuruti perintah Hilmi, dia memilih duduk di belakang.
Tok. Tok.
"Pindah! kau pikir aku supirmu!" tegas Hilmi, kali ini serius seraya menatap tajam. Denok pun terpaksa mengikuti kemauannya dan pindah duduk ke kursi depan.
Tak ada percakapan setelah itu, suasana hening malah membuat Denok ketakutan. Tak lama, gerbang kediaman Magenta terlihat, perlahan mobil pun memasuki pelataran dan menuju garasi.
Saat Denok akan turun, Hilmidar menahan kunci pintu seperti biasanya. Dia kesal di kerjai gadis ingusan seperti tadi. Tak ada yang berani berlaku demikian terhadapnya selama ini.
"Heh, Nok!" sebut Hilmi, dengan nada ketus. Menoleh tajam ke arah Denok.
Hilmi mendekat, tangannya menekan headband jok dan satu lagi menyentuh dashboard di depan Denok. Wajah sang duda hanya berjarak beberapa inci dari gadis ayu yang sedang ketakutan.
Denok merasa mereka terlalu rapat, akan tetapi dia tidak berani membuka mata.
"Maaf, aku lupa memberi tahu lokasi pernikahan. Bukan sengaja, ini adalah kelalaianku. Maaf, jika membuatmu merasa dipermalukan," lirih Hilmidar, lembut di depan wajah ayu. Di jarak ini, dia dapat mencium wangi rambut bahkan parfum yang dipakai Denok.
Gadis itu pun, membuka mata, seketika pupilnya membola. Dia dapat mencium bau nafas Hilmidar bahkan wangi maskulin pria di hadapannya. Denok, beringsut menurunkan badan agar tak terlalu berhimpitan meski tidak bersentuhan.
Tatapan mata mereka sekilas bertemu sebelum Hilmidar menarik diri. Klak. Bunyi suara kunci pintu terbuka. Denok langsung menarik tuas dan keluar dari mobil. Blug. Secepat kilat gadis itu berlari menuju kamar.
Brak.
Denok memegangi dadanya kala pintu kamar telah menutup. "Apa itu tadi?" lirihnya dengan debar jantung yang berdetak abnormal.
Sementara Hilmidar, masih di dalam mobil. Dia lalu menekuk kedua lengan di atas stir dan menyandarkan kepalanya. Mata elang itu memejam seiring tarikan nafas kemudian bibir pun ikut mengulas senyum entah untuk siapa.
...***...
Solo.
Pramudya Brata menyambut tamu jauhnya setelah Prameswari memberitahu bahwa Maghala berkunjung ke kediaman mereka setelah sekian lama.
"Ghala? ya ampun, makin ganteng saja. Sudah lama sekali sejak mbak Arimbi mengajakmu singgah," ucap Pramudya menyapa keponakannya.
"Alhamdulillah, Pak Lek, sehat selalu kan? Memes masih aja judes," sahutnya, melepas dekapan dari Asha sejenak dan salim pada sang paman, adik bungsu dari ibunya.
"Dia memang begitu, makanya semua laki-laki mundur sebab takut sama dia. Katanya cuma kamu yang mau deket," kekeh Pram, menyenggol lengan Prameswari yang berdiri malu-malu disampingnya.
Maghala hanya tersenyum samar, dia lalu kembali menggamit pinggang Asha dan mengenalkan mereka berdua.
"Ini istriku, Pak Lek, Ashadiya Cyra. Dia juga pelukis tapi sekarang mau belajar tehnik kaligrafi yang cakep langsung pada masternya," tutur Maghala, sumringah mengenalkan Asha.
__ADS_1
Pramudya Brata menyambut bahagia wanita ayu di hadapan meski dia protes sebab Maghala tak mengabari saat mereka menikah. Sementara Memes, berbalik badan seraya menghentakkan kaki masuk ke dalam hunian.
Maghala menjelaskan bahwa dulu hanya melangsungkan akad saja dan menunda perayaan sebab Asha belum pulih dari cedera. Ghala juga menceritakan tentang kesulitan Asha karena pergelangan tangannya masih ngilu jika harus menekan kuas atau garis dan menggantung lengan terlalu lama di udara.
Mereka pun lalu duduk lesehan di joglo sambil berbincang.
"Ghala, pak Lek, boleh gak pegang pergelangan tangan Asha?" tanya Pram, sambil memakai sarung tangannya. Dia sedikit mengerti sebab Arimbi mengajarkan tehnik pijat padanya dulu.
"Ridho, in sya Allah, demi kesembuhan istriku," jawab Ghala, meraih tangan kanan Asha dan menuntunnya untuk di sentuh sang paman.
Pramudya Brata mulai meraba pergelangan tangan Asha. Lama dia memijat di sana, Ghala tahu pasti setelah ini sang paman akan menarik kelingking serta tiga jari lainnya. Putra Arimbi lalu duduk menyamping, agar dapat meredam rasa sakit yang akan diterima Asha.
Sedetik kemudian. Kluk.
"Aah!" Asha menjerit. "Sakit, Mas!" ucapnya sampai keluar air mata, meski Pram masih memijat lembut pergelangan tangannya.
"Sabar ya, kalau gak gini, nanti lama sembuhnya. Iya sakit, iya," balas Ghala, meraih dan mengusap kepala Asha yang menyandar di bahu dan memeluk lengannya erat.
"Kamu harusnya bisa, Ghala. Apa ini gak tuntas?" tanya Pram, curiga bahwa Ghala sudah melakukan pertolongan pertama.
Pergelangan tangan Asha terkilir kala memegang kecoa imitasi dan melemparkannya pada Sade dulu. Telapak tangan yang baru melepas gips itu dipaksa bergerak berturut-turut dalam tempo cepat.
"Sudah aku tarik dulu, pas bengkak pertama kali. Tapi aku gak berani lanjut sebab takut malah salah urat dan makin parah. Ibu belum tuntas ngajarin tehnik itu, keburu sakit lalu gitu deh," jelas Ghala, pada Pram. Dia masih menenangkan Asha.
Kini, Pram meminta izin untuk melihat telapak kaki kanan Asha. "Ke dalam aja, Ghala, kalau kaki kudu sambil baring. Pak Lek, minta maaf ya, gak bisa lanjutin ini sebab Ghala yang akan narik nanti. Uratnya kudu di lemaskan dari panggul. Pak Lek yakin, suamimu ini gak akan ngijinin aku megang area situ," ucapnya sambil terkekeh melihat ka arah Ghala.
Maghala tertawa renyah, sang paman mengerti dirinya. Untuk area pribadi Ghala mati-matian akan mencegah orang lain menyentuh Asha, selama ada pilihan lain yang dapat di tempuh.
Asha melihat ke arah sang suami, dia menggeleng pelan, membayangkan tentang rasa sakitnya nanti.
"Sedikit dan sebentar, ya, Sayang. Biar kakimu kuat menopang saat ada adek bayi nanti, oke?" bisik Ghala, mengusap pipi Asha dari sisa jejak air mata.
"Ayo, nanti mesra-mesraannya dilanjutkan di kamar, sembuh dulu. Tadi sudah ke Rendi kan?" kekeh Pram, menduga bahwa mereka ke sini atas anjuran Janu untuk menemui Rendi dokter ahli syaraf dan ortopedi yang beken di kota ini.
Mereka mengangguki pertanyaan Janu lalu langsung pindah menuju bale empuk dan nyaman di ruang tamu, bertepatan saat Memes datang dengan mban guna menyuguhkan sajian.
Maghala menerima arahan dan kursus singkat dari sang paman. Dia teliti mendengarkan saat Pram memeragakan pijatan area panggul pada pinggang Ghala. Pram juga meminta Ghala merasakan tulang yang letaknya normal dibandingkan dengan cedera pada Asha.
Beberapa menit berlalu.
Asha meringis kesakitan dan menjerit saat Ghala menarik tungkainya tiba-tiba hingga bunyi nyaring antar sendi tulang terdengar. "MASSS!"
Ghala langsung menghambur memeluk istrinya. "Sayang, maaf, maaf. Sakit banget ya?" bisik Ghala, menarik tubuh Asha dalam pelukan.
"Ya sakit banget itu pasti. Jalan aja begitu, tapi Asha ini kuat nahan. Gak kebayang kalau kamu tindih dia," kata Pram tertawa lepas, sementara Prameswari kian menekuk wajah melihat kemesraan yang Ghala tunjukkan.
Maghala melempar tisu milik Asha ke arah pamannya. Dia paling tahu Ghala sebab sejak belia di asuh sang paman kala masih tinggal di kediaman orang tua mereka di Semarang.
"Mas Ghala, kamu ternyata suka gadis kota ya? ku kira masa kecil kita berkesan. Dan ku duga, kau akan memilih Layla."
"Maaf ya Memes. Kamu tak lebih hanya ku anggap adik meski aku tahu isi hatimu. Aku memilih Asha sebab Tuhan yang mendatangkan dia padaku. Dia bukan semata kewajiban dan kini aku mencintainya."
Pramudya Brata lalu meminta Ghala memakaikan lagi stagen penopang kaki dan pinggang. Juga berpesan agar posisi tidur Asha harus rata, tanpa bantal selama beberapa jam ke depan.
"Asha, istirahat dulu. Nanti sore, pak Lek mulai minta kamu nulis sesuatu, belajar dasar. Jangan mau kalau Ghala ngajak ninu ninu," tawa Pram menggema, dia lalu bangkit meninggalkan pasangan Cyra.
Pram juga menarik sang putri agar masuk setelah meminta mban menyiapkan kamar bagi keponakannya.
"Bismillah, Sayang, lawanmu sudah tiba. Masih semangat kan?"
.
.
...______________________...
...losdol kata nih 2069 dalam satu bab ðŸ¤...
__ADS_1