BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 47. SEBELUM GEBRAK MEJA


__ADS_3

"Eira? siapa?" lirih Asha, melirik ke arah Ghala dengan ekor matanya.


Madaharsa kemudian berpaling wajah, memejam hingga samar terlihat butir bening seakan muncul di ujung netra. Maghala yang melihat sang kakak menahan rasa pun mengerti. Dia lalu bangkit, menghampiri Hilmi untuk membuat sebuah rencana.


"Ajaklah kakek ke Hotel tempatku menginap. Usahakan kamu yang membawa beliau. Aku akan menyampaikan sesuatu tentang niatan kakak," ujar Ghala, berbisik pada Hilmi seraya menyandarkan tubuh ke tembok dimana pria itu berdiri.


Asisten Janu mengangguk, dia terlihat menghubungi seseorang kemudian keluar dari kamar perawatan Mada.


"Eira Niara Lahya, kakak melamarnya satu tahun lalu. Tapi dia menungguku pulang. Semua ini akan terkoneksi kok, Asha. Kamu bakal tahu segalanya," kata Ghala, menepuk lengan Mada sebagai isyarat undur diri.


Maghala meninggalkan rumah sakit hanya dengan Asha, pasangan Cyra itu menyewa ojol car berkeliling kota Semarang. Dia juga menunjukkan lokasi dimana dirinya jualan dahulu.


Seketika dia teringat Karim. Ingin mengunjungi tapi melihat jarum jam telah menunjuk angka sembilan malam, rasanya tak enak hati. Namun, Maghala tak dapat memprediksi kapan dia mempunyai waktu leluasa menjenguk keluarga yang telah membantu di saat terjepit. Tuan muda Magenta pun meminta driver menuju sebuah tujuan.


Letak rumah Karim yang masuk ke sebuah gang sempit, membuat Maghala harus mendorong kursi roda Asha agar mencapai kediaman sang kawan. Tak lama, pasangan Cyra tiba di sebuah rumah.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pintu lusuh itu terbuka. Seorang pria muda muncul, mereka saling menatap sekejap dan sang sahabat pun langsung mengenali kawan seperjuangan kala menjemput nafkah di Jakarta.


"Ghala! ya Allah, maaak, paaaaak!" serunya riang, tak mengira Maghala menyambangi rumah sederhana itu.


"Hai, Man! maaf ya baru sempat menjenguk," balas Ghala, menyalami sang kawan dan memeluknya sesaat. Asha hanya tersenyum, melihat interaksi keduanya.


Orang tua Karim, menyembul dari balik pintu. "Ya Allah, Den Ghala! masuk masuk yuk, eh di teras saja, malu, berantakan di dalam," ujar sang tuan rumah, ibu Karim menyilakan Ghala duduk di bangku bambu panjang.


Maghala mengatakan hanya mampir sebentar sehingga tak perlu repot-repot menyuguhkan banyak sajian.


Pandangan mereka kemudian tertuju pada wanita ayu yang duduk di kursi roda. Tak berani menegur atau bertanya, keluarga Karim hanya melihat ke arah Ghala dengan tatapan penasaran.


Maghala paham arti sorot mata ketiganya. Dia menjelaskan status wanita ayu yang sedari tadi hanya diam.


"Namanya Ashadiya, dia Humairaku, ehm, istriku maksudnya," kekeh Ghala, seraya mengusap bahu Asha lembut. Dia kelepasan sebab hatinya bahagia, Asha tak mengeluh di ajak kemanapun.


"Lah, kapan nikah?" tanya Karim, takjub sekaligus iri sebab Asha sangat ayu. "Dapat darimana, kayak artis," sambungnya.


"Waktu kamu pulang kampung, selendang dia aku umpetin di gerobak angkringan jadi gak bisa terbang balik ke kayangan ... oh, iya, rencana kamu gimana? balik ke Jakarta gak?" kekeh Ghala seraya menegaskan niatan Karim, sebab dia telah meninggalkan kontrakan kosong dalam waktu yang lama.


"Hmmm, Jaka Tarub versi kang dagang," ucap Karim diiringi tawa semuanya.


"Enggak. Di sini sama Bapak aja, Den. Jualan kami Alhamdulillah mulai rame lagi dan keteteran, dikit asal memanjang usahanya. Karim itu kena thyphus udah lama, menahun, jadi suka kumat-kumatan," ujar sang Ayah Karim.


Mereka pun berbincang hingga lima belas menit berlalu dan pasangan Cyra langsung pamit undur diri. Maghala akan tetap di Jakarta dan tidak bakal melepaskan lokasi jualan keduanya dulu ke pedagang lain.


Ashadiya sedari tadi hanya tersenyum, dia bahagia Ghala mengajaknya kemanapun dan tak segan menyebut sebagai istrinya. Mereka kini telah di mobil kembali dan Maghala meminta menuju lokasi yang ramai di malam hari.


Tuan muda Magenta, mengajak Asha menikmati suasana malam di Semarang. Menyusuri jalan Ahmad Dahlan, Setiabudi, kawasan simpang lima dan sekitarnya.


Ghala memilih sebuah resto river view untuk menikmati malam, dia memesan sebuah minuman dan makanan untuk sang istri.


"Asha, belum pernah makan menu angkringan kan? nanti cobain ya," ujar Ghala saat dia memilih banyak sajian untuk santap malam mereka yang terlambat.


"Enak ya, mau mau," kata Asha, antusias sembari melihat view indah di interior resto, mengalihkan pandang saat Ghala mengangguk.


Tak lama, hidangan pun tiba. Sebelum menyantap sajian, Ghala meminta Asha meminum secangkir kecil minuman.


"Huek. Apa ini? gak enak." Asha menyingkirkan gelas tersebut padahal baru satu cecap.


Maghala tertawa renyah. Dia pindah tempat duduk di dekat Asha. Membujuknya dengan kalimat yang dia bisikkan.


Seketika wajah Asha merona, dia menunduk dalam lalu meraih gelas yang ternyata racikan jamu khusus wanita setelah bersalin. Maghala menyembunyikan senyum usil saat Asha perlahan kembali meneguk dengan ekspresi lucu.


Matanya menyipit, sesekali memejam, hidungnya dia jepit dengan jari kiri agar tak membaui aroma jamu yang kental. Asha menahan semua rasa pahit, sepet, getir dan lainnya, meneguk hingga tandas cairan dalam gelas.


"Gak enak, Ghala! eeuww," keluhnya langsung menyambar air mineral dari atas meja.


"Resiko punya suami yang berasal dari Kota Jamu, kamu harus akrab dengan minuman satu itu. Baik untuk kesehatan calon ibu," ucap Ghala, melirik Asha dengan senyum samar.

__ADS_1


"Eh, ca--" Asha kembali menunduk, dia tak menghiraukan Ghala lagi, menyembunyikan malu dengan langsung mencicipi berbagai sajian di atas meja.


Maghala hanya menggeleng gemas dengan semua tingkah Asha.


"Ini masih milik keluarga Eira. Di bawah sana, pesantren orang tuanya," ucap Ghala menunjuk bangunan berwarna hijau di kejauhan.


"Al Islah, tempat Eira di besarkan," sambung Ghala lagi.


Asha menduga bahwa Eira di seret dalam kasus Mada. Dia mengamati ini, sebab menebak Mada adalah sosok pria pendiam sehingga menekan hatinya adalah kelemahan yang terbaca oleh musuh. Dia menjelaskan semua pemikiran tersebut pada sang suami.


"Kamu pinter, sih, Sayang," kata Maghala, menopang dagu seraya memperhatikan Asha makan.


"Aku nebak aja. Dia melihatku dan menyebut Eira. Kakak seperti berat pada sosok tersebut. Siapa Eira sebenarnya?" tanya Asha dengan ekspresi lucu, matanya membulat dengan pipi kemerahan sebab tersapu udara dingin.


Maghala menyentuh ujung hidung mungil Asha dengan ujung jarinya. "Rahasia. Besok kita bicara dengan kakek. Agar dapat mengambil tindakan lebih dahulu."


Maghala menyimpan erat identitas Eira. Wanita idaman bagi kakaknya sejak belasan tahun silam.


Menjelang tengah malam, pasangan Cyra kembali ke hotel. Sepanjang perjalanan, Ashadiya tak henti mengoceh tentang ide dalam otaknya.


Maghala hanya mendengarkan, dia bahagia, Asha mulai terbuka padanya. Satu yang membuat Ghala gemas, Asha kadang jitu menebak jalan pikirannya.


"Kok tahu, aku ke Karim untuk tujuan apa?"


"Maghala takkan bertindak tanpa alasan. Modus menjenguk tapi menegaskan status kebersamaan menjalin bisnis. Kan tadi bilang, kontrakan tetap di bayar. Itu tandanya, kamu masih punya niat meneruskan. Jangan-jangan mau sewa orang buat mengelola jualan kamu di sana." Asha berargumen.


"Lokasi itu sudah ramai. Kamu punya pelanggan tetap juga, tapi niatan Maghala bakalan cetek jika hanya sampai di situ. Jangan-jangan mau di bikin sistem Frenchise. Bener gak?" cecar Ashadiya, menoleh ke samping dimana Ghala duduk.


Maghala tak menjawab pertanyaan Asha, tapi senyumnya mengembang sempurna. Mereka pun tiba di hotel dan langsung menuju kamar.


Saat pintu baru saja tertutup.


Maghala membopong Asha menuju ranjang, lalu mendudukkannya di sisi.


"Nyonya Sakha lama-lama mirip cenayang, bisa baca pikiranku ya?" lirih Ghala mulai mencondongkan tubuhnya di depan Asha.


Kelopak netra sipit itu mengerjap, bulu mata lentik pun bergerak ke atas dan bawah. Asha tak berani melihat manik mata yang tengah intens menatap.


"Ehm, Gha laaa." Breg. Tubuh Asha terdesak, dia terbaring dengan wajah Ghala tepat di depannya. Tatapan keduanya pun bersirobok.


"Jangan memancingku Humaira, aku gak tahu sampai kapan sanggup bertahan," gumam Ghala, melihat Asha menggigit bibirnya hingga nampak gigi kelinci yang membuat dia kian imut.


"Halal," lirih Asha hampir tak terdengar.


Maghala tersenyum. "Ehm, halal. Bismillah...."


Hening.


Jeda.


Freeze.


Kini, pandangan Ghala kian memuja pada wanita ayu yang berada di bawah kungkungan tubuhnya.


"Syukron, Sayang." Tuan muda Magenta, baru memberikan stempel miliknya di salah satu tempat dari sekian jengkal tubuh Asha. Ghala, kini memeluk Asha, menelusupkan kepalanya di ceruk leher sang istri.


"Ehm. Makasih, Ghala. Menjagaku hingga sampai di sini. Masih sabar kan?" balas Asha lirih. Sebenarnya dia malu, tapi sadar hal tersebut adalah hak suaminya.


Maghala mengangguk samar, tak lama, dia bangkit, mengangkat tubuh Asha ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.


Malam pertama bagi keduanya berada di atas ranjang yang sama tanpa penghalang. Bukan Ghala tak mau, dia hanya cemas Asha belum siap.


Wanita ayu perlahan menyerahkan diri, memulai masuk ke pelukan Ghala lebih dulu. Asha tahu, suaminya masih menjaga melakukan itu sebab takut kilasan memori kelam hadir lagi. Sejatinya Ashadiya pun demikian, dia khawatir 'mengingat' kala memadu kasih dengan Ghala.


"Pelan-pelan ya, Asha. Aku akan menghapus kenangan buruk tentang itu. Istirahat dulu, besok pagi ketemu kakek," ucap Ghala, menuntun Asha membaca banyak doa sebelum tidur lalu menarik selimut dan memeluk wanitanya masuk menjelajah alam bawah sadar.

__ADS_1


...***...


Keesokan pagi.


Maghala masih meratukan Asha, meladeni segala keperluan sang istri hingga waktu sarapan tiba.


Saat mencapai resto, Hilmi dan Denok sudah di sana. Gadis ayu itu bolak balik menyiapkan sajian untuk majikannya.


"Kamu tahu kesukaanku, Nok?" tanya Hilmi melihat ke arah Denok, saat pasangan Cyra tiba di meja yang sama.


"Tuan jangan ge-er. Ini buat beliau, lagian punya kaki kan? kalau Tuan mau saya melayani Anda juga, berani bayar berapa?" tantang Denok, tak melihat ke arah Hilmi sebab menata peralatan makan bagi Asha.


"Bayar pake anu aja gimana?" jawab Hilmi, seraya menyeruput kopinya.


"Anu lagi! jangan sampe salah paham ya," tegur Ghala, saat membuka napkin untuk sang istri.


"Anu tuh apa? itu?" sindir Denok melirik ke tubuh bagian bawah Hilmi.


Asisten Janu yang melihat lirikan Denok seketika merubah posisi duduknya, dia tak mengira asisten Asha menilai demikian.


"Heh! gak sopan ngeliatnya," sergah Hilmi, menutup bagian bawah tubuhnya dengan napkin.


"Lah, saya gak salah, kan nanya. Anu itu apa atau hal lainnya? kan anu identik dengan itu, sih dan situ gak jelasin. Gak heran juga kemarin nanya lelang gundik, ternyata mainan teh celup gratisan, euuw!" celoteh Denok, sinis dan menohok Hilmi. Dia kesal kemarin kepalanya ditoyor sang asisten kala di helikopter saat bersandar di lengannya.


Uhuk. Uhuk. Pasangan Cyra tersedak, Ghala menyemburkan kopi, sementara Asha terbatuk-batuk sebab saus salad terasa tajam di tenggorokannya.


Pffttt. Hilmi tak kalah senggak, kopi pahitnya terasa kian pahit.


"Lambe jaga lambe!"


"Gak ada pagarnya lah, situ juga, mau gak lambene di pasang saringan, nang kono kui, njejer," balas Denok, sengit menunjuk ke arah bibir Hilmi.


"Nanti kalau mau mau ngicip susah loh, masa pasang saringan di bibir, sih?" sahut Hilmi, tak memedulikan tatapan Ghala yang memintanya berhenti.


"Ngicip bibir yang mulus, original, bukan seken kui masih akeh toh yo. Sudah, diam. Saya gak bakalan ganggu, misi Den, Non. Maapin ada speker bodol," pungkas Denok, memilih duduk menjauh dari Hilmi dan pasangan Cyra.


Maghala menatap Hilmi, menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang asisten akhir-akhir ini.


"Om Hilmi, kalau naksir Denok bilang aja. Dia itu dulu pernah kerja di restoran mewah, terus pindah ke resto fast food dan pegang bagian drive thru, makanya gesit, sigap dan tahu medsos. Lihat aja, mana ada asisten tapi modis gitu, aku aja kalah gaya," beber Asha, merubah panggilan untuk Hilmi dengan Om.


Asisten Janu hanya diam, tak menanggapi ucapan Asha meski Ghala menyenggol kakinya di bawah meja.


Satu jam setelah sarapan.


Janu janardana datang ke resto dan menyambangi Ghala. Dia melihat Asha pertama kali dan langsung menyebutnya bagai nama salah satu artis Korea.


"So min-ah, ini kakek!" seru Janu kala melihat Asha, tersenyum padanya.


"Jung so min. Dia emang mirip dia kalau senyum, matanya ilang," kekeh Ghala setelah Janu puas memandangi Asha.


Mereka menyewa sebuah ruang pribadi di sana, Ghala menyampaikan bahwa Janu agar segera meminta Eira secara resmi supaya gadis itu aman.


"Kurang ajar! berani mengusik hingga kehidupan pribadi," ucap Janu murka, dia bangkit dan menggebrak meja.


"Eira sakit. Mungkin sudah waktunya bagi Kakek menyatukan mereka. Kakak tak memiliki kesempatan meminta sebab anggapan Kakek padanya demikian," tutur Ghala menjelaskan.


Sebersit sesal melintas di diri Janu. Dia sebenarnya telah menerima isyarat Mada untuk mengunjungi sebuah tujuan tapi kerap diabaikan sebab alasan sibuk dan lainnya.


"Jadi bagaimana?"


.


.


..._______________________...

__ADS_1


...Dua bab jadi satu guys....


__ADS_2