
Pasangan Cyra menghabiskan waktu dengan menyewa bale di tepi pantai. Kali ini Ghala ingin bermanja dengan istrinya sebelum mereka kembali pulang dan mampir ke kantor polisi menemui Patrianusa.
Lelaki tampan itu menyandarkan kepala di pangkuan Asha, sesekali lengannya memeluk pinggang ramping yang mulai melepas stagen penopang tulang, atau bahkan mengusap lembut punggung wanita pendiam sebagai ungkapan sayang.
Angin pesisir pantai jelang senja mulai terasa sejuk, keduanya hanya mengobrol ringan tentang semua peristiwa yang terjadi selama mereka bersama.
"Lain kali, jangan suka memendam amarah ya, Asha. Keluarkan saja agar proses recovery tidak sulit," ujar Ghala meminta agar istrinya lebih terbuka.
"Kenapa begitu?"
"Sebab amarah yang di pendam pasti akan meledak dan itu bakal merusak hubungan. Andai tubuh kita ini ATM, dan amarah itu adalah tisu yang di sumpal pada mesin, sementara potensi diri di ibaratkan sebagai uang di dalam ATM tadi, maka ketika kita akan mengambil uang itu kira-kira bisa keluar apa tidak?" tanya Ghala menatap wajah ayu di atasnya.
"Enggak, kan di sumpal tisu," jawab Asha, masih belum paham.
"Nah itulah, kalau amarah menyelimuti raga maka potensi kamu, kebaikan yang ada pada diri, tidak dapat terpancar. Sekalinya bisa out, pasti akan meledak. Sama kayak ATM tadi, kalau uang dipaksa keluar sementara ada ganjalan tisu, maka mesinnya malah rusak. Jadi, harus bagaimana?" Maghala kembali mengajak Asha berpikir logis.
"Di keluarkan ganjalan tisunya, amarah tadi dong, Mas," balas Asha, menunduk menatap manik mata teduh di bawahnya.
"Bukan amarahnya yang di keluarkan, Sayang, melainkan masalah penyebab pembentuk emosi tadi. Tabayyun, seperti pagi ini, kita menyelesaikan dengan baik bukan? meski tetap saja istriku emosi," kekeh Ghala, mengingat respon Asha yang dinilai wajar sebagai pelampiasan kekejian Anggun.
"Dia merusakku kan, Mas. Dia jahat, aku jadi hina," tutur Asha dengan suara parau. Dia kembali terisak.
"Jika tidak begitu. Allah gak mempertemukan kita, Sayang. Entah bagaimana caranya aku sampai padamu nanti. Mendapat cobaan bukan berarti kamu hina, Asha. Bisa jadi malah sebagai pembasuh dosa agar jiwa raga terlahir fitrah kembali ... bukan, Allah tidak menciptakan mahlukNya buruk, hanya saja keterbatasan akal manusia tak dapat menalar kebaikan apa yang bakal hadir di masa depan, hunsnudzon ya, Humaira," tutur Ghala, menjulurkan tangan guna menghapus kesedihan dari wajah ayu.
Maghala bangkit, lalu memeluk wanitanya dari belakang. Tidak ada sepatah kata apapun lagi, mereka hanya meleburkan banyak rasa hati berharap bahtera cinta semakin kukuh.
Manusia sering mengartikan sukses itu getting what you want. (mendapatkan apa yang kita mau). Padahal jika tidak mendapat apa yang kita inginkan, bisa jadi itu adalah sukses sejati.
__ADS_1
Karena kata Allah, boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.
Dan ciri orang yang bertaqwa adalah yang mampu menahan amarah ketika dirinya mampu untuk marah.
...***...
Semarang.
Hilmidar mengunjungi pusara Haifa yang terletak di komplek pemakaman keluarga Magenta.
Dia membersihkan area makam seperti biasa meski terdapat petugas kebersihan di sana. Hilmi kerap menyambangi tempat ini manakala hatinya risau atau hanya sekedar menyampaikan rindu.
"Fa, aku kangen kamu. Mengapa tak lagi datang ke mimpiku di setiap malam, Baby?" gumam Hilmi, sembari meletakkan rangkaian bunga sedap malam kesukaan istrinya.
"Apa karena dia? kamu tetap special di hatiku, Sayang."
"Namanya Denok Listya Anjani. Dia pernah menikah dan mungkin bertemu Adhisty saat mengadu nasib guna menjauh dari masa lalunya. Dia sasaran yang menyenangkan untuk melampiaskan kekesalanku," kekeh Hilmidar sembari memperbaiki letak kacamatanya yang bergeser akibat terlalu menunduk.
Hilmidar tergelitik mencari tahu sosok Denok setelah aksi kejar-kejaran malam itu. Fakta yang didapat pun sedikit mengusik Hilmi manakala Pierre mengatakan bahwa informan rahasia selama ini untuk misi mereka adalah Denok.
Wanita lulusan fakultas ekonomi ini gagal mengenyam pendidikan ke tingkat S2, akibat perceraian nan membuatnya sangat terpuruk. Denok sempat di diagnosa mengalami gangguan mental health selama beberapa bulan jika di tilik dari rekam medis yang Hilmi temukan.
Hilmidar sudah curiga sejak awal, Denok terlalu kontras jika hanya di pekerjakan Adhisty sebagai maid. Mungkin wanita itu juga mengetahui latar belakang Denok sehingga menariknya masuk ke dalam keluarga Cyra.
"Ehm, dia pintar dan Ghala tahu itu maka kecerdasannya di manfaatkan oleh sepupumu yang pandai membaca karakter orang lain," ungkap Hilmi masih membicarakan Denok.
"Haifa sayang, andai kalian masih di sisiku, mungkin anak kita sudah mulai masuk Tsanawiyah, ya. Dia cantik sepertimu ... a-aku, rindu kalian," kata Hilmi dengan nada parau menahan sesak. Kepala pun kian menunduk hingga kacamata hitam yang sedari tadi bertengger di wajah tampannya dia lepaskan.
__ADS_1
Kerinduan, penyesalan juga harapan mempunyai keluarga yang dapat menjadi tempat pulang, pupus sudah akibat guratan takdir.
Ingin rasanya menjalin kedekatan dengan wanita di sekeliling akan tetapi bayang kesempurnaan sosok Haifa selalu melunturkan niat manakala Hilmi mulai mengetahui sifat dan tabiat sang lawan jenis.
Denok, sedikit mengusik hatinya. Mungkin karena pernah merasa saling memiliki kenangan terhadap pernikahan sebelumnya. Satu terlalu sempurna sementara gadis itu justru nestapa. Hilmi ingin membuka diri tapi kalimat terakhir Denok seakan menegaskan bahwa wanita itu masih enggan menjalin keseriusan.
Bukan perkara keturunan yang menjadi fokus Hilmidar. Bagi pekerja sepertinya, pulang dan mematikan semua akses komunikasi untuk menghabiskan waktu bercengkrama dengan belahan jiwa adalah obat bagi segala penat. Sang duda hanya membutuhkan itu.
"Fa, kapan ya aku nyusul kamu?" lirih Hilmi, merasa lelah menghadapi semua sendiri. Dia bosan.
"Kalau kita masih diberi kesempatan hidup itu artinya diri ini memiliki kewajiban memanfaatkan sisa umur sebaiknya, Tuan. Bukan malah minta nyusul. Bisa jadi, urusan Tuan di dunia belum selesai dan Allah berbaik hati menundanya hingga semua rampung. Bukan tamat versi manusia, tapi ala Allah," sambung sang penjaga makam, seorang pekerja yang dulu menjaga kebun Magenta.
Hilmidar menoleh ke arah suara. Dia menyeka butir bening dari ujung netra lalu duduk di sebelah pria itu.
"Haifa adalah cinta pertamaku sejak menginjakkan kaki di Magenta, Anda tahu itu. Dan dia selalu memberikan semua yang terbaik hingga urusan push-up malam," kekeh Hilmi menertawakan kehidupan se-ksnya yang dinamis dengan Haifa.
"Non Haifa itu sempurna bagimu meski bagi saya sekilas tidak, Tuan. Sebab beliau disabilitas. Begitupun sosok wanita lainnya. Sempurna itu karena kebutuhan dan keinginan, bukan dari penampilan semata, begitu kan?" sambung sang pria, kawan sepantaran Hilmi. (seumur)
"Benar. Jadi kapan kau menghuni salah satu komplek ini, San? kalau kamu koit duluan, titip Haifa, ya," ujar Hilmidar seraya bangkit dari sana dan berlalu pergi.
"Dasar somplak, battle aja yuk sini! intinya saya menang, sekarang jagain Non Haifa setiap hari," ujarnya lagi seraya mengangkat sapu. "Aku juga menyayangi beliau, Hilmi. Kau tahu itu, tapi dia memilihmu." Kenang Hasan, pada masa lalunya.
.
.
..._____________________...
__ADS_1