BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 60. READY FOR BATTLE


__ADS_3

Maghala mengusap lembut kepala istrinya yang menangis dalam pelukan. Asha berkali mengatakan bahwa betapa dia bahagia bisa berada di sini sehingga mencari tahu sosok Rosulullah.


Dia juga telah memesan sebuah kitab terjemahan yang menceritakan secara detail perawakan, sifat, karakter juga kehidupan percintaan sang kekasih Allah. Asha sangat merindu manusia nan mulia itu.


Ashadiya memeluk Ghala erat, meminta agar lelaki ini tak meninggalkan atau menduakan dirinya saat masih hidup.


"Aku bukan sayyidah Khadijah, tapi aku meminta agar Mas jangan menduakan aku ketika diri ini masih ada di sisimu, ya," ucap Asha di sela isakan.


"Ngomong apa sih, menduakan apanya? satu aja belum bisa bahagiain kenapa harus nambah. Kata Allah kalau berani berlaku adil ya silakan saja. Adil itu sampai pada urusan hati, kebutuhan sekunder, waktu, uang juga lainnya. Aku condong padamu, memujamu tapi belum tentu dengan istriku yang lain," bisik Ghala, membelai lembut punggung wanita yang memeluknya.


"Sayang, ibarat ladang, jika gersang apakah harus pindah bercocok tanam? kan enggak, di olah dulu atau dibangun hal lain. Bukan membiarkan atau menggadaikan lahannya lalu pindah ... meski gersang, pasti banyak manfaat dari situ," sambung Ghala masih setia berdiri memeluk Asha.


"Seperti pernikahan. Ada atau tanpa anak, baik buruk pasangan, ya pasti ada jalan buat mendulang pahala. Kamu, sumber pahala juga rezekiku, Asha. Jika hatimu bahagia Rahmat Allah itu turun deras. Aku milikmu, in sya Allah," pungkas Ghala, mengurai pelukan. Dia menengadahkan wajah Asha lalu menghapus jejak air mata di sana.


Maghala Sakha bersyukur, satu per satu keinginannya terlaksana. Dia meyakini Ashadiya akan melebihi kesalihan ibunya.


Bada Asar.


Seperti kemarin, pasangan Cyra kini mengikuti latihan melukis seraya menyerahkan hasil karya perdana Asha.


Pramudya sudah melukis senyum kala memegang kanvas milik Ashara. Dia sesungguh mengerti arti filosofi warna juga jenis huruf yang Asha torehkan.


Sore itu, Pram mengajarkan tehnik malukis menggunakan alat sederhana yang ada di sekitar. Seperti garpu, sembilu, bahkan ujung pisau. Semua itu berguna saat akan membentuk khat kufi atau jenis harokat agar estetik.


Tehnik slash dan splash yang telah Asha kuasai pun tak luput dari perhatian Pram.


"Nduk, kalau splash, nyipratin cat, bagusnya pakai kuas yang sedang tapi jaraknya di atur. Kamu bisa tutup bagian yang lain," ujar Pram saat melihat Asha mencipratkan kuas ke atas kanvas.


"Oke. Aku kadang make korek buat beri warna hitam yang natural, Pak Lek. Macam begini," kata Asha, meminta korek api pada Ghala. Dia menuang cat lalu membakarnya.


Pramudya menggeleng kepala sambil tersenyum. Asha menguasai banyak tehnik masa kini, pantas background buatannya halus ternyata banyak skill yang dia bubuhkan di sana.


"Istrimu ini pro. Hanya kurang pede dan belum dapat tempat. Oke lah, maju Ghala. Pak Lek nanti share banyak even buat Asha," ucap Pramudya, menepuk bahu Maghala sambil tertawa renyah dan berlalu melihat muridnya yang lain.

__ADS_1


Maghala hanya mengangguk, dia kembali memperhatikan istrinya. Goresan Asha kian halus terlebih saat membuat huruf ain.


Ain mempunyai rahasia makna yang menggambarkan sifat keterbukaan. Allah maha melihat segala perilaku mahlukNya sementara ghin, memegang arti bahwa pengharapan manusia bakal berlabuh pada sang khalik.


Ashadiya menoreh lekukan syin dengan sangat baik. As-syakur mengingatkan manusia agar banyak bersyukur sebab karunia Allah tak terbatas. Asha perlahan membentuk lengkungan setiap huruf menuju sempurna meski sesekali masih mengeluh nyeri.


Baik Pramudya maupun Ghala, sangat puas dengan perkembangan Asha dalam beberapa hari ke depan hingga tibalah waktu mereka pamit.


Sudah lebih dari sepekan, pasangan Cyra ada di Solo. Selain terapi jalan juga belajar melukis, Asha juga mengisi tiga formulir even dalam waktu dekat yang kehadirannya akan di wakilkan oleh Pramudya, mereka hanya meninggalkan beberapa karya milik Ashara di kediaman sang paman.


"Pamit ya Pak Lek, Mbak Memes. Makasih banyak sudah bimbing aku selama hampir sepuluh hari di sini. In sya Allah nanti mampir lagi kalau Mas Ghala mengizinkan," ucap Asha kala telah di sisi mobil.


"Tekun ya, Nduk, niatkan lillah. Yang hasad nanti bakalan minggir. Jangan minder, pede saja, anggap semua manusia itu kanvas kamu," kekeh Pram melepas keponakannya pulang.


"Ehm, Mbak Asha terlihat sangat pede kalau lagi lukis. Kayak ada cahaya gitu, auranya keluar. Sukses ya, Mbak," timpal Prameswari, memeluk istri sepupunya. Dia mengakui kemampuan Asha di atas dirinya.


Ashadiya menunduk malu sementara Maghala memeluk sang paman. Pasangan Cyra telah meninggalkan sesuatu di teras tanpa pemilik hunian tahu sebelumnya.


"Pak Lek, itu dari Asha. Buat bahan ajar siswa di sini. Cat air juga lainnya, mohon di terima," ujar Maghala menunjuk banyak barang di sudut teras bagian kiri.


Dalam perjalanan pulang ke Semarang.


Maghala meminta nyonya Sakha agar mengubungi Denok untuk bersiap pulang ke Jakarta esok hari.


Kaki kanan Asha mulai konsisten tegap menapak bumi kala berjalan, meski masih tetap melanjutkan fisioterapi di Jakarta nanti.


Wanita ayu kemudian duduk menyamping menghadap sang suami yang fokus menyetir. Asha tak mengira, keputusannya membuka hati pada Ghala membawa hingga ke titik ini. Pria disampingnya ternyata bukan sosok nan biasa. Dia serba bisa.


"Kenapa sih, ngantuk? bobok dulu kalau lelah," ujar Ghala, menoleh sekilas dan membelai pipi istrinya.


"Mas!"


"Ehm. Kenapa?"

__ADS_1


"Mas!"


"Iya, Sayang, mau apa? di depan ada rest area, kita mampir sebentar kalau kamu lapar," kata Ghala, hanya sekilas menoleh ke arah kiri dimana Asha duduk.


Ashadiya masih memandang lekat. "Mas!" panggilnya lagi.


Maghala tak menggubris, dia segera membelokkan mobilnya memasuki kawasan rest area dan parkir di tempat sepi. Ghala melepas seat belt tanpa mematikan mesin mobil.


"Maaaaassss!"


Maghala seketika teringat jurnal Asha, apa ini yang dia maksud, istrinya sedang masuk masa transisi menjelang libur kodrat bulanan.


"Fix, cari hotel," ujarnya setelah membungkam bibir nyonya Sakha. Dia melajukan mobilnya kembali keluar tol guna mencari penginapan.


Ashadiya tertawa renyah, ternyata Maghala benar-benar membaca jurnal memalukan miliknya dulu. Kini, lelaki itu peka tanpa dia mengisyaratkan lebih detail.


Siang menggelora di lakoni pasangan Cyra. Mereka keluar hotel setelah Maghrib guna melanjutkan perjalanan ke Semarang. Hal tergila yang baru pertama kali Asha lakukan, menepis malu sebab sebuah keinginan.


Wanita ayu membuka hijab sebab rambutnya masih basah. Dia memeriksa gawai tepat saat benda itu berbunyi.


"Ya? ada apa?" jawab Asha, meloudspeaker panggilan dari seseorang.


"Kapan ke Jakarta? ada kegiatan temu kangen semua pelukis bulan depan. Ini kesempatan bagimu untuk memohon agar tidak di coret dari komunitas," kata Anggun di ujung sana. "Mungkin jika mengutarakan alasan menghilang sebab hamil dan menikah, rasanya itu akan jadi pertimbangan bagi mereka agar tetap mempertahankan kamu, Asha," sambungnya lagi.


"Lusa aku sudah di Jakarta ... oke, aku akan datang. Pamer suami boleh kan?" kekeh Asha, melirik ke arah Ghala yang juga tersenyum samar.


"Jiah, pamer. Emang seganteng apa sih?" tawa Anggun mengudara.


"Ehm lihat sendiri saja nanti, hati-hati otot mata kamu kram sebab takkan mampu mengedip," balas Asha cengengesan lalu menutup panggilan sahabatnya itu.


Maghala hanya menggeleng kepala pelan sambil mengucek rambut istrinya yang masih basah.


.

__ADS_1


.


..._________________...


__ADS_2