
Hari ini keluarga Cyra fitting pakaian untuk pernikahan Alka. Asha malas beranjak dari kursi sebelum es krim toping parutan petai bakarnya tiba.
Entah apa yang terjadi dengan ibu hamil satu ini. Sering ikut Ghala ke pasar membuat Asha jadi banyak tahu sayuran yang menurutnya aneh meski bagi orang awam adalah hal lumrah.
Seperti petai, jengkol, cempedak, kluwih dan sukun. Asha sampai kesulitan menghafal padahal ketiga buah itu kontras perbedaan fisiknya.
Asha bahkan enggan beranjak sebelum pedagang menjelaskan perbedaan jengkol yang masih didalam kulit dengan jengkol kupas atau bahkan telah tumbuh tunas. Mana yang tua dan muda.
Tak sampai di situ, Asha juga kerap mogok berjalan jika sudah melihat ikan koki kepala jambul. Dia meminta Ghala membelinya hanya untuk sekedar memegang jambul si ikan.
Alka sudah sangat emosi meladeni semua keanehan Asha.
"Kamu gak niat ngelukis apa gitu buat aku? daripada menghambat semua acara kita. Asha, lusa loh aku nikah," keluh Alka, menarik kedua lengan ibu hamil agar bersedia fitting baju di butik yang kini mereka datangi.
"Mas Ghala aja diem dan milih ikuti keinginan aku," jawab Asha enteng. "Buat hiasan rumah aku kan sudah bikin dua lukisan kaligrafi bentuk khat kufi biar mbak Aisel matanya jereng kalau baca tulisannya," kekeh Asha.
Maghala pun tiba dengan Hilmi, membawa pesanan sang nyonya.
"Nih, es krim toping parutan petai bakar. Aku beli petai di cafe ayam penyet nih, Sayang dan minta di parutin di sana ... satu lagi, kiwi, lemon, apel hijau dan sereh tambahin parsley. Habiskan ya," ujar Ghala menyerahkan dua pesanan sang bumil.
Hilmidar memegang kepalanya. Dia mual melihat campuran aneka minuman aneh itu. Bahkan Denok muntah saat melihat Ghala berbelanja buah segar di supermarket lalu membawa ke konter jus sebagai tambahan isinya.
Asha menerima dengan senang hati. Bibirnya mengulas senyum meski pandangan sekitar menatapnya aneh.
"Euuww!" sebut Alka, mengusap wajahnya kasar.
"Hoek!" suara Adhisty tak tahan, dia berlari ke toilet di susul Denok dan Hilmi.
Maghala hanya tertawa renyah melihat mereka dengan segala reaksi nan muncul. Baginya biasa saja meski memang kehamilan Asha kali ini sungguh aneh.
"Ini anakku unik banget ya," kekeh Ghala mengusap kepala istrinya yang duduk menikmati sajian.
"Yang jus enak, Mas. Tapi kok yang es krim ada bau petai nya ya," jawab Asha konyol.
Maghala hanya terbahak mendengar keluhan Asha sementara Hilmi mengelus dadanya. Wajar bau petai kan itu toping parutan petai.
"Nyonya Sakha itu antara bodoh dan polos," ucap Hilmi saat menjauh dari sana.
"Ya daripada mesum," balas Ghala, mengikuti Hilmi sebab lama-lama dia pun merasa mual.
"Oh iya, Ghala. Bagaimana kalau anu pake gaya mandi kucing, balurin semur jengkol ke ehmmmm, pegel gak nanti ehmmmm?" sambung Hilmi membuat keduanya terbahak.
"Gak pegel sih Om, paling rasa jengkolnya berubah ubah nanti," balas Ghala menanggapi lanturan Hilmi. Alka bahkan tertawa membayangkan semua itu.
Tiada sepuluh menit, semua tandas Asha minum membuat Adhisty kian merasa enek dan pusing. Dia lalu meminta putrinya melakukan fitting dan segera keluar dari tempat tersebut.
__ADS_1
"Anja, mandi kucing pake semur jengkol atau es krim?" tanya Hilmi saat Denok lewat di depannya dengan Adhisty.
"Es krim. Dingin, manis dan lengket," kata Denok asal jawab. Dia tak tahu makna ucapan Hilmi.
Ketiga pria pun kembali terbahak. Namun, seketika berhenti kala melihat Asha telah berganti baju.
"Cantiknya!" lirih Alka, Hilmi dan Ghala.
"Mata! ampun!" Denok gusar, dia spontan menutup mata Hilmi yang berdiri disampingnya.
Menjelang sore, semua persiapan telah selesai. Ashadiya langsung masuk menuju kamarnya dan tertidur ketika baru menyentuh permukaan ranjang.
Wanita ayu pun tak mengira, ada kejutan menanti dirinya.
...***...
Hari H.
Gedung mewah yang disewa Alka telah ramai oleh para tamu undangan.
Hamparan karpet merah membentang sejak dari luar gedung. Di sisi kanan kiri berjajar standing table bunga mawar putih, baby breath juga sedap malam. Aisel meminta semua serba putih sebagai dekorasi pesta pernikahan mereka.
Akad nikah pagi tadi telah lancar di gelar. Kini iringan pengantin bersiap memasuki ruangan. EO sengaja mengatur jarak terbentang setelah pasangan Alka dan Aisel.
Make up flawles dengan bubuhan kesan gold, eyeliner dibuat tebal, dipadu soft lense warna coklat kian mempertajam looks. Sangat kontras di kulit putih Asha hingga memancar keglowingan yang natural.
Ball gown broken white menyamarkan perut buncit Ashadiya, juntai hijab panjang bertabur Swarovski membentuk kilau alami kala diterpa cahaya lampu ruangan, makin menambah keanggunan Nyonya sakha.
Dari kejauhan, Adhisty terlihat telah berdiri menemani pasangan Alka dan Aisel yang telah naik podium, memandang putrinya bagai Cinderella. Asha sangat cantik, terlebih kini dia diminta membawa buket bunga edelweis yang di kelilingi baby breath.
"Nok, Mas mana? kan giliran aku ini jadi pengiring kakak kok malah jaraknya kejauhan gini gara-gara Mas gak muncul" keluh Asha masih belum menyadari segalanya.
"Sabar." Denok lalu memposisikan diri berdiri di belakang Asha.
Tiba-tiba lampu ruangan meredup. Sorot cahaya justru terfokus pada Asha.
Tatapan mata kini tertuju kembali pada pintu besar pada saat awal pasangan pengantin tiba. Pandangan mereka tak kalah takjub melihat sosok bagai bidadari di ambang pintu.
Lantunan lagu beautiful in white mengalun. Asha bingung apa yang harus dilakukan, tapi EO membantunya agar melangkah masuk perlahan.
Ashadiya baru menyadari, ini adalah pesta pernikahan untuknya juga. Dia berjalan menunduk, terharu.
Lampu sorot kemudian menerangi Maghala yang telah berdiri di tengah tiang yang berhias juntaian manik kristal juga bunga Wisteria, Jasmin dan Peony. Maghala Sakha tersenyum menawan menjulurkan kedua tangan menyambut istrinya.
"Mas!" sebut Asha, tak lagi mampu melangkah hingga Ghala mendekat. Dia hanya mampu mengangkat tangan kanan ke udara.
__ADS_1
Maghala Sakha, meraih tangan Asha, lalu mengecup pelan sebelum dia menekuk salah satu lututnya.
"Sayang, temani aku sampai waktu kita di dunia habis. Always be mine, Humaira," ujar Ghala, menyematkan sebuah cincin berlian dengan manik mata biru untuknya.
Ashadiya tak lagi mampu menjawab. Dia hanya mengangguk berkali dengan cepat berharap tetes air mata tak menetap di pipinya.
Maghala bangkit, menghapus kesedihan di wajah ayu lalu mengecup dahinya dan memeluk.
Freeze. Terbius oleh kemesraan. Hadirin, ikut larut dalam haru juga mengikuti iringan bait lagu milik Shane Westlife.
~So as long as I live I love you~
~Will have and hold you~
~You look so beautiful in white~
~You're my every reason~
~You're all that I believe in~
~With all my heart I mean every word~
Hilmidar bahkan terpaku, dia lupa setelah ini menukar posisi untuk berdampingan dengan Denok.
Saat Maghala berbalik, merengkuh pinggang istrinya, kala itulah Hilmi sadar dan terburu berdiri di samping Denok.
"Anja, habis ini ya, mau kan?" bisik Hilmi seraya menoleh sekilas ke arah wanita di samping.
Denok tak menjawab, dia memilih menautkan jemari dengan sang duda kala melewati red carpet hingga tiba di pelaminan mini samping podium Alka.
Tampak hadir keluarga Magenta di area private sebelah kanan. Bahkan Eira antusias dan girang bukan kepalang ketika Asha melambai padanya.
"Ehm, reunian ibu hamil," lirih Janu melihat kedua cicit menantunya saling merespon satu sama lain.
Acara yang berlangsung selama tiga jam, akhirnya menjadikan momen pasangan Cyra kian special sebab kedua keluarga besar saling bertemu untuk pertama kalinya.
Semua urusan telah usai, kini hanya menjalani penggalan waktu hingga kontrak usia habis di dunia.
.
.
...____________________...
...Apalagi yang belum?...
__ADS_1