
Beberapa hari setelahnya.
Asha masih belum banyak beraktivitas selain fisioterapi untuk menyempurnakan kesehatan kaki dan tubuhnya, sehingga Denok fokus membantu Ghala. Dia kian getol mengurus ternak-akun pada aplikasi yang dirintis sang majikan beberapa waktu silam.
Sore ini rencananya Maghala akan memantau perkembangan usaha joinan miliknya di kawasan perkantoran. Namun, ketika hendak pamit pada Asha, dia melihat istrinya menekuk lutut hingga hampir menyentuh dada. Selimut tebal pun tertarik membentuk lekukan jelas tubuh ramping itu.
Maghala mendekati sisi ranjang, dia menemukan banyak butir keringat sebesar jagung di dahi Asha.
"Astaghfirullah, kenapa Asha? tadi baik-baik aja kan setelah salat Asar," ujar Ghala, sambil duduk di sisi tempat tidur dan menyeka jejak keringat dari dahi istrinya.
"Sakit, Mas," keluh Asha lirih sambil mendekap kedua lengan di depan dadanya.
"Mana yang sakit, Sayang? tunjukkan padaku," sahut Maghala. Dia mengusap punggung wanitanya yang meringkuk.
Ashadiya tak lagi menjawab, dia berusaha tidak mengeluh dan memilih menikmati rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya.
Maghala tak tega, dia keluar kamar menuju dapur bermaksud mengambilkan air minum hangat agar dapat mengurangi rasa sakit yang belum di ketahui sumbernya. Tanpa sengaja, langkah terburu Ghala hampir menabrak Adhisty yang baru keluar dari pantry.
"Maaf, Ma," ucap Ghala, mundur beberapa langkah.
"Kenapa Ghala, buru-buru amat. Asha sakit?" tanya sang mama mertua. Perlahan, Adhisty kian kentara merubah sikapnya menjadi lembut dan perhatian, sejak beberapa kejadian menohoknya.
"Kayaknya iya. Ngeluh sakit sampai meringkuk gitu," jawab Ghala sambil lalu, bergegas ke dapur lalu berlari kecil menuju kamar kembali.
Adhisty mengikuti langkah menantunya kemudian menuju ranjang mereka. Dia duduk di tepi tempat tidur dan menyentuh dahi Asha, lalu menyelipkan tangan ke perut bagian bawah tubuh putrinya, memijat lembut di sana.
Merasakan sentuhan dari sang mama, Ashadiya melonggarkan ringkukan, dia mulai terlihat lebih tenang.
"Enakan, Asha?" tanya Adhisty lembut, tangan kirinya membasuh keringat yang membasahi wajah.
Ashadiya mengangguk pelan meski mata dan mulutnya mengatup rapat. Adhisty paham kebiasaan sang anak, sesekali Asha akan begini jika datang bulan.
"Asha haid hari pertama, Ghala. Coba kamu ambil cooler bag di laci, isi dengan air hangat lalu letakkan di atas perut bagian bawah juga pinggang Asha," ungkap Adhisty menjabarkan kondisi yang putrinya alami saat ini.
Maghala mengangguk cepat, dia lalu kembali keluar kamar melakukan apa yang Adhisty minta. Tak lama, lelaki tampan itu kembali membawa keperluan istrinya. Nyonya Cyra memeluk tubuh bagian atas Asha lalu mengangkatnya agar Ghala dapat menata posisi bantal.
__ADS_1
"Gini caranya," kata Adhisty kala Asha sudah berbaring telentang. Dia meletakkan kantong air hangat di atas perut bagian bawah, sesekali menekannya lembut selang seling dengan mengusap pinggang.
"Nah, bentar lagi juga dia bakalan tidur dan sakitnya mereda. Kalau Asha bangun, minta ke Denok atau siapapun agar membuatkan rebusan jamu dari perasan kunyit dan asam jawa, campur daun sirih satu lembar ... dia sesekali ngalamin nyeri lumayan parah begini kalau datang bulan," terang Adhisty masih mengusap perut bagian bawah Asha.
Maghala mengangguki wejangan sang mertua, dia pun menunduk, menyembunyikan senyumnya. Ternyata Asha tahu cara merawat diri.
"Oke, Ma. Makasih banyak. Maaf merepotkan," sambung Ghala saat Adhisty bangkit.
Pria tampan itu duduk di tepi ranjang lalu menggantikan tugas ibunya. Benar saja, tak lama kemudian, Asha tertidur. Rencana akan menuju ke tempat jualan angkringan terpaksa Ghala tunda petang itu.
Bada Maghrib, kondisi Asha telah lebih baik. Dia sudah tak mengeluh sakit sehingga bisa melakukan urusan pribadinya secara mandiri. Ghala hanya setia menemani dan menunggunya di depan pintu bathroom.
Suguhan jamu hangat telah menunggu nyonya Sakha, Denok yang mengantar semua kebutuhan Ashadiya ke kamar sekaligus mengabarkan kedatangan Alka.
"Alka datang? dengan siapa?" tanya Ghala, tepat saat Asha membuka pintu kamar mandi.
Maghala meminta istrinya duduk di sofa agar dia dapat menyisir dan mengikat rambut Asha yang terlihat kusut.
"Nona Aisel. Kayaknya mereka mau izin untuk menikah," jawab Denok sambil menata sajian di atas meja sofa.
Jemari lentiknya meraih gelas kecil berisi cairan berwarna kuning yang biasa dia konsumsi selama kedatangan tamu bulanan.
"Oh iya, Den Ghala dan Non Asha, diminta ke ruang kerja nyonya besar," ujar Denok lagi, sembari melangkah keluar.
Maghala mengangguk. Dia menunggu istrinya selesai menghabiskan semua sajian khusus hari ini.
"Ini wajib ya, Sayang?" tanya Ghala saat melihat jamu, sayuran, tahu dan ayam kukus dalam porsi kecil, air putih hangat juga sepinggan nasi dingin dalam baki.
Ashadiya mengangguk. Ini adalah aturan dari Adhisty untuknya bila masuk masa haid hingga tiga hari ke depan. "Iya, kata mama konsumsi menu begini sampai lusa. Gak boleh makan pedas, panas, goreng-gorengan, minuman dingin atau soda," jawab Asha sambil menikmati makanan miliknya.
Maghala menilai wanita yang duduk disampingnya memiliki sifat sabar, tak banyak membantah. Jika reaksi tubuh baik-baik saja maka Asha memilih diam. Dia mengusap kepala istrinya sayang, salut dengan kesabaran dan sangat patuh pada aturan Adhisty selama ini.
Tak lama, pasangan Cyra menuju ruang kerja Adhisty. Saat mereka tiba, Alka sedang berbicara mengenai rencana lamaran ke rumah Aisel.
Adhisty hanya diam mendengarkan, dia menatap Aisel tajam sebab telah mempengaruhi putranya berbuat curang dan membuat Cyra hampir kolaps bila Ghala tak datang membantu.
__ADS_1
Kesaksian Alka terhadap kasus Sade, membuat Adhisty menjadi tahanan kota. Sambil menunggu berkas lengkap, Maghala pun memberikan jaminan pada pihak berwajib, bahwa Adhisty takkan kabur sehingga sang mama mertua masih bisa beraktivitas seperti biasa.
"Aisel masih memiliki wali nasab seorang paman, Ma. Aku sudah mengunjungi beliau untuk meminta Aisel. Sekarang, tinggal keluarga kita datang guna meneguhkan niatan aku," beber Alka, melihat ke arah Adhisty dan Ghala.
"Kamu atur saja. Mama tinggal berangkat. Urusan perusahaan juga kasus itu kan belum selesai. Seandainya mama masuk bui, nanti Cyra bagaimana?" tanya Adhisty, menatap bergantian ke arah Ghala dan Alka.
Maghala menunduk, dia enggan ikut campur. Ashadiya pun sama, dirinya tidak berminat. Keinginan Asha bahkan pindah ke rumah sederhana, naik motor kemana-mana berdua dengan Ghala dan menjadi ibu muda seperti kebanyakan wanita lainnya. Mengantar anak-anak sekolah, ngerumpi, membaur dengan tetangga, ikut arisan dan banyak lagi.
Ashadiya tersenyum manis membayangkan semua itu. Dia hanya ingin menjadi istri Maghala Sakha.
"Gimana? kok diam?" desak Adhisty lagi, masih lekat memandang kedua pria.
"Kakak saja, Ma. Aku tetap begini, jualan seperti biasanya sebelum bertemu Asha," jawab Ghala mantap, sambil melirik ke wanita disampingnya.
Ashadiya mengangguk cepat, senyumnya merekah sebab Ghala mengerti keinginannya tanpa harus banyak bicara.
"Alka, dengerin tuh. Kamu bisa nyabang. Mama titip Cyra, mau numpang hidup aja sama Asha nanti setelah keluar bui ... Ghala, boleh kan, mama ikut kamu?" tanya Adhisty pada menantunya.
Pasangan Cyra saling pandang. Tak salah dengar kah mereka, tentang keinginan Adhisty. "Boleh, Ma, boleh. Asal Mama tahan dengan suguhan ala kadarnya nanti," jawab Ghala, tersenyum simpul.
Adhisty mengangguk samar, binar matanya terpancar jelas menandakan dia bahagia. "Alhamdulillah ... Alka, gak usah beli rumah, tinggallah di sini. Besok, kalian harus tanda tangani surat hibah. Mama pengen pensiun, mau ngasuh cucu saja," imbuhnya lagi.
"Aisel, titip putraku. Jaga Alka agar tetap jadi anak baik, aku takkan mengganggu kehidupan rumah tangga kalian meski Alka masih mempunyai kewajiban padaku untuk berbakti ... doa Mama semoga rumah tangga kalian harmonis. Untuk masalah pernikahan, Mama tahu beres pokoknya," kata Adhisty, dia melihat ke arah Ghala, berharap menantunya itu paham keinginannya.
"Baik, Ma. Maafkan kami yang mengambil keputusan sembrono. Terima kasih," jawab Aisel terharu, Adhisty telah banyak berubah bila dibandingkan dengan kisah Alka tentang beliau, dulu.
Maghala menangkap signal Adhisty. Dia pun mengangguk hingga senyum kembali terkembang di wajah senja sang mertua.
Semua orang di dalam ruangan, menghela nafas lega. Satu per satu semua urusan selesai. Saatnya menyongsong hidup baru bagai lembaran kertas seputih kapas, yang hanya akan tertoreh dengan banyak kebaikan.
.
.
..._______________...
__ADS_1
...Sisa kasus ya. Satu lagi....