BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 39. MULAI TERBUKA


__ADS_3

Maghala membuka pintu kamar sebab di jam ini suster biasanya akan masuk menyiapkan sarapan atau lainnya.


Lelaki itu bertanya apakah Asha telah di perbolehkan mandi sebab istrinya sudah merasa tak nyaman.


"Jika Nyonya sudah kuat, tidak lagi demam, mual atau ada kontraksi sebab sisa pembersihan rahim. Silakan, dengan catatan, perlahan dan tidak memaksakan diri," ujar tenaga medis.


Tuan muda Magenta mengangguk, dia lalu menuju bathroom dan meminta agar Asha bisa melakukan mandi wiladah segera sesuai yang dia mampu, dia lalu menjelaskan tentang tata cara dan pengertian tersebut.


"Dinamakan begitu sebab ada darah yang keluar menyertai proses kelahiran, baik masih berbentuk alaqah alias gumpalan darah ataupun gumpalan daging. Sebagian ulama ada yang berpendapat hanya Sunnah, maka diperbolehkan mandi sampai selesai nifas, jadi mandi wiladah sekaligus mandi besar nifas. Tapi jika kamu mampu dan tubuh sudah merasa enak baiknya lakukan ya, Asha, " ungkap Maghala saat dia membantu melepaskan pembalut sekaligus melihat jenis darah yang keluar apakah pekat dan sesuai dengan semestinya.


"Ehm. Ajari bagaimana. Kamu tunggu di sana saja, aku bisa pelan-pelan," cicit Asha malu, menunjuk agar Ghala keluar meski lelaki ini tanpa merasa jijik melihat semuanya.


"Ini masuk dalam kewajiban suami. Bahkan pasangan itu harus tahu, berbagai jenis darah bukan saat nifas saja, tapi haid dan lainnya. Gunanya agar aku tahu jika terjadi siklus abnormal sebab berkaitan dengan hal ibadah. Apakah kamu masuk masa mens, nifas secara normal ataukah istihadah. Bakal beda tata cara salat dan bersucinya nanti. Aku gak mau lalai," tutur Ghala, dia menjelaskan tujuannya.


Ashadiya baru mengetahui semua ini, bahkan dia tak pernah mandi wajib setelah masa haid. Apalagi lainnya.


"Kamu tanggung jawabku dunia akhirat. Sampai dosamu pun, aku yang tanggung. Maka sepatutnya aku menjaga istriku dalam berbagai hal," imbuh Maghala lagi.


Ashadiya malu, dia meminta Ghala hanya mempraktekkan saja dan akan mengerjakan sendiri. Lelaki itu pun mengangguk. Ghala menuntun Asha duduk di closet, melafalkan niat mandi dan memeragakan air agar mengalir ke seluruh bagian tubuh, mulai dari rambut sampai ujung kaki, serta membersihkan najis yang menempel di semua bagian lipatan kulit.


Beberapa menit selanjutnya.


Keduanya mulai sarapan, Asha di brangkar sementara tuan muda Magenta duduk di sofa. Maghala pun membuka banyak email yang Hilmi kirimkan. Kejanggalan laporan arus kas antara milik Gani dan divisi keuangan membuat Ghala kian yakin.


"Halo, Hilmi. Kakak di jebak," ucap Ghala lagi, saat panggilan dengan asisten janu tersambung


"Dugaan saya demikian. Gani adalah didikan saya langsung, Tuan muda. Dia takkan berani memanipulasi data apalagi ini adalah hasil penelusuran manual yang Gani kerjakan," beber Hilmi lagi, dia bahkan mengirimkan banyak salinan ke email Ghala berisi semua mutasi Mada.

__ADS_1


"Tolong konfirmasi ke Gani. Apakah kakak memiliki account di negara lain. Dan juga, aku baru memeriksa file yang kakek berikan tentang pendirian perusahaan milik kakak ... benar katamu, alamatnya fiktif meski di sana berdiri sebuah pabrik tapi ternyata tidak sesuai dengan deskripsi. Apakah ini kamuflase untuk mengelabui kita?" ujar Ghala.


Hilmi menelusuri letak pabrik, bahkan menyuap orang dalam agar mendapat salinan faktur orderan. Jika di cocokkan dengan laporan dari Janu, maka nihil, berbeda.


Keduanya lanjut diskusi panjang lebar mengenai dugaan Mada di jadikan kambing hitam. Jika perkiraannya benar, Mada membiarkan masalah ini tujuannya satu, dia hanya ingin mundur dengan mengorbankan namanya sendiri.


Maghala menimbang, jika Mada mundur dengan citra buruk maka Maharani bisa jadi akan naik bilamana dia berhasil menghasut semua direksi.


"Hilmi, apakah kakak sudah menikah dengan Eira? dia hanya ingin hidup nyaman sebab Eira Niara Lahya adalah seorang alim? Hilmi, kok aku takut ya," tutur Ghala, lirih mengungkapkan gundah.


Asisten Janu sejenak hanya diam. Dia tak berhak mengutarakan hal pribadi anak asuh yang Mahananta titipkan padanya, akan tetapi tidak ingin Maghala berspekulasi terhadap kakaknya.


"Benar?" desak Ghala lagi.


"Belum, Tuan muda. Beliau menunggu Anda, tapi keluarga Nona Eira telah menerima pinangan Tuan muda Madaharsa dan ehm, anu, itu, duh, anu," ucap Hilmi kikuk, dia menggaruk dagunya berkali tanda cemas.


"Ish, bukan. Tuan besar tidak tahu, hanya aku yang menemani beliau saat itu, maaf," balas Hilmidar tak kalah terkekeh.


Keduanya lalu menyusun strategi baru. Ghala juga meminta Hilmi mendesak Adhisty untuk segera merombak dan memasukkan orang kompeten dari kubu Magenta ke dalam perusahaan Cyra.


Panggilan pun berakhir. Ghala menutup ponselnya, berniat melanjutkan setelah Dzuhur nanti. Prioritas saat ini, dia akan mengerjakan rekap omset penjualan akun affiliate miliknya ke para supplier.


Maghala mulai sibuk berkutat dengan tumpukan kertas di atas meja sofa. Sesekali masih mengunyah sarapan yang tertunda.


Ashadiya memperhatikan, mendengar semua obrolan suaminya dengan seseorang di ujung sana. Dia mulai mengerti siapa sosok Maghala yang sesungguhnya.


"Tuan muda Maghala Sakha, putra bungsu keluarga Magenta, kalau makan itu harus di selesaikan lebih dulu sebelum mengerjakan lainnya," ujar Asha dari atas brangkar. Wajahnya mengulas senyum menawan, tebakan hati ternyata tepat, sang suami bukan sosok biasa.

__ADS_1


Maghala menoleh, menahan sendoknya di mulut sebelum mencabut dengan tangan kanan. Pandangan mata teduh itu dilayangkan pada pemilik wajah ayu.


"Pinter ya sekarang. Itu rahasia yang aku bicarakan tempo hari. Maafkan aku ya," ucap Ghala, berdiri menghampiri Asha dan duduk di sisi brangkar.


Ashadiya mengangguk, dia paham semua ini. "Keep silent kok. Aku sudah merasa sejak lama. Kamu pergi saat malam itu, sangat rapi. Mengerjakan sesuatu dengan begitu serius dan pandai menganalisa. Ghala, sukses itu bukan hanya perkara keberuntungan tapi ada ilmu di dalamnya. Jadi affiliate pasti mudah, tapi mempelajari grafik aplikasi, kesukaan, konten dan lainnya juga butuh pengamatan. Jika bakat dan peluang bertemu, maka jalan kamu akan mudah," ujar Asha, ini adalah kalimat terpajang yang dia sampaikan sejak bersama Ghala.


"Apalagi?" sahut Maghala, kini gantian memandang takjub pada wanita yang masih terlihat pucat.


"Pola pikir, habbit, juga kamu bisa mengintimidasi. Sikap dan gaya bahasa Maghala bukan mencirikan pedagang angkringan biasa, meski aku tahu publik speaking bisa dipelajari tapi itu terlalu sempurna. Tata bahasa kamu begitu sopan dalam memilih kata meski hanya berkomunikasi denganku," sambung Asha, kali ini tersipu sebab Ghala tak berkedip menatapnya.


Maghala sakha tak salah duga. Ashadiya seorang pemerhati sepertinya. Mungkin memang waktu sedang berkuasa, agar dia menunjukkan jati diri.


"Aku hanya suamimu, Humaira."


Ashadiya mendongakkan kepala, Maghala masih saja merendah meski dia tak menampik segala ucapan panjangnya tadi.


"Ehm?"


"Hanya suamimu sampai urusan Cyra beres. Alka mandiri dan kamu bangkit kembali. Aku fokus untuk keluargamu dulu. Magenta bisa menyusul, doakan ya," ujar Maghala, meraih tangan Asha dan menggenggamnya.


Ashadiya tersenyum hingga matanya kian menyipit. "Kakak sudah mandiri kok, berkat Aisel. Aku tahu semuanya...."


.


.


...____________________...

__ADS_1


__ADS_2