
Hilmi bangkit, meraih kursi yang terjatuh dan meletakkan di posisi semula. Dia juga menepuk kedua bahu Maghala perlahan agar duduk tenang kembali.
Keterangan dokter mengatakan bahwa kondisi Asha lemah sebab kontraksi yang terjadi, kondisi janin kemungkinan tidak dapat di selamatkan sebab serviks pasien telah terbuka.
Janin tidak berkembang sesuai umur kandungan di karenakan kelainan kromosom juga penyebab terjadinya pendarahan akibat placenta berada di dekat jalan lahir.
"Abortus insipiens terjadi ketika janin masih utuh di dalam rahim, tetapi serviks telah terbuka. Posisi placenta di bawah meski tidak menutup jalan lahir," tutur dokter menjelaskan kondisi Asha. Tenaga medis ini menunjukkan hasil pindai ultrasonografi kepunyaan pasien.
"Jadi bagaimana dengan kondisi istriku?" tanya Ghala tak mengerti bahasa ilmiah kedokteran. Otaknya seketika buntu.
"Sayangnya, walau janin masih utuh, kehamilan juga tidak bisa di selamatkan karena jalan lahir telah terbuka. Usia kandungan baru empat belas minggu, kami usahakan untuk memberikan tindakan cepat dan meminimalisir rasa sakit," ungkap dokter.
Maghala lemas, dia merasa gagal menjaga satu nyawa meski bukan darah dagingnya. Bayangan wajah Asha yang kesakitan selama di perjalanan tadi membayangi benak.
Tuan muda Magenta, menandatangani beberapa dokumen persetujuan tindakan serta meminta obat-obatan terbaik untuk Ashadiya. Dia juga memohon untuk dapat bertemu istrinya sebelum tindakan lebih lanjut dilakukan dokter.
Tenaga medis mempersilakan tuan muda Magenta menuju ruang tindakan. Keduanya pun keluar dari ruangan dokter. Langkah Maghala gontai, entah mengapa. Dia terlanjur menyayangi satu paket apa yang wanitanya miliki.
Hilmi melihat Maghala kali ini sudah bagai kehilangan separuh jiwa. Dia tahu lelaki muda di depannya telah jatuh cinta pada sosok Ashadiya Cyra meski hati belum mengakui sepenuhnya.
Ketika telah berada di depan pintu besar dengan tepi bercat putih. Jantung Maghala seperti berhenti, nafasnya mendadak sesak. Dia menunduk, meraup wajah kasar sebelum masuk ke sana.
Asisten Janu, menepuk bahu tuan mudanya seraya mengangguk pelan kala Ghala menatapnya sebelum menyentuh handle pintu.
"Kuatlah, Tuan muda," ucap Hilmi memberikan semangat serta senyuman tipis. Pejaman mata sekilas juga anggukan samar mengantar sang majikan melangkah.
"Hilmi, maaf ya, mengingatkanmu," balas Maghala, memeluk lelaki paruh baya yang memiliki kenangan sama menyedihkan di masa silam.
__ADS_1
Hilmidar mengangguk. Dia tak dapat berkata apapun. Belasan tahun berusaha melupakan, nyatanya tetap membekas di benak. Hingga hari ini bagaikan Dejavu baginya.
Maghala di sambut suster, lalu membawa sang pria tampan menuju brangkar Asha. Terlihat wanita ayu masih memejam meski tak terlukis gurat kesakitan di sana.
"Asha," panggil Ghala, suaranya tercekat kala menyentuh lengan kanan Asha yang terkulai. Dia bahkan menahan susah payah butir bening di ujung netra.
Putri bungsu Cyra membuka kelopak mata perlahan. Seketika dia meneteskan air mata kala melihat lelaki yang mulai dia cinta.
"Ehm. Aku kenapa?" lirih Asha memegang lengan Ghala yang masih berdiri. Pandangan matanya sendu melihat lelakinya ikut menanggung susah.
"Gak apa. Ikhlas ya, maafkan aku gak bisa jaga dia," ucap Ghala, duduk di kursi sebelah brangkar. Wajahnya menunduk, kepala pun diletakkan di dekat lengan Asha. Maghala terpukul.
Air mata Ashadiya kian deras, dadanya bergemuruh naik turun kentara. Dia kehilangan sesuatu yang sebelumnya tak dia terima. Berkat Ghala, perlahan Asha mulai menyayangi sang janin dan kini Tuhan justru mengambil kembali.
"Dia pergi? karena aku?" lirih Asha, tak dapat menahan isak lagi. Dia mulai histeris.
Maghala menenangkannya. Dia memeluk tubuh lunglai Asha guna menyalurkan sedih. "Bukan karena siapapun. Sudah keputusan Allah. Kita tidak pernah tahu, mana yang terbaik untuk saat ini. Aku takkan meninggalkan kamu, Sayang. Ada atau tanpa hadir buah hati, aku cuma mau kamu, Humaira," bisik Ghala, menyerah. Dia mengungkapkan perasaannya dengan jujur kali ini demi agar semangat Asha tetap ada.
Ashadiya bagai mendapat siraman air terjun dari mata air surga. Dia memiliki hati lelaki tampan yang menjadi idaman baginya selama ini. Kejujuran Maghala membuat Asha memeluk erat raga tuan muda Magenta. Menangis sejadinya sebab kecemasan akan ditinggalkan musnah sudah.
Keduanya saling memeluk beberapa saat sebelum suster meminta Maghala keluar ruangan.
Lelaki tampan menyeka sisa jejak kesedihan dari wajah Asha. Dia takkan lagi menahan keinginan kali ini. Maghala membubuhkan banyak kecupan di semua bagian wajah Asha.
"Tenang ya, Sayang. Aku di sini, menunggumu," ucap Ghala, meraih wajah bulat mungil dengan kedua telapak tangan. Memandang pada retina coklat dalam rengkuhannya.
Ashadiya mengangguk. Dia meraih tangan Maghala dan mencium telapaknya bolak balik.
__ADS_1
Lelaki tampan pun keluar ruangan, tak melepas pandang pada wajah ayu meski terlihat memucat. Dia lalu menunggu di depan pintu ruang operasi.
"Hilmi, pulang saja. Aku tahu kamu pusing di sini. Tolong berkas yang ku minta siapkan. Juga awasi Alka. Pergilah, sebelum mama tiba," ucap Ghala meminta Hilmi mengerjakan hal lainnya. Dia tak tega, sebab pria itu pasti menahan banyak rasa ada di tempat ini, terlebih melihat kondisi Asha di awal tadi hingga wajahnya memucat.
Hilmidar mengucapkan terima kasih sebab Maghala masih mengingat satu peristiwa kelam miliknya. Dia pun bangkit, pamit undur diri dari sana.
Di kejauhan, Hilmi melihat kedatangan Adhisty dengan langkah tergesa di dampingi seorang pria, tuan muda Sadana. Dia pun berjalan menyusuri lorong satunya agar tak berpapasan.
Terdengar keributan, suara wanita itu kala telah menghampiri Ghala. Hilmi menahan langkah, berjaga apabila tuan mudanya di celakai.
"Asha kenapa! kamu ngapain aja sih!" tuduh Adhisty, mendorong bahu Ghala yang tengah duduk di depan pintu ruangan.
Maghala memilih diam. Hatinya sedang resah, emosinya naik turun meminta pelampiasan. Bagaimanapun Adhisty adalah mertuanya. Ghala tak berniat memaki balik sebab dia masih menghormati sosok sang mama Asha.
"Awas jika terjadi apa-apa dengan bayiku!" tunjuk Sade pada kepala Maghala.
Tuan muda Magenta menepis kasar perlakuan Sade yang merendahkan. Plak. Maghala bangkit, mendorong Sade hingga lelaki itu terhuyung, lalu dia meraih kerah kemeja tuan muda Sadana.
"Mungkin Tuhan tahu, bahwa ini adalah jalan terbaik agar keluarga Cyra bebas dari belenggu setan Sade! bisa jadi itu bukan bayimu, Tuan muda. Mengapa harus sepanik ini, kemana kau di saat Asha membutuhkan sosok si-alan penabur nutfah gratisan!" kecam Ghala, menatap nyalang pada manik mata sipit hingga gemerutuk giginya terdengar.
"Ghala!" seru Adhisty, dia menghampiri menantunya dan menarik lengan Ghala.
Tuan muda Magenta, menoleh, dia memberikan tatapan yang sama tegas untuk sang mertua. Bahkan sorot mata itu terlihat lebih menyeramkan.
Glek.
.
__ADS_1
.
...__________________...