BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 74. VONIS


__ADS_3

Sidang tuntutan Sade ricuh saat mulai menghadirkan saksi. Agenda berjalan padat dan alot karena sanggahan banyak di layangkan oleh terdakwa.


Semua lancar kembali ketika giliran Adhisty memberikan kesaksian. Wanita paruh baya itu di cecar oleh pengacara Sadana grup, akan tetapi semua sanggup di jawab petinggi Cyra dengan lugas.


Maghala mendengarkan seksama bilamana ada satu kata atau kalimat yang tidak sesuai, mungkin terdengar ambigu hingga mempunyai dua tafsir makna, maka dia akan mengajukan keberatan pada majelis.


Ashadiya terlihat lelah, dia bahkan hampir menangis jika saja Ghala tak menatapnya teduh kala pandangan mereka bertemu. Wanita itu dipaksa membuka luka lamanya lagi. Maghala juga meminta psikolog hadir untuk mendampingi Asha setelah memberikan kesaksian.


Detik dan menit terlewati, hingga akhirnya sidang berakhir.


Ghala langsung memeluk istrinya yang sudah terlihat pucat akibat cecaran pertanyaan penyidik. Mereka pun sempat menemui Adhisty sesaat sebelum akhirnya berpisah.


"Mas!" cicit Ashadiya, tak bersedia menampakkan wajah ketika dokter menyambangi mereka di ruangan khusus.


"Halo, Nyonya Asha. Aku Salma, boleh kenalan?" ujar sang dokter muda nan ayu.


Ashadiya tak menanggapi, dia tetap memeluk suaminya dalam posisi berdiri.


"Sayang, di ajak bicara oleh Bu Dokter kok diem aja. Gak sopan," bisik Maghala.


"Gak mau, Mas. Ayo pulang," rengek Asha. Dia hanya ingin tidur dan melepas lelah.


Denok malah mendengus kesal sebab sang dokter justru gagal fokus pada Maghala. Gadis itu kemudian meminta agar tenag medis tersebut menjaga jarak dengan keduanya.


"Mohon maaf, Dokter," kata Denok, menarik meja guna menyekat ruang di antara mereka.


Maghala terkekeh kecil melihat aksi Denok yang mulai overprotektif terhadap Asha. Dia tahu, istrinya pun sudah merasa tidak nyaman.


"Jadi gimana?"


"Aku gak apa. Aku gak apa, Mas," bisik Asha berulang kali meski masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Oke, tapi janji bicara denganku di rumah ya," balas Ghala, lirih di telinga Ashadiya.


Wanita ayu itu mengangguk cepat, dia hanya ingin keluar dari tempat ini agar hatinya tak sesak. Melihat Adhisty dalam kondisi demikian, ditambah wajah Sade yang masih sesekali memberikan lirikan menggoda membuat Asha merasa pengap.

__ADS_1


"Maaf ya Bu Dokter, istriku menolak konseling hari ini. Semoga Asha berkenan di lain waktu. Terima kasih banyak atas kesediaannya menunggu," ujar Ghala meminta maaf pada sang psikolog.


Salma terpkasa mengangguk meski dalam hatinya kecewa.


Maghala mengikuti keinginan sang isteri, mereka pun beranjak dari sana. Sepanjang perjalanan, Ghala tak henti menstimulasi Asha agar mengeluarkan semua unek-uneknya. Dan benar saja, wanita ayu banyak menyimpan kekhawatiran yang sebenarnya tak perlu di risaukan.


Ghala paham. Dia lalu meminta Asha untuk beristirahat dan mencoba hypnoterapi menggunakan wewangian yang membuat rileks, setelah tiba di kediaman nanti.


...***...


Aktivitas menguras emosi dilakoni pasangan Cyra hingga satu pekan kemudian.


Hari ini adalah keputusan sidang keduanya. Saat pengajuan tuntutan Anggun, Asha terlihat lebih tegas dan tegar. Dia bahkan berani menyangkal opini lawan dengan baik.


Saat jeda.


Keluarga sang sahabat meminta waktu untuk bicara dengan Asha di sebuah ruangan. Lawyer Archiba pun ada di sana.


"Asha, seandainya kamu bersedia mencabut gugatan dulu, karya gadis pemegang payung itu akan diajukan ke Paris," ujar Archiba.


"Rezeki itu datangnya dari Allah. Bukan manusia. Asha hanya ikhtiar menjemput keadilan, selain itu lillah," balas Ghala mewakili istrinya.


"Anda mempengaruhi pemikiran dia hingga menjadi seperti ini. Aku yakin potensi Asha itu masih akan terus berkembang pesat. Sayang sekali mendapatkan suami dengan doktrin kuno," cibir Archiba mencoba menekan Ghala.


Ashadiya tak terima, dia mendelik pada pecinta seni senior itu juga pria yang telah dianggap bagai ayahnya sendiri.


"Tiada yang memengaruhi pola pikirku. Jika Anggun di perlakuan sama seperti aku, bagaimana Anda menyikapi hal ini? aku di rudapaksa akibat cairan laknat yang di bubuhkan pada minumanku oleh putrimu!!!!!!!" teriak Asha seraya menunjuk wajah Archiba.


Tatapan manik mata sipit itu kian membola dan nyalang, kedua telapak tangan pun mengepal hingga deru nafas kasar Asha terdengar sebab bahunya turun naik kentara.


"Jika Anda ingin membandingkan aku dengannya. Sanggupkah Anda menerima kondisi Anggun? jika iya, aku akan meminta anakmu menelan cairan yang sama dan di sentuh pria asing!" seru Asha lagi.


Archiba terhenyak, dia menelan saliva kasar. Tak menduga reaksi Ashadiya akan frontal seperti ini.


"Dia sahabatku. Dia bagai kakakku. Dan dimana otak Anda? membenarkan tindakannya? ingat Tuan, hukum tabur tuai itu ada. Aku akan melihat alam membayarkan semua rasa sakitku secara tunai pada Anggun Diazae," ucap Asha lantang. Dia langsung pergi meninggalkan ruangan, sama sekali tidak menunjukkan kelemahan meski hatinya remuk.

__ADS_1


Air matanya jatuh seiring langkah. Asha enggan mendengar putusan sidang. Dia hanya akan mengunjungi Adhisty ketika ketuk palu hakim jatuh.


Maghala tidak mencegah istrinya pergi, dia pun tak banyak melayangkan kata makian pada sosok lelaki yang masih duduk di ruangan itu. Percuma, hatinya mati.


Denok mensejajari langkah Asha kala Maghala menyusul sang istri. Terdengar isakan halus akan tetapi dibiarkan oleh Ghala. Asha butuh melampiaskan emosinya.


Healing terbaik adalah jujur pada diri sendiri. Relaksasi paling penting yaitu mengakui bahwa jiwa kita sedang tidak baik, tiada kepuraan, hanya pengakuan bahwa diri tengah dirundung malang. Maghala berharap ini merupakan titik balik Ashadiya untuk melupakan luka masa lalunya.


Pasangan Cyra hanya dapat saling menguatkan manakala sidang putusan bagi Adhisty turun.


"Mama!" Asha menangisi sang ibu.


Maghala memejam, dia merasa sesak karenanya. Benar saja, ketika Alka mengetuk pintu kaca mobil mereka, wajah putra mahkota Cyra itu ikut murung.


Alka lalu masuk dan duduk di sebelah kemudi. Denok memilih keluar, membiarkan mereka membicarakan hal pribadi di sana.


"Mama kena masa percobaan selama enam bulan. Otomatis pernikahan gue di tunda selama itu, Ghala. Tuntutan untuk Sade kan dua belas tahun, tapi dikabulkan majelis hanya sepuluh tahun dan denda tiga ratus juta rupiah. Lawyer mereka mengatakan akan ajukan banding," ujar Alka, menatap lurus ke depan. Hatinya ikut tercubit manakala membayangkan Adhisty akan menjalani kehidupan di dalam bui.


"Anggun bagaimana?" tanya Asha, disela isakan.


"Ku dengar sesuai tuntutan, empat tahun. Entahlah, semoga saja keadilan tidak dapat di beli meski aku iba pada ibuku," lirih Alka. Kepalanya menunduk seakan menyesal.


"Ghala, gue nyesel kenapa bikin mama susah hingga seperti ini. Bakti gue belum seberapa, dan sekarang kita dibatasi ruang dan waktu," sambung Alka lagi. Suaranya mulai bergetar dan serak tanda dia menahan sesak atau sekuat tenaga menghalau laju air mata.


"Doakan, Kak. Kita bisa jenguk mama tiap hari. Apapun itu, mari perbaiki semua selama beliau masih hidup. Sebagai anak lelaki, bakti kita pada ibu hingga liang lahat, Kak. Bahkan sampai beliau wafat nanti ... doa beliau mustajab, ridho Allah ada padanya. Maka setelah ini, ayo sama-sama bahagiakan mama," tutur Ghala, masih menenangkan Asha juga mengatur nada suara agar dirinya tak menambah beban kesedihan keluarga Cyra.


Alka mengangguki ucapan adik iparnya tersebut. Dia lalu menghela nafas seraya memejam. Alka sadar, banyak hal berubah setelah semua keberanian dirinya mengakui kesalahan. Mungkin ini juga jalan kemudahan dari Allah sebab apa yang Maghala sebut sebagai taubatan nasuha, terbukti.


Pasangan Cyra menantikan penjelasan lawyer mereka di kediaman setelah Maghrib nanti. Kini keduanya memutuskan pulang, meninggalkan kehampaan di pelataran pengadilan.


.


.


...___________________...

__ADS_1


...Selesai....


__ADS_2