
Maghala mengusap wajah sembab Asha dengan ibu jarinya, lalu diam menunggu hingga sang istri tenang.
Lelaki tampan yang masih duduk di sisi bale hanya memandang wajah ayu itu dengan senyuman samar, tatapan matanya memuja dengan sorot nan mampu membuat Asha selalu saja tersipu.
"Jangan liatin kayak gitu," ucap Asha di sela isakan kecilnya. Dia berpaling pandang sebab tak kuasa menatap balik manik mata teduh di hadapan, dengan berusaha bangkit, akan tetapi upayanya di cegah Maghala.
"Ya gimana, aku cuma bisa gini biar istriku sedikit tenang. Kita pindah ya, Sayang," balas Ghala. Dia menelusupkan tangan di bawah punggung dan lutut Asha lalu membopongnya.
Pintu bercat hitam itu perlahan terbuka kala tangan kiri Asha menekan handle ke bawah.
Kamar tamu bernuansa tradisional dengan dipan kayu jati dan kelambu yang menjuntai di sekeliling ranjang, membuat Asha seketika merasa bagai di homestay pedesaan.
Semua furniture di dalamnya terbuat dari kayu yang hanya di poles pernis, membuat urat batang pohon pun terlihat jelas dan estetik. Bahkan jendela kamar itu masih mempertahankan model klasik khas rumah jadul.
Lantai tegel berwarna hitam kian menambah teduh suasana kamar, meski ada kipas angin besar yang berputar di atas plafond anyaman bambu.
"Mas, indah banget ya kamarnya," lirih Asha saat Ghala merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Iya, cocok buat honeymoon. Tapi ini kokoh loh, Sayang. Gak bakal menimbulkan bunyi berisik," bisik Ghala, sembari mengecup pipi Asha, lalu perlahan membuka hijabnya.
Ashadiya gemas, Ghala suka menggoda dengan kalimat yang membuatnya malu.
"Awh! sakit, demen banget nyubit kek kepiting ya sekarang," omel Ghala lagi, protes sebab lengannya kerap jadi sasaran cubitan.
"Sih, ngomongnya gitu," balas Asha sambil meringis ketika berusaha belajar menarik kaki kanannya.
Maghala membiarkan Asha sejenak, dia bangkit menuju keluar kamar guna mengambil koper mereka. Tak lama, Ghala kembali dan menutup pintu sebab akan membongkar isi travel bag milik Asha.
"Mas, hubungi Denok dong, dia udah belajar belum kelola akun jualan Mas itu?" pinta Asha. Tangannya merentang meminta bantuan untuk berganti baju ketika Ghala menghampiri kembali.
"Sudah, kan pake ponsel kamu ngirim pesan ke dia itu. Coba cek," balas Ghala, menyerahkannya gawai Asha dan membawa homy dress untuknya.
Ashadiya membuka semua pesan, lalu mengkroscek akun jualan sang suami. Denok ternyata cepat belajar hal baru, dia sudah menghandle dengan baik juga berhasil mengunggah dua konten di jam premium. Senyum pun muncul, lega sebab usaha yang dirintis Ghala takkan sia-sia.
Maghala sibuk meladeni sang nyonya, mulai dari menyisir rambut, mengoles krim di tungkai, menghapus sisa make-up dengan micellar water hingga istrinya kembali rapi, wangi dan nyaman, sementara Asha masih asik berkutat dengan ponselnya.
__ADS_1
"Sudah selesai, Sayangku, Manisku, Cintaku, Hidupku, Calon Umma," kata Ghala, seraya membereskan semua kekacauan yang dia buat.
Ashadiya meraih telapak tangan kanan Maghala, lalu menciumnya bolak balik, seakan mengatakan bahwa dia sangat berterima kasih selalu dimanjakan seperti ini olehnya.
Maghala membalas dengan usapan lembut di pucuk kepala Asha, istrinya kian berani menunjukkan rasa sayang dan hormat padanya.
"Mas, coba lihat. Setelah ini, gimana?" tanya Asha menyerahkan gawainya. Dia meraba wajah yang kini terasa lebih segar berkat sang suami.
Maghala menerima uluran benda pipih tersebut, dan membaca pesan di sana. Asha menghubungi kawan yang bekerja di lab dan salah satu dokter kecantikan langganannya.
Isi semua percakapan wanita di sana, menyatakan mendukung langkah Asha dan berjanji akan membantu meneliti kandungan bahan skincare yang akan mereka olah.
"Keren. Cepet banget, kapan kamu ngerjain ini, Sayang?" tanya Ghala, dengan sorot mata berbinar dan senyum menawan saat bicara dengan wanita ayu.
Ashadiya hanya tersenyum, memandang lekat iris coklat kehitaman di hadapannya. Dia menunggu Maghala menebak.
"Kalau aku tidur, atau saat seperti tadi. Kamu asik dengan ponsel sementara aku ngurusin printilan?" tebak Ghala, tak kalah menatap sang istri yang tersenyum padanya.
Ashadiya mengangguk. "Iya. Aku juga minta kawanku yang di luar negeri, ngenalin aku ke distributor skincare tempat dia kerja. Milikku itu darinya, produk sampel. Kalau kita bisa narik bahan impor dengan kualitas sebagus itu ke sini, dan menawarkan pasokan ke brand sejenis, bukankah akan membuka dua peluang, ya, Mas?" tuturnya panjang.
"Jadi selain recreate produk, kita juga sebagai pemasok tapi komposisi ingredientnya di sesuaikan dengan kebutuhan mereka. Kita akan terima dan seleksi, brand mana yang sesuai. Untuk menghemat biaya izin usaha, baiknya mendompleng nama Cyra saja, hanya memisahkan manajemen divisi produksi. Bagaimana jika begitu?" usul Asha.
Maghala tak menjawab, dia juga ingin Asha menebak jalan pikirannya. Lelaki tampan hanya tersenyum sambil memandang wajah ayu. "Menurutmu aku akan bagaimana?" tangannya.
Ashadiya menimbang, dia berusaha mengenali strategi bisnis suaminya ini.
"Mas akan meminta Mama untuk mempromosikan ini, bersamaan dengan apparel atau produk utama Cyra lainnya. Satu brand ambassador ... konten yang dibuat bisa 2in1 macam iklan kacamata dan jam tangan dari satu merk, ehm, gitu ya?" tebak Ashadiya, meski perkiraannya pasti melenceng.
Maghala mengangguk, dia dan Asha ternyata satu pemikiran meski apa yang istrinya tuturkan tadi akan sedikit dirubah nanti.
Pasangan Cyra lalu membuat bagan kasar juga plan RAB untuk semua ini. Tak lama, keduanya memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Setelah ashar.
Kediaman Pramudya kini ramai oleh para murid dari berbagai kalangan usia, mulai anak muda, bapak-bapak bahkan ibu-ibu pun hadir di sana. Mereka berkumpul di joglo tempat Asha saat di pijat tangan tadi.
__ADS_1
Ashadiya takjub, begitu banyak orang yang ingin belajar seni lukis islami. Dia dipapah Ghala menuju sebuah kursi dekat teras sebab belum mampu duduk terlalu lama di lantai tanpa alas.
Pramudya lalu menghampiri keponakannya, menyerahkan modul belajar bagi Asha. Sementara Prameswari memandu murid lain di Joglo.
"Asha, bikin goresan semampunya ya, mulai tipis, sedang dan tebal. Lalu garis lurus, lengkung juga bergelombang ... bikin dua lembar, penuhin saja kanvasnya. Setelah itu, buatlah menggunakan kuas khusus ini untuk jenis shade, nah, selamat mencoba," ujar Pram, seraya mencontohkan semua yang diperintahkan tadi di atas media lukis milik Asha.
Putri Adhisty antusias meski sesekali meringis merasakan ngilu di pergelangan tangan. Namun, tak membuat surut langkah untuk tetap melanjutkan, apalagi Maghala setia menunggu disampingnya.
"Mulai rapi dan konsisten, di baris ketiga. Keren amat sih, semangatnya, meski nahan sakit ya, Asha," ujar Ghala, mengusap kepala Asha lembut, juga menghapus butir keringat di dahi wanitanya.
Ashadiya kerap menahan nafas kala menorehkan garis miring dan berkelok agar nyeri sisa siang tadi tidak begitu terasa.
"Anggun ngajak kamu ke even ya, pekan depan? ... jangan turuti tantangannya, kita fokus ikut pagelaran seni di sini dulu. Melalui komunitas paman, kamu akan diakui meski merubah aliran tapi mempunyai guru yang mumpuni. Agar media tak menilaimu putus asa," beber Ghala tentang semua langkahnya selama ini untuk Asha.
"Suamiku memang cemerlang, sangat detail menyusun strategi agar tiada cela tersemat untukku ... Mas, dia! Sade!" Klak.
Kuas Asha putus, akibat kerasnya tekanan yang dia bubuhkan kala membuat goresan shading.
Maghala meraih tangan Asha, terburu memijat lembut seraya meniupnya pelan. "Sayang, jangan sakiti dirimu hanya karena dia menyakiti. Kita akan balas satu-satu, sehatlah dulu. Jangan menonjolkan diri tapi kita memanjat ke atas lewat jalur lain. Oke?"
Ashadiya trenyuh, lelaki ini selalu saja bisa menjadi obat di kala hatinya sesak lagi. Anggun menuduh Asha kejam sebab menggugurkan kandungan juga menyiratkan maksud bahwa dirinya dicoret dari persatuan pelukis dengan alasan tidak produktif lagi.
Maghala bangkit, memeluk Ashadiya. Dia membaca semua pesan Anggun kala istrinya tidur. Melukis itu adalah nyawa Asha, Ghala paham ancaman Anggun maka dia mengajak ke Solo, agar wanita ini memulai debutnya yang baru.
"Kita akan balas mereka. Aku dan Hilmi sudah mengantongi semua buktinya, Sayang. Pierre menghubungi seseorang untuk membantu."
Pasangan Cyra saling memeluk, Pram yang melihat mereka pun paham situasi sebab Ghala bercerita lewat pesan kemarin. Dia akan membantu Asha dengan metode berbeda.
"Nduk, kamu beruntung sebab punya Ghala. Tenang ae, pak Lek mu ini sudah tahu dan paham gaya lukis kamu. Karyamu yang terpajang di galery Diazae park, itu apik ... toreh nama Ashara untuk mengisi galeri seniku juga ya."
.
.
...____________________...
__ADS_1
...Sabar-sabar, kan gak ujug-ujug bisa, sembuh dulu, belajar dulu meski nanti di persingkat tapi ada jejaknya. Ngono, loh....