
"Humaira, dia sahabat kecilku, Layla Akhmaloka Haidar, putri bungsu om Haidar, karib kakek," kata Ghala, mengusap bahu Asha lembut seraya mengenalkan mereka.
Degh. "Humaira?" Angan sang gadis terbang ke masa silam, saat kawan kecilnya mengatakan jika bertemu dengan wanita pujaan yang memiliki pipi kemerahan, dia akan memanggil dengan sebutan Humaira. "Ghala, apakah kau telah menemukan wanita masa depanmu?"
Ashadiya menoleh ke arah samping, Maghala masih sama menatapnya, penuh kelembutan dengan sorot mata teduh dan senyuman manis.
Wanita ayu pun, membalas senyuman sang suami, lalu beralih pandang ke arah wanita tinggi semampai nan anggun yang berdiri tak jauh dari mereka. Asha, mulai mengulurkan tangan sembari menyapa.
"Halo, aku Asha," sebutnya seraya tersenyum manis dan menggantung tangan kanan di udara.
Layla bergeming, dia masih mencerna kalimat Ghala sebab tengah mengulas kenangan masa silam dengan pria tampan di hadapan.
"Apakah di hadapanku masih Layla Akhmaloka yang sama?" ucap Ghala melihat dengan tatapan datar, tak suka istrinya diabaikan.
Layla terjengit kaget, sadar dari lamunannya. Dia buru-buru menyambut uluran tangan Asha. "Layla Akhma," sahutnya. "Ehm, Ghala, kau masih lama di sini?" sambung Layla.
Maghala bangkit, meraih jemari Asha dan menggenggamnya erat. Dia hanya tak ingin Asha berpikir yang tidak-tidak akan sosok Layla. (🥰)
"Petang ini kami akan pergi," balas Maghala, tahu bahwa Layla pasti mempunyai keinginan terpendam.
Layla menatap bergantian pasangan Cyra, dia ragu-ragu ingin meminta nomer ponsel Ghala. Hendak menarik pria tampan menepi tapi dia tengah menggenggam jemari Asha.
Maghala kembali berjongkok, menarik tuas rem kursi roda dan siap pamit dari hadapan Layla untuk bertolak kembali pulang ke rumah.
"Aku bisa, Mas. Aku saja," kata Asha lembut, menahan tangan kanan Ghala saat akan melepaskan penahan di dekat roda depan.
"Tanganmu nanti kotor, Sayang," balas Ghala tak kalah mesra, menahan tangan Asha dan mengecupnya. Dia bahagia, Asha memanggilnya dengan sebutan Mas.
Layla kian keki melihat interaksi manis mereka sehingga keinginan yang ditahannya terucap begitu saja.
"Apa aku boleh minta nomer kontakmu?" tanya Layla terus terang, menatap harap pada Ghala.
Pasangan Cyra saling pandang sejenak, Maghala pun bangkit kembali. "Ehm, boleh," ucapnya seraya menjulurkan tangan meminta ponsel Layla.
Ashadiya menunduk, itu memang hak suaminya dan dia tak dapat melarang. Sementara sorot mata Layla berbinar saat Ghala mengabulkan keinginannya.
Maghala mengembalikan ponsel sang kawan, lalu pamit undur diri. Dia tahu, Asha merasa kecewa dan ingin meminta penjelasan. Untuk itu, Ghala mengecup kepalanya lembut dan membelai pipi kiri Asha dengan ibu jari sebelum mendorong kursi roda keluar lobby.
Ketika tengah menunggu Hilmi membawa mobil ke hadapan mereka, Denok telah tiba di teras luar perusahaan Magenta dengan membawa koper milik para majikannya.
"Nok, sudah lama?" tanya Asha menyapa sang asisten pribadi.
"Baru, Non. Saya hanya membawa semua milik Nona dan Den Ghala dari sana. Kan kamar om-om itu terkunci," kekeh Denok sembari menunjuk ke tiga koper yang berjejer di dekat kakinya.
__ADS_1
Tak lama, mobil Hilmi berhenti di depan mereka. Asisten Janu hanya sekilas melirik ke arah gadis dengan kuncir kuda itu, dan tak berniat membantu menaikkan koper majikannya.
Ghala mengangkat Asha menuju mobil, entah karena Ashadiya kian ayu setelah berhijab atau memang Maghala yang sedang kasmaran. Dia menciumi dahi sang istri berkali-kali saat dalam gendongannya sementara Hilmi membuka pintu mobil bagian tengah.
"Mas!" bisik Asha tak enak hati khawatir banyak pasang mata melihatnya.
Maghala tak mengindahkan, dia bahkan kian berani mencuri-curi momen jika Hilmi tak melihat. Ghala juga membenarkan letak gamis juga meletakkan bantalan untuk pinggang Asha agar tak pegal lalu menutup pintu dan memutar untuk duduk dari ujung satunya.
Denok kesulitan menata koper sehingga Ghala membantu gadis itu seraya melipat dan menaikkan kursi roda Asha.
"Om Hilmi ngambek kali, Nok. Kamu gak sekalian beresin barangnya," kata Ghala saat akan menutup bagasi.
"Jorok, Den. Masa boxer dimana-mana, kan saya ogah, bukan bininya juga. Jadi tadi yang merapikan petugas hotel, dan langsung di laundry. Kata mereka nanti akan diantar ke rumah Magenta," tutur Denok sembari cengengesan.
Maghala mengulas senyum. Hilmi kelamaan menduda jadi mulai oleng dan urakan meski secara kinerja tak pernah mengecewakan. Tuan muda Magenta mengangguk dan meminta Denok naik segera ke mobil.
Hilmidar masih menekuk wajah kala Denok duduk disampingnya. Mobil mewah pun melaju perlahan meninggalkan perusahaan menuju kediaman Magenta.
Dalam perjalanan.
Asha hanya diam, dia teringat sosok Layla yang sangat ayu dan terasa sepadan bagi Maghala. Ingin bertanya tapi segan jika bukan sang suami yang menjelaskan.
"Layla cuma teman kecil, Asha. Bukan siapa-siapa," ucap Ghala pelan, dia menggeser duduknya hingga menempel ketat dengan Asha. Tangan kirinya pun melingkari bahu sang nyonya muda Sakha.
"Tapi dia lihatin Mas kayak gitu," cicit Ashadiya menoleh sekilas sembari memilin ujung hijabnya.
Ting. Notifikasi ponsel Asha berbunyi. Wanita ayu merogoh tasnya, lalu mengeluarkan benda pipih itu untuk melihat pop-up.
Sebuah nomer asing mengiriminya pesan. Asha penasaran hingga membuka chat tersebut.
"Ghala, ini nomer aku ya, tolong simpan. Nanti kita ngobrol lagi ... Layla," ucap Asha mengeja tulisan yang dia baca, wajah dengan pipi merona itu lalu menoleh ke arah Ghala.
Tuan muda Magenta berpura tak mengetahui bahwa Asha sedang memperhatikannya sembari tersenyum.
C-up. Kecupan singkat mendarat di pipi Maghala hingga membuat pemilik raga menoleh.
"Paham kan sekarang? kalau mau sekedar ngobrol ya harus melalui kamu, sebab aku gak punya kepentingan apapun dengannya," ujar Ghala, melihat ke dalam manik mata coklat kehitaman milik Asha.
"Ya kan aku kira tadi...," cicit Asha, menunduk malu sebab ketahuan cemburu.
"Asha!" panggil Ghala, lembut berbisik di telinga wanita yang hobi menunduk ini.
Putri bungsu Adhisty menoleh, dan...
__ADS_1
Untuk saat ini, Maghala hanya mampu meredam gejolak Asha dengan sesuatu yang akan membuat istrinya merasa damai. Dia tahu wanita membutuhkan kepastian tentang perasaan. Mungkin ucapan dan tindakan Ghala tidak serta merta membuat Asha tenang sebab kedekatan mereka baru terjalin beberapa bulan belakangan.
Hilmi melirik dari kaca spion dalam, celetukan khas tanpa filter pun kembali mengemuka. Hilmi lupa, dia sedang kesal dengan Denok tapi tindakan Ghala memicu bibirnya untuk menyindir sang tuan muda.
"Nok, mau belajar off road gak? biar lihai gitu, tapi yang dekat aja ya ke Cibubur, namanya juga off road," kata Hilmi menoleh ke arah Denok sementara pasangan Cyra asik di belakang.
Denok merasa, tuan muda Magenta tengah mencumbu majikan wanitanya. Dia hendak menoleh tapi di halangi Hilmidar sebab tangan pria itu menyandar di headband joknya.
"Off road Cibubur apaan?" jawab Denok, beralih pandang pada Hilmidar, urung melihat ke belakang.
Maghala, hanya sedikit mencecap sesuatu nan menggoda imannya sejak tadi, juga untuk meredam emosi Asha di depan kedua orang yang tak perlu tahu kisah masa lalunya.
"Ck, lagak amatir!" cibir Hilmi, melirik sekilas dengan ekor matanya.
"Apaan, Cibubur?" desak Denok kian menoleh ke arah Hilmi hingga posisi duduknya bergeser.
"Ciu-man buru-buru ... noh, kek yang di belakang. Tuan muda Maghala, silakan ke Cibulan. Kita sudah sampai," kata Hilmi sambil menarik tuas rem ke atas tepat saat mobil berhenti di voye kediaman Magenta.
Denok, spontan memukul Hilmi dengan tasnya. Selalu saja vulgar. Kali ini, si duda makin berani menggoda.
"Apaan lagi, Cibulan?" tanya Ghala ketika dia turun, terpancing ucapan Hilmi sementara Asha malu akan sikap suaminya yang mulai bar-bar.
"Heh, om-om gatel!" umpat Denok, menekan berkali tombol pada panel, kesal pintunya macet tak dapat di buka.
"Garukin dong, dah tahu gatel," kekeh Hilmi masih asik menggoda Denok, sambil menghalau pukulan gadis itu. Dia menahan kunci pintu setelah Maghala turun tadi.
"Ciuman butuh di lanjutkan," seru Hilmi pada Ghala ketika tuan mudanya mendudukkan Asha di kursi roda, dia juga sibuk menangkis serangan si gadis Tarzan.
"Buka! aku mau turun!" Denok mulai habis kesabaran.
"Nok, dengerin dulu. Aku mau ngomong serius ... titip mereka ya," kata Hilmi menahan kedua lengan Denok, mata elangnya menatap lekat sang gadis tetapi jemarinya sempat menekan tombol kunci pintu agar dapat dibuka lagi.
Gadis itu diam, bersitatap dengan Hilmidar. "Mau kemana?" balasnya pelan. Denok menepis cekalan tangan Hilmi dari kedua pergelangannya.
"Pulang dan menetap di sini lagi. Jangan kangen, ya," kekeh Hilmi masih melihat Denok, kini lengannya bersandar pada stir dan membiarkan gadis itu turun.
Denok mendelik saat telah menarik tuas dan mendorong pintu mobil hingga terbuka. "Selama makan mie instan pake nasi, jangan pernah ngarep bisa bahagiain anak orang!" Blug.
Dhuar. Hilmidar tertawa renyah. Aibnya terbongkar lagi oleh gadis itu.
"Hoy!" panggil Hilmi, menurunkan kaca, saat Denok membanting pintu mobilnya. "Haifa, dia sangat berisik."
.
__ADS_1
.
...________________________...