BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 50. JELANG MEETING ESOK


__ADS_3

"Kenapa dengan Ning Eira?" tanya Janu, mulai cemas, gurat wajah senja itu kian tegas menampakkan kerut sebab sebagian kulitnya menegang.


Hasyim Rois memandang satu per satu manik mata dua orang tamu di hadapannya. Ada rasa berat melepaskan Madaharsa, bukan karena status sosial sebagai orang terpandang akan tetapi pemuda itu sangat menjaga diri di depan Eira. Tak sekalipun Mada melihat putrinya lebih dari tiga detik.


Selain karena hal itu, Mada juga luwes dengan keluarga besar saat diundang menghadiri haul pesantren. Pembawaannya tenang juga kalem, paham unggah ungguh dan tak pilih lawan bicara ataupun sajian. Hasyim Rois sungguh sudah jatuh hati padanya.


Madaharsa juga nyambung jika di ajak membahas topik keagamaan. Dia paham beberapa ajaran dasar, bahkan Mada tak segan membantu para santri angkat barang saat selesai acara. Yang membuat kagum Rois adalah, cara Mada membaur dan mempelajari sesuatu dengan cepat. Semua ini dia lihat secara langsung bukan atas laporan dari para khidmat.


"Ada apa, Yai?" desak Maghala, tak sabar sebab Hasyim Rois hanya diam.


"Eira yang menutup diri. Dia mengatakan bahwa akan melupakan Den Madaharsa," ujar Hasyim Rois, menunduk, merasa bersalah sebab ultimatum yang di berikan pada Eira beberapa waktu lalu.


Maghala dan Janu saling pandang, pantas Madaharsa down. Wanita idaman sejak dia belia menolak untuk menjadi pendamping sebab kesalahan yang tidak dia perbuat.


"Ning Eira itu wanita satu-satunya yang dekat dengan kakak, Yai. Kak Mada menaruh hati pada Ning sejak masa SMP. Kalau tidak salah, keduanya bertemu saat lomba Pramuka juga pidato bahasa Inggris sampai tingkat kotamadya. Kakak dikalahkan Ning Eira menuju final di tingkat provinsi. Sejak saat itu, aku tahu kakak mulai mencari tahu beliau," tutur Maghala mengungkapkan rahasia Madaharsa.


"Kalau dengar Eira ikut lomba, kakak juga harus ikut. Jadi selalu bertemu di acara sekolah hingga kakak lulus SMA ... mereka hilang kontak sebab Ning studi ke Yaman kan? dan jumpa kembali saat Ning S2 di kampus yang sama dengan kakak," ungkap Ghala, detail sebab dia tahu kisah Eira dan Mada sebelum meninggalkan rumah, meski sang kakak tak menceritakan apapun padanya.


Hilmi, satu-satunya orang kepercayaan keluarga Magenta yang Mada minta menemani di setiap waktu. Penggalan kisah itu Maghala rangkum, menyatukan cerita dari Hilmi dan menyimpulkan demikian. Keduanya saling mencintai dalam diam sajak belasan tahun silam.


Janu menganggukkan kepala, sebab dia yang mengantar Mada kemanapun saat pemuda itu berprestasi di sana sini. Namun, sosok Eira luput dari perhatiannya.


Maghala tak sengaja melihat banyak foto Eira berseragam Tsanawiyah, Aliyah milik Al Islah, menempel pada dinding di depan meja Mada kala diminta mengambil buku agenda yang tertinggal. Mada juga membuat kliping artikel yang mengulas dirinya dan Eira sebagai pemuda cemerlang milik Kota Semarang.


"Nggih, Den Mada cerita alasan khitbah Eira itu sebab cinta lama sejak masa belia. Sudah belasan tahun memendam rasa suka, katanya." Keluarga yang hadir, saling pandang lalu menunduk.


Hasyim Rois tak dapat memberi janji apapun sebab ini di luar kuasanya. Dia dan keluarga akan berbicara pada Eira lagi dan berharap ikatan ini dapat dilanjutkan.


"Nanti, ana minta langsung walimah jika Eira bersedia. Usia putri kami sudah 26 tahun, mohon dipertimbangkan nggih, Pak Janu," ucap Hasyim Rois.

__ADS_1


"A'am ... nanti Alma bantu bujuk. Eira itu cuma punya satu pria di hatinya, yaitu Madaharsa. Dia kecewa tapi kan sekarang kita sudah tahu kejadian sebenarnya. Semoga Eira luluh, dia menunggu sangat lama masa iya menyerah gitu aja, tolong bantu doa ya, Mas Ghala," pinta Almahyra, sang sepupu yang diminta Rois menghibur Eira. (panggilan paman dalam bahasa arab/)


"Ini dua-duanya sakit, nyambung batin artinya," imbuh Nyai Rois membuka suara.


"Nggih, saya bersedia mengikuti kemauan pihak wanita. Mada sudah menyerahkan amanah pada adiknya semalam," pungkas Janu.


Pembicaraan antar dua keluarga berakhir setelah Janu membahas hal lain berkaitan dengan asetnya. Niatan untuk melepaskan keduniawian mantap Janu utarakan pada seorang alim di hadapannya.


Penjelasan Rois tentang waris akhirnya Janu pahami. Mereka pun pamit, membawa banyak hal baik untuk keluarga.


Sesampainya di kediaman Magenta.


Maharani langsung menyerbu ayahnya kala mereka baru saja tiba. Dia tak setuju terhadap rencana pembagian harta untuk saudara juga kaum duafa nanti. Informasi ini dia dapatkan dari Hilmi.


"Harusnya Ayah ngutamain kita dulu, bukan mereka!" seru Maharani, duduk di sisi ranjang dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


Janu hanya menghela nafas, dia salah didik sejak Maharani belia. Sang pendiri Magenta pun menarik lengan putrinya masuk ke kamar.


Ingatannya kembali ke masa silam. Dia baru menjadi orang kaya baru sehingga keinginan anak bungsu selalu di kabulkan. Janu dendam kemiskinan dan tak ingin sang buah hati mengalami hal sama sepertinya. Semua yang dilakukan dahulu, ternyata berakibat fatal di masa depan.


Maharani menangis, dia tersudut situasi. Hatinya tak ingin menyakiti tapi kebutuhan sangat mencekik lehernya sejak kematian sang suami juga kebangkrutan melanda.


"Kebutuhan anakmu, ayah bakal tanggung sampai mereka nikah, ya, Nduk. Kamu yang tenang, jangan lagi grasa grusu. Balikin semua aset dulu, Rani. Ini pinta ayah," ucap Janu menatap lembut putri satu-satunya.


Maharani bergeming. Dia menolak. "Itu milikku!" tegasnya meski air mata kerap jatuh membasahi pipi.


Janu memejam, tak mudah membujuk putri yang keras kepala bagai dirinya.


Dia terpaksa akan menggunakan cara sedikit kasar esok nanti jika Maharani tetap pada keputusan semula. Janu kini hanya manggut-manggut mendengar cercaan Rani, dia tak lagi menentang ucapan si bungsu dan membiarkannya pergi.

__ADS_1


Sementara di tempat lain.


Maghala memeluk Asha dari belakang, dia rindu wangi istrinya. "Belajar nulis?" bisik Ghala melihat goresan huruf Hijaiyah yang kian halus dan baik.


Ashadiya mengangguk. "Gimana tadi, lancar?" tanya Asha, tak menoleh sebab kepalanya menempel dengan pipi Ghala.


"Ehm, semoga Eira melunak dan bersedia melanjutkan ikatan. Nanti mereka langsung nikah," jawab Ghala, tak melepaskan dekapan.


"Kalau gak, gimana? kan cinta udah lama, sampai drop begitu, mana besok meeting pula kan?"


"Kita hanya perlu minta sama Allah agar diberi hati yang selalu ridho terhadap apapun nan Allah tetapkan ... mudah-mudahan, dengan begitu Allah ridho dengan kita. Allahumma inni as'aluka nafsan bika mutmainnah, tu'minu billiqoik, wa tardhoi bi qodho'ik," ucap Maghala mengecup pipi pujaan hati, lalu dia menuntun tangan kanan Asha ketika menuliskan huruf mim.


Entah mengapa, jika Ghala yang mengucap doa, hati Asha kian tentram. Dia sangat tertular keyakinan pria disampingnya ini, yang selalu menggantungkan harapan hanya pada sang khalik.


"Sayang, huruf mim itu harus di tulis berlubang di kepalanya sebab memiliki arti. Contoh pada nama Muhammad, itu menandakan wahdaniyah, penutup risalah dan kenabian. Mim juga memiliki arti keagungan ... dan jika dalam salat, mim mewakili simbol sujud, muqorrobin, mendekat pada Allah. Maka ketika kita salat, di anjurkan untuk sujud lebih lama selain melunturkan segala beban dosa di pundak, juga bermakna kita ini lemah, maka merapatlah pada TuhanMu," tutur Ghala, saat meminta Asha melemaskan jemari kala menulis huruf Hijaiyah.


"Ada artinya?"


"Banyak, Sayang. Semua huruf Hijaiyah memiliki rahasia, tafsir namanya. Sekarang, tahu kan mengapa kaligrafi itu seakan menyejukkan hati jika kita memandangnya? jadi, buatlah banyak qalbu tersentuh atas asma Allah yang kau tulis ya, Asha."


Ashadiya mengangguk, sorot matanya berbinar mendengar penjelasan Ghala. Kini dia menatap hasil goresan yang belum sempurna tapi menjadi indah berkat penjelasan Ghala.


Saat keduanya asik mengobrol di bawah pohon belakang rumah tempat rumah pohon Maghala kecil dulu. Sebuah teriakan mengalihkan perhatian pasangan Cyra.


"Ghalaaaa!"


.


.

__ADS_1


...___________________...


...Ghala, kamu aah kamu 🤭....


__ADS_2