BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 62. DI AKUI ADHISTY


__ADS_3

Esok pagi.


Adhisty terkejut kala melihat putrinya mempertahankan mengenakan hijab sejak saat itu. Rumor di kantor mengabarkan bahwa tuan putri Cyra telah hijrah, benar adanya. Wanita yang terlihat lebih sepuh dalam beberapa Minggu itu, menghampiri Asha.


Anak gadis satu-satunya, baru saja keluar kamar, Asha masih tertatih berjalan dengan bantuan tongkat dan Maghala nan setia di sisinya. Mereka tak sempat bertemu tadi malam meski Adhisty tahu keduanya telah tiba.


"Asha, sudah bisa jalan?" tanya Adhisty dengan sorot mata haru. Dia bahkan melupakan kondisi putrinya semenjak Asha menikah. Berkali melukai jiwa raga sang menantu juga si anak kandung karena pikiran yang kurang waras.


Ashadiya mengangguk seraya tersenyum manis untuk sang mama. Maghala melarang Asha membenci Adhisty sebab bagaimanapun juga, dia hadir ke dunia berkat perjuangan seorang ibu kala melahirkan dulu.


Adhisty pun ikut memapah pelan putrinya menuju meja makan. Dia menarik kursi dan menunggu Asha duduk nyaman di sana. Melihat interaksi mereka, Maghala memilih menghindar sejenak menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Namun, baru saja beranjak beberapa langkah, sebuah suara menahan laju Maghala.


"Ghala, duduk. Diam dan temani Asha sarapan," ujar Adhisty lembut meski tak menoleh ke arah menantunya.


Pasangan Cyra saling pandang sejenak sebelum Asha mengangguk dan mengulurkan satu tangan agar sang suami menyambutnya.


Menantu Cyra kini duduk tenang disamping pujaan hati.


"Mbaaaaak! sarapan sudah siap?" seru Adhisty memanggil para maid agar menyajikan hidangan di atas meja.


"Sudah, Nyonya," jawab Maid, hadir membawa beberapa menu lalu menatanya.


"Nanti setelah sarapan, mama ingin bicara dengan kalian di ruang kerja," ucap Adhisty lagi. Tatapan nyonya besar terarah pada pasangan anak dan menantu yang juga saling pandang.


"Baik, Ma." Keduanya kompak menjawab bagai paduan suara.


Sesi sarapan keluarga Cyra yang biasanya ricuh dengan cacian bahkan makian, kini sirna. Atmosfer negatif itu berganti dengan aura positif karena sikap mesra yang Asha tunjukkan saat mulai meladeni segala keperluan sarapan bagi Ghala.


Nona muda meminta air putih hangat juga irisan lemon untuk minum sang suami sebelum makan. Wajar bila tubuh Ghala kekar tanpa lemak, sebab lelakinya menjaga gaya hidup sehat. Infused water favorit Ghala ternyata membuat Asha ikut ketagihan.


Satu jam kemudian.


Pasangan Cyra telah di ruang kerja Adhisty. Mereka tengah memeriksa sebuah dokumen tentang laporan sementara perkembangan kinerja perusahaan, juga pengembalian dana yang Alka berikan.


"Mama gak mau ambil keputusan sendiri, Ghala. Menurutmu bagaimana?" tanya Adhisty menatap ke arah menantunya dari kursi kebesaran.


Maghala menimbang, dia ingat akan piutang dari Sade, maka Ghala meminta agar Adhisty mengembalikan pinjaman tersebut.


"Tapi dana ini lumayan jika di golang lagi, Ghala, mumpung permintaan sedang tinggi. Kita bisa bayar dari omset itu nantinya," ucap Adhisty lagi, dia menekankan supaya pendapatan perusahaan naik dahulu.

__ADS_1


"Menurut aku, membayar utang itu harus di prioritaskan, terlepas itu urusan pribadi atau perusahaan. Mama mau? pahala amalan kita di ambil setiap hari dan di bagi pada Sade? lagipula, Cyra kan ada laba, baiknya yang sedikit itu bisa di putar dulu. Juga, jangan lupa membayar hak sebelum keringat pekerja mengering," urai Ghala mengutarakan pendapatnya.


Maghala menuturkan dana Alka cukup jika untuk menutup utang juga menambah modal produksi. Lagipula jumlah tadi baru sebagain yang Alka kembalikan, sisanya akan di cicil selama enam bulan ke depan. Itu berarti Cyra mempunyai suplai modal tak putus selama enam bulan untuk melihat peluang baru nan berkesinambungan.


"Utang ditambah modal memang rumus bisnisnya akan mendongkrak omset, tapi jangan lupa bahwa utang juga memiliki bunga. Kita belajar dari kasus teh sariharum, Ma ... mereka meminjam dana dengan jumlah besar untuk eksplorasi tapi hasil tak seimbang dengan laju omset sedangkan cicilan sudah berjalan. Jangan sampai Cyra mendulang nasib serupa. Itu pertimbangan aku," ungkap Ghala.


"Belajar dari Abdurahman bin Auf yuk, Ma. Juga Utsman bin Affan saat bermuamalah. Kita rutin sedekah Jum'at, dari salary Mama atau bagi hasil milikku nanti. Kita basuh dulu jiwanya Cyra. In sya Allah, akan dimudahkan jalan ... juga Asha punya sesuatu yang akan diajukan pada Mama nanti," beber Maghala, menyerahkan dokumen setelah dia memberikan coretan khusus di sana.


Adhisty tak mengerti konsep muamalah ala Abdurrahman bin Auf atau Ustman bin Affan yang Ghala sebutkan tadi, akan tetapi matanya membola kala melihat coretan yang menantunya toreh.


Maghala mencatat besaran bunga yang harus Cyra bayarkan. Juga itu akan membuka peluang bagi Sadana untuk merayu Cyra agar menambah piutang karena posisi dana milik Sade akan menyentuh sepertiga saham Adhisty. Artinya, lambat laun si tuan muda akan masuk dalam jajaran direksi dan mulai berwenang mengatur konsep dagang Cyra.


Adhisty terpana, dia berkali-kali melihat bergantian antara lembaran kertas dengan wajah Maghala seakan tak mengira bahwa pemikiran itu datang dari sang menantu.


Sementara Adhisty merenung.


Maghala hanya menunduk, melihat ke arah sandal rumah yang dibelikan Asha untuknya saat di Solo lalu. Lelaki itu melirik ke sepasang kaki di sebelahnya, lalu mengulas senyum. Kini, mereka selalu mengenakan barang serupa, mulai sandal, handuk, warna baju sampai urusan menu makan, Asha bahkan kerap merengek agar menyantap hidangan dari satu pinggan.


"Ghala, mama akan bawa usulan kamu ke meeting esok pagi, ya. Tapi baiknya konsep jualan siapa tadi? kamu lampirkan di sini sebagai gambaran, gimana?" ucap Adhisty beberapa saat setelah mengamati menantunya yang malah senyam senyum saling menyenggolkan kaki dengan Asha.


Maghala mendongakkan kepala. "Sahabiyah ... oke, Ma. Ku kerjakan saat Humaira tidur," jawab Ghala sambil melirik Asha.


"Ehm, itu panggilan Mas untukku," jawab Asha malu-malu.


"Mas?" herannya lagi, Adhisty lalu menyandarkan punggung ke sandaran kursi, menunggu penjelasan.


"Yaaaaa itu sebutan sayangku untuk Mas Ghala, lah, Ma," imbuh Asha, kian menunduk malu tetapi lengannya menyenggol Maghala.


Tuan muda Magenta malah tersenyum lucu melihat tingkah menggemaskan Asha. Mereka malah asik bersenda gurau melupakan Adhisty yang masih melihat keduanya.


"Ehhheeemmmmmm!" nyonya besar Cyra, menjeda aksi konyol anak dan menantunya.


Ashadiya lalu menoleh ke arah suaminya, meminta persetujuan untuk menyerahkan proposal. Juga dokumen yang tadi dia tanda tangani tentang pengembalian dana Alka.


Adhisty meraih kacamata baca lalu mulai mengeja pelan barisan kalimat draft di tangan. Dia lalu melihat ke arah kedua anaknya.


"Siapa yang bikin ini?" tanya sang mama.


Asha menunjuk Ghala sementara lelaki tampan melakukan hal yang sama, menoleh pada Asha.

__ADS_1


"Mas Ghala."


"Asha, Ma."


Nyonya besar Cyra menggeleng kepala. Dia lalu menanyakan ide dasar tentang niatan mereka.


Maghala meminta Asha menjabarkan rinci tentang rencana tersebut, sementara Adhisty hanya mendengar dan tak bergeming. Tiba-tiba. Brak!


"Astaghfirullah!" seru pasangan Cyra bersamaan, terkejut akan ulah Adhisty.


"Oke. Ini mama ajukan ke meeting juga besok pagi. Siapkan presentasinya, Ghala!" pinta Adhisty, tersenyum untuk pertama kalinya pada sang menantu.


Ashadiya girang bukan kepalang, dia memeluk suaminya begitu saja, bahkan keduanya pamer kemesraan di depan sang mama.


"Ya Tuhan. Sudah sana pergi," ucap nyonya besar Cyra, gerah akan tingkah keduanya. Adhisty bangkit dan akan bersiap berangkat ke kantor.


Pasangan Cyra lalu memutuskan untuk berjalan-jalan keluar sejenak. Maghala memilih menggunakan motor karena mereka akan menyusuri jalanan nan terkenal macet, tempat deretan toko yang menjual berbagai alat lukis berada. Asha sangat antusias, dia jarang membonceng kendaraan roda dua apalagi dengan pujaan hati.


Saat Ghala baru memarkirkan motornya di pelataran sebuah toko, sementara Asha telah mulai masuk ke dalam sana meski tertatih, suara seorang wanita menyapa mereka.


"Hai, Asha! mau belanja? memang masih bisa melukis?" tanya seorang gadis berkulit putih dengan rambut ikal, menjegal Asha di depan pintu toko.


"Iya, belum bisa comeback lah, masih berlatih lagi," jawab Asha lugas, menatap manik mata kawannya.


"Eh, itu suami tampan kamu, yang mau dipamerin nanti malam?" sambung wanita berambut lurus keturunan Asia-Afrika dengan kulit eksotis yang dia banggakan.


Maghala menghampiri Asha. "Permisi," ucapnya seraya menggamit pinggang wanita pujaan.


"Asha, ya emang laki lo ganteng sih, tapi kok gitu," cibir si gadis berambut ikal, menunjuk motor Ghala. Tawa keduanya terdengar hingga pasangan Cyra telah masuk ke dalam toko.


"Ish, liat aja nanti malam, hih!" geram Asha, mengepalkan tinju yang di arahkan pada mereka.


"Kamu mau dandanin aku, Sayang?" timpal Ghala, mencubit gemas pipi istrinya.


.


.


...________________...

__ADS_1


__ADS_2