BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 36. KRITIS


__ADS_3

"Kau berani padaku? siapa kau!" decih Sade, berkacak pinggang menatap tajam Maghala.


"Bukan siapa-siapa, tapi bisa membuat Anda kehilangan muka. Sudah ku bilang, jangan macam-macam," tegas Maghala, melayangkan sindiran sambil lalu, terus mendorong Asha masuk ke dalam.


"Tunggu saja, jika aku sudah menjadi menantu Cyra. Kau akan ku remat sampai benyek," tunjuk Sade.


"Ngimpi!" jawab Asha, menjulurkan lidahnya persis abege yang tengah adu mulut.


Maghala hanya mengusap lembut rambut Asha, mendukung upayanya untuk memberikan penolakan.


Ashadiya tiba-tiba merasakan mual hebat tapi dia berusaha menahan, hingga akhirnya Asha menekan panel agar mereka lebih cepat masuk ke kamar. Maghala terkejut sebab kursi roda Asha meluncur lepas dari genggaman tangannya.


Brak!


"Asha!" seru Ghala menyusul istrinya yang melesat menuju bathroom.


Suara mual dan muntah yang timbul membuat Ghala cemas. Dia pun memijat lembut tengkuk Asha dan perlahan turun ke punggungnya.


"Sakit!" cicit Asha memegang perut yang masih tertutup apron.


Maghala membuka tautan tali, melepas alas yang dia gunakan untuk melukis tadi lalu membopong Asha ke atas ranjang. Jemari kekar itu dengan cepat mengambil obat gosok untuk di oleskan ke perut istrinya.


"Enggak, jangan, malu. Ghala, biar aku," pinta Asha menahan tangan Maghala saat akan menyingkap baju bagian atas.


Pria yang dilanda panik terjadi sesuatu dengan kandungan Asha, tak menghiraukan permintaan sang wanita. Ghala spontan melakukan bagaimana otaknya memerintah.


Degh.


"Sudah jelas sekali perbedaannya." Maghala melihat ke arah wajah istrinya, Asha memejam, jemari kiri menutup mulut sedang menahan mual. Tangan kanannya memegang pangkal pergelangan Ghala seakan meminta dia stop.


Rencana Ghala untuk memulai live pun tertunda. Terlebih ketukan dari luar kamar oleh maid yang mengatakan bahwa ada tamu untuk Asha, mengganggu konsentrasi Ghala.


"Istriku sakit. Tolong minta dia pergi. Lagipula Asha tidak bersedia bertemu. Kami hanya akan memanjatkan doa dan syukur, tidak perayaan," ujar Ghala, sedikit bersuara keras sebab masih mengurus Asha di atas ranjang.


Maid menjawab dengan suara dari balik pintu. "Baik, Den," ucap maid dan terdengar langkah menjauh.


Maghala kembali melihat kondisi istrinya. "Asha, masih mual? sudah enakan?" tanya Ghala, menyeka keringat dingin yang muncul di dahi Asha.


Wanita ayu itu mengangguk, dia berusaha memiringkan tubuh meski susah payah menggeser kedua kakinya. Maghala membantu, hingga sang istri berbaring nyaman dan sempurna.

__ADS_1


Maghala menduga, tekanan di otot perut saat melintasi rumput membuat Asha kram. Dia tak mungkin menekan panel kecepatan otomatis sebab kinerja dinamo motor akan berat dan panas.


Setelah beberapa menit dalam kepanikan, Maghala lega, Asha mulai tertidur meski belum menunaikan salat duhur. Dia membiarkannya beristirahat sejenak. Tubuhnya ikut melemas di sisi ranjang, ini adalah pengalaman pertama menemani keseharian ibu hamil, ada dua nyawa yang harus dia jaga dengan baik.


Suasana hunian Cyra lengang setelah kepergian Alka. Bahkan dia tak melihat Adhisty sejak kemarin malam. Tugas rumah tangga pun menjadi tidak terlalu banyak sebab sudah beberapa hari, maid mengambil alih memasak hidangan untuk penghuni rumah ini.


Maghala memilih melanjutkan aktivitas yang tertunda. Mengubungi Hilmi dan Gani, guna menyiapkan salinan berkas laporan keuangan bulan lalu dan akan kembali di cocokkan. Sesudah urusan Magenta selesai, Ghala melakukan ibadah wajib, serta akan memulai live setelahnya.


Tepat pukul dua, saat Ghala akan membangunkan Asha untuk makan siang juga salat duhur. Erangan halus terdengar.


"Mama!"


Hening.


"Ghala! Ghaalaaaa," rintih Asha mulai gelisah di balik selimut.


Maghala yang sekilas melihat itu, menghampiri Asha dan duduk di sisi ranjang.


"Asha, mana yang sakit," ucap Ghala, mengusap peluh sebesar biji jagung di dahinya.


Ashadiya masih memejam, kepalanya ke kanan dan kiri, lalu setetes cairan bening dari netra sipit itu luruh. "Sakit! sakiiitt!" pekiknya tertahan, meraih tangan Ghala dan menggenggam erat.


"Astaghfirullah. Asha, tahan ya, bentar," ucap Ghala, mengecup tautan jemari lalu melepaskan sejenak.


Tuan muda Magenta secepat kilat berlari keluar kamar mencari maid untuk meminta supir menyiapkan mobil. Dia pun menghubungi Hilmi dengan menekan tombol panggilan cepat.


"Ya, Tuan muda," jawab Hilmi di seberang.


"Hilmi, tolong kamar untuk Asha. Dia bloo-ding!" panik Ghala tak menunggu asisten kakeknya menjawab, dia langsung berlari kembali ke kamar setelah mendapat anggukan maid.


Maghala mengangkat Asha. "Asha, Asha, jangan memejam. Tetap terjaga dengan aku," bisik Ghala mulai membopong tubuh Asha yang mulai menggigil. Dia dibantu Denok menuju garasi lalu mereka pun meluncur cepat ke rumah sakit.


"Mbak Denok, tolong kabari mama. Khawatir Asha akan kekurangan darah dan harus ada tindakan," ujar Ghala saat memangku istrinya di dalam mobil.


"Asha!" ucap Ghala, menepuk wajah pucat istrinya. Tak dia hiraukan rembesan darah terus mengucur membasahi sarung yang masih di kenakan.


"Ghala, maafkan aku ya. Ma ka sih, sudah ada di dekatku se lama i ni. A-aku hap-py," lirih Asha memandang sayu wajah yang juga menatapnya cemas.


"Kamu akan tetap di dekatku. Sayang, bertahanlah demi aku, oke?" balas Ghala sendu, entah mengapa dia takut kehilangan Ashadiya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, mobil keluarga Cyra tiba di IGD rumah sakit, Hilmi telah berada di sana.


"Ya Tuhan!" pekik Hilmi kala Ghala turun membopong Asha yang sudah lemas dan sangat pucat.


Ghala meletakkan Asha di brangkar dan ikut mendorong dengan suster ke ruang tindakan. Wajahnya tak kalah pucat. Ingin menemani hingga ke dalam tapi di tolak oleh suster. Maghala terpaksa menunggu di luar ruangan.


Dejavu. Ingatannya kembali ke masa awal pertemuan mereka, kala menunggu Asha untuk operasi. Darahnya pun di ambil sebab keluarga Asha lambat tiba.


Tuan muda Magenta berdiri, berjalan bolak balik, kepalanya selalu menoleh dan melongok ke jendela kaca buram di sisi kanan. Wajah Maghala diliputi kecemasan, dia sesekali meremat rambut, sangat terlihat kacau.


"Tuan muda, ganti baju dulu," ucap Hilmi menyerahkan satu stel pakaian untuk majikannya.


Maghala awalnya menggeleng tapi Hilmi meyakinkan akan menunggu di depan pintu saat dia tak ada. Ghala pun, mengangguk meski hatinya ragu.


Beberapa menit berikutnya. Pintu ruangan terbuka. "Wali Nyonya Asha," ucap suster mencari anggota keluarga pasien.


"Saya asisten Tuan Sakha," ucap Hilmi sebab Ghala belum kembali.


"Ma-" sahut suster terjeda.


"Aku!" seru Ghala berlari kecil dari toilet dan menghampiri tenaga medis.


"Bagaimana?" tanya sang tuan muda Magenta kian cemas, nafasnya sedikit terengah.


"Harus cepat dilakukan tindakan sebab kondisi pasien terlalu lemah. Anda harus menandatangani persetujuan tersebut. Mari ikut saya, Tuan," ujar suster, tak menjelaskan dengan rinci.


Maghala dan Hilmi mengikuti wanita berseragam putih masuk ke ruangan dokter. Keduanya menyalami dan duduk di hadapan tenaga medis yang menangani Asha.


"Istriku? apakah dia?" tanya Ghala, takut, tatapannya memohon pada sosok dihadapan.


"Maafkan kami, Tuan. Istri Anda--" ucap Dokter di jeda Ghala.


"Enggak. Gak boleh, Asha gak boleh...." Ghala terkejut, dia pun bangkit tiba-tiba hingga kursi yang di duduki pun rubuh.


"Tuan muda, sabar," sahut Hilmi.


.


.

__ADS_1


..._______________________...


__ADS_2