BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 65. AKHIR DARI LAYLA


__ADS_3

Layla menatap nanar pria tampan di hadapannya, ucapan Maghala menyakiti hati yang terlanjur berharap. Dia mulai terisak meski tak melepas pandang pada manik mata meneduhkan itu.


Norma, memilih menjauh sejenak atas permintaan Layla. Sang sahabat pun mengangguk dan memberi jarak pada mereka untuk bicara.


"Setidaknya aku tak begitu. Bukankah lelaki baik untuk wanita baik-baik?" cecar Layla berapi-api.


"Jika wanita tersebut kurang baik, maka lelaki itu wajib menuntunnya dengan sikap juga keteladanan. Asha ada kekurangan pasti dia memiliki kelebihan. Ini jalan dakwahku, Layla," jawab Ghala masih dengan nada lembut.


Layla tak suka, dia lalu mengingatkan Ghala pada niatan mereka dulu.


"Kau lupa, Ghala? bahwa dulu kita pernah berjanji untuk saling menunggu?" kata Layla, sejenak wajahnya menunduk guna menyeka bulir bening yang jatuh.


Maghala memejam. Dia tak pernah mengikrarkan janji. "Kau salah menafsirkan arti kalimatku, Layla. Aku bilang, kejarlah impianmu. Waktu dan jarak di antara kita tak berputar di poros nan serupa, tetapi jika suatu masa kita bertemu di satu titik yang sama dan mendulang restu, maka hal apapun tiada kuasa menghalangi engkau sampai padaku," kata Ghala, mengulang kalimatnya dulu saat mereka akan berpisah.


Layla disiapkan oleh Haidar untuk menjadi alpha woman sebab dia putri sulung keluarga terpandang. Rasa nyaman yang hadir kala itu membuat Ghala hanya fokus padanya sehingga mereka melabuhkan rasa. Seiring masa, Layla di dekatkan Haidar dan Janu dengan Madaharsa akan tetapi gadis itu tetap memilih Ghala.


(alasan Mada lamar Eira diam-diam tanpa Janu tau, karena ini)


Haidar, menilik Maghala Sakha takkan mampu memiliki kesempatan mengampu pucuk pimpinan di Magenta, sebab latar belakang pendidikan bungsu Mahananta tidak secemerlang kakaknya. Dia menentang hubungan Layla dan Ghala.


Layla dikirim ke luar negeri untuk mendalami ilmu bisnis. Gadis itu meminta Maghala menunggunya karena dia pun memiliki impian serupa dengan sang ayah. Semua signal tersebut, membuat Maghala mengatakan kalimat demikian karena dia yakin, Haidar tidak akan pernah memandangnya.


Bisa saja, mereka tetap melangsungkan pernikahan tanpa restu sebab Ghala seorang pria. Namun, lain hal dengan Layla, hubungan antara keluarga pun bakal terburai dan Ghala akan menjadi tersangka yang mencoreng nama baik Magenta.


Kepergian Layla seiring dengan langkah Ghala keluar dari kediaman Magenta. Hatinya remuk di tinggalkan sekaligus meninggalkan orang tersayang. Dia lalu memilih mengadu nasib bersama keluarga Karim hingga membawanya ke Jakarta dan menata hidup di Ibu Kota. Tanpa sengaja, nasib menghantar Maghala pada seorang gadis ayu bernama Ashadiya Cyra.


"Bukan salahmu juga, Layla. Kau memilih keputusan tepat saat itu, berbakti pada om Haidar ... aku memang tidak dapat menyeberang dan melangkah bersamamu di satu ruas jalan."


"Maaf, aku meninggalkan kendaraanku di sana, bukan karena permukaan jalan atau rutenya buruk, hanya saja destinasi yang ku miliki saat ini telah berubah arah. Aku telah bermukim, Layla ... teruslah membangun jalan mimpimu hingga kau temukan kawan seperjalanan nan menyenangkan dan sanggup melindungi dari segala macam cuaca, sampai kalian menetap di satu tujuan," tutur Ghala lembut, menatap sendu pada cinta pertamanya yang harus dipaksa pupus.


Layla Akhmaloka, menangis sejadinya hingga bahu ringkih itu bergetar. Bukan masalah cantik atau tidak, tapi Maghala terganjal restu keluarga besar Haidar.

__ADS_1


"Kenapa tidak berjuang bersama membuat kendaraan yang baru, Ghala?" kata Layla masih dalam isak, wajahnya pun menunduk.


"Sebab bahan yang ku punya, berbeda dengan milikmu. Kendaraan kita takkan sempurna hingga pada akhirnya terberai di tengah jalan setelah sama-sama lelah, untuk apa? ... Aku gak mau hidupmu menjadi sia-sia, Layla," sahut Maghala, ikut merasakan sesak lama yang kembali hadir.


"Mengapa dengannya bisa? bukankah dia sama sepertiku?" kesal Layla, dia mendongakkan kepala dengan tatapan menuntut.


"Asha melihatku tak memiliki apapun sejak awal. Aku dan dia sama membutuhkan tumpangan. Kendaraanku rusak begitupun dengannya, tanpa sengaja, media yang kami miliki bisa menyatu dan memilih melanjutkan perjalanan dengannya hingga aku memutuskan bermukim di hati Asha ... semoga kau juga, ya, Layla. Jaga diri baik-baik, sampai jumpa." Maghala berbalik badan, dia tak kuasa melihat Layla demikian.


"Apa sisa rasaku masih ada di sana? dia pezina, Ghala," tutur Layla menahan sebisanya agar Ghala tak meninggalkan dia.


Maghala berhenti, kembali menoleh ke arah Layla.


"Mungkin masih ada, tapi entah dimana. Aku tidak dapat menemukan itu karena Asha menjejali hatiku hingga sesak tiada celah ... Asha dan aku bukan pezina, aku mengenal istriku lahir dan batin. Kurasa kau tidak berhak tahu kisah kami," pungkas Ghala, memutar badan lagi dan melangkah meninggalkan Layla.


Ashadiya duduk setia menanti Ghala, dia tak dapat mendengar percakapan mereka tapi hatinya merasa tenang. Asha melihat ke arah suaminya dengan tatapan rindu, dia lalu merentang tangan kala Maghala berjalan ke arahnya.


"Mas!"


Ashadiya mengangguk cepat seraya tersenyum manis. "Sudah lega, Mas? apa masih ada sisa rasa dengan Layla?" tanya Asha, membelai wajah tampan yang berjongkok di depannya.


Maghala menggeleng. "Hatiku penuh karena Ashadiya, kenangan lama cukup jadi pupuk saja biar cintaku kian subur untukmu, Humaira sayang," kata Ghala, menggenggam kedua tangan Asha dan mengecupnya.


Nyonya Sakha merona sebab pengakuan Maghala. Pasangan Cyra lalu bangkit, meninggalkan gedung mewah juga Layla yang masih bertahan di sana dengan Norma dan beberapa pria diduga bodyguard Haidar.


...***...


Sebelum subuh.


Adhisty mengetuk pintu kamar putrinya sebab ada hal penting. Tak lama, panel kayu bercat putih itu terbuka, Maghala menatap heran pada wajah sang mertua di hadapan.


"Ada apa, Ma? mau masuk? Asha masih ngaji di dalam," kata Ghala, seraya membuka pintu lebar dan menyilakan Adhisty.

__ADS_1


Sang mama menggeleng. "Ghala, ini ada berita tentang Asha lagi teler. Skandal nominee even Jerman, Ashara ... komunitas akan mengklarifikasi keanggotaan Asha dan juga bakal menurunkan karyanya yang terpajang di Diazae," ujar Adhisty, melihat menantunya dengan tatapan khawatir sekaligus menyerahkan tab agar Ghala membaca tajuk berita online pagi itu.


Maghala membaca sejenak ulasan artikel tersebut. Dia sudah menduga hal ini.


"Akan aku bereskan. Mama bisa gelar jumpa pers jika mau, atau nimbrung ke komunitas saja agar sekaligus kelar. Tapi tolong hubungi Sade lebih dulu untuk datang ke kantor, pinjaman itu belum di kembalikan bukan?" tanya Ghala, melihat Adhisty sembari menyerahkan tab beliau.


"Hari ini lawyernya datang. Kamu ke kantor ya, Ghala. Presentasi usaha baru Cyra di tunda dulu," sambung Adhisty sebelum dia beranjak ke ruang kerja.


Maghala mengiyakan lalu menutup pintu dan menuju sisi ranjang. Dia menghubungi Pierre memintanya untuk bersiap sebab Hilmi pasti telah melimpahkan tugas pada pemuda itu.


Jika Asha melanjutkan mengaji meski masih terbata, lain hal dengan Maghala. Dia baru saja menerima panggilan dari seseorang yang tak di duga.


"Halo ... oh, iya ingat. Nggih, Pak, matur nuwun. Oh, kak Mada? Nggih, sampai ketemu di kantor Cyra kalau begitu," kata Ghala menutup panggilan sesaat tadi. Pierre begitu cepat bergerak, Maghala tak mengira, didikan Hilmi semuanya cemerlang.


"Siapa, Mas?" tanya Asha, menoleh ke arah suaminya yang duduk di atas sofa.


"Seseorang yang pernah menolongku dulu, dia memberikan ponselnya agar aku dapat mengirim kabar padamu," kata Ghala, sumringah, tak mengira akan dapat bantuan menghadapi Sade dan Anggun.


Maghala lalu menceritakan ulasan tajuk berita online pagi ini. Lobby gedung Cyra mungkin akan di penuhi oleh wartawan juga keputusan komunitas bakalan bergantung pada hasil gebrakan Ghala pagi ini di kantor.


"Kamu siap, Sayang?" tanya Ghala melempar senyum kala memandang wajah ayu, yang masih dalam balutan mukena.


Asha mengangguk, selama ada Ghala di sisinya, dia akan sanggup menghadapi apapun. "Ehm, siap!"


.


.


..._____________________...


...Layla kelar. Satu lagi, bom....

__ADS_1


__ADS_2