BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 25. SAMA PENTING


__ADS_3

Maghala mengiyakan apa yang Hilmi tawarkan. Keduanya lantas meninggalkan kawasan itu untuk menuju suatu tempat.


"Aku ingin melihat Asha dulu," pinta tuan muda Magenta, menepuk Hilmi di bahunya.


"Baik, Tuan muda," jawab Hilmi dari balik helm dibarengi anggukan.


Asisten Janu membelokkan sepeda motor yang membawa mereka menuju komplek perumahan elite. Dia menurunkan Maghala di luar gerbang dan berjanji akan kembali bertemu malam nanti di lokasi biasa.


Tepat saat azan Maghrib, Maghala mengetuk pelan daun pintu kamarnya.


"Asha, ini aku," ujar sang tuan muda. Menempelkan cuping telinga agar dia dapat mendengar jawaban dari dalam.


Kediaman Cyra amat lengang hari itu. Adhisty belum terlihat kembali setelah maid mengatakan bahwa nyonya mudanya pergi sejak siang tadi. Pengurus rumah tangga Cyra pun menambahkan tentang Alka yang sama tak memperlihatkan batang hidung semenjak kepergian di pagi hari.


Maghala mengangguk tenang, dia berterima kasih atas bantuan maid telah menjaga dan merawat istrinya selama dia pergi.


"Asha, Asha," panggil Ghala lagi, masih setia berdiri di depan pintu sembari mengetuk pelan.


Ashadiya lamban mengenali suara suaminya. Dia sangat diliputi ketakutan semenjak peristiwa itu. Apalagi Ghala tak ada di sisi.


"Ghala?" seru Asha, memastikan dari atas ranjang.


"Iya, aku," balas suara lembut itu menjawab keraguan Asha.


Seperti biasa, wanita ayu, berusaha menjangkau dan lakukan apa yang semestinya. Asha kian tergugah bangkit setelah melihat Maghala kemarin malam sedangkan dirinya hanya dapat terdiam tidak mampu menolong.


Tak lama kemudian. Pintu terbuka.


"Alhamdulillah, kamu gak a--" ucapan Ghala terjeda akibat Asha yang mencondongkan tubuh memeluknya.


Maghala mendorong perlahan kursi roda Asha dengan kedua kaki yang hanya memiliki ruang sempit sebab pinggangnya di tahan Asha.


Panel pintu itu lalu ditutupnya. Maghala membelai kepala wanita pendiam di hadapan.


"Sudah makan? mau mandi dulu, atau apa?" tanyanya lembut.


Sikap Maghala yang selalu saja memikirkan orang lain membuat Ashadiya kesal. Wanita itu melepas pelukannya begitu saja lalu memundurkan kursi roda dan menekan tombol pada panel untuk menuju ke bathroom.

__ADS_1


"Asha, tunggu. Aku siapkan," cegah Ghala, menahan laju Asha lalu masuk ke kamar mandi.


Tanpa banyak bicara, dia melakukan rutinitas membantu istrinya seperti biasa sebab Ghala berniat akan menuju Semarang malam ini. Dia ingin, Asha telah merasa nyaman ketika di tinggalkan lagi.


"Ngambek ya?" kekeh Ghala, mengacak surai panjang yang tergerai. Dia lalu berjongkok di depan kursi roda, meraih tangan Asha kemudian merebahkan kepalanya di atas kedua paha wanita ayu. Ghala meletakkan telapak tangan Asha di atas rambutnya.


Satu detik. Dua detik. Perlahan Asha membelai rambut Ghala, menyisipkan ke sela jemarinya.


"Maaf membuatmu menunggu semalaman, kau terima pesanku kan?" bisik Ghala sejenak memejam menikmati belaian lembut Ashadiya.


Asha mengangguk. "Kamu selalu saja memikirkan orang lain. Bukannya cerita ngapain aja di sana. Sudah makan belum dan lainnya? apa aku harus bertanya dulu tentang semua itu?" lirih Asha menundukkan kepala.


"Ehm, jadi ini penyebab ratuku ngambek? aku gak mau kamu cemas. Di sana baik-baik saja sebab yakin banyak orang tulus di sekitar. Tenanglah, aku menjaga diriku dengan baik," balas Ghala, mengangkat wajah dan memandang mata sipit yang terlihat lelah.


Keduanya lama saling menatap, menyelami iris masing-masing berharap menemukan sebuah rasa yang sama, cinta.


Maghala membelai wajah ayu dengan jejak sisa kesedihan di sana lalu kembali merebahkan diri di atas pangkuan Asha, memeluk pinggang wanitanya hingga perut buncit Ashadiya menyadarkan sesuatu dalam benak.


"Ada kamu di sini. Maaf ya, aku juga mulai nyaman dengan ibumu. Kita berbagi, oke?"


Ashadiya menikmati waktu kebersamaan dengan pria yang memeluk kini. Ada rasa damai menjalar hingga membuat hati menghangat. Jika tak ingat waktu Maghrib akan usai, rasanya enggan melepaskan lelakinya untuk melakukan hal lain.


Langkah kaki mengendap berharap penghuni lain tak menyadari kepergian Maghala, sukses di lewati malam ini. Menantu Cyra melenggang pergi meninggalkan kediaman menuju Semarang.


Dua jam membelah angkasa malam menggunakan heli sewaan membawa Maghala ke rooftop sebuah rumah sakit dimana Janu di rawat.


Dia dan Hilmi lalu menggunakan lift turun ke lantai lima. Kamar perawatan sang kakek pun kini berada di depan mata.


Huda bangkit, memberi hormat. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan Maghala Sakha. Lelaki muda itu mengamati takjub akan sosok bersahaja yang masih mengenakan sarung dan koko, hingga aura positif terpancar.


"Jangan di liatin. Nanti cinta," bisik Hilmi mengajak Huda keluar ruangan.


"Saya ini tulen kok, Pak Hilmi. Gimana sih," gerutu sekretaris Janu, menepis rangkulan pria matang di sebelahnya.


Hilmi terkekeh, hiburan baginya jika berada di dekat Huda. Pemuda lenje yang di paksa greng oleh Janu hanya karena alasan dia rapi, disiplin dan mempunyai wajah bak artis kpop.


"Maharani ke sini? ngapain aja?" tanya Hilmi tentang wanita satu-satunya di Magenta.

__ADS_1


"Ke sini tapi di halau tuan Mada. Keduanya adu mulut kemarin hingga membuat tuan besar gelisah," beber Huda duduk di bangku panjang luar ruangan.


Hilmi hanya diam, mengangguk. Dia dan Ghala sudah mendapatkan kesimpulan baru. Sedikit aneh dari laporan yang di dapatkan sebelumnya.


Malam ini Hilmi hanya memastikan akan kondisi Janu sehingga apabila ada informasi baru yang didapat kembali, Ghala akan lebih bisa menyampaikan secara halus agar kesehatan Janu tak memburuk.


Di dalam ruangan. Maghala duduk di kursi sisi brangkar. Dia mengamati wajah sepuhnya itu.


"Kek, sudah ku bilang jangan mempermalukan kakak di depan umum. Aku mencurigai sesuatu, ku harap kakek jangan tergesa. Bersikaplah biasa saja," bisik Ghala, seraya menggenggam tangan Janu.


Lelaki renta itu ternyata tak tidur, dia hanya memejamkan matanya sesaat sekedar ingin mengetahui siapa gerangan yang datang hampir tengah malam.


Kedua netra tua itu membuka pelan. "Jangan lama-lama. Aku sudah lelah," kata Janu, menoleh ke arah Maghala yang tengah mencium tangannya.


"Setelah membongkar aib Cyra, ya. Aku akan pertimbangkan hal ini. Jaga kesehatan kakek. Asha dan kakek tidak bisa aku pilih, kalian sama pentingnya," ucap Maghala, memandang Janu dengan tatapan sayu.


"Dia cantik? kamu sudah suka padanya ya?" tebak pendiri Magenta grup.


Maghala terdiam. Hanya merasa nyaman dan memang mulai menaruh perhatian lebih pada Ashadiya. "Ehm, dia wanita baik. Aku gak bisa lama, kita ketemu lagi nanti ya, Kek."


Janu mengangguk samar, melepaskan cucu mandiri itu pergi lagi.


Hilmi pun sigap saat Maghala keluar ruangan VVIP sang pendiri Magenta. Dia melangkah sejajar dengan Ghala menuju lift di ujung koridor.


Ting. Keduanya terkejut manakala pintu lift terbuka, melihat sosok Mada di sana.


"Kak!" sapa Ghala menundukkan kepala sebagai tanda hormat.


"Bisa bicara sebentar, Ghala?" ucap Mada, datar tanpa ekspresi. Dia lalu keluar dari kotak besi itu menuju balkon di sebelah barat, ruang tunggu umum bagi keluarga pasien VVIP.


Maghala menoleh ke arah Hilmi, asisten Janu tak menanggapi apapun. Dia justru menunduk.


"Hufft." Maghala menghela nafas berat lalu melangkah mengikuti Mada.


.


.

__ADS_1


..._______________________...


__ADS_2