BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 66. TERSANGKA


__ADS_3

Maghala mulai bersiap menuju ke kantor, beberapa salinan dokumen telah tertata rapi dalam map kulit berwarna hitam. Rencana pagi ini, dia dan adisty akan bertatap muka dengan Sade, guna membahas dua hal.


Adhisty akan mengakhiri perjanjian kerjasama berdasarkan pinjaman yang telah di terima beberapa bulan lalu. Hal kedua adalah memberikan bukti tentang test DNA ayah biologis bayi yang dikandung oleh Asha.


Ashadiya juga meminta Anggun untuk menemuinya di kantor Cyra. Maghala mengatakan bakal membeberkan satu bukti jika dia tetap bersikukuh mengusik laju karir Asha.


Keluarga Cyra pun bertolak ke perusahaan. Dugaan Maghala terbukti, awak media telah memenuhi sebagian pelataran parkir bagian depan.


Pierre memberikan instruksi pada driver agar mengambil jalur lain untuk masuk dengan aman ke sana. Ghala pun mengikuti arahan sang asisten.


Tiba-tiba ponsel Denok berdering.


"Nok, apa semua baik saja?" tanya seorang pria di seberang telepon.


"Tuan nanya? aku baik saja, kok." Denok menjawab percaya diri.


"Iya nanya, mau gak bermalam di hotel? ... bukan kamu, lah! ngapain nanya kamu!" sentak Hilmi, tak sabar. Dia cemas sebab berita yang beredar pagi ini.


"Bermalam? ya mau lah ... oh, Nona Asha? ku kira tanya kabarku!" seloroh Denok terkekeh, saat menerima panggilan Hilmidar, meski bibirnya manyun sebab di bentak pria itu.


Hilmi kesulitan menghubungi Ghala karena ponsel majikannya tidak aktif saat dia mengirimi pesan singkat. Asisten Janu lalu meminta Denok memberikan ponselnya pada Ghala.


Tuan muda Magenta mengangguk mendengar ucapan Hilmidar. "Iya memang begitu. Kurasa dia takkan menduga kita ngejar hacker miliknya itu," ujar Ghala tersenyum samar sembari menggenggam jemari Asha.


Panggilan berakhir tepat saat mobil keluarga Cyra memasuki basement dari pintu belakang.


Mereka langsung menuju ruang meeting menunggu Sade dan sahabat Asha. Pasangan Cyra duduk berdampingan di depan dua kursi yang di siapkan untuk para tamu.


Beberapa saat kemudian.


Tuan muda Sadana masuk ke ruangan ditemani oleh lawyer juga asisten pribadinya. Dia menyalami Adhisty dan memandang sekejap pada punggung wanita yang duduk membelakangi. Asha memutar kursi menghadap Denok, atas permintaan Ghala.


Sade memilih bangku paling ujung, dekat dengan Adhisty dan berhadapan dengan Ghala. "Ada apa? apakah Tante sudah banyak uang?" ujarnya melihat pada Adhisty.


Nyonya besar Cyra hanya tersenyum tanpa menanggapi ucapan tuan muda Sadana. Adhisty lalu meminta lawyernya segera menyerahkan dokumen pengembalian dana untuk di tanda tangani kedua belah pihak.


Sade mengatakan tentang wan prestasi juga bagi hasil terhadap penggelontoran budget miliknya. Namun, Adhisty menampik, dia hanya memasukkan poin pinjaman saja tanpa menyertakan pembagian bagi hasil atas laba yang di peroleh dari dana talangan milik Sadana.


"Kan sudah di sepakati waktu itu. Kamu gak bilang minta bagi hasil, hanya pinalty pokok pinjaman saja," ujar Adhisty melihat ke arah Sade lalu beralih pandang pada kedua lawyer.


"Kok begitu?" tanya Sade terkejut, dahinya sedikit berkerut karena heran.

__ADS_1


"Draft tersebut sudah kamu baca dulu, loh, sebelum tanda tangan, toh aku gak maksa dan semua itu legal. Pengacara kamu bahkan asisten pribadi juga hadir waktu itu," elak Adhisty, menunjuk pada poin perjanjian juga menatap asisten Sade yang duduk di belakangnya.


Lawyer membawa berkas ke hadapan tuan muda Sadana, dia menunjuk poin empat perjanjian yang disepakati beberapa bulan lalu.


"Tante jebak aku namanya, kan perjanjiannya itu win win solution. Kenapa tidak tersirat di sini!" seru Sade mulai bernada tinggi.


"Menjebak bagaimana maksudmu, lagi demam atau gimana sih, Sade! jelas-jelas itu sign milik dirimu," balas Adhisty, menunjuk ke dokumen.


Maghala menggeleng kepala pelan, dia tersenyum lebar menertawakan kebodohan pria di hadapan. Wajar jika Sade tak diizinkan menyentuh ranah bisnis Sadana. Membaca draft kontrak saja tidak bisa.


"Heh, ngapain senyum-senyum!" sergah Sade menggebrak meja dan menunjuk ke arah Ghala.


"Ya lucu aja. Saking banyak uang atau gimana, baca gituan aja gak bisa. Ckckck, ribut minta ganti rugi. Kalau Asha balik nuntut kamu, gimana jadinya?" ucap Ghala, kali ini menatap tajam Sade dengan senyuman sinis.


Tak ingin ancaman kemarin di buktikan pria di hadapan, Sade berniat menarik diri pergi dari sana. Tuan muda Sadana langsung menerima salinan pembatalan kontrak, pengembalian modal juga hal lainnya.


Saat Sade akan bangkit, Maghala menahannya sebab dia mengatakan ada sesuatu suguhan bagus untuknya.


"Jangan buru-buru, Tuan muda. Silakan duduk," ujar Ghala tapi di abaikan Sade.


Tepat ketika Sade bangun dari duduknya, Ashadiya memutar kursi seiring pintu ruangan terbuka karena didorong oleh seorang wanita cantik.


"Silakan duduk, Anggun. Mas Ghala baru akan bicara," sapa Asha menyilakan sahabatnya duduk di hadapan.


Denok sigap memandu sang wanita yang nampak enggan meladeni permintaan majikannya. Gadis itu menggiring Anggun agar segera duduk lalu Denok memilih berdiri di depan pintu masuk.


Maghala menoleh ke samping kanannya. Dia memberikan Asha kesempatan untuk bicara sedangkan Adhisty dan Sade hanya diam memperhatikan situasi.


"Anggun, apa salahku padamu? mengapa engkau demikian keras menjegal langkahku menuju tempat yang semestinya," tanya Asha tanpa basa basi.


Anggun tertawa kecil, dia mendelik sinis ke arah Asha. "Percaya diri sekali aku iri padamu. Dalam hal apa? aku memiliki segalanya," jawab nona Diazae.


Maghala menyodorkan sebuah berkas, IP address link artikel yang di kirimkan ke sebuah email sebelum tajuk berita negatif tentang Ashara naik.


Tautan itu mengindikasikan bahwa sang pemilik laman berita online, seakan meminta persetujuan dari narasumber untuk di setujui hingga layout kolom berita pun diajukan ulang.


Anggun tak menggubris, dia hanya melirik sekilas ke permukaan meja. "Aku gak paham apa maksudnya," sahutnya santai.


"Surel tersebut milikmu, kan, Nona? skandal Ashara teler. Bukankah itu terjadi saat perayaan atas keberhasilan Anda berangkat ke Hongkong kala itu?" desak Ghala, sambil menopang tangan di atas meja.


"Why, Anggun? sebutkanlah satu alasan logis," ucap Asha lagi, memandang sahabat yang telah dia anggap sebagai kakak perempuannya.

__ADS_1


Anggun bangkit, dia merasa waktunya terbuang hanya untuk mengurus masalah begini.


"Oke, baiklah. Aku akan menerima konsekuensi di keluarkan dari komunitas pelukis asalkan engkau bersedia melakukan hal yang sama. Aku akan mengajukan gugatan untukmu jika kau enggan melanjutkan pembicaraan di sini," tegas Ashadiya, sedikit berseru agar sahabatnya itu urung pergi.


Kalimat pencegahan Asha akurat, Anggun mendudukkan bo-kongnya lagi. Dia mendecih kesal dan membanting tasnya ke atas meja.


"Kamu kan bersalah Asha, vacum lebih dari enam bulan dan mencoreng nama baik organisasi dengan perilaku urakan. Wajar dong jika dapat sanksi!" cibirnya tak mengakui kesalahan.


Ashadiya menarik nafas panjang. Dia menoleh ke arah Maghala seakan meminta kekuatan. Namun, saat Asha akan bicara, Sade berniat pergi.


"Aku gak ada urusan di sini," ujarnya mengajak kedua pria bawahannya keluar ruangan.


"Tidak ada yang boleh meninggalkan ruangan sebelum Nona Ashadiya selesai bicara," tegas Denok, mengunci pintu dan menghalangi langkah Sade.


"Apalagi ini, minggir!" sentak Sade menunjuk ke arah wajah Denok.


"Duduklah Tuan muda!" Maghala bangkit, meminta Sade ke kursinya semula.


"Apa maksudmu, Asha? aku tak merasa melakukan hal apapun," sambung Anggun, menanggapi tuduhan Asha.


Maghala menyerahkan remote infocus pada Ashadiya. Lelakinya itu bahkan menggenggam tangan kiri sang istri ketika sebuah video terpampang di layar.


Semua mata tertuju pada rekaman kala Anggun menggelar pesta. Asha mempercepat durasi hingga beberapa puluh menit berikutnya.


Seorang gadis terhuyung di lorong kamar sebuah hotel. Nampak dalam video, wanita yang mengenakan gaun hitam selutut berlengan panjang, seakan tengah menahan sesuatu karena dia tak henti meraba beberapa bagian tubuhnya berkali-kali.


Dia juga susah payah menempel card acces ke panel pintu hingga seorang pria memeluk gadis itu dari belakang lalu mendorong paksa hingga keduanya masuk ke dalam kamar.


"Sampai sini, paham? siapa sosok pria itu?" kata Ghala melirik tajam ke arah Sade.


Tuan muda Sadana melihat ke arah Anggun, begitupun sebaliknya. Wanita itu tak mengira jika lelaki dalam video adalah Sade.


"Kau!"


.


.


..._____________________...


...Hore, ketahuan 😌...

__ADS_1


__ADS_2