
Internal meeting pagi itu berakhir sudah, Maghala menyalami para anggota direksi lainnya. Beberapa dari mereka mengajak Maghala bicara secara khusus bahkan ada yang langsung meminta menjadi menantu.
Maghala hanya tersenyum menanggapi permintaan nyeleneh itu, dia mengatakan bahwa telah menikah dengan menunjukkan cincin besi berwarna perak yang kini melingkar di jari kanannya.
Langkah ini Ghala gunakan untuk menjaga diri baik dari pandangan bukan mahram atau niat kolega yang mendekati hanya untuk memanfaatkan segala embel-embel nan melekat setelah identitas marga terkuak.
Penampilan sempurna, gaya bicara yang mencerminkan ketegasan sikap, di permanis senyuman menawan serta tatapan teduh akan tetapi tajam menelisik lawan, menjadikan sosok Maghala sakha incaran baru bagi kaum moderat.
(Memiliki sikap toleransi, menerima kearifan lokal dan anti kekerasan.)
Rumor di hembuskan sang sekretaris Adhisty di grup chat perusahaan khusus kaum hawa, lengkap dengan foto dan video candid Ghala saat bicara di depan forum, menjadikan Maghala Sakha topik hot para wanita. Mereka tak mengira bahwa pemegang saham terbaru Cyra adalah sosok memesona.
Hilmi kemudian menuntun Ghala untuk masuk ke ruangan Adhisty. Sang mertua meninggalkan para direksi lebih dulu tepat saat ketukan palu di hentakkan.
Tok. Tok. Tak ada sahutan dari dalam, hanya pintu ruangan di buka oleh sang sekretaris.
Kedua pria, masuk ke dalam dan langsung menuju sofa tanpa Adhisty menyilakan lebih dulu.
"Siang, Ma," sapa Ghala, sembari melepas satu kancing jas lalu duduk di sofa.
"Apa maumu?" tanya Adhisty masih terlihat pucat sebab shock.
Maghala diam sejenak. Dia tak ingin menyakiti sang mertua sebab Asha pasti akan murung.
"Hanya menjalankan amanah agar menjaga Mama juga perusahaan yang telah papa mertuaku rintis. Juga demi Asha, supaya dia selalu bangga pada ibunya, bahwa Mama tetap tegar membersamai mereka setelah kepergian almarhum," tutur Ghala, sama sekali tak membahas masalah bisnis. Dia hanya memberikan tatapan teduh, Adhisty mewakili kerinduan Maghala dengan sosok Arimbi.
Adhisty membalas pandangan itu, dia menemukan sisi lain Maghala saat ini. Hanya dengan duduk berdiam diri saja, lelaki itu bisa mengeluarkan aura seorang pemimpin. Pantas Asha jatuh hati padanya hanya dalam waktu empat bulan.
"Jangan bawa-bawa suamiku. Dia meninggalkan banyak masalah di perusahaan saat mati. Apa Asha tahu siapa kamu, Ghala?" tanya Adhisty dengan nada lirih. Dia merebahkan tubuhnya di kursi kebesaran, seraya memejam, helaan nafas pun terdengar berat.
"Asha, tahu. Aku takkan meminta Mama melepaskan kursi itu padaku. Tapi bisnis is bisnis, aku akan tetap memantau dan evaluasi lanjutan harus dilakukan sebagaimana mestinya. Semoga quartal ini, kinerja Mama stabil sehingga posisi puncak aman dalam genggaman. Namun, aku tidak segan mengganti pemilik ruangan ini dengan seseorang yang lebih kompeten. Itu saja, terima kasih. Selamat siang, Ma," pungkas Ghala bangkit, dia lalu membungkukkan badan meski Adhisty tak melihatnya lalu melangkah keluar dari ruangan sang direktur utama.
Hilmi kerap menyembunyikan senyum jika Maghala bicara, lembut tapi tajam. Pandangan matanya teduh tetapi mengintimidasi, persis almarhumah ibunya. Hati sang asisten pun kian bahagia, merasa telah menemukan sosok pas untuk menggantikan Mada kelak.
Mereka lalu keluar ruangan dengan Maghala mendahului langkah. Jemari Hilmi meraih gawai dari saku celana. Matanya berbinar saat membaca pesan Pierre di sana. Dia lalu menekan panel di pintu lift khusus pimpinan, menuntun Ghala masuk.
Kotak besi itu membawa kedua pria turun ke lantai dasar. Ghala menghubungi Asha agar menyambutnya kala pulang nanti. Namun, panggilannya tak lekas tersambung.
__ADS_1
"Asha tidur kali ya?" gumam Ghala, terdengar lirih ke telinga Hilmi, saat jemari lelaki itu memasukkan ponsel kembali ke saku celana.
"Mungkin, Tuan muda," jawab Hilmi, tak menoleh padanya.
Maghala rasanya harus menegaskan Hilmi agar tak terlalu sering menghubungi Asha nanti.
"Ehm, Hilmi. Nanti jangan sering-sering call ke Asha kalau aku gak on. Ingat, dia itu sudah punya suami!" tegas Ghala, pelan, tak menoleh pada Hilmi tapi tegas memberi peringatan lewat ekor matanya.
Hilmi terkekeh, saatnya menggoda sang majikan. "Nona Asha itu cantik dan menyenangkan. Type saya sebab tidak berisik. Dia juga simple gak banyak gaya," ujar Hilmi, santai sembari memejamkan mata, berdiri bersandar pada dinding lift.
"HILMI!!"
Ting. Suara pintu lift terbuka.
"Awas aja ya!" kecam Ghala, melihat ke arah Hilmi seraya mengacungkan jari telunjuknya. "HILMI! dengar aku kan!"
Hilmidar tertawa renyah, dia lalu mendorong wajah Ghala agar melihat ke arah luar.
Maghala menepis tangan Hilmi yang menyentuh mukanya. Dia tak suka jika pria ini masih memperlakukannya bagai anak remaja. "Ish, Hilmi!"
Hilmidar, meraih wajah Maghala masih sambil tertawa renyah, lalu membuatnya menoleh tegak ke arah luar lift.
Hilmi menekan panel stop agar lift tetap terbuka. Maghala sedang takjub dengan pemandangan di hadapan.
"Humaira?" gumam Ghala memanggil istrinya.
Wanita ayu pun mengangguk. Ashadiya mencoba berdiri meski menggunakan tongkat penopang di kedua lengan, di dampingi oleh Denok yang menunggu disamping. Dia tampak sangat anggun dan cantik.
"Hai, Tuan muda Magenta," ucap Asha, tersenyum sumringah.
Dengan bantuan Hilmi dia mendapat banyak setelan gamis syar'i yang sesuai dengan seleranya dan sang suami. Asha juga melihat Ghala memakai cincin pagi ini sehingga hatinya kian berbunga-bunga.
Dia memutuskan untuk menutup aurat sebab tak ingin Ghala mendulang dosa darinya yang tidak melaksanakan perintah Allah dengan berhijab.
Gamis polos biru laut dengan kain serat jagung, dipadu hijab voal bermotif abstrak sangat kontras dengan kulit Asha nan putih bersih. Tiada make up menghias wajah akan tetapi justru itu menambah kesan elegan. Bagai Ayana moon, artis Korea yang hijrah.
Maghala melangkah perlahan keluar dari lift, dia merentang tangan menuju istrinya.
__ADS_1
"Alhamdulillah bini'mati," ucap Ghala trenyuh. Hatinya seakan sesak kala Asha berubah sedemikian rupa. Kedua lengan pun meraih tubuh sang istri dalam pelukan.
"Jangan dipaksa berdiri. Masih sakit kan? ... Sayang, siapa yang memintamu seperti ini?" bisik Ghala, merengkuh wanitanya.
"Gak ada. Murni kemauanku. Bagaimana tadi, lancar kah?" tanya Asha, mengusap punggung suaminya. Dia melepaskan penyangga tubuh begitu saja. Terlalu nyaman berada dalam pelukan Ghala.
Pasangan Cyra mengurai pelukan, Maghala ingin mendapatkan kejujuran dari sorot mata sipit milik wanitanya. Mereka lama saling menatap membuat Hilmi pegal menunggu di sudut lobby.
"Alhamdulillah, berkat doamu. Jangan merasa terpaksa ya. Semoga Istiqomah, Humaira." Maghala membelai lembut wajah Asha, dia menyadari istrinya tak mengenakan make up.
Ashadiya tersenyum dan mengangguk. "Aamiin."
"Gak pake make up, Asha?" tanya Ghala saat akan membubuhkan kecupan di dahi.
"Enggak, sebab belum izin sama kamu. Inipun aku keluar rumah juga gak nunggu dan bilang sama kamu. Maaf," tunduknya merasa salah dan berdosa.
Maghala kian sumringah, Asha mulai paham sedikit demi sedikit. "Ikhlas, ridho, sebab niatmu hari ini untuk menyenangkan suami. Jika ingin pakai makeup, boleh ya, Sayang. Awali dengan bismillah dan tahu batasan sehingga tidak tabarruj," kata Maghala, membelai wajah sang istri.
Putri bungsu Cyra kembali tersenyum hingga matanya kian menyipit, dia mengangguk antusias, paham akan maksud suaminya.
"Tuan, silakan. Kita akan mengunjungi kediaman Alkasyaf Cyra," kata Hilmi. Menepuk bahu Ghala agar menyudahi sesi pamer keromantisan.
Pasangan Cyra mengangguk, Ghala membantu Asha duduk di kursi roda kembali lalu mendorongnya pelan keluar lobby. Banyak pasang mata yang kecewa melihat aksi romantis keduanya tadi. Seketika grup chat para wanita di perusahaan pun riuh dengan kabar terbaru.
"Baru happy mau mepet, lah punya bini ukhti ukhti."
"Jiah, milik orang!"
"Gak ada stempel, pepet aja."
"Kalah saing. Dah lah, baper gue. Dia manis badd!"
.
.
...___________________...
__ADS_1
Tabarruj : menampakkan diri, bersolek atau berhias mempercantik diri dengan tujuan untuk memamerkan kecantikan atau keelokan tubuh sehingga menimbulkan daya tarik lawan jenis. Banyak macam tabarruj, nanti dibahas lagi.