
Maghala tiba di Semarang menjelang petang. Gani berniat langsung membawa mereka menuju hunian utama Magenta, tapi di tolak Maghala.
Tuan muda Magenta hanya tak ingin memperuncing perselisihan dengan Maharani. Bisa di pastikan, jika sang bibi mengetahui keberadaan Maghala di rumah utama, dia akan mengamuk dan kembali menekan Janu.
"Ke hotel saja. Aku ingin istirahat dulu sebelum menjenguk kakak," pinta Ghala pada Gani, saat akan memasuki mobil.
"Baik, Tuan muda," jawab sang asisten, mengangguk serta membungkukkan badan. Dia menempatkan orang kepercayaan di kamar Mada kala menjemput putra bungsu Mahananta.
Wajah lelah Asha juga Denok membuat tuan muda Magenta tak tega jika mereka langsung di hadapkan pada sikap kasar dan ucapan pedas sang bibi.
Maghala hanya ingin Ashadiya mendapat gambaran yang baik tentang keluarganya. Meski tak dipungkiri, dirinya tersingkir akibat ketamakan, sama seperti kondisi Cyra saat Ghala masuk ke sana.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di Hotel. Hilmi memesan tiga kamar untuk mereka. Dia enggan meningkalkan Maghala sehingga akan ikut menginap di tempat yang sama dengan sang majikan.
Denok dan Asha tak tahan untuk segera mencapai kamar mereka. Ketiga pria masih berbincang di lobby tentang kondisi Mada. Para wanita pun meminta izin langsung masuk ke room untuk melepas penat.
"Nona, bisa sendiri gak?" tanya Denok, dengan nada lemas dan wajah lelah. Rambut panjang yang di kuncir pun terlihat kusut.
"Bisa kok. Kmu istirahat duluan, rileksasi di spa bawah atau berendam mandi air hangat. Jangan pikirkan aku, kamu pasti pusing dan mual," ucap Asha saat akan mendorong pintu kamarnya. Dia pun merasa sangat lelah.
Denok mengangguk, dia sesaat membantu sang nona masuk ke kamar, meletakkan tas tangan di meja sebelum meninggalkannya.
Setelah kepergian Denok, Ashadiya melepaskan penahan kaki lalu berusaha merangsek pindah dari kursi roda menuju ranjang. Dia ingin meluruskan punggungnya yang kram dan pegal sejenak sebelum mandi.
Teduhnya langit Semarang menghembuskan udara sore hari nan terasa lebih sejuk. Suasana kamar yang nyaman, membuat Ashadiya perlahan merasa ngantuk.
Dia menarik lepas hijab yang menutup kepala hingga hanya nampak ikatan rambut lurus menjuntai ke salah satu sisi bahunya. Mata sipit itu perlahan menutup seiring lembut deru nafas terhembus.
Maghala masuk ke kamar tepat saat Asha baru saja terlelap. Dia perlahan duduk di sisi ranjang sembari memindai ruangan dan meletakkan baju ganti Asha di atas meja. Tidak ada sofa panjang di sini membuat Ghala berpikir keras akan tidur dimana malam ini.
Tuan muda melepas jas yang membalut tubuh tegapnya lalu melempar ke kursi di sudut ruang. Dia memilih ikut merebahkan diri sejenak. Wanitanya tertidur dalam posisi telungkup sehingga Ghala memiringkan badan menghadap wajah Asha. Tak lama, pasangan Cyra telah masuk ke alam bawah sadar masing-masing.
Alarm azan Maghrib dari ponsel Ghala, membangunkan Asha lebih dulu. Kelopak mata sipit itu membuka perlahan. Ashadiya melukis senyum. Sang suami bersedia berbaring dengannya dalam satu ranjang.
Jam biologis takkan dapat memungkiri kebiasaan baik. Maghala pun terbangun, mendapati Asha tak berkedip memandangnya. Kali ini, giliran Ghala yang gagap ditatap intens pemilik wajah ayu.
__ADS_1
"Mandi yuk. Salat lalu siap-siap jenguk kakak," bisik Ghala, menyentuh ujung hidung mancung Asha dengan telunjuknya.
Keduanya perlahan bangkit, dan seperti kebiasaan selama ini, Ghala membantu sang istri menuju bathroom.
Entah Asha yang memancing atau jiwa Ghala mulai merasa membutuhkan haknya. Tuan muda Magenta malah tertegun memandang lekuk tubuh sang istri kala gamis panjang itu luruh ke lantai.
Degh.
Degh.
Degh.
Dulu, rasanya tak seperti ini. Dia biasa saja meski kerap melihat punggung Ashadiya dan kawan-kawannya.
"Ghala, bantu aku. Di sini gak ada besi penahan untuk menopang berat tubuhku," keluh Asha, merasa belum mampu berdiri terlalu lama. Dia takut wastafel tak dapat menahan bobot tubuh kala merambat pada benda itu.
Glek.
"I-iya." Bola mata tuan muda Magenta tak fokus, dia grogi meski pemandangan ini halal baginya. Dia melihat Asha masih memakai pantyliner.
Tepat setelah keduanya siap, Hilmi mengetuk pintu kamar Ghala dan bersiap menuju rumah sakit. Denok dibiarkan beristirahat di kamar sementara mereka pergi.
Beberapa menit selanjutnya, ketiganya tiba di rumah sakit.
Maghala membuka pintu kamar perawatan VVIP dimana sang kakak terbaring. Sosok pendiam itu terlihat tiada berdaya dengan segala alat bantu yang menempel di tubuhnya.
"Diagnosanya apa?" tanya Ghala melihat Mada memakai selang oksigen. Dia lalu duduk di sofa tak jauh dari brangkar.
"Thyphus dan dehidrasi akut, beliau memang sudah sakit dua hari ke belakang tapi di tahannya sebab meeting laporan ke dewan pagi itu," tutur Gani, dengan sorot mata khawatir. Dia lalu menyerahkan surat dari dokter pada Maghala.
Janu di larang oleh Huda mengunjungi Mada sebab alasan kesehatan. Tapi Gani mengatakan bahwa sang tetua memaksa berangkat ke sini akan tetapi di tengah jalan, di cegah Maharani.
Mendengar suara samar sang adik, perlahan kelopak mata pasien membuka. Mada menoleh ke arah kanan dan mencoba mengangkat tangannya di udara sebagai isyarat agar Ghala mendekat.
Ashadiya yang melihat hal tersebut, menepuk lengan suaminya lalu menunjuk ke arah brangkar.
__ADS_1
"Kak!" seru Ghala bangkit tergesa menghampiri Mada. Wajahnya cemas, tangan lemah itu di raihnya sangat hati-hati.
Asha membetulkan letak kursi rodanya agar tak menghalangi arah pintu, dia lamat memperhatikan sang suami yang duduk di kursi tak jauh darinya.
Mada meminta Ghala mendekat. Putra bungsu Mahananta pun menurut, dia memasang telinga di depan mulut Mada.
Pupil Maghala membesar, sorot matanya berubah tajam dengan dahi mengernyit setelah mendengar beberapa kata meluncur dari mulut sang kakak.
"Kurang ajar!" kecam Ghala mengepalkan tangan lalu meninju sisi brangkar.
"Istirahatlah. Lekas membaik dan buktikan pada mereka bahwa Madaharsa tidak mudah tumbang." Maghala menggenggam jemari Mada erat, menyalurkan kekuatan yang dia punya.
Tatapan Mada melembut, dia mengangguk samar atas ucapan sang adik. Tak lama kemudian, pandangannya beralih ke sosok wanita ayu berhijab di sisi sofa single.
Maghala ikut menoleh ke arah pandangan Mada. Dia mendapati Asha sedang melihat padanya.
"Ashadiya Cyra, istriku, Kak. Aku langsung ke sini kala mendengar engkau sakit dan mengajaknya serta," tutur Ghala, menunduk merasa bersalah sebab menikah tak memberi kabar pada keluarga, terlebih Mada adalah saudara satu-satunya.
Mada seakan meminta Asha mendekat, terlihat dari isyarat mata yang di berikan pada Maghala.
Sang menantu Cyra, kembali menoleh ke arah istrinya, mengisyaratkan dengan pejaman mata sekilas.
"Humaira, kemarilah," pinta Ghala meminta Asha mendekat, dia merentang satu tangan agar sang istri menyambut.
Ashadiya menekan tombol pada panel kursi roda hingga perlahan menghampiri sang suami.
"Eira." Lirih Mada saat Asha telah disamping Ghala.
Pasangan Cyra pun saling bersitatap mendengar satu kata yang Mada ucapkan.
.
.
...__________________...
__ADS_1