
"Tutup telinga, Sayang," lirih Ghala pada Asha saat tahu siapa sosok yang memanggilnya.
Wanita paruh baya itu tergopoh menghampiri pasangan Cyra, Maharani sedikit terengah akibat kesulitan melangkah sebab heelnya menancap di tanah basah yang ditumbuhi rumput jenis gajah mini.
"Ya, Bi? ada apa?" tanya Ghala, duduk di atas bale panjang tempat yang digunakan para pekerja biasa memotong nangka matang di pohon atau setelah memanen jambu.
"Pasti karena ulah kamu yang sok alim! ayahku tiba-tiba ingin membagi waris. Apa-apaan ini? kalau menurut faroidh tentu lah bagianku jauh lebih kecil sedangkan kebutuhan kami itu banyak," oceh sang bibi. Maharani berkacak pinggang, menuding dengan telunjuknya ke arah Maghala.
Ashadiya memilih berpura tak melihat atau mendengar, dia masih duduk di kursi roda, membelakangi lawan bicara dan sang suami. Putri bungsu Adhisty malah asik mencampur berbagai warna dasar dari cat air murah yang dibelikan oleh seorang pekerja tadi.
"Terus juga ini nih. Kamu ke sini pasti minta bagian kan? Mahananta meninggal lebih dulu di banding ayah. Harusnya kalian gak dapat bagian," cerocos Maharani, tak henti menuding dan menggoyangkan telunjuk ke wajah Ghala.
Walaupun Janu tak memberi mereka bagian kekayaan, tapi Mada dan Maghala memiliki hak atas Magenta, bukan dari Janu, melainkan pembagian dari almarhum sang ayah.
"Bi, kalau waris itu artinya kakek sudah meninggal. Dibagikan secara hukum faroidh. Nanti akan ada tuh penjabarannya sesuai ketentuan Allah di surat an-nisa ayat 7, 11, 12, 13, 14 dan 176. ... mau Ghala bacakan?" tantang Maghala dengan senyum terkembang. Dia menepuk sisi bale agar Maharani ikut duduk dengannya.
"Tausiah lagi. Awas aja ya, kalau pembagiannya gak adil," ancam Maharani, masih berdiri dengan mengibaskan tangan sebab gerah terpapar matahari.
"Hibah, Bi. Bukan waris, lagipula hibah itu maksimal sepertiga bagian jika untuk pihak lain. Kakek pasti bijaksana, perkara Bibi dapat banyak atau sedikit kan tergantung amal perbuatan," kekeh Maghala hingga bahunya terguncang pelan.
Hibah alias hadiah dapat diberikan pada anak atau pihak lain dengan beberapa syarat, di antaranya kedua belah pihak masih hidup dan sadar, serta pemberi hibah dalam kondisi sehat afiat.
Besaran jumlah nominal hibah tidak ada batasan jika untuk anak. Wajib dibagikan secara adil pada keturunannya (proposional). Namun, jika untuk pihak lain maka maksimal sepertiga bagian dari total aset yang dimiliki.
Pemberi hibah juga wajib melakukan serah terima (al qabdhu) harta tersebut sehingga anak-anaknya dapat melakukan tasharruf terhadap aset itu, seperti memanfaatkan, meminjamkan, mengalihkan, menjual-belikan dan sebagainya.
Hibah yang dilakukan tidak mengundang keharaman. Contohnya, Janu mengatakan akan membagi hartanya pada pihak lain tetapi dia bersedia menanggung semua kebutuhan cucunya dari pihak Maharani sehingga Janu tak menelantarkan mereka meskipun aset telah dibagikan.
Maharani mendengus kesal atas jawaban Maghala. Dia lalu melengos pergi setelah puas mengomeli pasangan Cyra.
"Lihat saja besok!" geram Maharani, menoleh sinis ke arah Maghala.
__ADS_1
Ashadiya tak menanggapi ataupun berniat bertanya sebab posisi diri hanya sebagai menantu, tahu batasan bahwa ini bukan ranahnya dan dia sepatutnya diam.
Maghala pun tak membahas masalah ini dengan Asha, kedudukannya sebagai suami wajib melindungi Asha, agar tak mendapat tuduhan telah mempengaruhi Maghala dalam hal waris.
...***...
Keesokan pagi.
Madaharsa masih sangat pucat saat duduk di kursi roda dan di dorong oleh Gani untuk menuju kantor. Hari ini Janu meminta semua anggota keluarga berkumpul di sana. Dia yang akan menunjuk pada siapa tampuk pimpinan Magenta akan berlabuh.
Tepat pukul sembilan pagi, Janu telah berada di ruangan sang CEO. Maharani dan ketiga putrinya turut hadir. Lawyer masing-masing pun sudah siap mencatat apa saja yang akan pendiri Magenta utarakan.
Para asisten ikut hadir, duduk berjajar rapi di sudut ruang. Tak lama, Janu membuka suara.
"Bismillahirrahmanirrahim. Saya Janu janardana akan menyampaikan banyak hal, semua saya putuskan tanpa intervensi pihak lain. Sadar dan mutlak keputusan pribadi."
Pendiri Magenta itu, meraih map dari lawyernya, lalu mulai membacakan banyak kalimat yang dia tuang di sana.
"Aku menghibahkan sepertiga dari total aset Magenta untuk kepentingan ummat. Dua tanah seluas tiga hektar, kebun buah dan sayur dengan luas masing-masing satu hektar, hasil panen akan dikelola oleh Baznas, lima ruko yang saat ini di isi oleh gerai dan entertainment, akan dialihkan untuk pengembangan dakwah atau sarana belajar bagi anak kurang mampu."
Janu menjeda, menarik nafas panjang.
"Rumah yang Maharani tinggali, untukmu utuh beserta isinya. Dan kediaman yang aku tempati menjadi milik Mahananta. Kalian, Mada dan Maghala, silakan rundingan, rumah tersebut apakah akan di balik nama atau bagaimana. Kakek numpang hidup sama kamu ya, Mada," kata Janu, melihat ke arah Madaharsa. Dia menunggu jawaban sang cucu.
Madaharsa mengangguk seraya tersenyum tipis. Janu bahagia, terlihat kelegaan di wajah senjanya. Dia lalu melanjutkan kembali.
"Aset lain atas namaku yang liquid akan di jual dan dibagi rata. Ketiga putri Maharani akan menjadi tanggung jawabku sampai mereka menikah. Pernikahan Mada, pengobatan Asha, juga akan aku jamin."
"Tabungan Janu janardana saat ini hanya dari penjualan emas batangan yang tengah di lelang untuk jaminan hidup para cucuku seperti tersebut di atas juga resto kopi pait di kawasan tongkrongan. Hasil panen padi dari satu sawah akan dibagi rata."
Janu janardana, melepas kacamatanya lalu menyerahkan salinan untuk di baca dan tanda tangani oleh anak dan cucunya. Dia memejam sembari menghela nafas panjang.
__ADS_1
Asha menggenggam dan menautkan jemari dengan milik Maghala. Suaminya hanya menunduk dan diam sejak tadi, bahkan dia meletakkan tangan di atas paha Asha. Sejatinya, Maghala tak ingin Janu berbuat demikian.
Maghala tak membaca lagi ketika dokumen itu disodorkan, dia langsung membubuhkan persetujuan. Begitupun dengan Mada, tidak banyak bicara. Tugas kian berat, bagian yang menjadi miliknya menanggung hutang akibat ulah Maharani, tapi dia enggan berkomentar. Tatapan Maghala padanya, cukup membuat diri Mada tegar.
Maharani nampak puas, usahanya berhasil. Anak-anaknya terjamin dan kehidupan tenang pun akan dia jelang. Mengelola ekspor bahan baku memang incarannya sejak dulu sebab usaha almarhum bergerak dibidang yang sama.
Setelah penandatanganan selesai, para lawyer pamit undur diri. Maghala menahan Maharani juga para asisten mereka. Kini saatnya dia bicara.
"Bibi, jika aku boleh tahu, apa alasan Bibi menuduh Kakak mendirikan perusahaan dalam managemen? juga ini, laporan keuangan fiktif, dan membawa hal pribadi hingga mengusik kehidupan Kakak? aku minta penjelasan," ucap Maghala, melemparkan berkas ke atas meja hingga mengeluarkan bunyi kencang. Brak.
Maharani diam bergeming. Toh posisinya sudah aman, jadi dia tak perlu berkomentar.
"Ini, buktinya. Dan, HUDA!" sentak Ghala, menoleh ke arah asisten pribadi Janu.
Asisten Janu tergagap, tak menduga akan mendapat kejutan seperti ini. Hilmi pun menepuk pelan paha sang pemuda gemulai itu guna menjelaskan ulahnya.
"Sa-saya tak paham maksud Tuan muda," kilah Huda, wajahnya terlihat panik sebab bola mata bergerak cepat ke sana sini, dia tidak fokus.
"Kamu ikut aku ke Al Islah, jelaskan pada Ning Eira bahwa pengirim pesan yang memutuskan hubungan Kakak dengan beliau adalah ulahmu. Juga, minta maaflah pada Kakek telah menghembuskan isu tentang Mada dengan memberikan laporan fiktif. Apa motifmu?" cecar Ghala, bangkit berdiri. Dia geram hingga tangannya mengepal. Asha merasakan otot lengan Ghala menonjol menandakan kuatnya kepalan.
Maharani melirik ke arah Huda, seakan menegaskan bahwa dia tahu sesuatu. Aksinya ternyata diperhatikan oleh Madaharsa.
"Ada hubungan apa antara Bibi dan Huda? kalian saling cinta?" tanya Madaharsa, dengan wajah pucat dan dahi berkeringat, dia mencoba bertahan di ruangan itu meski merasa mual akibat pening mendera kepalanya.
.
.
...__________________...
Bahas hibah aja ya, sebab waris itu syaratnya harus ada kematian mutlak atau jenis kematian lainnya, yang ditetapkan oleh hukum dan nanti bakal keluar jalur banget. Waris juga kudu detail membagi untuk keluarga istri Janu sebab harta itu diperoleh atas perkawinan mereka. Bagian cucu, anak laki, anak perempuan akan berbeda juga, makin panjang hihi, juga mommy harus jelaskan masalah hukum wasiat itu berbeda dengan waris, byuh.
__ADS_1
Maaf lama up sebab mencocokkan dengan kompilasi hukum Islam setelah sharing dengan Cikgu berdasar alqur'anul karim, tentang hadis Rosulullah di kisah Sa'ad bin Abi waqash, Nu'man bin Basyir yang tertuang dalam riwayat Dawud, an-nasa'i.
Selipan ringan ya, semoga dapat di cerna dengan baik. Kisah sahabiyah itu akan di jelaskan di next part. Syukron.