
Maghala menatap tajam Hilmi, sementara yang di tatap hanya cengengesan, tak merasa bahwa ucapannya barusan bagai sambel gledek nyangkut di tenggorokan, pedas dan panas.
"Gundik apaan?" tanya Aisel melirik tajam ke arah Alka dengan ekor matanya. Dia memilih menanti jawaban dari Hilmi.
Suasana mendadak tegang akibat ulah asisten Janu. Ashadiya berpura tak terpengaruh akan situasi. Dia asik menikmati potongan buah segar seraya menunduk.
"Aku gak punya simpanan, piaraan atau apapun lah, Aisel. Kau tahu aku tidur di kontrakan petak. Mana punya biaya buat memelihara para paha nganggur," jawab Alka, menatap ke Aisel, senyuman manis yang jarang Alka tunjukkan selama mukim di kediaman Cyra.
"Lah, itu, Pak Hilmi bilang tadi, Abang jadi bakulan," ketus Aisel, pandangannya menunduk, bibir di manyunkan sekaligus melipat tangan di depan dada.
"Hilmi! jelaskan," sambung Ghala, menepuk paha sang om asisten sekaligus merema-s kuat di sana.
Asisten Janu mendadak meringis, dia melihat ke arah Ghala lalu meletakkan dessert plate di meja.
Helaan nafas berat Hilmi membuat Ghala meradang. Dia kian gemas akan sikap pria matang disampingnya. Maghala kini menyenggol kaki sang asisten absurd.
"Iya iya, Tuan muda," jawab Hilmi untuk Maghala yang masih memelototinya.
"Gak ada, Nona Aisel. Hanya bercanda, Tuan Alka tidak memelihara atau mempunyai simpanan. Tapi kalau ngicip, nyolek ya mungkin pernah sih," sahut Hilmi, dengan wajah datar. Bahunya mengendik seraya menautkan jemari di depan tubuhnya. masih dengan ucapan yang tak di saring.
Maghala tak habis pikir, pria muda itu meraup wajah kasar lalu memilih menunduk, dia tak enak hati dengan Alka. Menyembunyikan wajah mungkin cara akurat kali ini.
Tak di nyana, Alka justru terkekeh atas ucapan Hilmidar. Dia memang telah berterus-terang tentang hal ini pada Aisel.
"Kalau itu, aku udah jujur sama dia. Mode es krim paling, bukan teh celup," sambar Alka seraya terbahak.
Ashadiya kian menunduk dalam, begitupun Ghala, serasa tak kuasa bertahan lebih lama di sana. Ucapan Alka satu dua dengan Hilmi ternyata. Maghala lupa, saat hinaan tuan muda Cyra yang mengatainya dengan babu dan Bebegig sawah, bukankah itu pun tanpa filter.
Aisel bergeming, dia jadi teringat kisah Alka yang di suguhi para penari seksi hingga pagi hari. Meski lelaki itu berkata tak pernah bermalam dengan para gadis di hotel akan tetapi tetap saja, kisah gaya hidup hedon sebelum menjalin hubungan dengannya kerap membayang.
__ADS_1
"Ghala, aku sudah tak mengunjungi berbagai club setelah berkomitmen dengan Aisel. Dan aku sudah jujur ke dia kok ... thanks ya Tuan Hilmi, sudah menegaskan statusku. Aku bingung mau mulai darimana jika hanya berdua membicarakan tentang itu," ungkap Alka, tak melepas pandang pada gadis ayu yang tengah menunduk sejak tadi.
Kehidupan Alkasyaf banyak di pengaruhi oleh Aisel yang apa adanya. Wanita ayu selalu menuntut kejujuran dari pria mapan bermarga Cyra. Untuk itulah, keduanya berkomitmen sejak dua tahun lalu, tepat saat pembangunan rumah sakit di didirikan.
"Tuan muda Ghala, ehm, aku dan Abang juga melakukan perjanjian tertulis perihal rumah sakit dan segala embel-embelnya. Jika Ashadiya atau nyonya Adhisty mengambil dana yang Abang pinjam atau gelapkan, aku bersedia mengembalikan tetapi meminta waktu agar rumah sakit ini sepenuhnya milikku," ujar Aisel, diangguki Alka. Perjanjian kerjasama dengan profit jelas, di tandatangani oleh Alka dan Asha di depan notaris.
Baik Hilmi dan Ghala, rasanya sangat tercerahkan perihal tersebut. Hanya menunggu keputusan Adhisty saja, terkait hal ini. Biarlah keduanya yang mengutarakan langsung pada sang nyonya besar.
Maghala pun, pamit dari sana menjelang Ashar.
Saat di perjalanan pulang.
Gani, asisten Mada menghubungi sang tuan muda. Madaharsa baru saja di larikan ke rumah sakit sebab pingsan saat meeting. Maharani menyulut percikan di dalam dewan direksi dan membongkar kecurigaan pimpinan mereka bahwa telah membuat perusahaan di dalam management Magenta grup.
"Kakak gimana sekarang? kakek tahu?" cecar Maghala, nada bicaranya terburu, dia bahkan melonggarkan simpul dasi yang masih terpasang.
"Baik, tolong jaga kakak," ucap Ghala meminta Gani agar tak meninggalkan Madaharsa.
Panggilan pun berakhir, Maghala menatap kaca spion dalam sehingga Hilmi dapat melihat tatapan mata sang tuan muda.
Asisten Janu pun mengangguk, dia membelokkan kendaraan menuju pin poin tempat mereka bertemu. Hilmi lalu membuka simpul dasi miliknya dan memberikan pada Denok. Dia hanya berjaga-jaga, tak ingin sang ART Cyra tahu perihal kemana mereka akan pergi.
Denok sempat bingung tapi ucapan Asha yang memintanya, membuat gadis itu mengikuti keinginan Hilmi.
Maghala berbisik pada Asha, dia akan mengajaknya menemui keluarga besar Magenta sekaligus membereskan kekacauan di sana.
Ashadiya terlihat cemas tapi genggaman tangan Ghala membuat mata sipit itu kembali meneduh. Asha mengangguk setuju. Wanita ayu takkan mengira hal apa yang akan menunggunya di sana.
"Ngantuk? tidur dulu, masih dua jam lagi kita akan sampai," kata Ghala melihat raut wajah lelah Asha saat membelai pipi dan memasangkan earplug ke telinga agar suara bising baling helikopter teredam.
__ADS_1
Wanita ayu pun mengangguk, dia menyamankan diri kala Ghala sudah duduk disampingnya.
Di dekat jendela, Denok terlihat tegang, dia memegang kuat sisi kursi. Meski matanya masih di tutup lilitan dasi Hilmi tapi wajah manis khas Jawa itu melukiskan ketakutan.
Hilmi lalu menarik paksa lengan Denok, sehingga membuat gadis itu berteriak. Mual mendera ART Asha sehingga dia mengeluarkan suara yang membuat Hilmi ikutan pusing.
"Huek. Huek!"
"Nyusahin ya. Kamu bukannya bantuin Nyonya Asha malah ngerepotin orang lain. Sana lah," usir Hilmi kala Denok mencengkeram lengannya.
Asisten rumah tangga Asha tidak dapat mengendalikan dirinya dengan duduk tenang sebab merasa dunia jungkir balik dan terus berputar. Denok pun menolak kala Asha meminta dia melepaskan ikatan kepala, dengan alasan akan menambah rasa mabuk udara yang sedang dia alami.
"Saya gak pernah naik beginian. Odong-odong atau ombak banyu perahu gah nyong ra pernah Bapakkeee!" jawab Denok, memakai bahasa asli daerah asalnya. Dia masih memegangi kepala dan berusaha duduk dengan tegak.
Maghala mengusap punggung Asha yang juga mulai merasa mual. Otaknya berpikir cepat untuk langsung membahas mengenai peristiwa ini saat tiba nanti.
"Pasti ada pemicunya. Pasti ada. Kakak takkan tumbang dengan mudah," gumam Ghala, ikut memejam kala Asha sudah merasa lebih baik.
Isi pikiran Hilmi dan Ghala tak jauh berbeda. Dia menduga Mada stres sehingga staminanya menurun drastis. Dia pun mencurigai sesuatu.
.
.
..._________________________...
...Adik & kakak, semoga mirip 😁...
__ADS_1