BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 38. KEJUJURAN (2)


__ADS_3

Hilmi menahan langkah, tapi dia percaya bahwa Maghala sanggup menghadapi Sade. Tempaan hidup mandiri sejak belia membuat dia bagai kucing liar. Terlihat tak berbahaya akan tetapi bisa berubah ganas jika terdesak.


"Anda kian matang, Tuan muda Sakha. Tak sia-sia di besarkan dengan penuh sayang oleh Mahananta. Arimbi Dwisakhi, putra bungsumu juga keren, dia punya hati yang lembut," gumam Hilmi tersenyum melihat sikap Maghala saat mengintimidasi kedua orang di sana.


Arimbi, gadis ayu dari keluarga biasa. Dia di cintai Mahananta dalam diam dan mereka langsung menikah begitu saja tanpa proses saling mengenal lebih dahulu. Arimbi si kembang desa, anak mantan lurah yang hidup sederhana meski memiliki beberapa lumbung penggilingan padi. Sifat sang ibu ternyata menurun pada Maghala.


Hilmidar, melanjutkan langkah sembari mengabarkan pada Janu tentang kondisi Maghala saat ini. Kemungkinan pengusutan berkas laporan baru akan mundur beberapa hari ke depan hingga Asha lebih baik.


Menjelang tengah malam.


Adhisty menemani Asha di sisi brangkar. Pandangan mata dari wajah lelah itu menyertai setiap hembusan nafas. Asha masih belum sadar sejak petang tadi.


"Mama pulang saja. Aku akan menjaganya di sini. Jangan bawa lelaki itu lagi. Dia tak memiliki kepentingan apapun," ucap Ghala pelan, menghampiri Adhisty.


Wanita paruh baya, menoleh ke arah Maghala, dia menatap tak mengerti. Begitu tegar dirinya menghadapi semua ini bahkan tak meminta agar Adhisty membayar semua biaya.


"Biayanya bagaimana? aku akan tanyakan pada administrasi," ujar Adhisty, keuangan Cyra sedang tak baik. Bahkan beberapa pekerja di Mansion akan dia pulangkan agar memangkas pengeluaran selama beberapa bulan ke depan.


"Ada orang baik yang iba padaku sebab tadi sangat panik. Dia bilang, dulu pernah ada di posisiku sehingga memberikan deposit untuk biaya pengobatan Asha," balas Ghala tak melihat pada Adhisty. Dia tak berbohong, Hilmi yang mengurus semuanya.


Nyonya besar Cyra bangkit, meraih tas dari atas meja. Ekspresi wajahnya datar, entah apa yang ada dalam pikiran Adhisty saat ini. Dia hanya memandang Maghala penuh dengan tatapan curiga.


"Siapa sesungguhnya kamu, Ghala?" lirih Adhisty kala melewati sang menantu, menelisik lewat sorot mata, sosok pria yang terlihat biasa saja tetapi dia tahu ada hal tersembunyi darinya.


"Hanya menantu babu keluarga Cyra. Suami bodohnya Asha, Ma," jawab Ghala, menunduk tak ingin melihat pada Adhisty. Dia sedang merasakan rindu di pandang oleh ibunya.


Adhisty membola, ingin marah tapi hatinya sedang lelah, kali ini dia tak mendebat Maghala. Suara heel sepatu beliau kian menjauh seiring langkah. Tak lama, suasana kamar mulai lengang, hanya ada Ghala di sana. Dia bahkan mengunci pintu setelah kepergian sang mertua.


Tepat pukul satu. Asha membuka mata. Rintihan halus terdengar dan Maghala sigap menyeka kelopak mata sipit itu dengan kapas yang di bubuhi air hangat agar pupil Asha nyaman kala terpapar cahaya lampu.

__ADS_1


"Adek udah di kebumikan. Masih belum terbentuk sempurna, hanya gumpalan saja tapi dia menemani kita selama ini. Besok mandi wiladah jika sudah di perbolehkan ya, Asha," ucap Ghala lembut membersihkan kulit wajah Asha dengan facial tisu.


"Masih sakit?" tanya Ghala lagi, melihat Asha hanya diam dan masih meneteskan air mata.


Ashadiya hanya mengangguk, kedua tangan wanita ayu lalu merentang, Asha meminta pelukan hangat lelakinya.


Maghala menghela nafas berat. Dia pun membutuhkan itu. Keduanya lalu saling memeluk, bahkan Asha meminta Ghala naik ke atas brangkar. Mereka lalu memilih diam, kembali memejam berharap ini lekas berlalu.


Menjelang subuh, ponsel Ghala berdering terus menerus membuat Asha terbangun lebih dulu. Dia meraih gawai pipih dari atas meja dengan tangan kiri yang terpasang infus. Sebuah nama terpampang di layar.


"Ghala, ini mungkin penting. Kakek Janu, Ghala," bisik Asha mengguncang pelan lengan suaminya yang masih memeluk erat.


"Ghala!" panggil Asha lagi.


Lelaki tampan akhirnya membuka kelopak mata sedikit, dia lalu menggeser tombol hijau ke atas, dan memeluk Asha lagi, meletakkan wajah di bahu sang istri. Ghala tak melihat bahwa itu adalah panggilan video call.


"MAGHALA SAKHA!" teriak Janu kala layar telah menampilkan sosok cucunya.


"Astaghfirullah, Kek! kaget aku," ujarnya membelalak, sementara Asha mulai tersenyum samar melihat sikap suaminya ini.


"Tega kamu ya. Istrimu masih kesakitan, malah di tindih. Sabar dong!" tegur Janu, sebab melihat posisi tidur Maghala yang menempel pada Asha.


"Asha yang minta, bukan aku. Eh," jawab Ghala, baru sadar jika panggilan video call dan Asha memegang ponsel dengan tangan kanan yang sebagian lengannya terjepit oleh tubuh Maghala, dibantu topang oleh jemari kiri.


Merasa sudah terlanjur, Maghala akhirnya mengenalkan keduanya. Mungkin ini saat yang tepat membongkar sebagian identitas asli.


"Kek, ini istriku. Cantik, kan? namanya Ashadiya, aku manggil dia Humaira," kata Maghala, sembari mengecup pipi Asha yang begitu dekat dan mengambil alih ponsel dari topangan kedua tangan Asha.


Janu menggelengkan kepala atas sikap kekanakan Ghala. Lelaki renta itu melambaikan tangan pada Asha, memberikan senyuman sumringah sebab sosok cucu menantunya bagai artis Korea, bermata sipit dengan pipi dan bibir merona.

__ADS_1


"Halo Asha. Aku Janu, kakek Maghala. Maaf ya, belum bisa ketemu langsung. Bocah tengik ini menyembunyikan pernikahan kalian dari kakek. Dan juga, aku baru saja pulang setelah beberapa waktu menginap di rumah sakit ... sabar ya Asha, lekas sehat lagi," ucap Janu, tulus untuk sang cucu.


Asha mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca lagi. Apakah keluarga Maghala juga menerima keadaannya.


"Aamiin." Asha hanya mampu menjawab demikian.


Obrolan antara Maghala dan Janu mengenai sikon Asha membuat wanita ayu terharu. Janu mengetahui segalanya dan menerima dia menjadi keluarga Magenta, meskipun tak menyebut marga secara langsung.


"Nduk, nanti minta ke Mas mu, ke sini ya kalau sudah sehat. Kakek mau ketemu langsung. Jangan stres ya, Nduk, biar lekas fit lagi. Nanti kakek call lagi, assalamualaikum," kata Janu, melambaikan tangan masih dengan senyum terkembang di wajah.


Maghala tak lagi bernafsu melanjutkan tidur, dia cemas Asha kesakitan. Lelaki tampan itu memilih menunjukkan foto keluarga mereka.


"Ini ayah dan ibu, juga kakakku. Mereka tinggal di Semarang. Mas mu wong jowo, Dek," kekeh Ghala seraya bangkit dan duduk di sisi brangkar.


"Mas Ghala, gitu ya harusnya aku manggil kamu," ucap Asha masih memandang foto Arimbi lekat, senyum pun terbit, betapa dia mengagumi wajah ibu suaminya.


Maghala sakha terdiam. Asha memanggilnya dengan sebutan Mas?.


"Lekas sehat ya. Kita pulang ke Semarang, banyak yang harus aku urus di sana. Alka juga kabarnya telah membuka usaha baru dengan Aisel," ungkap Ghala mencoba lebih terbuka lagi mengenai dirinya. Daripada Asha tahu dari mulut orang lain.


"Kakak punya klinik, impian dengan Aisel. Nanti aku cerita, tolong bantu ke kamar mandi dulu. Rasanya sudah tak nyaman."


Maghala menoleh ke arah Asha, ternyata lelaki itu jujur pada adiknya. Maghala jadi curiga, apa Asha juga memberikan saham secara sukarela pada Alka.


"Apa yang kau sembunyikan, Sayang."


.


.

__ADS_1


..._____________________...


__ADS_2