BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 80. HAPPINESS


__ADS_3

Hilmidar mengajak Janu jalan menyambangi kediaman paman Denok untuk mengutarakan niat. Wanita yang duduk di jok belakang hanya diam sepanjang perjalanan mereka dalam mengikis jarak.


Denok gelisah. Jemarinya saling bertaut sementara pandangannya sesekali tertuju ke luar jendela mobil. Menerawang entah apa yang otaknya tengah pikirkan.


"Anja, sebelah mana?" tanya Hilmi ketika dia tiba di pin poin google map sesuai arahan Denok.


Suasana kabin pun sunyi. Takda sahutan. Denok bergeming.


"Anja!" panggil Hilmi lagi, mengerti kegelisahan wanitanya.


"Masih niat melanjutkan atau enggak?" ujar Janu kali ini ikut bicara. Dia tahu, Denok masih setengah hati.


"Entah." Denok menunduk, lirih berucap tak kuasa menegakkan kepala. Dia tak ingin Hilmi kecewa tapi rasa hati masih berkubang duka.


Hilmidar menghela nafas. Dia tak ingin niatnya sia-sia.


"Sudah sampe sini. Gak bisa puter balik sebab suatu saat pasti kamu akan tiba di sini juga entah dengan pria mana. Tentukan pilihanmu sekarang, turun denganku atau tidak sama sekali," tegas Hilmi.


Duda tampan itu pasrah jika Denok memilih tinggal di dalam mobil. Dia mungkin akan kembali ke Semarang dan meminta asisten lain untuk mendampingi Ghala di Jakarta. Mungkin pula, Hilmi akan menghilang, menenangkan diri ke suatu tempat.


Handle pintu mobil pun akhirnya di tarik Denok. Dia memilih turun perlahan meski kepalanya masih menunduk.


Hilmi tersenyum samar, bahkan Janu pun ikut sumringah dibuatnya. Kedua pria berjalan di depan seolah melindungi jati diri wanita rapuh di belakangnya.


Rumah bercat biru dengan banyak deretan pot bunga rose di teras akhirnya di sambangi ketiganya.


Denok berdiri menjauh agar sang paman tak merasa risih kedatangan keponakan yang membuatnya ikut menanggung malu. Cerai, pantang di sandang keluarga besar Denok.


"Assalamualaikum." Suara Hilmi mengucap salam.


Tak lama, tuan rumah pun keluar. Terheran dengan sosok wanita yang berdiri di halaman, tak berani menyentuh teras mereka.


"Denok? ... wa 'alaikumsalam. Ngapain kamu?" tanya sang paman, sekaligus menjawab salam.


Janu membuka suara, menjelaskan perihal kedatangan mereka juga memperkenalkan diri. Tuan rumah pun terlihat terkejut, seakan tak percaya bahwa Denok masih mempunyai keberanian menghadap sisa keluarganya.


"Silakan duduk. Aku gakkan banyak bicara. Butuh apa saja, sebutkan," ujar tuan rumah, jelas menampakkan ketidaksukaan.


"Terima kasih ... kami meminta Anda menjadi wali Anja atas niat kami melangsungkan pernikahan," jawab Hilmidar seraya menyerahkan beberapa berkas dokumen.


Bagai angin yang bertiup. Semua hanya terasa bagai menyapu debu sekejap tanpa meninggalkan bekas sejuk dimanapun.

__ADS_1


Apa yang diminta Denok dengan mudah di setujui. Sang paman tak bertanya apapun padanya. Hingga mereka menuju sebuah kantor urusan agama di hari yang sama.


Tanpa persiapan, apalagi gaun mewah juga hidangan istimewa. Semua terasa datar, hambar dan tidak ada komentar.


"Sah!" suara saksi dari beberapa petugas KUA siang itu memecah sunyi.


Hanya kenangan jepretan beberapa foto yang diambil oleh petugas KUA, sebagai saksi bisu pernikahan keduanya.


Janu bahkan berkali menggaruk tengkuknya yang gak gatal. Merasa tak percaya didepan matanya telah berlangsung pernikahan terekspres.


"Kilat amat. Tanpa perlawanan. Ini bener gak sih?" kata Janu menepuk lengan Hilmi.


"Bener lah. Kan tadi sudah sah. Nanti malam baru main perang-perangannya," tutur Hilmi tertawa lebar.


"Semprul! Nok, suamimu ini mulutnya gak punya rem. Hati-hatilah kalau main ugal-ugalan nanti ya. Kata Ghala, rumah buat kalian sudah siap, tapi listrik belum disambung jadi gelap. Nok, tuntun si Hilmi ya nanti. Ya kali salah masuk gorong-gorong, uler dia dah lama gak keluar," kata Janu, terbahak saat memasuki mobil mereka untuk segera kembali ke kediaman Cyra.


"Gorong-gorong coba, tega amat," sungut Denok kala mengikuti keduanya.


Sementara di kediaman Cyra yang baru.


Maghala dan Asya menyiapkan syukuran sederhana bagi Hilmidar dan Denok tepat saat Janu mengatakan bahwa urusan mereka lancar.


Keluarga Magenta akan pulang ke Semarang setelah pengajian sore nanti. Mada harus segera menyelesaikan urusan mengakuisisi perusahaan Maharani agar kisruh tak berlarut-larut.


Satu jam kemudian.


Pasangan Hilmi dan Denok mulai memasuki kediaman Ghala yang baru.


Tenda biru lengkap dengan backsound lagu Desi Ratnasari sukses menghilangkan kesunyian halaman rumah yang masih dalam tahap finishing.


"Mabruk!" seru Ghala saat keduanya tiba.


Denok terdiam. Mata yang telah berembun itu memindai sekeliling. Magenta dan Cyra kini telah menjadi keluarga. Iya, kerabat baru baginya.


Asha menghampiri sang asisten, memeluk perlahan sebab perutnya menghalangi mereka. "Selamat ya Mbak Denok. Alhamdulillah sekarang Om Hilmi bisa leluasa menjaga," bisik Asha ikut bahagia.


Denok Listya Anjani hanya mengangguk ketika menerima satu per satu ucapan dari keluarga barunya.


Maghala lalu mengajak keduanya bergabung makan bersama di tenda sekaligus menyerahkan beberapa hadiah atas pernikahan mereka meski bukan kali pertama.


Semua bahagia hingga tiba waktunya Magenta pamit. Janu menitipkan Ghala pada Adhisty juga memberikan banyak wejangan bagi mereka.

__ADS_1


Lambaian tangan Asha pada Eira memutus kebersamaan kedua keluarga saat ini. Perlahan, mobil yang membawa Magenta meninggalkan kediaman Ghala hingga hilang dari pandangan.


Saat Ghala menoleh ke belakang, mencari Hilmi. Paman angkatnya itu sudah berjalan menjauh mendekati kediaman mereka di sisi barat hunian utama dengan menggandeng sang istri.


"Om!"


"Diam lah Ghala. Jangan ganggu. Mau tempur nih," kelakar Hilmi tak mengindahkan bahwa Denok berusaha melepas cekalan.


"Yeee. Kan weekend perjanjiannya," seru Ghala. Dia telah memberi tiket honeymoon bagi mereka.


"Itu kan main course. Ini kan ngicip dulu. Cutinya dimulai nanti malam ya Asha!" ujar Hilmi ketika akan menutup pintu. Meminta izin pada Asha bahwa Denok takkan bekerja malam ini.


"Awas salah. Gelap."


"Gakkan. Tutup mata pun bisa," tawa Hilmi terdengar renyah.


Maghala belum memasang lampu penerang di kediaman Hilmi tapi telah menyiapkan banyak lampu emergency di sana. Listrik telah tersambung sehingga mereka takkan kesulitan meskipun tak keluar hunian beberapa waktu.


"Bang. Aku off!" ujar Denok.


"What! berapa lama?" tanya Hilmi kala dia meminta Denok bersiap.


"Sepekan." Denok terkekeh kecil, dia ingin mengelabui suaminya.


"Ya ampun. Langsung down gue," keluh Hilmi, masuk ke kamar mandi dengan langkah lunglai.


Denok tertawa renyah. Dia akan menunggu waktu Maghrib di kamar sebelah, yang telah Asha dan Eira siapkan. Kamar istimewa nan dihias begitu cantik bagai ruang para ratu jaman dahulu kala.


Semua lilin aromaterapi telah menyala, kain vitrace menjuntai di sisi kanan ranjang juga taburan petal mawar tersebar di atasnya.


"Makasih banyak Asha dan Eira. Kalian tahu bagaimana cara membuat wanita sepertiku merasa bahagia meski dengan cara sederhana," ucap Denok lirih, melihat ke sekeliling ruangan.


Orang baik, akan bertemu dengan banyak kebaikan. Sudah hukum alam. Jikalau pun engkau dipertemukan sebaliknya, anggap saja sedang mencicil bayar atas sikap kita di masa lalu.


.


.


...___________________...


...Maaf baru Up. Mommy di Bandung dua hari gak sempat Up sama sekali....

__ADS_1


...Oh iya. Makasih banyak dukungan kalian pada Maghala dan Asha hingga menjadi juara ketiga di even lomba mengubah takdir genre fantasi urban. luv kalian....


...❤️❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2