
Maghala pun sama, menoleh ke arah Asha. Gadis itu kemudian menunduk.
"Apakah aku gampang di kenali dan terbaca? sehingga orang lain mudah untuk membuatku jatuh?" keluh Asha, menatap kembali guratan yang dia toreh. Pandangan matanya sayu, seakan melukiskan rasa hati bahwa dirinya pun kecewa.
Maghala memperhatikan garis yang Asha goreskan di atas kanvas. Entah mengapa otak dan pandangan matanya menangkap bahwa Asha cocok untuk melukiskan sebuah karya seni menggunakan tehnik salah satu jenis khat.
"Bukan mudah di kenali dan terbaca. Tapi kamu sangat ekspresif di sini. Garis tegak, dan ketebalan, biasanya menandakan perasaan hati yang jelas. Emosional lah, dari situ orang lain bisa menilai setelah kami bicara atau gestur bahasa tubuh," tutur Ghala, menunjuk pada dua buah lengkungan di kanvas.
Ashadiya kembali memandangi hasil lukisannya. Dia memegang jenis aliran tertentu yang kadang hanya di mengerti olehnya.
"Kamu emang cocok kalau ambil aliran ekspresionis kontemporer. Kau ingin menggambarkan perasaan tapi tidak mau terikat aturan dan tergerus jaman bukan? Apa yang kau rasa ya itulah, bisa jadi merupakan media dalam mengekspresikan pendapat menurut pandanganmu," tebak Ghala. Jika melihat kepribadian Asha dan apa yang dia lukiskan.
Seketika wanita ayu yang memandang kosong lukisan di hadapan, menoleh ke arah Ghala. Bibir cherry itu mengulas senyuman manis hingga matanya kian menyipit.
Kulit putih yang diterpa mentari menjadi bersemu merona saat dia tersenyum sumringah seperti ini.
"Kenapa, happy amat. Aku mau dapat hadiah ya?" tanya Ghala, ikut tertular senyuman Asha.
"Ghala tahu tentang aliran melukis?" balas Asha, menoleh seraya menopang dagu melihat suaminya.
Maghala sejujurnya tidak banyak memahami, dia hanya menebak asal. Lukisan Asha pun belum pernah dia jumpai selama tinggal di hunian Cyra. Lelaki itu menggeleng samar.
Ashadiya Cyra meminta Ghala mendorong kursi rodanya menuju salah satu bangunan di bagian belakang Mansion. Asha menunjuk lurus dari tempat mereka berada kini.
Wanita ayu, lalu mengeluarkan kunci dari saku apron yang dia kenakan, meminta Ghala agar membuka gemboknya. Kala pintu perlahan membuka, Maghala di suguhi banyak kanvas kosong di sisi pintu masuk.
"Lampunya," pinta Asha menunjuk ke dinding, agar Ghala menekan saklar.
Klik.
__ADS_1
"Maa sya Allah. Ini hasil karya kamu, Asha?" tanya Ghala takjub seraya mendorong kursi roda Asha ke tengah ruangan.
Maghala memperhatikan satu per satu lukisan yang terpajang berjajar di dinding. Semuanya berkisah tentang sekitar, garis abstrak, topeng wajah manusia, daun dan uang bahkan pengandaian menggelitik, celengan terikat erat sabuk tetapi banyak lubang sehingga koin emas itu menyembul di sana sini.
Putri bungsu Adhisty mengangguk, dia menarik satu karya masterpiece yang belum sempat di publikasikan.
"Ini rencananya untuk event Jerman tapi kan aku gak berangkat, tapi mereka kasih aku golden tiket untuk tahun depan," lirih Asha, memandang sendu lukisan yang menggambarkan siluet anak yang menekuk lutut di tengah keramaian.
Maghala Sakha mengalihkan pandangannya pada lukisan yang disandarkan di atas lantai. Indah dan seakan melukiskan, dirinya.
"Ini kamu?" selidik Ghala, berjongkok di samping Asha.
"A-aku selalu saja tidak bisa bersembunyi jika di depan kamu. Bagai cenayang," cicit Asha menunduk. Lagi-lagi Maghala tepat menebak isi hati dan jalan pikirannya.
Tuan muda Magenta, mengusap kepala Asha. Dia hanya memperhatikan, bukan mempelajari ilmu cenayang.
"Kenapa gak mulai belajar khat saja, Asha? goresan di bawah pohon tadi akan indah jika untuk menulis asma Allah. Kau mau coba?" tanya Ghala lembut, takut menyinggung perasaan Ashadiya.
Maghala menjelaskan pengertian khat juga jenis-jenisnya. Khat di sebut juga sebagai seni melukis kaligrafi. Ada beberapa macam jenis yang umum di pelajari dan jumpai di Indonesia. Contoh paling populer adalah logo halal MUI memakai model kufi dan sejumlah lukisan tulisan Arab biasa terpajang di dinding Masjid.
Ashadiya terlihat tertarik. Dia meminta Ghala mendorong kembali ke posisi semula, dimana alat lukisnya berada.
"Yang pernah aku bilang tempo hari, kita akan cari referensi untuk kamu latihan melukis lagi ya ini, khat," kata Ghala, menunjukkan sesuatu di layar gawai miliknya dan menyerahkan ke Asha.
"Apa nama yang ini?" tanya Asha, wajahnya menjadi sangat polos dengan sorot mata berbinar.
Maghala gemas sendiri. Meski usianya lebih dari 22 tahun tapi Asha masih pantas jika mengenakan seragam putih abu.
"Khat tsuluts. Untuk melukis ini biasanya harus sudah mahir khat naskhi dulu. Garis dan tulisannya mudah dipelajari para pemula." Ghala menjabarkan dasar ilmu yang dia tahu.
__ADS_1
"A-aku masih belum lancar nulis huruf Hijaiyah, bagaimana caranya?" tanya Asha, malu. Dia bahkan kembali belajar berwudhu ketika Ghala mengajaknya salat.
"Belajar lagi sekaligus melenturkan pergelangan tangan kanan. Gak ada kata terlambat, Asha. Allah tuh lebih suka hamba yang mau berubah lebih baik apapun masa lalunya. Maha Pengampun juga Maha pengasih," balas Ghala, meredam kegelisahan Asha.
Wanita ayu mengangguk antusias. Dia melihat guratan, goresan antar satu jenis dan lainnya. Kaligrafi tulisan basmallah di bandingkan dengan beberapa jenis goresan khat sungguh membuat dia tertarik.
"Jenis tsulut yang ini sering dianggap sebagai khat kelas menengah karena tidak terlalu sulit untuk dipelajari, tetapi juga tak mudah. Kaligrafi yang mengusung konsep tsuluts umumnya dipakai sebagai hiasan dinding karena keindahannya ... cocok kan? selain tetap dapat melukiskan gaya dan perasaan sebab lengkungan, kamu juga sekalian berdakwah. Misal melukis salawat dengan khat naskhi atau lainnya, setiap orang yang membaca itu, kamu akan kebagian pahala kebaikan," ungkap sang pria tampan, menunjuk perbedaan jenis tampilan di layar gawai.
Menyenangkan Rosulullah itu banyak cara, tidak hanya naik ke mimbar atau dakwah tegas di majlis ilmu. Yang samar, dan mudah di terima masyarakat pun ada jalannya. Para alim juga butuh bantuan untuk menyentuh kaum penikmat seni dengan pendekatan pada sang Khalik melalui media yang mereka senangi, dan ini adalah tugas semua ummat jika tujuannya lillah.
Hari ini Maghala Sakha banyak mengutarakan isi pikiran dan pendapatnya pada Asha. Perkataan mudah cerna membuat Ashadiya lebih mengerti dan kagum terhadap sosok pria di sampingnya.
"Asha, maaf. Aku mengabaikanmu tadi, kita masuk yuk. Waktunya jualan live sebab bentar lagi jam istirahat kantor sekalian makan siang. Aku harus mulai ternak akun affiliate agar banyak kran pemasukan dan menabung untuk kalian. Besok kita kontrol ya, apakah dia sudah ada tanda bergerak?" ucap Ghala, bangkit mendorong kursi roda istrinya.
Ashadiya mengangguk, dia tidak paham apa yang dimaksud dengan kalimat Ghala tentang ternak akun jualan dan juga tanda. "Bergerak seperti apa? menggeliat gitu? belum dong, kan masih unyu ... ternak akun bagaimana? apakah di kasih makan atau dicarikan jodoh macam ayam?" tanya Asha, menengadah wajah menatap Maghala.
Tawa renyah pun terdengar mengiringi langkah keduanya kembali masuk ke Mansion. Sang pria tampan hanya menjelaskan sekilas tata aturan main jika ingin lekas menuai hasil banyak. Namun, tetap saja Asha melongo.
Saat akan menyentuh teras, tiba-tiba.
"Asha. Lusa kita akan baby shower empat bulanan sekaligus syukuran penandatanganan kerjasama dengan mama. Hari ini, MuA akan datang untuk mencocokkan gaun dan make-up," ujar Sade, menghadang laju keduanya.
"Aku bukan siapa-siapa kamu!" balas Asha, menatap sengit pada pria di hadapan.
"Minggir! Jangan mencoba batasku, Tuan muda Sadana."
.
.
__ADS_1
..._____________________...