
Maghala mengutarakan rencana pada Janu, hanya ada mereka bertiga di dalam ruangan. Asha memilih bermain game candy crush di ponselnya sementara kedua pria terlihat sangat serius membahas langkah yang akan di eksekusi dalam waktu dekat.
"Ya ampun. Jadi semua ini karena anak itu?" ucap Janu tak mengira.
"Begitulah," balas putra Mahananta.
Maghala mengangguk, sang kakek ternyata salah rekrut pekerja dan tidak peka sebab fokusnya hanya pada kesalahan Madaharsa saja.
Janu berkali mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Anak itu tidak sepenuhnya jahat, dia mungkin hanya menunaikan keinginan seseorang untuk mengawasi setiap tindak tanduk dirinya dalam mengambil keputusan.
Pria renta itu akhirnya menyetujui usulan Maghala. Dia akan mendatangi Al Islah dalam penyamaran saat acara maulid rutin setiap Ahad sore esok hari.
Dia kemudian mengajak Maghala untuk singgah di kediaman Magenta. Toh, status Ghala di perusahaan Cyra telah diketahui oleh Adhisty.
Saat akan memasuki mobil, ponsel Asha berdering. Nampak nama Adhisty terpampang di sana. Wanita ayu itu lalu menoleh pada suaminya guna meminta izin, dan menitipkan kembali dompetnya pada Denok sebab dia akan beralih kursi.
Maghala mengangguk. "Angkat saja, siapa tahu itu penting," ujarnya, seraya membantu Asha berdiri untuk pindah ke mobil.
Sementara Ashadiya menerima panggilan, Ghala meminta Denok tetap stay di hotel. Dia membebaskan jika gadis itu akan berkeliling Semarang dengan driver atau tour guide. Maghala pun memberikan sejumlah uang tunai juga mengisi saldo e-payment milik sang asisten Asha, berjaga bila Denok ingin menjelajahi kota seorang diri.
Denok girang bukan kepalang. Dia memamerkan apa yang di dapat dari Ghala saat melewati Hilmi. "Ini namanya kerja sambil liburan. Alhamdulillah, rejeki anak solehot," ucap Denok melenggang menuju lift. Dia lupa mengembalikan dompet Asha yang masih dipegangnya.
"Solehot darimana, pantes juga solehih. Boro hot, hih sih iya," cibir Hilmi, tak kalah menyindir. Dia lalu berlalu membantu Janu masuk ke mobilnya. Sementara Ghala tengah melipat kursi roda Asha.
"Ciyeeee, Tuan mulai hih hih sama saya, ya. Sekarang hih, nanti hayuk, loh," kata Denok, kembali mengejar Hilmi dan berkata dari balik punggung. Dia lupa, menyerahkan dompet Asha yang di titipkan padanya sesaat tadi, lalu berlari masuk ke lobby.
Hilmi pun menggeram, gadis ini mulai mengganggu. Jika bukan karena Asha yang masih ketergantungan padanya, dia akan meminta asisten rese itu pulang.
Mobil mewah yang berjajar kini perlahan meninggalkan hotel menuju rumah kecil dimana Maghala tinggal dulu. Sesaat setelah keluar dari sana, Asha mengatakan bahwa sang ibu hanya menanyakan keberadaan dirinya.
__ADS_1
"Mama mulai peduli, Alhamdulillah. Mungkin dia kini tahu artinya sendiri," bisik Ghala di belakang kepala Asha, tak ingin Janu mendengar hal buruk tentang Adhisty. Sementara Asha mengangguki samar ucapan sang suami.
Menjelang makan siang, kediaman Magenta.
Pasangan Cyra memilih beristirahat sejenak sementara Janu berdiskusi dengan Hilmi di ruang kerja. Ghala lalu memeriksa akun jualan di salah satu aplikasi.
"Asha, bagaimana jika akun aku yang ini dikelola Denok saja. Dia paham beginian kan?" tanya Ghala saat melihat progres jualannya menurun sebab kurang konsisten menggugah konten.
"Dia mau gak? Mama yang merekrut Denok langsung. Tadinya mau di jadikan asisten pribadi untuk urusan wardrobe kan tapi urung sehingga diberikan untukku padahal aku jarang meminta bantuannya," tutur Asha, menjelaskan background Denok Listya Anjani.
"Coba kamu yang tanya ke dia, ngerti gak beginian, jadi aku bisa fokus dengan hal lainnya, terutama Humairaku," ujar Ghala meminta tolong pada Asha.
Keduanya sibuk masing-masing sambil duduk di sisi ranjang, hingga ketukan di pintu mengaburkan konsentrasi Ghala. Lelaki muda itu lalu membuka pintu kamarnya.
Tampak di hadapan kini, sosok yang tak ingin Maghala temui.
"Kata kakek kamu bawa istrimu ya? enggan dikenalin ke bibi? udah nikah diem-diem, sekarang begini, gak sopan, kamu, Ghala!" ujar Maharani, berusaha melongokkan kepala melalui celah pintu dimana Maghala berdiri.
"Siapa namanya? oh, iya, Asha! kalau ada orang tua tuh di sambangi jangan malah diem begitu, masa bibi yang harus ke sana?" kata Maharani, berdiri di depan pintu seraya melipat tangan didepan dada, kala melihat Asha duduk bengong dan tak lama mengulas senyum untuknya.
Maghala menghela nafas panjang. Dia lalu menghampiri sang istri, memandangnya lekat sembari membantu Asha berdiri. Asha mengerti arti tatapan Ghala, dia pun melupakan kursi rodanya, dan memilih menggenggam lengan suaminya.
"Pelan ya," bisik Ghala, paham akan keinginan Asha sebab tak ingin suaminya di cela.
"Kenapa istrimu? ada kursi roda segala, dia cacat atau bagaimana? kamu kok asal nikah aja mentang-mentang dia cantik," cela Maharani, masih berdiri di ambang pintu seraya menyandar pada kusen.
"Terima kasih pujiannya, Bi. Emang banyak yang bilang aku cantik sih, mata Bibi gak rabun berarti," sahut Asha, berjalan tertatih menahan sakit. Dia mempercayakan beban tubuh pada Ghala yang menyangga kuat pinggangnya.
Maharani mendengus tak suka, Ashadiya mampu menjawabnya. Keduanya lalu saling bersalaman.
__ADS_1
"Sudah berapa lama kalian nikah? sudah isi? hati-hati loh, Ghala. Jika kamu atau Mada tak memiliki pewaris laki-laki maka posisi kalian terguncang. Ini nasihat aku. Kalau dia gak bisa kasih anak laki, siap-siap cari ganti," kata Maharani, mulai melihat penampilan Asha dari atas hingga bawah. Dia menilai bahwa gadis di hadapan adalah anak manja.
Ashadiya menunduk, dia ingat bahwa dirinya kotor dan takkan pantas mengandung keturunan Magenta. Lelaki yang berdiri disampingnya ini adalah sosok sempurna.
"Asha sedang menyiapkan diri untuk melahirkan banyak keturunan Magenta yang salih dan salihah. Jaman sekarang, punya keturunan itu bukan satu jaminan, Bi. Siapapun merasa berhak untuk unjuk gigi, apalagi terhadap kekuasaan," jawab Ghala kali ini, dia hanya tak ingin Maharani mulai mengusik Asha dengan menyentuh sisi emosional sang istri.
Maharani tersenyum sinis, dia merasa Maghala sedang menyindirnya.
"Ya harus, bibit bebet bobot, itu penting. Pewaris yang baik pasti berasal dari wanita baik-baik. Bukan perempuan gampangan, kamu tahu lah jaman sekarang kan marak open B.O hanya karena alasan ingin eksis dan cari perhatian padahal anak orang mampu," imbuh sang Bibi, melirik tajam Asha yang merasa tersindir sebab wanita ayu ini menunduk.
"Gak open B.O aja sih, Bi. Cari perhatian dengan bisik-bisik ghibah juga sedang marak," kekeh Ghala, tak surut menatap manik mata coklat milik adik ayahnya.
Percakapan di antara mereka terjeda saat maid memberitahu bahwa hidangan makan siang telah siap. Maharani pun melengos pergi begitu saja, menuju kamar Janu.
Maghala kembali menutup pintu kamar, lalu membopong Asha duduk di sisi ranjang. Dia pun berjongkok di depan sang wanita ayu, meletakkan kedua lengan di atas pangkuan paha Asha.
"Sudah ku bilang. Jangan tunjukkan kelemahan di depan orang lain. Di sini, tempat anak-anakku akan tumbuh," tutur Ghala, menautkan jemari dengan milik Asha lalu membawanya menuju perut bagian bawah.
Ashadiya melihat ke dalam manik mata yang selalu meneduhkannya, dia pun mengangguk pelan.
"Belum salat, ya?" tanya Ghala lagi. Pertanyaan kali ini sukses membuat Asha merona dan kian menunduk seraya menggeleng samar.
Maghala bangkit seraya tersenyum, mengusap pucuk kepala istrinya dan mengajak keluar kamar untuk bergabung dengan para penghuni lain di Magenta.
Saat pasangan Cyra membuka pintu, terdengar suara Maharani sedang emosi. "Selama Mada sakit, biar aku yang mengambil alih, kenapa malah Hilmi!" sentak sang putri Janu, menunjuk ke arah Hilmi dengan nafas memburu.
"Kek!"
.
__ADS_1
.
...__________________...