BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 54. MOMENT BAHAGIA


__ADS_3

Denok mendengus kesal saat mengikuti pasangan Cyra masuk ke dalam hunian. Beberapa maid pun menyambut mereka, membawa koper dan mengantar Denok menuju kamar tamu.


Janu dan Madaharsa masih di Al Islah. Jika urusan di sana lancar, semua keluarga telah berkumpul, maka bada Asar nanti mereka akan bersama-sama mengunjungi pusara Mahananta juga Arimbi.


"Nok, istirahat dulu ya. Kita bicara setelah nyekar," ucap Ghala saat asisten Asha akan masuk ke kamar.


"Siap grak, Den." Denok mengangguk sambil meletakkan tangan kanannya di depan dahi bagai prajurit yang baru menerima perintah.


Makan siang di antar oleh maid ke masing-masing kamar, sebab situasi hunian masih lengang dan Ghala tak ingin di ganggu untuk urusan tersebut.


Sejak masuk ke kamar, Asha memilih menyantap potongan buah segar juga jus mangga favoritnya lebih dulu, karena melihat sajian yang menggugah selera. Sementara Ghala langsung menuju walk in closet. Lelaki itu tak lama bergabung dengan Asha dan mulai menyendokkan makanan ke mulutnya, meski masih menggunakan bathrobe.


"Ganti baju dulu, Mas. Kan udah aku siapkan itu di sana," tunjuk Asha ke sisi ranjang setelah dia menelan suapan salad terakhirnya.


"Ngapain pake baju, nanti juga di lepas lagi."


Asha membola, suaminya mulai ketularan Hilmi, bicara tanpa filter.


Maghala menyudahi sesi makan siang yang sedikit terlambat. Dia lalu menarik kursi roda Asha agar kian mendekat dan langsung membopong nyonya muda Sakha menuju bathroom.


"Aah!" seru Asha, terkejut. Dia langsung menutup mulutnya rapat khawatir teriakannya terdengar hingga luar kamar.


"Mandi dulu, sudah aku siapkan airnya tadi," bisik Ghala dengan suara parau. "Lalu salat ya," imbuhnya lagi.


Ashadiya mengangguk. Jantungnya mulai berdentum tak menentu, kulit pun terasa menghangat hingga bagian wajah. Asha menduga kini pipinya bagai kepiting rebus.


Maghala mulai membantu melepaskan satu per satu bagian yang menutup tubuh istrinya, hingga hanya tersisa sesuatu nan menutup aset terindah. Asha perlahan mulai dapat berdiri tegak meski masih menyandarkan kedua tangan di wastafel, dia masih setia menunduk karena malu.


Kulit putih mulus tanpa cela kini terpampang jelas. Ini kali pertama Maghala menyaksikan pemandangan halal secara utuh dengan netra terbuka. Dia juga melepaskan pengikat rambut hingga surai panjang Asha tergerai. Buku jarinya lalu menyusuri setiap inci kelembutan kulit sang istri, mulai dari bahu dan perlahan turun kemudian melepaskan pengait.


"Seksi," bisik Ghala, membubuhkan kecupan basah di bahu Asha. Jemari pun sudah menjelajah kemana-mana.


Sunyi.


Tak lama, deru nafas berat dan tertahan terdengar.

__ADS_1


"Mas! suu dah mau hab is wa ktu saaa lat," ucap Asha mulai terbata sebab bulu kuduknya meremang hebat.


Pasangan Cyra mengakhiri sesi 'appetizer' sejenak sebelum 'main course' menuju surga dunia. Mereka memilih akan melakukan aktivitas keintiman selanjutnya setelah ibadah nanti. (🤭)


Satu jam setelahnya.


Maghala puas memandangi punggung mulus yang kini telah terbalut gaun tidur berbahan satin yang dia pilih. Putra bungsu Mahananta itu kian sumringah melihat beberapa jejak miliknya tercetak di sana. Kewajiban sebagai suami telah tertunaikan meski dengan usaha berlebih sebab menjaga Asha agar terus membuka mata dan fokus melihatnya.


"Maaf ya, Humaira, aku baru menyentuhmu setelah sekian lama," bisik Ghala, mengecup bahu Asha.


Wanita yang baru saja resmi lahir batin menjadi milik Ghala, menggeliat setelah tubuhnya mengenali sentuhan cinta sang suami. Ghala lalu menarik selimut dan memeluk erat, dia mulai kecanduan suhu hangat yang Asha tularkan.


Pasangan Cyra melewati siang dengan penuh kehangatan, tertidur lelap setelah ibadah halal pertama mereka.


...***...


Mada memaksakan diri meski setelah dari perusahaan dia harus ke rumah sakit sejenak untuk mendapatkan infus sebab tekanan darahnya menurun.


Janu meminta dirinya pulang atau kembali opname akan tetapi di tolak Mada. Dia ingin segera bertemu Eira. Keinginan menggebu akhirnya menggugah dokter untuk ikut mendampingi keluarga Magenta menuju Al Islah.


Sesampainya di sana, Hasyim Rois terkejut ketika mobil ambulance masuk ke komplek pesantren. Namun, setelah terkonfirmasi identitas tamu mereka, sang Yai tergopoh menghampiri mobil yang identik membawa pasien dengan kondisi kritis tersebut.


"Mumpung pelakunya ngaku, Buya. Maaf, aku menoreh kecewa pada Eira," lirih Mada, meminta dokter melepas masker oksigennya agar mudah untuk bicara.


Dokter pun mengizinkan, dia melepas masker oksigen Mada.


Hasyim Rois mendengar penjelasan lirih Madaharsa lalu dia menemui Janu juga beberapa pria lainnya, yang telah menunggu di ruang tamu.


Satu jam sudah, mereka membicarakan tentang kasus Eira kemarin. Obrolan serius tersebut ternyata memancing perhatian putri bungsu pemilik pesantren. Gadis alim pun meminta izin keluar kamar untuk menemui calon suaminya.


Hasyim Rois mengizinkan Eira melihat Mada, ditemani Almahyra juga sang istri. Mereka pun berjalan perlahan memapah Eira menuju ambulance dari pintu samping mobil yang terbuka.


"Kak!" sebut Eira lirih, air matanya jatuh melihat Mada terbaring lemah dengan selang infus menancap juga masker oksigen menutup sebagian wajah tampan.


Merasa mendengar suara wanita pujaan, Madaharsa perlahan membuka kelopak mata dan menoleh ke sisi kiri. Seketika senyumnya terbit.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Maaf ya, Dek," lirih Mada, dadanya bergemuruh hingga setetes bulir bening jatuh. Dia amat rindu karena selama ini sangat jarang bersua dan sesekali melakukan panggilan suara.


Almahyra membawa sebuah kursi agar Eira duduk di luar mobil. Mungkin pasangan yang menahan sakit dan rindu ini akan mengatakan sesuatu hal nan pribadi, kedua wanita pun menjauh beberapa jengkal jarak ke sisi belakang mobil.


"Masih mau lanjut sama aku, kan?" tanya Mada, kali ini dia ingin egois sehingga menatap lama wajah sayu yang terlihat lemah.


Eira mendongakkan kepalanya, melihat ke arah sang calon imam dengan wajah sembab lalu menunduk kembali. "Nggih."


Lolos sudah segala rasa sakit dan sesak yang selama ini tertahan di dada. Madaharsa, memejamkan mata hingga beberapa cairan bening dari ujung netra kembali luruh. Biarlah dia dibilang cengeng untuk momen ini. Nyatanya mendapatkan Eira sangat sulit hingga menunggu belasan tahun agar dirinya pantas untuk sang kekasih hati


"Maafin aku ya, Kak. Sehatlah dulu, Ara sabar nunggu Kakak sampai pulih meski hati sedikit menyesal," balas sang gadis ayu, hijabnya pun terlihat basah di beberapa bagian. Eira menangis.


"Menyesal kenapa?" desak Mada, cemas bilamana dia kembali kecewa.


"Gak bisa merawat Kakak, sebab belum halal bagiku," lirih sang putri Yai.


Madaharsa tersenyum samar, ada bahagia juga lucu dalam kalimat yang Eira lontarkan. Keinginan nan sama dari lubuk hatinya.


"Ara kan belum fit benar ... atau mau akad dulu? tapi tunggu beberapa jam lagi ya, sampai aku kuat untuk duduk tegap," pinta Madaharsa masih sesekali melihatnya.


Nyai Rois dan Almahyra yang berdiri menyandar di balik pintu belakang ambulance, tersenyum dan saling menyenggol lengan sebab percakapan malu-malu keduanya. Mereka ikut larut dalam bahagia.


Eira hanya diizinkan berbicara selama sepuluh menit dengan Mada, putri Yai pun kembali dipapah menuju kamar.


Almahyra kemudian berbisik guna menyampaikan keinginan Eira pada sang paman yang masih berdiskusi dengan Janu tentang pelaksanaan akad nikah juga walimah, mengingat background keluarga Magenta adalah pebisnis nan mempunyai banyak kolega.


Lelaki paruh baya itu lalu terkekeh dengan permintaan mereka, setelah mendengar informasi dari Almahyra. Beliau lalu menyampaikan niatan calon pengantin pada Janu.


"Sudah pada gak sabar, ya sudah, gelar saja. Yang penting sah dulu," ujar Janu, menyetujui permintaan keduanya.


Tak menunggu waktu lama, semua yang terlibat saat keputusan dibuat, langsung sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk acara setelah Maghrib nanti.


.


.

__ADS_1


..._____________________...


Asha udah lewat masa nifas dari keguguran. Bab its me : di RS aja kan lawyer+Hilmi datang di hari kedua pasca kuret. Lalu satu pekan kemudian, dia pulang. 10 hari selanjutnya bongkar kasus Cyra, nemuin Alka sampai ke Semarang. Mada sakit 2 hari, jalan-jalan dll hitung 2-3 hari. Biasanya kalau kuret, satu pekan darah nifas sudah sisa sedikit. Bersih minimal 1-3 pekan menurut medis, dan Asha sudah lewat dari itu, related ya guys 🤭.


__ADS_2