BUKAN MENANTU BIASA

BUKAN MENANTU BIASA
BAB 77. PENGEMBALIAN


__ADS_3

"Ehm, enggak kok. Hanya pembayaran piutang ke Mada membuat profit perusahaanku sedikit," elak Maharani. Bola matanya tak fokus bergerak ke kanan dan kiri menandakan dia dilanda gelisah.


"Tapi kan besaran cicilan piutang disesuaikan dengan laba, Bi. Bila mengikuti draft perjanjian seharusnya gak begitu. Aku dengerin saran Eira biar gak dzolim loh," imbuh Mada, mendesak sang bibi sebab ingin tahu bagaimana cara beliau mengelola perusahaan.


Mulia, datang ke Mada memohon agar apa yang di amanahkan Janu pada ibunya segera diambil alih kembali.


Dia menduga, sang mama terjerat oleh bujuk rayu Huda untuk kembali mencari vendor dibawah upah minimum agar dapat menaikkan profit, meski kualitas juga kecepatan guna memenuhi tenggat waktu client terbilang lamban.


Sang sulung Maharani juga memberikan informasi tentang ibunya yang kerap menghabiskan waktu dengan Huda. Mulia menilai, Huda hanya memanfaatkan Maharani untuk numpang hidup atau sekedar mengambil harta dan kesenangan.


Madaharsa yang baru mulai intens kembali ke kantor pasca sakit tak dapat ambil diam untuk menyelidiki hal tersebut. Meski Eira melarang kasus baru ini dibawa ke dalam management, akan tetapi Mada menilai bahwa Janu harus tahu sebab hanya kakeknya lah yang masih memiliki hak andaikan mencabut kembali status hibah kepemilikan harta Maharani.


"Ya aku tahu," cicitnya sungkan.


"Gak buat miara laki kan, Bi? Huda itu baiknya dipecat!" kesal Mada, Maharani selalu saja melemparkan kotoran padanya.


Eira mendengar kegaduhan di teras samping, suaminya dilarang stres dan mereka tengah menantikan kelahiran buah hati. Eira tak ingin Mada sakit lagi, maka dia berinisiatif menarik pujaan hatinya untuk menghindari debat.


"Kak!" sebut Eira, tiba-tiba muncul, berdiri di ambang pintu dengan perut buncitnya.


"Ya, Sayang? kenapa?" tanya sang CEO melihat istrinya tampak cemas.


Eira tak menjawab, hanya menatap bergantian pada Janu juga Madaharsa. Tak lama, dia menjulurkan tangan kanan agar suami dinginnya itu peka dan menyambutnya.


Janu meminta Mada meladeni putri Yai Rois sementara dirinya berbicara dengan Maharani.


Sepeninggal Mada, Maharani mengutarakan isi hatinya pada Janu. Dia tak ingin lagi memperkeruh suasana terlebih kisruh sebab Mulia, si sulung ditaksir akan melepas masa lajang dalam waktu dekat. Maharani masih menganggap Magenta adalah tempatnya berpulang.

__ADS_1


"Ran, wes Maghrib. Pulang, taubat. Jangan lagi nyusahin ponakanmu. Ghala itu lagi fokus sama usahanya. Mada ya kerja keras nyari modal tambahan buat nutupi borokmu itu. Kalau gak mampu, kembalikan perusahaan ke Mada biar kamu tinggal ongkang kaki atau jika Mulia mampu, berikan kepercayaan padanya," saran Janu berkata lirih sambil menatap iba pada putri satu-satunya.


Maharani mendongakkan kepalanya, alis pun mengernyit heran atas ucapan sang ayah. Dia merasa mampu meski sedikit kesulitan menemukan buyer sebab kurangnya skill marketing yang stafnya miliki.


"Maksud ayah gimana?" tanya Maharani mulai mencondongkan duduknya.


"Kamu lengser. Naikkan Mulia untuk mengelola atau di akuisisi saja. Jika kembali pada Mada maka Mulia akan menjadi salah satu direktur bagian yang menangani bidangmu itu. Mada bisa mengawasi kinerja anakmu sekaligus membantunya agar mumpuni di dunia bisnis ... kamu tetep dapat bagian dari saham, juga lainnya," ujar Janu membeberkan pilihan terbaik bagi Maharani.


Jika dia mengambil kesempatan ini sejatinya banyak keuntungan di raih. Mulia di didik langsung oleh Mada, menerima sharing profit, hidup tenang dan fokus pada kedua anak yang masih membutuhkan banyak perhatian.


Rani juga bisa melakukan hobi nya bercocok tanam aneka bunga seperti saat dia remaja. Selain itu waktunya untuk quality time Janu terbuka lebar.


"Pikirkan saja dulu. Waktuku kan gak banyak lagi. Aku ini gak tenang kalau kamu masih saja begini. Anak Mahananta semua sudah mandiri. Tinggal anak-anakmu saja. Mulia itu pinter maka jangan kamu kekang," titahnya lagi sebelum bangkit meninggalkan putrinya.


"Kalau mau nikah, mbok pilih yang bisa ngayomi kamu gitu loh. Tenaga anak muda sih memang bikin kamu ah uh terbang melayang-layang tapi kan dia minta bayaran tinggi. Belum lagi kalau selingkuh sebab milik wanita diluaran sana gak kisut, masih keker ... kamu gitu gak?" kata Janu sambil lalu dan terbahak kencang. Dia seketika ingat Hilmi. Memang, ucapan vulgar terkadang cara ampuh agar otak berpikir logis.


Sejatinya Maharani juga berpikir, tapi alih-alih mendengar pendapat Mulia, dia malah menuduh putrinya menyukai Huda si sosok kemayu.


Bungsu Janu itu lalu meninggalkan kediaman Magenta, berniat menemui ketiga putra putrinya yang sudah dua hari menolak untuk bertemu sebab tabiat aneh memasuki puber kedua.


...***...


Jakarta.


Setelah memastikan Asha tidur dan melihat progres penjualan akun yang Denok kelola, Maghala duduk di teras samping guna menikmati angin malam sejenak juga bapak tilas ingatan. Hilmi pun menghampiri sang majikan mudanya. Dia berniat mengutarakan sesuatu.


"Tuan muda!" panggil Hilmi.

__ADS_1


"Ghala saja, Om. Gak ada kakek dan siapapun di sini kecuali kita," balas Ghala saat melihat sang asisten tiba dan bergabung duduk.


"Oke. Aku mau pindah rumah. Menurutmu aku langsung datang ke wali nasab Anja saja atau bagaimana?" tanya Hilmi terus terang.


"Anja? ck makin aneh saja panggilannya. Anjani, gitu ... datang langsung jika kalian sepakat. Om sudah tanya? lalu gak usah pindah rumah. Aku menyiapkan hunian di samping kediaman baru nanti. Ya hanya luas 100 meter tapi lumayan nyaman untuk di tinggali. Daripada beli kan?" tutur Ghala, dia tak ingin Hilmi jauh darinya. Satu-satunya keluarga yang dipunya di Jakarta adalah duda tersebut.


"Gitu ya? gak dempetan kan? ya jangan sampai acara gempa bumi lokal malah jadi interlokal. Lagipula bisa saja kalau libur kita gak keluar rumah sama sekali ... membuat banyak jejak kecebong yang gagal masuk, kangkung di sana sini, menciptakan backsound uh ah versi anyar," kekeh Hilmi seperti biasanya.


Maghala hampir tersedak minuman kala Hilmi kehilangan filternya lagi. Namun, dia menemukan satu kosa kata baru.


"Kangkung di sana sini? apaan itu?" tanya Ghala tergelitik.


Hilmidar cengengesan. "Itu loh, Ghala. Mrekangkang dan mrekungkung ... ehm tengkurap dan telentang," ucap Hilmi tertawa seraya mengeluarkan lintingan tembakau.


Maghala terbahak, tak habis pikir dengan isi otak duda satu ini. Tapi dia akui, Hilmi seperti ini hanya pada orang terdekat. Dia akan kembali ke mode ganas dan tajam manakala berhadapan dengan para klien.


Keduanya menghabiskan sisa malam sebelum jarum jam bergeser ke angka satu. Maghala menawarkan bantuan bilamana Hilmi berniat serius dengan Denok.


"Setelah acara kak Alka ya, Om. Kita pastikan lagi. Selamat istirahat. Aku mau ngasih minyak rambut ke bayiku dulu," ujar Ghala bangkit dan melangkah ke dalam hunian sembari memancing otak mesum sang paman angkat.


"Setdah! biar keluar sudah bagai di rebonding ya," kekeh Hilmi diikuti Ghala.


.


.


..._____________________...

__ADS_1


__ADS_2